Mr. Bully

Mr. Bully
Airplane - B.O.B ft Hayley Williams



Tepat ketika mobil yang membawa Arini, Sandra, dan Ete menjauh, wajah Bima langsung tertekuk, berpaling pada Varo.


“Airini bilang apa? Sebagai tanda Balikan lu kudu ke Bali? Gila! Nggak usah! Ke kampus aja males, apalagi ke Bali buat nemuin mantan. Mending lu lanjut bangun candi Prambanan, biar Roro Jonggrang terlepas dari kutukan. Jangan lagi deh pacaran sama junior, banyak drama.”


Varo hampir tersedak rokok, ia mendengus dengan senyum geli tapi tidak menjawab omelan Bima.


“Gue kira lu bestie sama Arini” sindir Dimas.


“Arini temen gue, tapi Varo sahabat gue. Nggak bisa gue diam aja ngelihat teman gue jatuh ke perangkap yang sama. Baru berapa bulan pacaran aja sikapnya kayak gitu. Gimana kalo kalian nikah? Bisa-bisa cewek sekitaran elu ditusuk sama Arini”


“Bim, daripada lu marah-marah mending lu jadi bintang laut” sahut Varo.


“Makasih sarannya, tapi gue lebih milih ke kafe ketemu Olivia dan Sera. Mampus lu semua! Hubungan nggak ada yang berjalan lancar” ketus Bima mendelik lalu pergi meninggalkan Varo dan Dimas duduk di pinggiran kolam renang.


“Udah nggak usah dipikirin, Bima kalo bokapnya telat ngirim duit emang jadi lebih sensi dibanding hari-hari biasa.” Dimas menepuk-nepuk pundak Varo pelan, seakan cowok itu sedang merasa sakit hati karena sinisan Bima. Varo menghempas tangan Dimas dan menyalakan rokok. 


“WOI!”


Tepukan keras dari belakang membuat keduanya berpaling, Varo hampir keselek rokok. Matanya melirik Johan sinis, tetapi cowok itu malah tertawa-tawa geli.


“Besok-besok kalo mau bunuh gue, langsung tebas aja kepala gue dari belakang.”


Johan nyengir, menyodorkan tiga botol bir, ia duduk di sisi lain kolam.


“Apakah pantas seorang cendikiawan memabukan temannya dengan alkohol?” komentar Dimas tapi matanya berbinar mengambil sebotol bir. “Elu dari kemarin kayak alang-alang kering, sekarang ceria kayak kucing habis kawin. Ada apa sih sobat? Baru dikirim gambar porno?”


“Cara bicara lu, nggak melambangkan budi pekerti cendekiawan yang baik dan nggak usah lebay Dim, lu minum satu botol bir dengan persentase dua persen alkohol nggak bakal buat lu langsung mukul orang lewat” balas Johan lugas, Dimas tertawa ngakak membuka tutup botol bir dengan gigi.


“Kuat banget gigi lu. Sering sikat gigi pake ter ya?”


“Enggak, batu-bata” jawab Dimas jayus.


“Halo pak” suara Varo baru terdengar lagi ketika ada sebuah panggilan masuk untuknya.


[Mas Varo, ini saya Putra]


“Oh saya kira pinjol.”


Putra tertawa geli. [Ah Mas Varo bisa aja. Saya mau ngasih tau jadwal keberangkatan Mas Varo.]


Varo mendengarkan penjelasan Putra seksama.


Besok Varo akan pergi ke New York untuk menemui Kinasih. Semua urusan, mulai dari tiket dan tempat tinggal diurus oleh Putra. Seperti perkataan Olivia bahwa banyak orang yang sedih sama seperti dirinya, Varo memutuskan melakukan sesuatu. Ia ingin menjadi bagian dari mereka yang bangkit dan menyelesaikan masalahnya dengan baik.


[Pokoknya semua barang udah saya siapkan mas. Dari Jakarta langsung ke New York, nggak mungkin pesawat Mas Varo nyasar ke Bekasi]


“Iya pak, makasih.” Varo nyengir lalu mematikan sambungan telepon. “Gue pergi besok”


“Kemana? Balik Jakarta? Apa Bali? Emang lu mau balikan sama Arin?”


“Gue mau ke New York. Ada urusan” jawab Varo singkat tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Dimas dan Johan serempak mengangguk.


“Kapan balik?” gantian Johan bertanya


“Nggak tau”


“Kuliah gimana? Minggu depan udah masuk kampus.” Dimas melemparkan tatapan bingung. 


“Gue ambil cuti satu semester”


“Sepenting itu urusan lu?”


“Hmm” angguk Varo tenang, ia tahu dua temannya itu mengharapkan penjelasan lebih, tapi Varo memilih mengunci mulut rapat-rapat. Ia terlalu malas untuk menjelaskan semuanya dari awal, lagipula masalahnya hanya akan menjadi sebuah cerita tanpa jalan keluar.


“Tapi lu pasti balik kan?”


“Harusnya sih balik”


“Berarti ada kemungkinan untuk nggak balik. Olivia gimana?” tembak Johan langsung.


“Marah. Gue minta maaf. Olivia makin marah. The end”


“Ya gimana. Gue mau lebih, tapi dia nggak mau lihat muka gue. Gue salah, jadi nggak ada lagi pembelaan buat gue. Tapi gue harap gue punya kesempatan buat hapus kebencian Olivia ke gue, sekecil apapun kesempatan itu, gue akan coba.”


