
Varo menatap ke area pekarangan rumah Nenek Aisah, yang tersembunyi dari balik pagar tembok tinggi. Rumah kecil dikelilingi pohon rindang dan barisan pot bunga di sekitaran teras rumah, sebuah pemandangan sederhana yang anehnya tidak terasa asing bagi Varo. Ini pertama kalinya ia berada di tempat itu dan suasana sekitar seakan menyapanya dengan baik.
Pandangan Varo kemudian teralihkan pada Nenek Aisah, sosok wanita berusia hampir enam puluh tahun berdiri di depan mereka dengan senyum hangat. Ia memeluk Olivia erat, seolah tidak ada lagi hari esok baginya untuk bertemu cewek itu. Senyum lebarnya dari balik konde dan kebaya biru tua membuat Varo ikut merasakan kehangatan wanita tua itu.
“Kamu siapa?” tanyanya dengan nada halus. Varo lantas memperkenalkan dirinya sopan dan matanya melirik ke arah Olivia yang menangis sesegukan masih merangkul Nenek Aisah.
“Kamu jangan nangis, nenek kan belum mati” canda Nenek Aisah tertawa geli tapi malah membuat Olivia semakin menangis.
“Ih mbah, omongannya loh. Itu kan jadi nangis Mbak Olivia” tegur Ayu, anak pertama Nenek Aisah baru muncul dari kebun belakang. Ayu menepuk-nepuk punggung Olivia kemudian mengajak mereka masuk ke dalam rumah. “Tasnya dibawa masuk ke kamar ini aja” tunjuk Ayu pada kamar di dekat ruang tamu.
Varo mengangguk buru-buru membawa tas miliknya dan Olivia masuk ke dalam kamar. Varo menarik nafas panjang, kamar itu tidak terlalu besar tapi terlihat jauh lebih bersih dibanding kamar Bima yang sering dijadikan area pacaran kecoak di kosan.
Setelah selesai menaruh tas Varo kemudian keluar, tampak Olivia duduk di samping Nenek Aisah sibuk mendengarkan wanita tua itu berbicara panjang lebar. Tidak ingin mengganggu Varo memilih untuk mendekati Ayu yang sedang membersihkan singkong di dapur.
“Permisi mbak, ada yang bisa saya bantu nggak?” tanya Varo ramah. Ayu memalingkan wajah kemudian tersenyum ramah.
“Jangan mas, di depan aja. Nanti tangannya kotor”
“Nggak papa mbak biar saya bantu, lagian kalo saya di depan malah ganggu Olivia sama nenek lagi ngobrol” balas Varo bersikeras. Ayu akhirnya mengangguk kemudian memberikan pisau kepada Varo untuk membantunya mengupas kulit singkong.
“Nama saya Varo mbak, mbak namanya siapa?” tanya Varo memperkenalkan diri.
“Saya Ayu, anak pertamanya nenek” jawab Ayu. “Mas ini kuliah di Inggris juga?”
“Enggak mbak, saya kuliah di Jakarta”
“Terus ketemu Mbak Olivia dimana?”
“Waktu itu sempat ketemu di Jakarta. Terus pas saya ke Jogja ternyata Olivia ada di Jogja juga”
“Kayak ketemu jodoh yang ditakdirkan ya?” goda Ayu membuat Varo tersenyum sumringah.
“Sebenarnya kita dulu teman SMA mbak.”
Perkataan Varo membuat Ayu mendongak dengan ekspresi sedikit keheranan. “Teman SMA? Oalah pantes bisa diajak kesini”
“Emang aneh ya mbak, kalo saya teman SMAnya Olivia?” tanya Varo menyadari tatapan Ayu padanya.
“Iya” jawab Ayu jujur kembali mengupas kulit singkong.
Alis kanan Varo terangkat naik, ia ingin bertanya tapi Ayu sudah terlebih dahulu membuka mulut dan bercerita tentang Olivia.
“Setahu saya dari kecil Mbak Olivia nggak punya terlalu banyak teman, apalagi pas SMA, mainnya sama Mas Johan terus. Tau Mas Johan nggak? Yang ganteng itu”
“Tau mbak” jawab Varo sambil ikut mengupas kulit singkong.
