Mr. Bully

Mr. Bully
Maybe My Soulmate Died - Iamnotshane



“Dim gue butuh ngomong sama lu” kata Varo tanpa basa-basi menghampiri Dimas yang sedang bersemedi di atas batu-batu besar pinggir pantai.


Jari tangan Dimas naik memberikan kode bagi Varo untuk diam. “Gue tau lu mau ngomong apa, jadi biarin gue dalam lima menit ini tenang dulu. Akhir-akhir ini banyak energi buruk di sekeliling gue.”


Varo meloncat ke atas batu dan duduk di sebelah Dimas menunggu cowok itu menyelesaikan meditasi. Suara ombak dan cipratan air tepat berada di bawah batu sesekali mengenai kaki Varo.


Langit mulai menggelap, sementara belum nampak niatan Dimas untuk menyudahi meditasi. Semenit, dua menit, sepuluh menit. Varo mendengus tidak sabar dan menarik bulu kaki Dimas sampai cowok itu menjerit kesakitan. Mata Dimas terbuka melemparkan pelototan jengkel.


“Lu nggak lihat matahari udah tenggelam?”


“Ya bagus dong. Berarti waktu berfotosintesis sudah selesai” ketus Dimas memperbaiki posisi duduknya. “Lu mau ngomong apa? Sandra? Elu? Olivia? Alexa?”


“Semua”


“Hmm gimana ya. Gue sebenarnya malas ikut campur urusan orang. Tapi, mulut gue gatal pengen cerita, karena ini ada sangkut pautnya dengan elu” cengir Dimas. Varo pasang tampang serius, mendengarkan seksama cerita cowok itu.


Namanya Alexandria Charmel. Keluarganya memanggilnya Charmel, orang terdekatnya memanggilnya Olivia, dan mereka yang tidak mengenal memanggilnya Alexa atau Alex. Ia hanya seorang cewek biasa, yang ada atau tidaknya eksistensinya tidak akan memberikan pengaruh apapun bagi keberlangsungan hidup anak SMA Merah Putih. Charmel menyukai banyak hal. Lukisan abstrak, lagu lawas delapan puluhan, makanan manis, dan seorang cowok tampan kapten basket SMA Merah Putih bernama Alvaro Wijaya.


Awalnya ia hanya melihat, memperhatikan, dan menyukai dari jauh. Tapi luapan perasaan suka seorang anak berumur lima belas tahun terkadang tidak bisa dibendung lagi. Charmel menulis surat, mencurahkan isi hatinya dalam guratan detail diatas kertas putih. Ia menyimpan surat itu di dalam tas, menunggu kapan waktu dan keberaniannya akan berkumpul menjadi satu.


Tapi ditengah waktu itu, seseorang yang tidak diharapkan datang, menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ia temukan, dan menyebarkan apa yang tidak harus disebarkan. Setelah itu, kehidupan Charmel berubah, dalam sekejap ia menjadi pusat perhatian. Bukan hanya perhatian, cemoohan dan bully dimulai. Tidak ada tempat aman bagi Charmel. Semudah membalikan telapak tangan, semudah itu juga kehidupan Charmel berbalik. Ia menjadi si paling tidak diinginkan, diasingkan, dan sekolah  perlahan menjadi neraka baginya.


Charmel ingin melarikan diri, tapi ia tidak bisa. Ia hanya bisa menahan diri sembari menunggu waktu untuk pergi. Kesempatan itu datang, Charmel bisa pergi dari sekolah itu, tapi di waktu ia kehilangan kedua orang tuanya. Charmel menutup luka lama dengan luka baru.


“Lu tau apa yang lebih parah?” tanya Dimas di penghujung cerita. “Elu dan semua orang nggak ada yang mengingat eksistensi dia, dulu atau sekarang. Gue bisa merangkum cerita Olivia dalam waktu kurang dari sejam, tapi efek dari pengalaman yang Olivia alami terlalu dahsyat. Lucu kan? Orang yang ingin lu lindungin, justru adalah orang yang sakit karena elu. ”


Varo terpaku, diam. Berbagai pertanyaan tentang Olivia yang selalu muncul dibenaknya selama ini mendadak menguap. Teka-tekinya terjawab sudah. Olivia mengenalnya bukan karena mereka pernah menjadi teman, tapi karena ia membenci Varo. Cewek itu adalah salah satu dari sekian banyak korban pembullyan yang datang untuk menciptakan karma.


 “Sekarang lu ngerti kan seperti apa perasaan rasa bersalah?” tepuk Dimas tenang, ia tahu, sampai kapanpun Varo tidak akan bisa menjawab pertanyaannya.


...*****...


Olivia sedang melangkah menyusuri pantai ketika mendengar suara panggilan Varo. Ia balik badan dengan ekspresi heran melihat cowok itu berlari.


