Mr. Bully

Mr. Bully
Smells Like Teen Spirit - Nirvana



“Loh kok belinya yang ini sih?” ujar Sera agak dongkol ketika melihat Bima tanpa dosa menyodorkan botol minyak goreng bimoli.


“Lah kamu minta beli minyak goreng kan?”


“Iya, tapi yang merknya sunco”


“Pakai aja ini. Sama-sama minyak goreng”


“Beda! minyak goreng sunco bisa diminum. Yang ini enggak.” jelas Sera mengambil botol minyak goreng dari tangan Bima dengan berat hati.


Bima jadi bengong. “Ya mana aku tau kalo minyak goreng ada yang bisa diminum. Aku kalo haus minum air putih. Emang ada orang yang kalo haus pergi ke dapur terus ngeliat minyak goreng diatas meja dia bakalan bilang ‘wah aku haus sekali, oh itu ada minyak goreng diatas meja, sebaiknya aku minum saja biar rasa hausku hilang.’ Tapi ya masa gitu?” ketus Bima jadi ngotot.


Sera mendelik tidak menjawab argumen cowok itu, ia buru-buru menghilang ke dapur sementara Bima masih ngedumel berjalan mendekati Olivia yang sejak tadi tertawa geli melihat perdebatan mereka.


“Temen kamu aneh banget” dengus Bima tanpa permisi mengambil coklat dari atas piring kecil milik Olivia.


“Kamu juga kan aneh. Makanya kalian cocok”


“Anehan Sera. Masa cuman gara-gara perkara minyak goreng doang dia sebel sama aku. Lagian siapa sih yang kurang kerjaan nyiptain inovasi minyak goreng bisa diminum? gak guna banget” omel Bima jengkel.


“Udah, udah. Minyak goreng bisa diminum mungkin bisa jadi inovasi brilian buat orang lain dan nggak akan mengganggu eksistensi kamu”


“Siapa bilang? Kali ini aku merasa terganggu dan mau protes ke pencipta inovasi minyak goreng bisa diminum. Ibarat anjing, pasti menggonggong saat tertentu”


“Kamu anjing dong?” balas Olivia membuat Bima mendelik, sadar baru termakan ucapannya sendiri. Wajah keduanya serempak berpaling ketika Sera muncul dari balik tirai.


“Dibanding kamu ngegosipin aku yang enggak-enggak ke Olivia. Mending kamu bantuin aku goreng ikan. Kamu kemarin bilang kan di kehidupan sebelumnya kamu itu ikan ******, yang selalu merasa terganggu setiap kali teritorinya dimasuki ikan lain” kata Sera setengah mengolok. 


“Aku lagi libur magang kok disuruh training jadi pembantu” protes Bima mendengus tapi tetap beranjak masuk membantu Sera sementara Olivia tertawa ngakak.


Suasana kembali tenang, hanya terdengar suara ombak dan gitar dari kumpulan beberapa anak muda di luar kafe. Mereka bersenda gurau, bernyanyi, dan membuat api unggun ketika langit sore mulai nampak.


“Oliv”


“Apa?” jawab Olivia tanpa berpaling tahu Johan yang memanggilnya.


“Aku putus sama Meyska” beritahu Johan tanpa basa-basi menarik stool bar dan duduk di samping Olivia.


Mata Olivia membulat terkejut. “Kok bisa?”


“Dia selingkuh”


“Hah?”


“Meyska ke club bareng teman-temannya, minum, mabuk, pergi sama cowok asing, ngesex” rangkum Johan sesingkat mungkin.


“Johan….” Olivia langsung menepuk-nepuk punggung Johan dengan ekspresi iba.


Johan menarik nafas, terlihat agak frustasi. Sebenarnya secara pribadi Olivia tidak terlalu mengenal Meyska karena ia tinggal di Inggris, tapi setahu Olivia, Johan dan Meyska sudah berpacaran sekitar tiga tahun.


Waktu yang lama dan cukup untuk membuat hati Johan patah sampai berkeping-keping.


Olivia beranjak mengambil sebotol bir dari kulkas dan memberikan pada Johan. “Terus sekarang perasaan kamu gimana?”


“Sakit. Sampai aku benci banget denger suara Meyska” jawab Johan. “Aku setengah mati nahan nafsu buat jaga cewek aku, eh malah dipake orang lain. Brengsek.”


