
She fell first, but then he fell harder
“Oliv, udah lihat allocation client belum? Gue sama lu kebagian salah satu kliennya Rangga. Brengsek emang tuh bocah, resign pas udah mau masuk masa audit.”
Olivia berpaling sekilas dengan senyum tipis pada Kesha. Dengan mulut penuh sandwich Olivia membuka email, mendadak mulutnya terbuka lebar dengan ekspresi terkejut ketika membaca nama sebuah perusahaan yang tercantum di kolom nomor terakhir.
“Gue denger saham Ravent lagi naik daun karena isu mereka mau rilis game baru. Satu lot saham Ravent udah nyentuh sejuta. Gila nggak? Gue yakin banget tuh revenue tahun ini gede, mandi duit CEOnya. Gue kemarin iseng ngeliat revenue tahun lalu, gila! Edan! Nggak waras! Kursnya pake dollar, pajaknya doang yang dalam IDR. Aduh iya pajak! Males banget, gue harus ngajarin anak magang vouching pajak. Eh kita dapat satu anak magang loh, kayaknya fresh graduate. Dia sempat bikin Kak Dendi syok kemarin, masa disuruh buat tabel di word malah dia buat satu-satu pake insert shape, gue ngakak waktu di ceritain. Lu dengerin gue nggak sih? Oliv! Olivia!”
Olivia tersentak kaget. “Lu bilang apa?”
“Ih dasar, cakep-cakep budeg. Malas ah mau ngomong lagi” dengus Kesha kesal.
Olivia memaksakan diri untuk tersenyum, meskipun sebenarnya otot-otot bibirnya mulai terasa kaku, matanya kembali berpaling pada email.
“Doa gue nggak dijamah Tuhan” gumam Olivia.
“Kenapa? Lu berdoa tiap malam biar klien lu nggak nambah?” kekeh Kesha salah tangkap.
“Udah, anggap aja lu cukup beruntung. Lihat tuh Sari, kliennya cuman satu PT, tapi anaknya banyak, jadi kalo ditotal kliennya ada tiga belas. Gue rasa sih tiga bulan lagi, lambung Sari udah pindah ke punggung. Yuk balik kantor, gue mau nyusun data request, kita fieldwordknya di kantor klien.”
Olivia melangkah keluar mengikuti Kesha. Ekspresinya terlihat sangat gusar, bahkan meskipun Kesha beberapa kali melontarkan lelucon, Olivia hanya bisa memaksakan diri untuk tertawa palsu. Allocation klien yang ia terima hari ini sudah cukup menarik keluar semua semangat hidupnya.
Ravent.
CEO, Alvaro Wijaya.
Sebuah nama yang mati-matian ingin ia lupakan selama enam tahun kini secara resmi menjadi klien Olivia, dan sekarang Olivia hanya bisa berharap, sekecil apapun itu, ia ingin pekerjaannya berakhir tanpa harus bertemu Varo.
...----------------...
Gedung Ravent begitu menarik. Berbagai poster, action figure, dan pernak-pernik character game memenuhi hampir setiap sudut ruangan. Berbeda dengan kantor Olivia yang lebih banyak tumpukan odner disetiap sudut, kantor Ravent memberikan kesan menyenangkan dan nyaman. Jika bukan karena pekerjaan, Olivia mungkin akan berpikir bahwa ia sedang study tour sekarang.
“Kalo minta satu action figure, bisa mempengaruhi independensi nggak?” tanya Rakai, anak magang yang baru bekerja dua bulan.
“Minta aja Kai, paling lu yang malu kalo nggak dikasih” jawab Kesha nyengir lalu mengangguk sopan pada seorang karyawan Ravent yang menghampiri mereka, ia memperkenalkan diri sebagai Bram dan berbicara panjang lebar pada Dendi ketua tim auditor eksternal, kemudian setelah itu Bram membawa mereka ke sebuah ruangan khusus di dekat ruang accounting.
“Kalo ada perlu sesuatu bisa telepon saya ya pak. Permisi” pamit Bram keluar.
“Hari ini usahin dapat data pajak dari januari sampai bulan ini. Kesha tolong ajarin Rakai cara rekap data pajak. Olivia kamu minta akta terbaru ya kalo ada. Saya mau ngobrol-ngobrol bentar sama manajer accounting, ada yang mau saya tanyain” kata Dendi kemudian keluar membawa laptopnya.