“Ada apa?” tanya Olivia heran. Kardus kecil dalam pelukannya ia taruh di atas pasir.


“Kamu dari mana?”


“Ngambil paketan”


“Oh…” gumam Varo, ia menelan ludah mencoba menghilangkan perasaan sedih saat melihat Olivia. “Aku pergi ke New York, buat ketemu mama”


“Oh ya? Kapan?” tanya Olivia antusias. Varo angkat bahu tidak yakin, sebenarnya ia memanggil Olivia bukan untuk membicarakan hal itu. Olivia menepuk punggung Varo pelan. “Aku yakin terapi mama kamu pasti berhasil”


“Aku….” Varo ragu, ia merasa bingung harus memulai dari mana.


“Kamu mau ngomong sesuatu?”


Varo menatap Olivia lekat-lekat, cewek itu menunggu, tapi ekspresinya terlihat seperti ia sudah tahu kemana arah pembicaraan mereka akan berlanjut. 


“Kamu…apa kabar?” Varo tidak bisa menyembunyikan ekspresi gugup, ia benar-benar tidak bisa berpikir lagi apa yang akan terjadi setelah ini. “Alexandria Charmel…”


Olivia tersenyum, tapi bukan senyum ramah seperti biasa. Senyumnya seperti seorang yang baru saja ketahuan melakukan sesuatu, Olivia tidak menjawab, ia menunggu Varo berbicara, namun kakinya mundur selangkah memberikan jarak diantara mereka.


“Dimas udah cerita semua ke aku” kata Varo seakan ingin merangkum semua yang ia dengar hari ini. “Kenapa kamu nggak cerita?”


“Cerita apa?”


“Kalo kamu dibully.”


“Setidaknya aku bisa minta maaf.”


Olivia tertawa, tapi bukan tawa ramah yang selalu ia perlihatkan. Ekspresinya terlihat sangat ketus. “Brengsek…” gumam Olivia untuk pertama kalinya mengumpat. “Aku pengen tau gimana rasanya setelah ngebully anak orang sampai hampir mati…dan dengan santainya ngomong minta maaf. Aku penasaran”


“Oliv…” Varo berusaha meraih tangan Olivia, tapi cewek itu menepis kasar dengan tatapan tidak senang. Varo sadar, ia bukan berhadapan dengan sekedar rasa kesal, lebih dari itu, Varo sedang menghadapi sebuah amarah, benci, dan dendam. Ironisnya, hal itu datang dari seorang yang paling ia suka. “Aku minta maaf. Dan aku sama sekali nggak ada pembelaan untuk semua kesalahan aku dulu”


“Kamu jangan minta maaf. Itu nggak akan merubah apapun” ketus Olivia, darahnya mendadak mendidih meskipun Varo hanya berdiri di depannya.


Amarah Olivia perlahan mulai melewati ambang batas, permintaan maaf Varo membuat harga dirinya tergores. Olivia tidak ingin mendengar permintaan maaf Varo, bahkan meskipun cowok itu berada dalam urutan pertama dari daftar hitam hidupnya. Yang Olivia inginkan adalah memberikan Varo harapan, membuatnya merasa istimewa, dan kemudian pergi meninggalkan cowok itu. Hanya sekali dalam hidupnya Olivia ingin ending seperti yang ia rencanakan. Olivia ingin Varo sekali saja dalam hidupnya merasa putus asa, sama seperti yang ia rasakan dulu.


“Karena kamu dan teman-teman kamu, hidup aku kayak di neraka. Aku cuman ngelakuin satu kesalahan, suka sama kamu, tapi sikap kalian seakan aku baru aja bunuh orang. Padahal pembunuh sebenarnya adalah kalian.” Nafas Olivia memburu, ia berusaha tenang tapi amarahnya malah membuatnya merasa sesak. “Sejak kenal kalian, nggak ada satupun hari bagi aku untuk bisa hidup tenang. Kamu bisa bayangin nggak betapa takutnya aku untuk bangun pagi dan pergi ke sekolah? Kamu nggak tau kan? Itu semua karena kalian.”


Varo menghela nafas pelan, tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam mendengarkan amarah Olivia. Ia bisa melihat mata cewek itu mulai berkaca-kaca, dan benar beberapa detik kemudian pertahanan Olivia runtuh. Olivia yang semula ingin mengangkat wajahnya tinggi-tinggi dengan ekspresi ketus, justru mulai menangis.