Samar-samar senyum sendu Olivia muncul semakin merasa prihatin dengan Johan. Ia terus menepuk-nepuk punggung cowok itu sampai ponselnya berbunyi.


“Brengsek…” gumam Johan membaca nama yang tertera di layar, Meyska.


“Mau aku yang ngomong? Biar dia nggak usah telepon kamu lagi?” tanya Olivia hati-hati. Johan menggeleng.


“Biar aku aja yang nyelesaiin sendiri.” 


Johan kemudian beranjak pergi ke luar kafe, ia berdiri cukup jauh dari situ tapi mata Olivia tetap bisa mengawasi gerak-geriknya dari kejauhan.


“Hai” seorang pengunjung masuk menyapa Olivia membuat fokusnya berpindah. “Bir bintang, lima botol”


“Oke” jawab Olivia langsung bergerak mengambil lima botol bir bintang. “Mau pakai kantong atau enggak?”


“Nggak usah. Aku duduknya di depan” tunjuknya ke arah empat orang yang duduk melingkari api unggun.


“Nama kamu Olivia kan?” tanyanya ketika Olivia sedang menghitung di mesin kasir. Olivia mendongak lalu mengangguk dengan senyum kikuk


“Gino.” Gino tersenyum manis.


“Cupcake buatan kamu enak?”


“Kamu udah coba?” tanya Olivia mendadak antusias.


“Well, aku selalu ngabisin empat cupcake setiap kali kesini” balas Gino. “Waktu itu aku kira teman kamu Sera yang buat cup cake itu, tapi dia bilang kamu yang buat.”


Wajah Olivia mendadak bersemu kemerahan merasa tersipu mendengar pujian itu, bibirnya bergerak menampilkan senyum manis. “Makasih”


“Oliv, makan yuk...Hai Gino.” Sera baru muncul dari dapur langsung menyapa Gino.


“Hai Sera. Ini aku lagi jumpa penggemar dengan pastry chef idola aku” canda Gino membuat Sera tertawa sementara Olivia semakin tersenyum malu.


“Bisa aja kamu” kekeh Sera. “Kamu nggak lihat mukanya udah kayak balon. Merah, kuning, hijau.”


Gino tertawa kembali menatap Olivia. “Jadinya berapa?”


“Oh iya.” Olivia menepuk jidatnya. “Seratus tujuh puluh lima.”


Gino menyerahkan dua ratus ribuan dari dompetnya dan menerima kembalian.


“Mau ngapain?”


“Biasalah, kamu tau” kedip Olivia. Sera langsung mengangguk paham. “Duluan ya” kata Olivia pada Gino lalu melangkah pergi.


Gino mengangguk tidak sempat membalas perkataan Olivia, hanya matanya melirik langkah Olivia yang menjauh dari situ.


“Udah jangan diliatin terlalu lama. Entar suka” ujar Sera. Gino nyengir lebar.


“Habis manis banget sih” balas Gino disambut tawa geli Sera.


...*****...


Olivia duduk di samping Johan sementara cowok itu hanya diam, matanya menatap lurus ke arah pantai dan sesekali terdengar helaan nafas panjang darinya.


“Meyska minta maaf….dia janji nggak bakal ngulang” kata Johan bersuara. “Gue pengen maafin, tapi hati gue masih sakit. Meyska bilang, mau ngasih gue waktu untuk berpikir dan dia akan nunggu gue.”


Johan tertawa kaku, tangannya mengambil kerikil di atas pasir dan melempar ke arah air laut. Olivia menggeser duduknya mendekat agar Johan bisa menyandarkan kepala di bahunya.


Langit semakin menggelap, tidak ada satupun orang di dekat mereka, hanya berkas-berkas cahaya dari kejauhan, dan Olivia bisa mendengar deru nafas Johan terdengar semakin berat.


Tangan kiri Olivia terangkat naik menutup arah pandang Johan, hal yang sama persis dilakukan Johan untuknya dulu ketika Olivia sedang bersedih. Tapi berbeda dari Olivia yang selalu menangis dari balik tangan Johan, lelaki itu malah memejamkan mata.


“Aku capek. Kalo bahu kamu kram bilang, soalnya kalo patah aku nggak mau tanggung jawab” gumam Johan mencoba bercanda. Olivia memaksakan diri untuk tertawa dan menurunkan tangannya, matanya menatap Jovan yang masih terpejam kemudian berpaling ke arah pantai.


