Mr. Bully

Mr. Bully
Beside You - 5Sos



“Mau kemana?” tanya Varo ketika Bima berlari terbirit-birit dengan ekspresi panik.


“Toilet. Pengen kencing”


“Eh entar” tahan Varo membuat Bima berhenti melangkah.


“Apa?”


“Tahan dulu. Sampai jadi batu kalo bisa”


“Babi lu!” maki Bima ketus lanjut berlari meninggalkan Varo dan Dimas melangkah berdua menyusuri bibir pantai ditemani remang-remang cahaya dari kafe.


Dimas mengambil kerikil dan melempar ke arah air laut, ekspresinya terlihat gundah, berbanding terbalik dengan ekspresi datar Varo yang sedang sibuk membaca pesan Arini dari dua hari lalu.


“Lu suka sama Olivia?” tanya Dimas tiba-tiba membuat Varo berpaling ke arahnya.


“Kenapa lu tiba-tiba nanya?”


“Gue cuman penasaran” jawab Dimas. Ia menghela nafas lalu memilih duduk di atas pasir.


“Lu….suka?”


“Iya. Kenapa?” jawab Varo balas bertanya.


“Sebagai teman atau lebih?”


“Dua-duanya.”


Tangan Dimas kembali melempar-lempar kerikil, ekspresinya mulai terlihat ragu. “Kalo misal gue saranin lu buat nggak usah terlalu dekat sama Olivia, gimana?”


“Bukan karena lu pacaran sama Arini. Cuman ya begitulah…” lanjut Dimas buru-buru ketika Varo melemparkan tatapan bingung. “Gue ngerasa ada sesuatu yang aneh dari Olivia”


“Misalnya?”


“Dia terlalu sempurna” jawab Dimas. “Dari segi fisik Olivia sempurna, dari personality...gue bisa kasih nilai sebelas dari sepuluh poin. Olivia perhatian, bikin nyaman, dan sesekali bisa bikin baper”


“Lantas?” Varo terlihat semakin bingung mencoba mencerna maksud Dimas.


“Cewek yang sempurna itu nggak ada. Iya kan?” kata Dimas malah terdengar bimbang sendiri antara bertanya atau menyatakan.


“Olivia sempurna atau enggak, gue nggak peduli Dim. Karena yang gue tau sekarang, gue suka sama dia”


“Jatuh cinta” gumam Dimas tapi masih bisa didengar Varo. “Jangan jatuh cinta terlalu dalam. Takutnya lu patah hati. Gue ada firasat, kali ini kalo lu patah hati, sakitnya bakal ampun-ampunan.”


Dimas bangkit dari duduknya setelah melemparkan kerikil terakhir di tangannya. “Sorry kalo gue kesannya ikut campur. Tapi gue pikir itu gunannya sahabat.”


Varo memaksakan diri untuk tertawa tapi tetap tidak membalas perkataan Dimas.


“Tenang aja gue nggak bakal ngerusak pendekatan lu ke Olivia. Gue mah anaknya suportif” canda Dimas akhirnya. “Gue masuk duluan, mau main game.”


Kepala Varo mengangguk, matanya menatap Dimas yang melangkah pergi dan kemudian ia memilih duduk di atas pasir. Varo jelas sedikit merasa terpengaruh untuk memikirkan perkataan Dimas barusan.


Persahabatan mereka terjalin cukup lama, dan Varo tau benar Dimas tidak pernah peduli dengan kisah cinta orang lain. Cowok itu selalu asik dengan dunianya sendiri, ia baru akan bergerak ketika temannya membutuhkan bantuan. Motto hidup Dimas singkat; Dimas tidak ingin tahu urusan orang dan ia tidak ingin orang tahu urusannya. Karena itu Dimas dan Varo cocok menjadi teman.


Tapi anehnya, hari ini Dimas baru saja menanyakan pertanyaan paling krusial pada Varo, seseorang yang sedang jatuh cinta namun sesekali masih merasa dilema dengan hubungannya sendiri.


Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Varo, ia mendengus malas begitu melihat nama Amirah muncul dari layar ponsel.


[Ponsel kalo nggak dipake jual aja!] Omel Amirah ketus tanpa mengucapkan salam begitu Varo menekan tombol hijau.


“Kenapa?”


[Kenapa! Kenapa! Gue telpon lu dari tadi harusnya lu angkat!] Bentak Amirah terdengar marah sekali.


Varo menarik nafas menahan diri untuk mengatakan bahwa bukan hanya panggilan Amirah yang ia abaikan, tetapi panggilan dari Arini dan Rava juga.


[Mama masuk rumah sakit! Dia drop semalam. Puas lu?!]


Tubuh Varo mendadak menegang seperti terkena sengatan listrik. Ia ingin bertanya tapi kalimat yang keluar dari bibirnya malah membuatnya terkesan tidak acuh.


