
Pukul tiga sore keesokan harinya, Dimas muncul di kafe dengan sebox kecil berisi ikan.
“Oliv, kata Kak Rangga, nitip bentar di freezer” beritahu Dimas lalu keluar menghampiri Johan yang sedang mengatur kursi di bawah payung-payung teduh baru.
“Sisa berapa payung lagi?”
“Dua” jawab Johan tanpa melihat Dimas. “Dim, tolong tahan.”
Keduanya bekerja memasang payung tanpa banyak bicara. Sejak masalah dengan Meysha, Johan memang menjadi lebih pendiam. Sementara Dimas terlihat sesekali mencuri pandang ke arah Olivia yang sedang mengobrol dengan Varo.
“Bimaaaa!!! Iseng banget sih” teriak Olivia ketika Bimas iseng menarik lepas kuncirnya dan membuang jauh-jauh.
“Lihat aja entar kalo kamu minta buatin kopi. Aku pake air kran biar kamu sakit perut” ketus Olivia jengkel sementara Bima hanya tertawa-tawa geli.
“Dim, gue kalo jahat, jari-jari lu gue palu” tegur Johan membuat Dimas berpaling.
“Sorry-sorry” balas Dimas cengegesan.
Setelah selesai keduanya kemudian mengatur kursi-kursi kayu di bawah payung.
“Lu kenal Alexa?” tanya Dimas tanpa basi-basi namun sukses membuat Johan berhenti dan menatapnya.
“Alexa anak sepuluh tiga, sekelas sama gue”
“Lu tau nama itu dari mana?” tanya Johan serius.
“Gue denger Alexa udah meninggal” kata Dimas tidak mengacuhkan pertanyaan Johan. “Bener?”
“Kenapa lu tanya gue?” tanya Johan kembali mengatur kursi. Dimas tersenyum kecil tahu Johan sedang menghindar menjawab pertanyaannya.
“Karena lu sahabatnya Alexa…..Atau bukan?”
“Bukan urusan lu”
Johan mendengus menaruh kursi kasar, tatapannya pada Dimas berubah dingin.
“Kalo Alexa beneran meninggal...terus yang itu siapa?” tunjuk Dimas tepat pada Olivia. Johan tidak berpaling, matanya tetap menatap Dimas, namun kali ini ekspresinya berubah geram.
“Apa gue tanya aja ke Olivia? Siapa Alexa?”
Pertanyaan Dimas sukses memancing emosi Johan keluar. Tangan Johan spontan mencengkram baju Dimas kuat-kuat.
“Jangan pernah lu berani-berani nyebut nama Alexa di depan Olivia” ancam Johan marah.
Senyum Dimas makin melebar, dalam hati ia bersorak karena Johan termakan umpannya. Kini Dimas seratus persen percaya bahwa Olivia adalah Alexa, anak yang dulu dibully di sekolah oleh lingkaran setan.
“Pas gue tanya Alexa sahabat lu atau bukan, lu jawab bukan urusan gue. Sekarang juga sama, gue mau nanya atau enggak ke Olivia, itu urusan lu”
“Anjing!” maki Johan langsung meninju wajah Dimas membuat lelaki itu terkejut.
Bukannya mundur Dimas malah bangkit berdiri balas meninju Johan. Perkelahian antar keduanya tidak bisa dihindari lagi, bahkan meskipun terdengar suara teriakan Nabila, tidak lantas membuat keduanya langsung berhenti. Mereka saling meninju dan menendang sekuat tenaga. Johan terlihat seperti kesetanan, emosinya yang sejak kemarin ia tahan keluar begitu saja bersamaan dengan tinjunya, membuat Dimas sedikit kewalahan.
Keduanya baru berhenti ketika Rangga, Varo, Bima, dan beberapa pengunjung kafe menarik paksa mereka agar menjauh.
“Brengsek!” Johan meludah ke tanah masih terlihat emosi. Wajahnya berpaling ke samping dan mendapati Olivia mematung menatapnya dari kejauhan, ekspresi cewek itu terlihat pucat pasi karena ketakutan. Johan menghempas kasar tangan Varo dari lengannya. Ia balik badan hendak melangkah pergi.
“Johan…” panggil Olivia mendekat.
