Mr. Bully

Mr. Bully
Night Changes - One Direction



Suara alarm pukul tujuh pagi membuat Varo terjaga dari tidur, tangannya bergerak mencari-cari ponselnya untuk mematikan suara alarm.


“Sial” dengus Varo ketika matahari dari jendela bersinar tepat di wajahnya. Mau tidak mau Varo terpaksa mengumpulkan tenaga dan bangkit dari kasur. Tidak ada Olivia disitu, tanda bahwa cewek itu sudah bangun terlebih dahulu.


Malas-malasan Varo melangkah keluar kamar. “Seru banget obrolannya” tegur Varo pada Sera sedang sarapan bersama Gegi anjingnya.


“Iya nih, lagi ngomongin kondisi perpolitikan dan demokrasi Indonesia” jawab Sera cuek. “Sini, sarapan bareng. Gegi pinter, udah bisa makan sendiri.”


Varo nyengir kemudian menarik kursi duduk depan Sera. “Sarapan apa?”


“Roti bakar. Biar kayak di Eropa, kurang gaun aja nih. Tapi penampilan aku pagi ini udah mirip wanita Eropa belum?”


“Hmm iya… kamu mirip big ben”


“Bibirku bergerak berputar dong, searah jarum jam” kekeh Sera. “Padahal kan aku sengaja bareng Gegi biar kesannya kayak bangsawan kaya raya Eropa lagi sarapan”


“Iya Ser iya” angguk Varo mengambil potongan roti milik Sera. “Olivia mana?”


“Di depan”


“Oke” balas Varo langsung bangkit berdiri menuju ke depan, tampak Olivia berada di balik meja bar kafe sedang mengobrol dengan seorang cowok.


“Oliv, kenapa nggak bangunin?” panggil Varo menyentuh bahu Olivia, cewek itu berpaling dengan senyum tipis.


“Kamu tidur nyenyak banget, nggak tega buat bangunin. Mau kopi?”


“Enggak. Air mineral aja” balas Varo menggeleng mengambil sebotol air mineral di dekatnya.


“Aku duluan ya, thanks kopinya” kata cowok itu kemudian melangkah pergi.


“Siapa?”


“Gino” jawab Olivia. “Dia anak pecinta alam, kayak kamu”


“Oh”


“Gino itu orang pertama yang muji kalo cupcake buatan aku enak, dia sampai promosikan ke teman-temannya loh”


“Aku kira, aku orang pertama”


“Kamu selalu ada di sekitar aku, jadi pujian kamu nggak spesial. Kalo Gino kan orang asing dan itu jadi kebanggan tersendiri buat aku.”


Varo langsung tersenyum. “Berarti aku bukan orang asing?”


Olivia angkat bahu sebagai jawaban. “Kamu nggak balik?”


“Entaran. Mager. Penginapan jauh”


“Cuman sebelas langkah” dengus Olivia tertawa. Varo menarik kursi duduk di dekat cewek itu.


“Oliv, setelah kuliah kamu punya rencana?” tanya Varo meskipun sudah tahu rencana Olivia dan Sera setelah lulus nanti.


“Enggak” jawab Olivia tanpa diduga. “Aku nggak mau buat rencana”


“Oh, aku kira…”


“Apa?”


“Enggak” geleng Varo.


“Aku kasih tau kamu satu rahasia. Jangan pernah bikin rencana, karena kalo rencana kamu gagal kecewanya bakal luar biasa”


“Jadi kamu sama sekali nggak ada rencana?”


“Enggak ada” angguk Olivia serius. “Aku nggak mau repot-repot buat rencana serapi mungkin, sementara aku sendiri nggak tau aku masih bernafas atau enggak di hari besok.”


Kening Varo berkerut, Olivia terlihat bersungguh-sungguh dengan perkataannya, membuat cewek itu terlihat seperti seseorang dengan jalan pikiran yang rumit dan sulit untuk dimengerti.


Bima    : Woi anjin9! Lu dimana?


Varo nyengir tapi tidak membalas pesan Bima, sejak kemarin ia sama sekali tidak membalas pesan semua orang. Pasti sekarang Bima sedang mengomel karena menjadi sasaran Arini atas menghilangnya Varo.


“Varo, tolong ambilkan gelas putih kecil di lemari dalam dong” pinta Olivia. Varo mengangguk tanpa banyak bicara kemudian melangkah masuk ke dalam.


...*****...


Pukul setengah dua siang Varo kembali ke kamar, kedatangannya disambut Bima dengan pelototan dan dumelan jengkel karena semalam Varo tidak mengacuhkan panggilan telepon maupun pesan darinya. Bahkan lebih parah lagi Varo sama  sekali tidak mengacuhkan pesan dari Arini.