Kesha menarik nafas panjang menyalakan laptop. “Laptop gue belum nyala udah dikasih tugas tambahan. Kai, sini lu duduk dekat-dekat gue, biar enak gue ajarin”
“Hati-hati Kai, Kesha suka gigit” ujar Olivia dari pojok, ia menyalakan laptop dan tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Untuk beberapa saat Olivia seperti melupakan kekhawatirannya, tapi hanya sebentar, karena setelah itu ketika Kesha menepuk pundaknya Olivia mendadak panik.
“Makan siang dimana? Kantin karyawan?” tanya Olivia memastikan ulang.
“Iya. Kantin karyawan, di lantai satu”
“Mesan online aja gimana?”
“Nggak mau, duit gue menipis, tanggal gajian masih seminggu lagi. Ayo, makan. Lu mau kerja sampai jam berapa? Lambung lu entar karatan nggak dikasih makan” paksa Kesha.
Dengan berat hati terpaksa Olivia keluar, disusul Rakai bersiul-siul senang dari belakang. Berbanding terbalik dengan Rakai yang terlihat bahagia, Olivia justru melangkah was-was. Matanya menatap khawatir ke arah barisan karyawan Ravent mondar-mandir di jam makan siang.
“Pak Dendi nggak ikut, dia makan bareng manager accounting. Emang ahli banget tuh orang kalo berurusan sama klien. Sat set sot, langsung dapat data” kata Kesha.
“Woww” gumam Rakai takjub melihat kantin karyawan Ravent.
“Jangan kepikiran untuk resign ya Kai, sampai peak season selesai baru lu boleh resign” kekeh Kesha. Setelah memesan makanan mereka duduk di pojokan dekat dinding kaca.
“Emang ada yang resign ke Ravent kak?”
“Ada, si Angga, udah jadi staff accounting Ravent. Ntar kalo lu lihat orangnya, ludahin aja mukanya.”
Rakai tertawa geli. “Kak Oliv kenapa diem dari tadi? Lagi sakit kak?”
“Nggak. Gue cuman kurang tidur, semalam begadang sampai jam satu”
“Ngerjain klien mana?”
“ConOil, tahun ini baru diaudit sama kita”
“ConOil itu perusahaan kelapa sawit punya Salim group kan? Gue denger bermasalah tuh. Katanya mereka buka lahan di Kalimantan secara ilegal”
“Yang kebakaran besar empat bulan lalu ya kak?” tanya Rakai.
“Iya bener. Rajin nonton berita juga ya lu? Gue kira nonton anime doang” angguk Kesha nyengir lebar. “Tapi emang paling bener tuh kalo perusahaan teknologi kayak gini. Game. Nggak perlu bakar lahan buat dapat cuan, paling cuman ngabisin kuota.”
Olivia mengangguk-angguk, ia menyantap makanannya tapi matanya sesekali melirik ke arah karyawan Ravent. Pandangannya terlihat gelisah dan cemas.
Persentase kita untuk ketemu sangat kecil. Ini kan bukan sinetron! batin Olivia cemas.
Berkali-kali Olivia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia akan melewati hari-harinya di Ravent selama seminggu dalam keadaan tenang. Olivia hanya perlu berhati-hati untuk tidak sering keluar ruangan. Mungkin sesekali jika pergi ke toilet, tapi masalah mengambil data atau mengambil makanan online, untuk sementara semua itu bisa diserahkan pada Rakai. Bukan bermaksud memperbudak anak magang, tapi Olivia sedang berada di situasi pelik.
“Mau beli kopi enggak? Gue ngantuk”
“Boleh nitip nggak? Gue langsung balik ruangan. Mau ngurus akta notaris”
“Kopi kayak biasa? Nggak pake es?”
“Iya. Makasih Kesh” kata Olivia lalu buru-buru kembali ke ruangan. Ia menarik nafas lega begitu menutup pintu, pukul satu siang kurang lima belas, tersisa beberapa jam lagi sampai jam kerja selesai.
Olivia mengetik pesan pada Bram, iaa butuh akses mesin fotocopy untuk menscan beberapa data sebagai dokumentasi. Sekitar dua puluh menit pintu ruangan diketuk, wajah Bram muncul dengan senyum merekah.
“Dokumennya banyak ya Mbak Charmel?” tanya Bram basa-basi melirik ke arah odner ditangan Olivia.
“Nggak kok Pak, hanya beberapa. Saya mau print juga sebenarnya, bisa kan?”
“Bisa mbak, tapi kalo untuk scan, aksesnya harus ke email karyawan, mbak dari eksternal soalnya. Nanti saya pinjemin akses email saya untuk Mbak Charmel”
“Makasih banyak pak” senyum Olivia. Mereka masuk ke dalam ruangan fotocopy di dekat ruang accounting.