“Aku pengen sendiri” kata Johan pelan kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.
“Bim, si Johan bantuin obatin lebamnya” pintah Rangga.
“Nggak mau kak, ntar saya dicekik. Kakak nggak lihat auranya serem gitu?”
“Ih Bima, yaudah sini sama aku. Ntar kalo Johan cekik kamu, aku cekik balik” kata Sera menarik paksa Bima menyusul Johan yang pergi ke penginapan.
“Kalian kenapa tiba-tiba berantem? Padahal tadi aku lihat baik-baik aja” kata Nabila heran. “Sana obati luka kamu”
“Biasa kak, rebutan lahan” balas Dimas bercanda lalu masuk ke kafe bersama Varo.
Dimas duduk di kursi meja makan, ia sedikit melemparkan tatapan kikuk pada Olivia yang muncul dengan kotak P3K.
“Lu berdua kenapa sih tiba-tiba berantem? Kayak nggak ada kerjaan aja” ketus Varo mengambil kotak P3K dari tangan Olivia dan membantu mengobati luka Dimas.
“Aww! Pelan-pelan dong! Lu kalo benci sama gue bilang!”
“Varo biar aku aja, kamu tolong bantuin Kak Rangga di depan” kata Olivia. Varo mengangguk kemudian melangkah keluar.
Suasana berubah sepi, tidak ada yang berbicara di antara keduanya. Dari jarak sedekat ini, Dimas dapat memperhatikan detail ekspresi Olivia. Cewek itu tidak tersenyum ataupun marah, Olivia cenderung terlihat sangat tenang, berbanding terbalik dari beberapa menit yang lalu ketika ia sempat berdiri gemetar melihat Johan dan Dimas berkelahi.
“Kamu ngomong apa ke Johan?” tanya Olivia ketika selesai mengompres lebam Dimas.
“Hah?”
“Kamu ngomong apa ke Johan sampai dia marah?” tanya Olivia ulang. “Johan nggak pernah mukul orang tanpa sebab.”
Dimas melemparkan tatapan ragu, ia kemudian menghela nafas ketika Olivia masih setia menatapnya menunggu jawaban.
“Aku nanya...soal kamu” jawab Dimas pelan sekali. “Tapi yang versi SMA. Alexa.” Satu kata terakhir dari Dimas membuat Oliva terdiam sesaat, ia membereskan isi kotak P3K tanpa berkata apapun. “Aku nanya Johan karena ingin mastiin kalo aku nggak salah orang. Maaf kalo kamu tersinggung.”
Oliva mendongak kemudian samar-samar tersenyum.
“Kamu apa kabar?” tanya Dimas ketika bisa merasakan suasana di antara mereka agak mencair. “Teman lama…”
“Seperti yang kamu lihat. Baik, nggak baik”
“Kamu banyak berubah, dari luar”
“Aku diet keras buat nurunin 100kg, sekarang berat aku cuman 49kg” jawab Olivia. “Kacamata hitam kamu yang tebal itu dimana?”
“Aku pake kalo kerja”
“Emang kamu bisa lihat?”
“Oliv, aku itu rabun jauh, bukan buta”
“Ya kirain.” Olivia tertawa geli. “Usaha nasi uduk mama kamu gimana?”
“Udah buka cabang”
“Keren. Janji kupon makan aku masih berlaku kan?”
“Kupon apa?”
“Waktu itu kamu bilang, kalo aku beli nasi uduk kamu seminggu berturut-turut, aku bakal dapat kupon makan nasi uduk gratis di warung mama kamu” jelas Olivia. “Aku makan nasi uduk kamu satu semester loh”
“Masih inget aja” senyum Dimas. “Kamu pasti dapat kupon makan gratis, sebagai rasa terima kasih karena kamu udah jadi pelanggan tetap”
“Justru aku yang harus berterima kasih. Tanpa nasi uduk kamu, mungkin tiap istirahat aku bakal kelaparan” balas Olivia.
Senyum Dimas perlahan menghilang, ia tahu Olivia membeli nasi uduknya setiap hari bukan karena suka, tapi karena Olivia menghindar untuk pergi ke kantin. Karena itu diam-diam Dimas sering kali menyiapkan nasi uduk dengan lauk yang berbeda khusus untuk Olivia.
