Mr. Bully

Mr. Bully
Secret Love Song - Little Mix



Matahari masih bersinar terik meskipun waktu sudah menunjukan pukul setengah tiga sore, tapi hal itu tidak membuat semangat Bima untuk latihan berenang turun. Dengan semangat empat lima cowok itu melangkahkan kaki mantap masuk ke dalam kolam, lengkap dengan pelampung melingkar di tubuh.


“Liburan besok lu mau kemana?” korek Dimas duduk di sebelah Varo yang sedang memejamkan mata. Kedua cowok itu memilih duduk di kursi santai bawah payung sambil sesekali memperhatikan aksi Bima seperti bebek peking, sibuk berenang kesana kemari.


“Weh budeg!” teriak Dimas keras-keras tepat di telinga Varo karena tidak ada satupun jawaban keluar dari bibir cowok itu


“Apa sih lu? nggak bisa lihat orang seneng dikit ya?” ketus Varo.


“Ya lagian elu, gue ajak ngomong malah diam”


“Lah lu sendiri ngapain ngajak ngomong orang yang lagi tidur?”


“Gue cuman takut lu meninggal dalam tidur, makanya gue ajak ngomong” balas Dimas pelan membuat Varo mendelik sewot.


“Mau?” tawar Dimas menyodorkan roti bakarnya langsung dijawab dengan gelengan singkat.


“Sorry lagi diet.”


Dimas tersenyum sumringah, wajahnya kembali berpaling menatap lurus ke arah Bima sibuk berenang kesana kemari dibantu Sera yang berdiri di pinggir kolam. Kalau dilihat-lihat Sera seperti pelatih beruang kutub yang berteriak-teriak di bawah payung orens. Dimas tidak bisa menyembunyikan senyum menyaksikan pemandangan mengelikan itu.


“Dulu waktu SMA dia kayak gimana ya? lu penasaran nggak?” tanya Dimas tiba-tiba.


Mata Varo terbuka, tampak Olivia dan Nabila dari kejauhan berjalan ke arah mereka.


“Cantik ya” gumam Dimas membuat kening Varo berkerut bingung. “Menurut lu dia gimana?”


“Gimana apanya?”


“Apa yang buat lu tertarik sama dia?”


“Nggak tau” jawab Varo malas.


“Kalo cuman tertarik karena cantik, mending rasa tertarik lu disimpan dalam toples khong guan aja”


“Berisik lu” balas Varo singkat, tangannya meraih kaca mata hitam dari atas meja dan mengenakannya. Diam-diam mata Varo justru menatap intens gerak-gerik Olivia yang melambaikan tangan pada Nabila dan kemudian mendekati mereka.


“Oliv duduk sini” panggil Dimas paling pertama menyapa Olivia. Senyum tipis Olivia muncul, kepalanya menggeleng lalu mengangkat kantong ditangannya.


“Makasih, tapi aku mau ke atas”


“Mau ngapain?”


“Nganterin barangnya Johan”


“Udah kamu duduk disini aja, ntar aku suruh Johan turun. Biar dia bisa bernafas dikit, dari pagi Johan sama Kak Rangga di ruang kerja, ntar malah Johan lagi yang jadian sama Kak Rangga” ujar Dimas cerewet mengeluarkan ponselnya dan menelpon Johan. Mau tidak mau Olivia tertawa geli


“Olivia nungguin lu dibawah, dia nggak bisa ke atas, kakinya sakit” kata Dimas tanpa basa-basi ketika menelepon Johan. Olivia hanya geleng-geleng kepala hendak duduk di kursi santai samping Varo, tapi tubuhnya mendadak tersentak ketika Varo menarik pergelangan tangannya menarik Olivia untuk duduk di space kosong kursinya.


“Sini duduk” pintah Varo lembut.


“Duduk disini aja” sahut Dimas mencibir.


“Nggak usah duduk disitu, ntar kamu digodain Dimas, dia kalo siang gini gatal” balas Varo membuat Olivia ketawa sementara Dimas mendengus.


“Oliv, kapan-kapan ajari aku buat kue dong” kata Dimas tiba-tiba, bibirnya tersenyum manis dan menatap Olivia lekat-lekat.