“Disini mesin fotocopy cuman satu?” tanya Olivia heran melihat hanya satu mesin fotocopy di ruangan itu.
“Enggak mbak. Ini mesin fotocopy umum, bisa dipakai siapa aja. Yang punya accounting di dalam ruangan accounting. Ini dipakai kalo mesin fotocopy di setiap ruangan full”
“Ooh…” Olivia mengangguk lalu memperhatikan seksama instruksi Bram.
“Mbak Charmel, tinggal dimana?” tanya Bram membuka percakapan.
“Jakarta, daerah Sudirman”
“Oalah. Kalo saya di Bogor, jauh kan?”
“Kenapa nggak nyari tempat tinggal sekitar sini?”
“Mahal mbak. Setengah gaji bisa habis cuman buat bayar tempat tinggal’ jawab Bram lalu menyingkir membiarkan Olivia bekerja.
“Kalo auditor, pulangnya balik ke kantor dulu atau langsung pulang?”
“Langsung pulang pak. Udah pada mandiri bisa balik sendiri-sendiri”
“Oohh, Mbak Charmel ada yang jemput?”
Sekilas Olivia tersenyum kecil, tahu kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut. “Iya pak, ada yang jemput. Pak saya boleh minta akta notaris pemegang saham terbaru enggak? Mau saya scan untuk dokumentasi”
“Tunggu bentar ya mbak. Ngomong-ngomong, mesin fotocopynya jangan dianggurin lama, suka logout sendiri kalo semenit nggak dipakai” angguk Bram melangkah keluar, ekspresinya terlihat sedikit kecewa mendengar jawaban Olivia.
Jangan salahkan Bram. Sejak pertama kali
menginjakan kaki di Ravent, pesona Olivia sudah berhasil menarik perhatian Bram. Wanita itu terlalu cantik untuk sekedar ia biarkan begitu saja.
Olivia kembali melanjutkan pekerjaannya, cukup banyak dokumen yang harus ia print, termasuk beberapa dokumen pajak yang akan ia scan. Suara sendat dari mesin print membuat Olivia berpaling, tanda kertas mesin habis dan harus diisi ulang. Olivia berjongkok mengambil kertas A4 dan memasukan ke dalam mesin.
“Sial” gumam Olivia ketika secara otomatis ter-log out dari akses mesin fotocopy. Ia lupa meminta akses Bram, untuk berjaga-jaga apabila terjadi hal seperti ini.
Mau tidak mau Olivia keluar ruangan, wajahnya celingak celinguk mencari Bram, tetapi lelaki itu tidak terlihat dimanapun. Hanya ada dua orang karyawan Ravent sedang berdiri menatap poster di dekat ruang accounting.
“Permisi Pak, Pak Bramnya kemana ya?” tanya Olivia. Bibirnya tersenyum namun sedetik itu juga senyumnya mendadak kaku begitu melihat dua orang lelaki yang berpaling ke arahnya. Ekspresinya terkejut bukan main melihat siapa yang berdiri di depannya.
Varo. Bima.
Kedua lelaki itu balas menatap Olivia dengan ekspresi tidak kalah terkejut. Mereka seperti sedang melihat setan di siang bolong, bahkan mulut Bima menganga lebar tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
“Olivia….” Suara berat milik Varo terdengar. Olivia menelan ludah gugup. Varo terlihat sangat berbeda. Tidak ada lagi potongan rambut acak-acakan, anting, ataupun ekspresi urangkan yang kerap ia tunjukan. Lelaki itu terlihat jauh lebih rapi dan tampan.
“Mbak Charmel udah selesai?”
Olivia berpaling, Bram muncul menyerahkan berkas yang Olivia minta.
“Saya boleh minta akses email ke mesin fotokopinya nggak pak? Saya mau scan beberapa dokumen pajak untuk dokumentasi, biar langsung terkirim ke email” tanya Olivia terdengar canggung.
Bram mengangguk. “Boleh mbak, pake akses saya aja, mari-”
“Nggak usah. Pake akses saya aja” potong Varo.
Wajah Olivia berpaling, Varo menatapnya tajam, sekilas ada sebuah senyum tipis terukir di bibir lelaki itu. Matanya melirik ID card Olivia sekilas.
“Mari Mbak Charmel ikut saya.”
Dan tanpa banyak bicara Olivia melangkah mengikuti Varo menuju runag fotocopy. Tepat ketika ia mendengar Varo menutup pintu ruangan, saat itu juga Olivia mendadak ingin resign dari pekerjaannya.