“Pasti dulu berat banget buat kamu. Maaf aku nggak peka sama kesulitan kamu” kata Dimas serius.
“Bukan salah kamu, jadi kamu nggak perlu minta maaf. Itu emang murni kesialan aku karena harus sekolah disitu.”
Dimas menatap Olivia lekat-lekat, ia bisa merasakan sekilas ada sebuah siratan kebencian teramat sangat yang muncul dari raut wajah cewek itu.
“Terus sekarang apa rencana kamu?”
“Nggak ada”
“Varo suka sama kamu” beritahu Dimas tanpa basa-basi.
“Oh” balas Olivia mengangguk. Bibirnya tersenyum manis membuat Dimas merasa dilema.
Dimas tidak mengerti, senyum itu terlihat sangat tulus di matanya, tapi bertolak belakang ketika beberapa saat lalu Dimas melihat sekilas ada siratan benci muncul dari wajah Olivia.
“Kamu suka sama Varo?” tanya Dimas terdengar hati-hati.
“Menurut kamu?”
“Aku rasa kamu benci Varo, tapi perhatian kamu ke Varo justru kontradiktif sama pernyataan aku tadi”
“Dan kesimpulannya?”
Dimas diam, begitu juga dengan Olivia. Keduanya hanya bertatapan dengan makna dan pemikiran masing-masing.
“Dim, udah selesai belum? Kak Rangga manggil.”
Wajah Dimas dan Olivia serempak berpaling ketika suara Varo terdengar, ia muncul dengan kardus besar berisi barang milik Nabila.
“Mau ngapain?”
“Nggak tau” geleng Varo menaruh kardus di lantai sementara Dimas melangkah pergi. Suara rintik hujan yang perlahan menjadi hujan deras terdengar. Olivia memalingkan wajah menatap ke luar jendela.
“Kamu nggak mau ke depan?”
“Enggak” geleng Olivia kemudian berpaling pada Varo. “Kamu nggak mau duduk?”
“Kamu mikirin apa sih?” tanya Varo ketika duduk depan Olivia, wajah cewek itu berpaling dengan ekspresi bingung.
“Hah?”
“Muka kamu kelihatan kayak lagi mikir yang berat-berat. Khawatir sama Johan ya?”
Olivia hanya tersenyum kecil sebagai jawaban, tangannya menopang dagu di atas meja dan menatap Varo.
“Warna favorit kamu apa?”
“Hah?” Varo mendongak dengan tampang bloon.
“Warna favorit kamu apa?” tanya Olivia ulang menahan senyum geli.
“Hitam”
“Makanan favorit?”
“Apapun yang enak di mulut”
“Tempat favorit untuk dikunjungi?”
“Gunung. Aku di kampus anak pecinta alam”
“Keren”
“Kenapa kamu tiba-tiba nanya?” tanya Varo heran.
“Karena aku pengen tau tentang kamu” jawab Olivia santai. Varo tersenyum menyandarkan dagunya di atas meja sembari tetap menatap Olivia.
“Aku rasa kamu tau banyak tentang aku”
Varo menggeleng. “Nggak masalah” katanya tenang.
Tangan Varo bergerak perlahan menyentuh wajah Olivia. Cewek itu tidak menolak, ia tetap tersenyum manis bahkan meskipun jari Varo mengelus pipinya lembut.
Dulu Varo menganggap Olivia adalah bentuk nyata dari fantasi setiap lelaki. Ia cantik, menarik, sempurna secara kepribadian dan fisik. Tapi sekarang penilaiannya berbeda. Olivia jauh lebih dari sekedar fantasi lelaki, ia berubah menjadi candu, tetapi candu itu hanya berlaku untuk Varo.
Varo menyukai segala sesuatu tentang Olivia. Cerita Olivia, caranya tersenyum, dan memberikan perhatian yang seolah hanya ditujukan untuk Varo seorang.
Jemari Varo bergerak perlahan menyusuri wajah Olivia dan berhenti tepat di bibir bawah cewek itu. Senyum Olivia semakin lebar, tatapan matanya menunjukan bahwa ia jelas tidak menolak apabila Varo menciumnya sekarang.
Tubuh Varo hendak bergerak maju, tapi suara Dimas dari luar membuatnya berhenti.