“With the lights out, it’s less dangerous.” Olivia tiba-tiba mulai bersenandung pelan. “Here we are now, entertain us”


“Life is stupid and contagious” sambung Johan, matanya masih terpejam namun senyumnya perlahan muncul.


“Here we are now, entertain us.” Keduanya menutup lirik smell like teen spirit dari nirvana dengan senyum lebar.


“Suara kamu masih jelek kayak dulu” tawa Johan.


“Tapi setidaknya udah nggak salah nada”


“Kuat banget ya telinga aku ngabisin setengah hidupnya ngedengerin suara kamu”


“Sialan” balas Olivia pura-pura mendengus. Keduanya sama-sama tertawa geli tanpa menyadari beberapa pasang mata menatap mereka dari kafe.


“Itu mereka nggak lagi pacaran kan?” tanya Bima dari jendela meja makan.


Varo dan Sera berpaling menatap ke arah pandang Bima. Sera menggeleng. “Udah gila kalo mereka pacaran”


“Ya siapa tahu. Lagian nyender-nyender gitu kayak orang pacaran.”


Mata Sera menyipit. “Kamu nggak punya sahabat dari kecil? Sahabat sehidup semati?” nyinyirnya membuat Bima nyengir lebar.


Bima berpaling kembali fokus menatap kaca di atas meja makan dan memakai masker oatmeal campur madu yang dibuat Sera. Disisi lain Varo masih menatap ke arah Olivia dan Johan.


“Johan lagi bertengkar sama ceweknya, jadi kalian semua jangan ada yang berisik gangguin Johan” beritahu Sera.


“Berantem kenapa?” tanya Bima mau tahu.


Sera angkat bahu. “Entah. Udah kamu jangan kebanyakan bicara, entar masker kamu retak terus kulit kamu malah tumbuh ladang gandum”


“Sialan. Emang muka aku ada unsur latosol dan aluvial apa?” maki Bima lalu berpindah ke sofa dan berbaring disitu.


“Jangan kelamaan ngeliat, ntar cemburu lagi” tegur Sera menarik kursi dan duduk di depan Varo.


“Kamu gimana bisa kenal mereka berdua?” tanya Varo mau tahu.


“Aku dulu SMA di Inggris bareng Olivia. Terus karena Johan sering liburan ke Inggris, kita jadi main bareng” 


“Kamu berarti dekat banget sama Olivia?”


“Yoi, tapi nggak sedekat Johan sih. Olivia dulu pendiam banget, aku bahkan bisa deket sama dia setelah dua bulan kita sering ketemu di tempat gym” jawab Sera lalu mengganti topik pembicaraan. “Kamu habis kuliah langsung nyari kerja?”


“Nggak tau. Kamu?”


“Aku mau kerja disini dulu sambil nungguin Olivia selesai”


“Emang kalian ada rencana?”


Sera mengangguk. “Salah satu teman Olivia nawarin aku sama Olivia kerja di kantor akuntan publik”


“KAP baru berdiri?”


“Iya. Tapi nggak tau deh Olivia mau atau enggak”


“Mulai kerja kapan?”


“Kalo Olivia mau berarti habis wisuda langsung kerja. Dia tuh tinggal nunggu wisuda doang. Emang bandel tuh anak, orang biasanya habis wisuda baru liburan, eh dia liburan dulu baru wisuda. Mentang-mentang wisuda masih bulan desember” jawab Sera mengomel.


“Tempat kerja kalian dimana? Yogyakarta?”


“Enggak, di Jakarta.”


Senyum Varo muncul perlahan, tapi ia tidak mengatakan apapun. Wajahnya kembali berpaling pada Olivia dan Johan yang masih setia duduk disana. Sejenak Varo termenung, apa ia juga terlihat seperti Johan ketika kemarin saat sedang bersedih dan ditemani Olivia?


“Aku mau ke toilet. Coklat aku ada lima, kalo hilang satu berarti kamu pelakunya” kata Sera bangkit berdiri.


“Ser, aku dulu dong, mau cuci muka” teriak Bima dari sofa.


“Cuci aja pake air akuarium” balas Sera cuek langsung mengunci pintu kamar mandi.