“Kenapa lu balik? Nggak sekalian aja menghilang diantara batu karang. Terus mati di makan bintang laut, biar mampus jenazah lu nggak bakalan ketemu” ketus Bimas jengkel setengah mati.


“Semalam cewek lu berisik banget, nelpon gue tengah malem, emang dikira gue nggak butuh tidur apa?”


Varo nyengir lebat tidak menjawab, ia mengambil handuk dan menghilang ke dalam kamar mandi. Setelah beberapa menit membersihkan diri, Varo keluar masih disambut wajah tertekuk Bima.


“Lu sama Olivia ya semalam?” tanya Bima mau tahu. “Ngapain aja?”


“Bahas rencana perubahan undang-undang”


“Nggak lucu” dengus Bima. Varo cuek berbaring di atas kasurnya dengan rambut setengah kering.


“Gue nanya serius”


“Gue juga jawab serius.”


Bima ikut berbaring di kasur, matanya menatap langit-langit kamar.


“Mau dengar nasehat gue nggak?” tanya Bima pelan. “Kalo lu suka Olivia, lu harus nyelesain hubungan lu dengan Arini baik-baik. Tapi kalo lu masih cinta sama Arini, lu harus batasi hubungan lu sama Olivia. Karena kalo enggak itu sama aja lu menginginkan dua orang dalam hidup lu. Dan biasanya sih ujung-ujungnya lu bakalan kehilangan keduanya.”


Varo diam, ia mendengar nasehat Bima tapi tidak menjawab. Sebenarnya tanpa diberitahu Bima pun Varo sudah memikirkan hal itu, sejak semalam Varo sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Arini, tapi Varo tidak berniat untuk memberitahukan hal itu pada Bima.


“Kalo lu sadar, Dimas yang suka mainin cewek, karmanya datang dari Sera. Dia patah hati pas tahu Sera ada pacar, padahal waktu itu Dimas untuk pertama kalinya ngomong ke gue kalau dia serius mau deketin Sera”


“Gue harus nanggepin perkataan lu dengan apa?” tanya Varo setelah cukup lama terdiam.


“Dengan tari dan iringan rebana!” dengus Bimas dongkol. “Ngomong-ngomong soal Dimas, semalam katanya Dimas ngungsi ke kamar Pak Dirman” lanjut Bima bercerita.


“Kenapa nggak lu suruh tidur disini aja?”


“Semalam bukan lu doang yang nyuekin chat gue!” ketus Bima. “Semua orang di chat menghilang, kayak babi di hutan”


“Sorry, habis semua babi lagi sibuk” balas Varo cuek, Bima langsung nyengir lebar.


“Lu tahu mereka berantem karena apa?” tanya Varo merujuk pada perkelahian Johan dan Dimas kemarin.


Bima angkat bahu tidak yakin. “Gue nggak tahu pasti, cuman gue yakin salah satu dari mereka ada yang salah ngomong. Dimas slengean, Johan pendiam. Dari situ gue pikir Dimas nggak sengaja ngomong sesuatu yang buat Johan kesinggung. Mungkin Dimas nggak bermaksud, tapi lu ingat kan Sera bilang Johan lagi berantem sama ceweknya? Itu kali yang buat Johan jadi emosian”


“Cocok lu jadi detektif, kenapa nggak tes polisi aja?” balas Varo keluar dari topik.


“Tinggi gue kurang lima centi” jawab Bima berdecak. “Ah sialan, coba kalo waktu itu tinggi gue cukup, pasti udah jadi calon petinggi kepolisian sekarang”


“Bim lu pernah nggak…”


“Apa?”


“Malem-malem tiduran di genteng kantor polisi pake autan?” tanya Varo nyengir lebar.


“Babi lu, gue kira mau nanya apa” umpat Bima ketus. “Udah ah ngapain ngomongin kepolisian sih?”


“Ya...ya sekarang lu mau ngomongin apa? Gue dengerin nih, pake ekspresi serius” ujar Varo tapi masih cekikikan melihat tampang Bima.


“Ini pertama kalinya gue lihat Dimas berantem” kata Bima masih terus membuat spekulasi. “Seinget gue Dimas bukan anak yang mau secara sukarela nyodorin rahangnya buat ditonjok. Dimas nggak suka cari masalah dan lebih senang di dunianya sendiri. Ibarat kalo dunia ini berhenti berputar Dimas bakalan tetep party until midnight asalkan dikelilingi cewek-cewek cakep”


“Udah lu jangan kebanyakan mikirin masalah orang” potong Varo malah menarik selimut. “Paling besok baikan” lanjutnya santai kemudian memejamkan mata memilih untuk tertidur lelap.