“Varo! Bantuin getok sanggahan payung dong, entar terbang nih! anginnya kencang banget!” teriak Dimas.
“Sial!” umpat Varo serta-merta menarik tangannya menjauh.
“Sana, kamu ke depan” kata Olivia tertawa geli ketika melihat perubahan ekspresi Varo yang kesal pada Dimas.
...*****...
Hujan turun seharian, bahkan ketika waktu sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, ditambah lagi suara petir terdengar menggelegar keras dari luar.
Varo sedang berada di kamar Olivia, matanya menatap minat ke segala penjuru kamar Olvia yang tertata rapi. Di pojok kamar ada sebuah meja kecil panjang dengan berbagai jenis buku, lukisan, dan gelang yang dibuat sendiri oleh Olivia. Keberadaan benda-benda di atas meja itu membuat Varo yakin bahwa Olivia memiliki minat tinggi dalam dunia seni.
Iseng, Varo mengambil buku sketsa milik Olivia dan melihat-lihat isinya. Berbagai tempat terlukis detail lengkap dengan nama dan tanggal, tanda bahwa tempat itu pernah disinggahi Olivia.
“Kamu ngapain?” Suara Olivia terdengar bersamaan dengan pintu kamar terbuka.
“Kamu buat ini sendirian?” tanya Varo tanpa berpaling. Olivia melangkah mendekat duduk di samping Varo.
“Prambanan” tunjuk Olivia pada sketsa prambanan yang belum selesai. “Ini satu-satunya tempat yang belum pernah aku kunjungi, tapi udah ada sketsanya disini. Aku ngeliat dari internet.”
Varo menatap sketsa itu lekat-lekat, tapi hanya sebentar dan setelah itu wajahnya berpaling pada Olivia.
“Kenapa nggak pergi? Nggak punya waktu? Mau aku anterin?”
“Enggak” geleng Olivia. “Aku nggak pengen kesana.”
Varo menaruh sketsa kemudian menopang kepalanya di atas meja.
“Kamu ingat live in anak kelas satu menjelang try out kelas tiga?”
“Hmm. Live in di Yogyakarta” angguk Varo.
“Hari terakhir live in. Kita ke prambanan. Tapi aku nggak ikut, aku tetap di penginapan” cerita Olivia. “Johan sakit, nggak ikut live in”
“Hanya karena itu?”
Olivia angkat bahu. “Aku canggung di dekat banyak orang.”
“Sekarang masih canggung?”
“Entah…..Tapi aku ngerasa baik-baik aja pas ketemu kamu, Dimas, Bima”
“Aku harus merasa bangga karena itu berarti kamu nyaman didekat aku” balas Varo senang mendengar jawaban Olivia.
Tangan Varo terangkat naik menyentuh rambut Olivia, jarinya perlahan bergerak menyisipkan helaian rambut ke belakang telinga cewek itu. Keduanya diam, bertatapan lama. Wajah Varo bergerak mendekat. Perlahan tapi pasti Varo menempelkan bibirnya pada bibir Olivia.
Awalnya hanya sebuah ciuman biasa, tapi kemudian perlahan berubah menjadi hasrat yang membuat Varo seperti tidak bisa lagi menahan dirinya sendiri. Tubuh Varo bergerak menuntun dirinya dan Olivia mendekati tepian kasur tanpa kaki. Ia terus mencium Olivia sampai kemudian Varo bisa merasakan tekanan kecil di dadanya. Olivia mendorongnya menjauh.
“Aku nggak bisa napas” Olivia menunduk membuat Varo tersenyum.
“Maaf” bisik Varo mencium puncak kepala Olivia.
“Udah mau jam dua belas, kamu nggak mau tidur?” tanya Varo tanpa permisi berbaring diatas kasur Olivia.
Kasur tanpa kaki yang berukuran tidak terlalu besar, mungkin hanya muat untuk satu orang, tapi Varo tidak peduli. Sejak pekerjaannya membantu Rangga selesai dan hujan yang terus turun, Varo benar-benar enggan untuk kembali ke penginapan. Ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama Olivia di kamar cewek itu.
“Sini,” tepuk Varo pada bagian kecil di dekatnya. Oliva berdecak tapi mengikuti kemauan cowok itu.