“Kamu mau?” tanya Olivia heran, Dimas mengangguk terlihat serius dengan permintaannya.


Gantian Varo yang mencibir. “Nggak usah Oliv, ntar dapur kamu kebakar” ketus Varo. “Dia pernah dua kali hampir bakar dapur kosan karena mau masak telur. Kita sampai ngevote buat ngedepak Dimas dari kosan. Karena nggak mungkin anak kos mau mati konyol terbakar”


“Tapi pada akhirnya lu semua yang pindah” balas Dimas sombong, kisah Dimas yang gagal diusir dari kosan selalu menjadi kebanggan tersendiri baginya. Dimas bilang langit selalu berpihak pada orang lemah dan tertindas seperti dirinya, karena itu yang terjadi justru sebaliknya. Semua anak kos kecuali Dimas memilih untuk pindah.


“Dan kamu masih mau belajar masak?”


“Masih. Orang itu tumbuh dari kesalahan, aku beberapa kali hampir ngebakar dapur, tapi itu nggak akan menurunkan semangat aku buat belajar masak”


“Belajar masak air dulu gimana Dim?” tanya Olivia hati-hati. “Bahannya mudah, cuman air putih, panci, sama kompor.”


Varo spontan ketawa ngakak melihat ekspresi Olivia yang terlihat serius menjawab perkataan Dimas.


“Orang kalo hobi ngeledekin orang lain biasanya jodoh” dengus Dimas kemudian bangkit berdiri bergabung bersama Bima di kolam renang. Ia membuang muka pura-pura tidak melihat Varo yang masih tertawa geli.


“Lagi latihan berenang gaya anjing” jawab Vario sembarangan.


“Kamu nggak mau ikutan?” tanya Olivia masih menatap Bima yang kini menarik-narik Dimas ketika merasa hampir tenggelam. Bima menekan tubuh Dimas ke bawah sementara ia tanpa dosa menarik nafas panjang, membuat Sera terpaksa turun tangan membantu Bima kembali ke tepian.


Hening.


Tidak terdengar jawaban apapun dari Varo karena pada kenyataannya cowok itu justru lebih fokus menatap leher Olivia yang terekspos bebas dan sedikit terkena helaian rambut. Belum lagi kaos putih yang dikenakan Olivia terlihat agak transparan membuat hasrat Varo memaksa untuk keluar dan menyentuh cewek itu.


“Kenapa?” tanya Olivia ketika memalingkan wajah dan mendapati Varo sedang menggelengkan kepalanya keras-keras.


“Nggak papa” jawab Varo berbohong padahal ia sedang berusaha untuk mengusir perasaan aneh yang muncul setiap kali Olivia berada di dekatnya.


“Masa?”


Wajah Olivia tanpa ragu mendekat membuat Varo gelagapan. Dengan jarak sedekat itu Varo dapat melihat dengan jelas garis wajah Olivia. Alis, mata, hidung, dan sekali lagi bibir cewek itu sukses membuat Varo menelan liurnya sendiri. Ia tahu hatinya sedang berkecamuk antara menahan diri atau menarik Olivia agar semakin mendekat padanya. Untuk sesaat keduanya terdiam sampai kemudian Olivia menarik wajahnya menjauh dengan senyum tengil.


“Kamu...” gumam Varo tertahan sadar baru saja dikerjain cewek itu, tangannya dengan cepat bergerak menggelitik pinggang Olivia gemas sampai ia tertawa keras.


“Aduh, udah ah, aku capek-” pintah Olivia masih tertawa tapi tidak dipedulikan Varo. Ia berusaha keras menahan tangan Varo tapi justru tangannya berada dalam genggaman cowok itu.


“Sorry, habis muka kamu lucu banget kalo lagi salting gitu” kata Olivia berusaha keras mengendalikan tawanya. Varo yang selalu bertingkah keren dalam sekejap terlihat seperti orang yang hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan menurut Olivia hal itu terasa sangat menggelitik hatinya.


“Oliv.” Panggil Johan dengan suara serak dari belakang Varo. Keduanya sama-sama berpaling mendapati Johan dengan penampilan acak-acakan. “Sorry agak telat, Kak Rangga ada minta tolong tadi”


“Kamu masih sakit?”