“Waktu SMA mereka berdua kemana-mana selalu bareng. Saya dulu sampai nyuruh Mbak Olivia buat nyari teman, tapi nggak mau. Katanya teman SMAnya jahat-jahat” cerita Ayu ringan. “Saya dulu nggak percaya karena Mbak Olivia kan pendiem banget jarang mau ngomong, terus nurut anaknya. Saya pikir ah mungkin emang anaknya susah mau berteman. Tapi beberapa kali saya sering lihat Mbak Olivia nangis tiap pulang sekolah, kayaknya sih berantem sama temannya, terus dari situ setau saya Mbak Olivia jadi nggak mau punya banyak teman kecuali Mas Johan.”
Varo terpaku mendengar cerita Ayu. Sepertinya sekarang Varo bisa mempercayai perkataan Olivia tempo lalu ketika cewek itu mengatakan ia tidak memiliki teman lain selain Johan. Tapi ada satu yang mengganggu pikirannya, alasan mengapa Olivia akhirnya tidak ingin berteman dengan siapapun di lingkungan sekolah selain dengan Johan?
Dalam sekejap cewek itu kembali menjadi sebuah teka-teki besar yang mengelilingi jalan pikiran Varo, membuatnya ingin menarik Olivia dan memaksanya untuk menjawab semua pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
“Olivia suka Johan?” tanya Varo pelan tapi terdengar ragu. Ayu kembali mendongak, kali ini terlihat senyum kecil muncul di wajahnya seolah mengerti kemana arah pembicaraan Varo. Kepala wanita itu lantas menggeleng membuat Varo tanpa sadar menarik nafas lega.
“Kata Mbak Olivia, Mas Johan udah kayak kakaknya sendiri” jawab Ayu.
“Ini jangan diceritain ke siapa-siapa ya, jangan bilang juga ke Mbak Olivia kalo saya yang cerita” kata Ayu agak berbisik, Varo mengangguk sedikit menundukan kepala agar bisa mendengarkan bisikan wanita itu. “Dulu Mbak Olivia pernah suka sama teman SMAnya, dia sampai nulis surat dua hari buat cowok itu. Tapi kata Mbak Olivia sebelum suratnya dibaca dia udah duluan ditolak”
“Mbak tau suratnya untuk siapa?”
Kali ini Ayu menggeleng. “Nggak dikasih tau, cuman katanya anak basket, ganteng. Makanya waktu itu Mbak Olivia ngotot mau latihan basket biar jadi anggota klub basket sekolah.”
Kening Varo berkerut, tangannya masih mengupas kulit singkong tapi pikirannya melalang buana memikirkan siapa dulu anggota basket sekolah yang pernah menolak seorang cewek.
Radit?
Grey?
Atau mungkin Dimas?
Kalau diingat-ingat beberapa teman Varo memang sering kali tanpa perasaan menolak barisan cewek-cewek yang nekat untuk menyatakan perasaannya di depan publik. Bahkan terakhir kali Radit terlihat mengoreksi isi surat cinta seorang murid kelas satu yang nekat menyelipkan suratnya di loker cowok itu, tidak tanggung-tanggung ia memberikan nilai D pada isi surat yang sebenarnya ditulis tulus dari hati.
Jangan-jangan itu surat dari Olivia? Ah tapi, kata Ayu surat Olivia sama sekali belum dibaca. Lantas bagaimana bisa cewek itu tahu ia sudah ditolak? Pikir Varo malah semakin penasaran.
“Mas kepikiran ya?” tegur Ayu, Varo tidak menjawab tapi terlihat salah tingkah. “Udah mas nggak usah dipikiran. Cinta bisa berubah. Mungkin dulu Mbak Olivia cinta sama mas basket itu, tapi bisa jadi sekarang udah berubah….ke Mas Varo”
“Mbak Ayu, lagi ngapain?” Suara Olivia terdengar dari belakang Varo membuat cowok itu berpaling sejenak, ia kemudian duduk disamping Varo memperhatikan cowok itu mengupas kulit singkong terakhirnya.