“Kenapa lu marah ke gue?”


Sebenarnya Varo tidak pintar dalam mengekspresikan perasaannya dan Amirah tahu itu. Tapi di situasi pelik seperti sekarang ‘ketidak acuhan’ Varo malah membuat kemarahan Amirah semakin meledak-ledak.


[Egois banget lu! Mama kayak gini tuh salah satunya gara-gara sikap lu! Dia stres! Kepikiran anaknya nggak mau ngeliat dia. Lu boleh benci perceraian mama papa, tapi bukan berarti lu langsung buang empati lu dari kondisi mama. Lu kira cuman lu doang korban dari perceraian mereka? Gue juga, abang Rava juga. Tapi kami berdua nggak diam aja, nggak kayak lu! Cuman diam disatu tempat dan sibuk nyalahin orang lain atas kondisi lu. Kapan lu mau dewasa kalo kayak gitu?] semprot Amirah panjang lebar tidak memberikan kesempatan pada Varo untuk membela diri.


Nafas Amirah terdengar begitu memburu, tanda bahwa masih banyak amarah tersimpan akibat sepanjang hari emosi harus mencari cara untuk memenuhi keinginan Kinasih yang sangat ingin mendengar suara putra bungsunya itu.


[Lu jangan matiin telpon. Habis ini gue mau ke kamar mama, terus nelpon lu lagi, dan lu harus ngomong sama mama]


“Gue harus ngomong apa?” tanya Varo mendadak panik.


Sejak perceraian kedua orang tuanya, Varo jarang sekali mengobrol dengan mereka. Ia jarang ke rumah Nikolas Wijaya dan jarang menelpon Kinasih. Hubungan Varo dengan kedua orang tuanya sudah terlanjur renggang, membuat Varo merasa canggung setiap kali harus berbicara dengan mereka.


[Nanya kabar, sakit apa, udah makan atau belum. Awas aja kalo sampai lu nggak ngangkat telpon gue] ketus Amirah secara sepihak memutuskan sambungan telepon.


Varo menghela nafas panjang, perkataan Amirah jelas merupakan sebuah ancaman yang membuat Varo terpaksa harus menuruti perintah Amirah.


Wajah Varo berpaling. Olivia datang dan menyodorkan sebuah jaket berwarna coklat tua kemudian duduk disebelahnya.


“Punya Kak Rangga. Aku pinjam, biar kamu nggak kedinginan disini”


“Thanks.”


Tangan Varo terulur mengambil jaket dari Olivia. “Kamu udah makan?” tanya Varo terdengar kikuk.


Olivia hanya mengangguk singkat. Mereka kemudian duduk diam, masing-masing menatap jauh ke arah garis pantai yang samar-samar terlihat berkat berkas-berkas lampu kafe. Sekitar lima menit kemudian ponsel Varo berbunyi membuat ekspresi cowok itu menegang menatap layar ponselnya.


“Kalo kamu mau aku pergi, aku bisa pergi sekarang” ujar Olivia lembut seakan paham bahwa Varo ingin sendiri.


Sejenak Varo melemparkan tatapan ragu, tapi ia kemudian menggeleng. Tangannya lantas menggenggam erat pergelangan kanan Olivia, sementara nafasnya terdengar sangat berat ketika menekan tombol hijau di ponsel.


[Varo…]


Tubuh Varo membeku begitu mendengar suara Kinasih. Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama Varo mendengar suara Kinasih lagi. Di hari-hari lalu Varo cenderung menghindar, membiarkan semua informasi mengenai Kinasih ia dengar dari Putra.


[Varo, kamu dengar mama kan?]


“Ya…” jawab Varo pelan sekali.


[Kamu sudah makan?]


“Mama sakit apa?” balas Varo menanyakan hal lain, ia terlalu canggung untuk sekedar berbasa-basi menjawab pertanyaan Kinasih.


[Cuman kecapaian. Kata Amirah kamu lagi magang di Yogyakarta ya?]


“Iya” jawab Varo singkat.


Sesaat keduanya terdiam tanpa suara. Ekspresi Varo berubah murung, ia merasa bimbang antara ingin mengakhiri panggilan atau tetap diam menunggu Kinasih berbicara terlebih dahulu. Wajah Varo berpaling ke arah Olivia ketika tangan cewek itu menepuk-nepuk pelan punggung tangannya. Olivia tersenyum manis membuat Varo memaksakan diri untuk ikut tersenyum.


[Mama harap sesekali kamu mau kesini] kata Kinasih lirih. [Mama kangen sama kamu.]