“Kamu nggak mau balik? Ntar Bima nyariin.”
Kepala Varo menggeleng, tanpa ragu tangannya menarik Olivia mendekat dan memeluk cewek itu erat.
“Masih hujan”
“Ada payung”
“Petir”
“Tinggal lari.”
Varo nyengir sedikit menunduk menatap Olivia dalam dekapannya.
“Cantik…” bisik Varo mengelus pipi Olivia.
“Geli” tawa Oliva sedikit menjauhkan wajahnya.
“Kami mirip siapa?”
“Mama. Satu-satunya yang aku warisin dari papa cuman rambut hitam” jawab Olivia. “Kamu sendiri mirip siapa?”
“Waktu kecil mirip mama, tapi sekarang banyak yang bilang mirip papa. Karena ini” tunjuk Varo pada kedua alisnya.
“Aku suka alis kamu. Kalo kamu cewek, kamu pasti cantik banget”
“Kalo tampang aku sekarang?”
“Oke” jawab Olivia ragu. Varo tampan, tapi sulit baginya untuk mengakui hal itu.
Varo tertawa. “Ini pertama kalinya ada yang bilang tampang aku oke”
“Biasanya?”
“Cakep, menarik…”
“Kamu selalu hidup dikelilingi pujian ya?” tawa Olivia.
“Kamu juga kan? Kamu pasti udah bosen denger orang bilang kamu cantik” balas Varo.
Olivia menarik nafas, tapi senyumnya tidak menghilang. Jemarinya naik mengetuk-ngetuk pelan dada Varo.
“Orang tua kamu kayak gimana?”
Varo terdiam sejenak kemudian menjawab ragu. “Mama...baik?....entah, aku nggak inget”
“Papa?”
“Keras. Kita sering bertengkar” jawab Varo. “Aku pernah hampir dijodohin sama anak teman bisnis papa. Aku nolak, papa marah, Kak Amirah nangis, aku ditampar, dan aku milih minggat dari rumah” lanjut Varo merangkum kisah hidupnya sesingkat mungkin.
Ini adalah pertama kalinya seseorang selain Angga dan Dimas mengetahui ringkasan dari detail kisah hidup Varo. Ia sama sekali tidak pernah membuka diri atau bercerita pada siapapun.
Ketika berada dalam suatu hubungan, bahkan saat ini dengan Arini sekalipun. Varo tidak menceritakan banyak hal tentang dirinya. Ia mendengarkan kisah Arini dan orang lain tapi kemudian menarik batas untuk cerita dari dirinya sendiri.
“Kamu udah berapa lama nggak pulang?”
“Aku sesekali pulang kalo misalnya abang aku datang, atau kalo ada acara keluarga yang mengharuskan aku datang. Selebihnya aku lebih milih main PS bareng Bima”
“Kalo ketemu mama?”
“New York….jauh” jawab Varo pelan. “Angga selalu bilang 'punya mama itu dijaga,' tapi aku ngerasa susah buat ngejaga mama, karena sejak awal mama yang milih buat ngelepas aku. Kalo udah kayak gitu aku bisa apa?”
Olivia diam sesaat kemudian berkata pelan, “hati kamu terlalu menjauh.” Varo terdiam, sama sekali tidak berniat untuk membalas perkataan Olivia. “Aku harap kamu baik-baik aja” bisik Olivia membuat hati Varo menghangat.
Jemari Varo bergerak mengusap bibir bawah Olivia, ada rasa sayang yang sulit dijelaskan setiap kali melihat cara Olivia menatapnya.
“Boleh aku cium?” tanya Varo pelan.
“Emang kalau aku tolak kamu bakalan nurut?”
Varo tertawa kecil sambil angkat bahu, tangannya lalu menarik tengkuk Olivia dan mencium bibirnya. Pelan dan hati-hati, seakan bibir Olivia terbuat dari kaca bening yang mudah pecah. Gerakan bibirnya yang lembut seolah ingin memberitahu Olivia betapa besar rasa suka yang Varo simpan dalam hatinya khusus untuk cewek itu.