“Kamu pikir aku juga mau jadi cewek jelek, nggak pintar, dan nggak populer? Aku juga nggak mau! Tapi itu bukan berarti kalian bisa seenaknya sama aku! Aku diam bukan karena aku manusia baik atau sabar, tapi karena kalian itu menakutkan. Kalian nggak nyuruh aku mati, tapi kelakuan kalian buat aku pengen gali kuburku sendiri. Kalo kalian benci aku, seharusnya kalian itu konsisten sampai akhir untuk menganggap aku enggak ada. Harusnya kalian nggak ngacuhin keberadaan aku, nggak ngeliat aku. Itu lebih baik dibanding kalian ngetawain aku, ngunci aku di gudang, ngelem kursi aku, atau dorong aku ke kolam. Sampai mati aku benci sama kalian.”


Olivia menangis, isakannya terdengar sangat melukai hati Varo. Tapi sekali lagi, cowok itu tidak bisa melakukan apapun. Varo sadar ada batasan tinggi yang mendadak dibangun Olivia untuk mereka berdua. Tangisan serta tatapan benci Olivia  menunjukan bahwa izinnya untuk memeluk dan menenangkan cewek itu sudah tidak berlaku lagi.


“Kamu ingat kan aku pernah bilang aku cewek jahat?” suara Olivia berubah serak, ia menyeka air mata yang mengalir di pipi dan menatap Varo lekat-lekat lalu berbisik pelan. “Aku harap sekarang hati kamu terluka karena aku dan nggak ada orang yang bisa menghibur kamu. Aku harap kamu akan hidup dalam penyesalan dan aku harap kita nggak akan pernah ketemu lagi.”


Varo membeku, suara Olivia terdengar sangat lirih membuat hatinya semakin terasa sakit. Olivia membencinya, terlalu benci bahkan. Sekarang Olivia terlihat seperti dua orang yang berbeda, membuat Varo tidak yakin apakah cewek yang duduk bersamanya di pantai sama dengan cewek yang berdiri di depannya ini.


“Aku benci kamu” bisik Olivia untuk terakhir kalinya.


“Varo!” panggilan dari arah belakang membuat Varo berdecak pelan. Tanpa perlu berpaling ia langsung tahu Arini sedang menghampiri mereka berdua.


Olivia melangkah lebih dekat pada Varo dan berbisik dengan perasan benci. “Sampai aku ijinin kamu buat bahagia, kamu nggak akan pernah bahagia.”


Setelah itu Olivia langsung balik badan dan menjauh pergi meninggalkan Varo terpaku mendengar perkataannya, ia sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Varo untuk berbicara.


“Varo!” Arini menarik tangan Varo menghentikan langkah cowok itu ketika hendak pergi mengejar Olivia. “Aku mau ngomong”


“Nanti aja dulu”


“Sekarang!” paksa Arini menahan. Varo terpaksa berdiri, tapi matanya tak kunjung lepas dari Olivia yang semakin melangkah jauh masuk ke kafe.


“Aku mau minta maaf karena udah nampar kamu. Aku masih sayang kamu, aku mau kita balikan dan bersama kayak dulu” kata Arini tanpa basa-basi membuat Varo berpaling. Di masa lalu mungkin Varo akan tertarik pada keberaniaan Arini, tapi ia sekarang berada di situasi genting yang membuatnya menjadi tidak peduli.


“Arini, gue mikir-mikir dulu ya. Lagi urgent nih” balas Varo singkat melepas genggaman Arini dan berlari menyusul Olivia, tidak mengacuhkan teriakan kesal Arini memanggil-manggil namanya.


“Kak, Olivia mana?” tanya Varo tergesa-gesa.


“Tuh di dalam anaknya, tadi nangis, lagi sama Sera. Jangan sering-sering bertengkar, nanti kalo kangen susah” senyum Nabila dari balik meja bar. Varo memaksakan diri tersenyum lalu masuk ke dalam, ada Sera baru keluar dari kamar Olivia bersama Gegi. Sera mengangkat tangan menghalangi langkah Varo yang ingin masuk ke dalam.


“Orangnya lagi nangis, jangan diganggu, ntar kalian malah tinju-tinjuan”


“Bentar aja Ser, gue lagi nggak bisa bercanda”


“Nggak boleh” geleng Sera menahan. “Aku saranin jangan masuk, entar Olivia makin kesal sama kamu”


“Aku nggak peduli Ser. Ada yang perlu aku ngomongin sama Olivia”


“Varo, kalo cewek lagi marah biarin aja dulu sampai marahnya redah. Jangan dipaksa, entar makin ribet. Percaya deh sama aku. Percuma juga kalo kamu masuk sekarang, dia lagi nangis, omongan kamu nggak bakal didengerin. Jadi mending nunggu sampai lebih kondusif buat diajak ngomong.”


Varo menarik nafas mengacak rambutnya frustasi, tapi akhirnya kepalanya mengangguk lemah. “Tolong chat aku kalo misalnya Olivia udah terlihat lebih tenang.”


Sera mengangguk dan setelah itu dengan perasaan tidak rela Varo melangkah pergi meninggalkan tempat itu.