Hati Varo mendadak berkecamuk menimbulkan perasaan sedih. Suara lirih Kinasih membuat Varo sadar bahwa ia masih merindukan sosok Kinasih. Varo semakin dilema, ia ingin Kinasih kembali di sampingnya sebagai sosok mama, seperti dulu. Namun disisi lain egonya juga masih terlalu tinggi untuk mengakui hal itu.


[Kamu mau kan ketemu mama?]


“Kalo aku ada waktu, aku kesitu” balas Varo terdengar seperti sebuah janji semu tapi tetap membuat Kinasih tersenyum bahagia dari seberang telepon.


Ada setitik kebahagian yang terdengar dari suara Kinasih ketika selanjutnya ia menceritakan kondisinya, wanita paruh baya itu berbicara panjang lebar, tanpa tahu bahwa Varo tidak terlalu mendengarkan perkataannya. Mata Varo terlanjur memandang jauh ke arah garis pantai sebagai bentuk pengalihan dari rasa hampa yang sedikit demi sedikit menjalar naik memenuhi dadanya.


“Kamu nggak papa?” bisik Olivia pelan.


Varo berpaling menatap Olivia lekat-lekat. Ekspresi Olivia terlihat khawatir membuat Varo menggeleng jujur. Olivia lantas memperbaiki posisi duduknya menyamping, sehingga tangannya lebih leluasa untuk menepuk-nepuk pelan punggung Varo.


“Ma, aku  harus nganter temanku ke penginapan” kata Varo memotong perkataan Kinasih. “Nanti aku telpon lagi.”


Kinasih mendadak bungkam, ia terlalu terbawa suasana sampai lupa bahwa masih ada jurang lebar di antara dirinya dengan Varo. Kinasih bahkan tidak bisa melakukan apapun ketika Varo mematikan sambungan telepon mereka secara sepihak.


Varo menarik nafas panjang, terlihat sedikit lega seakan baru lepas dari neraka.


“Itu tadi mama. Dia tinggal di New York” kata Varo mematikan ponsel agar tidak ada yang menelponnya lagi. “mama pindah kesana setelah cerai sama papa, pas aku SMA kelas satu. Mereka sekarang udah punya keluarga masing-masing.”


Olivia diam, menunggu Varo menyelesaikan ceritanya. Tapi ketika melihat ekspresi Varo berubah suram dan ikut terdiam, Olivia akhirnya buka suara.


“Kamu kangen?”


“Iya. Aku kangen” angguk Varo terdengar seperti sedang mencurahkan isi hatinya. “Tapi aku kangen mereka yang dulu”


“Papa selingkuh, mama selingkuh, dan mereka bilang nggak bahagia dengan pernikahan mereka. Padahal ada aku di dalam kamar dengar mereka bertengkar.”


Varo tersenyum samar menatap pasir di bawah kakinya. “Aku selalu ngerasa sendirian.”


Satu tarikan nafas terdengar, Varo merasa sedikit aneh karena keberadaan Olivia disitu dapat dengan mudah membuat Varo merasa bebas untuk  mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam dan tutup rapat di dalam hati.


Setelah itu mereka terdiam, cukup lama, membuat wajah Varo berpaling ke arah Olivia, cewek itu tidak berkata apapun hanya tangannya masih menepuk-nepuk pelan punggung Varo.


“Kamu nggak mau ngomong? Aku punya sepupu, namanya Angga. Setiap urusannya sama mama, dia selalu nasehatin aku panjang lebar.”


Olivia tersenyum lalu menggeleng. “Aku nggak bakal nasehatin kamu, karena kamu nggak bakal dengerin perkataan aku. Bahkan percuma juga meskipun aku bilang semangat. Aku rasa itu nggak bakal ngasih efek apapun ke kamu.


Malam ini kamu pasti bakal ngerasa sulit, capek, atau bahkan ngerasa kesepian. Jadi aku nggak bakal basa-basi ngasih quotes ke kamu. Aku cuman berharap malam ini kamu bisa tidur nyenyak dan besok kamu bangun dengan mood yang lebih baik.”


Varo tertegun, ini adalah pertama kalinya seseorang menghiburnya dalam sebuah siratan. Olivia tidak mengatakan apapun seperti yang biasa dilakukan Angga, Amirah, atau Rava. Olivia hanya duduk disitu menemani Varo, menepuk punggungnya, dan berharap Varo dapat tertidur nyenyak.


Sesederhana itu, tapi membuat perasaan Varo jatuh semakin dalam untuk Olivia.


“Aku boleh peluk kamu? Kalo nggak juga-”


Kalimat Varo terpotong begitu Olivia menarik tubuh cowok itu masuk ke dalam pelukannya.


“Kamu kan udah ada izin khusus” bisik Olivia.


Varo tersenyum sendu membenamkan wajahnya di bahu Olivia, matanya kemudian terpejam mencoba yakin bahwa perasaan hampa dalam dirinya akan segera berlalu.