“Lagi bahas soal tes CPNS” jawab Varo seenaknya. Olivia tersenyum geli membantu Ayu memindahkan singkong ke loyang berisi air. “Nenek mana?”
“Tidur. Kasihan, harus istirahat banyak-banyak” jawab Olivia. “Mbak, nenek udah makan kan?”
“Udah mbak, sebenarnya tadi mau makan bareng. Cuman mbaknya telat datang”
“Maaf mbak, tadi aku maksa Varo buat makan diluar. Maksudku biar mbak nggak repot masak banyak-banyak”
“Yee, kan kita emang mau masak banyak buat nyambut Mbak Olivia” jawab Ayu dengan tawa lalu membawa semua singkong untuk dicuci di dekat sumur luar sementara Varo membersihkan sisa-sisa kulit singkong dan mencuci tangannya sampai bersih.
“Tas aku, kamu taruh di kamar?” tanya Olivia. Varo mengangguk sebagai jawaban kemudian mengikuti cewek itu masuk ke dalam kamar. Varo memilih duduk di tepi tempat tidur sementara Olivia sibuk memasukan baju ke dalam lemari dan menaruh beberapa barang di atas meja.
“Tadi ngobrol apa aja sama nenek?” tanya Varo.
“Banyak.” Olivia menaruh lotion di atas meja dan duduk di lantai sambil mengecek ulang kantong berisi barang titipan tantenya dari Inggris yang ia simpan dari berbulan-bulan lalu untuk Nenek Aisah.
“Nenek kangen banget sama aku. Kangen buat roti sama aku, kangen nyiapin makan siang buat aku tiap pulang sekolah, kangen nonton bareng, sama kangen buat nemenin aku kalo lagi susah tidur pas malam”
“Aku lega nenek masih inget aku” lanjut Olivia pelan. Varo hanya diam mendengarkan, ia memilih pindah duduk di sebelah Olivia sambil bersandar di pinggiran kasur.
“Aku nggak bisa bayangin kalo waktu itu pas di rumah sakit nenek kenapa-napa dan aku sama sekali belum ada kesempatan buat ketemu nenek lagi.”
Mata Olivia kembali berkaca-kaca membuat Varo sadar seberapa pentingnya Nenek Aisah bagi cewek itu. Entah sedalam apa hubungan mereka, tapi sekilas Varo bisa melihat sosok rapuh Olivia muncul setiap kali membicarakan Nenek Aisah yang kini tidak lagi semuda dulu. Tangan Varo kemudian bergerak menepuk-nepuk punggung Olivia ketika kedua tangan cewek itu menutup wajah untuk menyembunyikan tangisnya.
“Aku sayang sama nenek. Sejak dulu nenek yang selalu merhatiin aku, bahkan disaat aku sendiri udah capek sama kehidupan aku, dia yang selalu ngedukung aku” isak Olivia terdengar begitu memilukan di telinga Varo.
“Aku nggak rela kalo misalnya nenek harus pergi jauh, ke tempat dimana aku nggak bisa ngeliat nenek lagi.”
Tanpa sadar Olivia mencurahkan isi hatinya di depan Varo, membuat cowok itu tidak bisa berhenti untuk menepuk punggungnya dalam diam dan berkali-kali menahan diri agar tidak menarik Olivia ke dalam pelukannya untuk menenangkan cewek itu. Varo tidak ingin mengatakan apapun, hanya membiarkan Olivia terus mengeluarkan tangisnya, karena percuma, cewek itu terlalu rapuh untuk mengerti rentetan kalimat penenangan yang keluar dari mulut Varo. Olivia hanya perlu menangis, mengeluarkan semua isi hatinya dengan seseorang yang tetap setiap menemaninya.
Varo baru berbicara ketika tangis Oliva berhenti dan wajahnya mendongak menatap cowok itu.