Dimas tiba-tiba bergerak maju, tangannya menekan dada Varo kuat-kuat sampai cowok itu tersentak dan menepis tangan Dimas.


“Lu beneran jatuh cinta! Gila! Sintung! Nggak waras! Seorang Alvaro Wijaya beneran jatuh cinta!” seru Dimas terkejut. Varo mendelik tapi tidak membantah perkataan cowok itu.


“Kalo misalnya nih, Olivia sama gue di kolam dalam dan andaikan gue nggak bisa berenang, siapa yang akan lu selamatkan?”


“Gue nggak akan biarin Olivia berada di kolam yang sama dengan lu” 


“Anjing!” maki Dimas langsung. “Oke kalo gitu. Misal lagi nih, gue sama Olivia-”


“Udah gue bilang, gue nggak bakal biarin Olivia berduaan sama lu” potong Varo menghisap rokok.


“Ini Olivia.”


Tiada angin dan tiada hujan, Johan menyodorkan ponsel menunjukan foto seorang cewek bertubuh gempal dengan rambut dikuncir rapi. Varo dan Dimas mematung, keduanya jelas mengingat sosok itu, tapi dengan kenangan berbeda.


Sosok di dalam foto itu membuat ingatan Dimas menjadi jauh lebih jelas. Alexa manis yang selalu membeli nasi uduknya dan menjadi korban bullying. Sekarang benak Dimas tidak lagi hanya mengingat kisah seorang Alexa, tapi ia juga bisa mengingat dengan detail seperti apa sosok cewek itu dulu. Gerak gerik Alexa yang selalu menarik perhatian Dimas dan sempat terhapus dalam memori otaknya, kini kembali lagi.


Disisi lain Varo juga teringat sesuatu, bukan karena cewek itu adalah Alexa. Tapi karena ia adalah cewek tanpa nama yang sering Varo lihat setiap kali bolos ke atap sekolah gedung olahraga, tempat dimana Varo sering melarikan diri dari pelajaran membosankan. Varo masih mengingat jelas sosok cewek itu, bukan karena ia istimewa, tapi justru karena ia sering bertingkah aneh.


Cewek itu sering mengobrol dengan kucing, tembok, lantai, langit, atau menangis sesegukan. Sebuah kegilaan yang tidak akan pernah Varo lakukan meskipun hanya ia seorang diri di tempat itu. Varo tidak pernah menyapa cewek itu, sekalipun ia bisa melihat jelas cewek itu dari dinding samping. Varo memilih untuk tidak peduli.


Hari-hari selanjutnya juga berjalan seperti itu. Setiap kali bolos Varo selalu melihat cewek aneh itu, dan pada suatu hari ia menghilang bagai ditelan bumi.


“Jadi gimana?” Johan menutup layar ponsel.


“H-hah?” Varo gelagapan, ia menatap canggung Dimas dan Johan. Kedua cowok itu menunggu Varo mengatakan sesuatu. “Gue…Gue belum mengepak koper.”


Dimas dan Johan spontan melongo ketika Varo bangkit berdiri dan melangkah pergi kembali ke kamar.


...*****...


“Lu seriusan berangkat subuh? Kenapa tiba-tiba sih?” tanya Bima ketika Varo memasukan semua bajunya ke dalam koper.


“Kalo pake perencanaan, itu namanya liburan.”


Bima melengos berbaring menyamping di atas tempat tidur, ia tahu Varo kerepotan mengepak isi koper tapi Bima tidak berniat untuk membantu.


“Muka lu pucet. Asam lambung lu naik?” tanya Bima iseng. Varo berpaling sejenak melemparkan tatapan heran. “Gue cuman nanya, gue kan care sama lu”


“Merinding gue dengarnya.”


Bima nyengir. “Terus….Olivia gimana?”


“Ya nggak gimana-gimana. Nggak mungkin gue masukin Bagasi”


“Lu udah bilang mau ke New York?”


“Udah. Tapi gue belum bilang gue mau berangkat subuh”


“Kenapa nggak bilang?”


“Emang penting buat Olivia tau gue pergi kapan?”


“Cara kerja alam itu kadang aneh ya. Kemarin nggak kenal, terus dekat. Kemarin nggak ada rasa, terus cinta. Kemarin sayang, terus benci.” Bima bangkit mengambil handuk. “Gue mandi duluan.”


Varo melangkah menuju balkon ketika pekerjaannya selesai. Ia bersandar di pagar pembatas dan menyalakan sebatang rokok. Tatapannya jauh tertuju ke arah kafe. Samar-samar Varo bisa melihat Sera dan Johan disana sedang bolak-balik mengantar pesanan, tapi tidak dengan Olivia, cewek itu tidak terlihat sama sekali.


Rindu.


Itu adalah sebuah kata yang mampu menjelaskan perasaan Varo saat ini. Ia rindu melihat wajah Olivia, mendengar tawa, mengobrol, dan duduk seharian membicarakan berbagai hal. Benar kata Bima, cara kerja alam itu aneh. Yang tadinya tidak ada rasa, mendadak menjadi cinta. Yang tadinya dekat, mendadak menjauh, seakan tidak pernah ada pembicaraan panjang atau ciuman manis di antara mereka. Semua itu perlahan mulai menghilang bagai memori lama.


“Varo! Isi shampo lu ganti pake sunlight ya?! Anjing lu!” teriak Bima marah-marah dari kamar mandi, pantas saja ia merasakan bau aneh ketika membuka tutup botol shampo.


Varo tertawa keras tapi terus merokok, tidak memperdulikan makian panjang Bima dari dalam sana.