Ditengah ciuman mereka, Varo seakan kehilangan akal. Ciuman ini tidak lagi hanya sekedar ciuman rasa sayang, Varo menginginkan Olivia. Ia ingin Olivia menjadi miliknya pribadi, tanpa ada orang yang bisa menghapus eksistensi cewek itu dari dirinya.
Lucu, karena Varo selalu bebas memilih siapapun untuk berada di dekatnya. Tapi sekarang tatapannya pada Olivia justru menunjukan ketidakberdayaannya dalam sebuah siratan makna yang menginginkan Olivia seutuhnya untuk dirinya sendiri.
Varo bangkit dari posisinya dan menatap Olivia yang terkurung dibawahnya. Perasaan gundahnya sirna ketika matanya menatap wajah Olivia.
“Aku nggak akan ngelakuin lebih dari ini” bisik Varo sekali lagi tapi kontradiktif ketika salah satu tangannya melepas kaosnya. Dalam hati Varo mengutuk dirinya sendiri karena perkataannya justru berbanding terbalik dengan perasaannya.
Varo berani bersumpah, ia menginginkan Olivia lebih dari pada ini.
...*****...
Varo bergumam pelan sedikit tidak nyaman. Area geraknya terbatas karena tempat tidur mereka memang hanya dikhususkan untuk ukuran satu orang dewasa. Tapi meskipun begitu, Varo tetap tidak ingin keluar dari situ. Matanya menatap punggung Olivia yang masih mengenakan pakaian lengkap, sementara dirinya hanya mengenakan celana sementara kaosnya berada agak jauh dari kasur.
Dingin.
Varo mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan sebagian wajahnya dari balik leher belakang Olivia.
Sejam lalu Varo kalah telak dari Olivia yang lebih dulu mendorongnya menjauh. ‘Aku sekarang udah tahu sampai mana kamu bisa ngendaliin diri kamu sendiri’ kekeh Olivia penuh kemenangan.
Varo tidak bisa berbuat lebih, ia menginginkan Olivia, tapi disatu sisi perasaan sayang pada cewek itu membuatnya memilih untuk menahan diri. Varo tidak ingin Olivia terluka karena sikapnya.
Suara ponsel terdengar memecah keheningan dari antara mereka. Varo berdecak pelan ketika tubuh Olivia bergerak mencari ponselnya dan mengangkat panggilan telepon dari seseorang.
“Siapa?” bisik Varo bertanya ketika Olivia selesai berbicara.
“Teman. Minta file hasil riset kelompok” jawab Olivia, suaranya masih terdengar sedikit serak.
“Kirimnya besok aja” rajuk Varo ketika Olivia bangkit berdiri dan mengambil laptopnya.
“Selagi inget. Kamu lanjut tidur aja” kata Olivia menyalakan laptop mencari file yang diminta temannya.
Varo mengangguk malas-malasan tapi tidak memejamkan mata. Ia diam-diam mengawasi Olivia yang duduk bersandar di dinding. Varo menyadari situasi ini membuatnya terlihat seperti sangat terobsesi dengan Olivia, seolah setiap gerak-gerik Olivia harus tersimpan rapi dalam indra penglihatannya.
Suasana senyap kamar itu kembali terganggu ketika terdengar bunyi pesan masuk berkali-kali dari ponsel Varo.
“Varo ada chat” beritahu Olivia mengambil ponsel Varo yang berada di dekat kakinya. “Dari Arini.”
Perkataan Olivia membuat tubuh Varo mendadak seperti terkena sengatan listrik. Ia tidak mengatakan apapun namun tangannya terulur mengambil ponsel yang diberikan Olivia.
Puluhan pesan datang dari Arini membuat Varo meringis. Arini marah, ia merasa kesal dengan sikap Varo akhir-akhir ini.
Sekilas mata Varo melirik ke arah Olivia, ekspresi cewek itu terlihat tenang menatap layar laptop. Tapi itu justru membuat Varo merasa bersalah sekaligus dilema.
Arini pacarnya, tapi ia menyukai Olivia. Perlahan Varo sadar perkataan Dimas benar. Ia harus menyelesaikan salah satu dari hubungannya atau akan kehilangan keduanya.
Dan kali ini Varo memilih untuk menyelesaikan hubungannya dengan Arini tanpa melibatkan Olivia. Varo bertekad tidak akan kehilangan Olivia.