“Kalo kamu mau nangis sekarang, nangis aja. Aku nemenin kamu disini” kata Varo pelan. “Tapi jangan nangis di depan nenek, dia pengen lihat kamu senyum dan kamu harus nunjukin itu ke dia kalau kamu cewek yang kuat. Selama kamu disini, nikmati waktu kamu buat bersenang-senang sama nenek, buat momen bahagia yang nggak akan dia lupain. Kamu nggak mau kan sampai di Inggris nenek tetap khawatirin kamu yang kebanyakan nangis depan beliau?”
Olivia tersenyum tapi sesekali masih terdengar isakan kecil. “Thanks, karena kamu nggak banyak ngomong waktu aku nangis tadi” bisik Olivia tulus.
Varo mengangguk kemudian merapikan untain rambut cewek itu yang jatuh dan menutup pipinya. “Aku tadi sebenarnya mau meluk kamu. Cuman karena belum ada izin khusus jadi aku nahan diri”
Tawa geli Olivia muncul. “Izin khususnya kayak gimana?” goda Olivia iseng.
Salah satu telunjuk Varo bergerak menunjuk pipi kanannya dengan ekspresi dibuat memelas, ia terkekeh geli ketika Olivia menggelengkan kepala. Tapi setelah itu tanpa diduga Olivia menarik ujung baju Varo, membuatnya tubuhnya bergerak maju dan tanpa ragu bibir cewek itu mengecup pipi kanannya, hanya sebentar tapi mampu membuat tubuh Varo seakan disengat petir di siang bolong.
Mata Varo lantas membulat terkejut sementara Olivia memalingkan wajahnya yang bersemu kemerahan. “Kamu…”
“Kedepannya kamu nggak perlu nunggu izin khusus lagi, karena sekarang kamu udah berizin” kata Olivia pelan sekali sampai Varo hampir tidak bisa mendengar suara cewek itu. Untuk sesaat Varo terdiam, tapi kemudian senyumnya melebar bersamaan dengan perasaannya yang meletup-letup bahagia.
“Nah karena sekarang aku udah berizin, ayok kamu nangis lagi” kata Varo membuat Oliva memalingkan wajah dan tertawa geli.
“Dasar kamu, aneh” balas Olivia.
“Mas Varo” panggil Ayu dari luar, kepala wanita itu muncul dari balik gorden menatap Olivia dan Varo bersamaan. “Mas mau tidur disini sama Mbak Olivia?”
“Iya”
“Enggak” jawab Olivia dan Varo bersamaan. Varo berdecak membuat Ayu melemparkan tatapan geli. “Aku mau tidur sama nenek”
“Oh yaudah kalo gitu mbak, tadinya saya mau bilang Mas Varo buat tidur sama Ahmad” kata Ayu dan setelah itu pergi tanpa berkata apapun.
Varo berdiri melangkah mendekati jendela mencoba mencari angin yang masuk untuk menetralisir rasa panas karena matahari terlihat penuh percaya diri asik menyinari manusia bumi dengan hawa yang luar biasa panas.
“Padahal aku berharap di kamar ini...sama kamu” celetuk Varo pura-pura pasang tampang kecewa.
Olivia tidak menjawab hanya kakinya menendang betis Varo pelan, ia ikut melongok ke luar dan dari kejauhan tampak seorang anak lelaki berseragam SD berjalan masuk ke dalam area pekarangan rumah. Dari gesturnya sudah menunjukan kebandelan luar biasa tersirat dari caranya mengikat kaos seragam di leher, sementara celana seragam merah dan kaosnya terlihat dekil seperti habis berguling-guling di tanah.
“Ahmad, kamu kalo bajunya diikat kayak gitu, mending kamu ke sekolah telanjang aja” teriak Ayu jengkel. Terdengar tawa geli Ahmad lalu berlari masuk ke dalam rumah sebelum Ayu sempat menjewer kupingnya.
“Udah gede ya Ahmad, padahal waktu terakhir ketemu aku masih kecil banget” gumam Olivia.
“Oliv, nggak ada manusia yang tetap jadi zigot selama hidupnya. Kita makhluk yang pasti akan bertumbuh kok” balas Varo dari samping. Olivia nyengir lebar dan setelah itu keduanya keluar kamar ketika terdengar suara Ayu memanggil.