“Udah mendingan” jawab Johan duduk di samping Varo.


“Sakit apa lu?” tanya Varo melihat Johan berkali-kali menguap lebar sambil mengucek-ngucek mata


“Sakit hati habis diomelin pacar. Makanya jangan kegenitan sama cewek lain” ujar Olivia menjawab pertanyaan Varo. Johan mendelik mengambil kantong yang diberikan Olivia.


“Kamu besok jadi pergi ke rumah Nenek Aisah?” tanya Johan. Olivia mengangguk membuat Johan menghelas nafas seraya berpikir keras. “Aku besok mendadak harus ke Semarang bareng Kak Rangga sama Dimas.”


Olivia menggeleng tanda tidak ingin rencananya pergi ke rumah Nenek Aisah diganggu gugat. Tujuan utama Olivia kembali ke Indonesia adalah karena ia ingin menemui Nenek Aisah, pengasuhnya sejak ia masih balita. Beberapa bulan yang lalu Olivia mendengar kabar Nenek Aisah sakit keras sampai harus dirawat di rumah sakit, di usianya yang sudah semakin tua membuat Olvia memutuskan untuk kembali ke Indonesia demi menemui Nenek Aisah.


Meskipun panjangnya umur seseorang tidak ada yang tahu, tapi selagi masih ada kesempatan, lebih baik segera bertemu. Olivia hanya tidak ingin menyesal karena tidak pernah lagi menampakan diri menemui Nenek Aisah sejak kepindahannya saat SMA dulu.


“Aku bawa mobilnya Kak Nabila” beritahu Olivia membuat Johan melemparkan tatapan ngeri. Cewek itu baru mendapatkan SIM empat bulan lalu dan sudah nekat untuk membawa mobil sendirian di area pegunungan seperti ini. Johan tidak bisa membayangkan kemungkinan paling buruk yang akan terjadi pada Olivia, mengingat terakhir kali ketika membawa mobil milik Johan dan Olivia sukses menabrak tong sampah di dekat pos satpam. Untung tidak ada yang terluka.


“Kamu yakin? Kalo nabrak gimana?” tanya Johan khawatir.


“Ya masa harus batal? Aku udah terlanjur bilang ke Kak Ayu kalo gue mau datang. Lagian aku kan nginep, jadi nggak sekali bolak balik gitu.”


Johan masih memasang tampang ragu, sikap keras kepala Olivia memang tidak bisa dilawan sampai kadang membuat Johan gemas sendiri.


“Tapi aku serius nggak yakin ka-”


“Besok gue yang anterin Olivia.” Suara berat Varo memotong kalimat Johan.


“Emang kamu nggak kerja?” tanya Olivia heran. Varo menggeleng singkat. “Oh bagus dong, nyetirin buat aku ya, ikhlaskan?”


“Iya” jawab Varo singkat.


“Bagus, daripada lu yang nyetir, mending Varo yang nyetir. Demi kenyamanan masyarakat.”


Tangan Olivia lantas terangkat naik dan mencubit bahu Johan gemas. “Kamu yang kebiasan banget suka ngatain teman”


“Aku bukan ngatain, aku cuman khawatir” elak Johan menahan senyum geli, ia mengelus-ngelus bahunya yang kemerahan.


Johan kemudian bangkit berdiri hendak kembali ke atas. “Besok kalo dia berisik lempar aja keluar mobil” bisiknya pada Varo lalu berlari kencang menjauhi Olivia yang berpura-pura ingin melemparnya dengan sandal.


“Kalian lucu banget kalo berantem” kata Varo tanpa sadar memainkan untaian rambut Olivia yang jatuh ke leher.


Mendadak suasana di antara mereka berubah hangat. Varo bisa merasakan degup jantung berdebar kencang ketika Olivia menjawab perkataannya dengan senyum manis. Diam-diam sudut bibir kanan Varo terangkat naik ikut menampilkan senyum ketika wajah Olivia berpaling kembali menatap Bima hampir tenggelam karena Dimas iseng naik ke punggungnya.


Gue udah gila, gumam Varo ketika menyadari debaran jantungnya berasal dari sesuatu yang ia sebut sebagai perasaan suka.