Mr. Bully

Mr. Bully
Let's Not Fall in Love - Bigbang



Arini masuk ke dalam kamar dengan wajah tertekuk, matanya menatap tajam punggung Varo dan ekspresinya terlihat kesal setengah mati.


“Aku nggak suka!” ketus Arini ketika Varo hanya menaruh tasnya kemudian hendak melangkah pergi. Varo melemparkan tatapan bingung, tidak mengerti mengapa Arini tiba-tiba terlihat sangat marah.


“Apa?”


“Aku bilang aku nggak suka!”


“Gue keluar bentar ya, mau rokoan bareng Bima” kata Ete buru-buru keluar, sadar sebentar lagi akan terjadi perang di kamar itu.


Varo menghela nafas tepat setelah Ete menghilang dari balik pintu, ia duduk di kasur dan mendongak menatap Arini. Cewek itu cemberut, ekspresi yang dilewatkan Varo selama tiga bulan.


“Aku perhatiin kamu dekat sama Olivia. Kamu aku larang buat dekat sama Olivia” ujar Arini tanpa basa-basi. Meskipun Arini tidak mendengar percakapan Varo dan Olivia, tapi ia bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Varo darinya.


“Aku nggak suka cara dia natap kamu atau gerak-gerik dia ketika ngobrol sama kamu. Aku rasa dia suka sama kamu” kata Arini mulai terdengar emosi. Varo berdecak pelan, belum selesai urusannya dengan Amirah, kini ia harus menghadapi kecemburuan Arini. Dalam hati Varo mengutuk karena Arini selalu mengajaknya ‘berperang’ di waktu yang tidak tepat.


“Mending kamu istirahat” kata Varo terdengar lelah.


 “Kamu kok gitu? Aku serius nggak suka kamu dekat sama Olivia!”


“Ya terus kamu mau aku gimana? Jauh-jauh lima meter dari Olivia? Aku nggak pernah ngelarang kamu buat dekat sama siapapun, kenapa sekarang kamu jadi suka ngelarang-ngelarang?”


“Aku pacar kamu! Aku juga bakal nerima kalo misalnya kamu larang aku buat dekat sama cowok lain. Aku capek-capek datang kesini dan kamu malah bersikap kayak gini” suara Arini semakin meninggi.


“Aku nggak minta kamu datang” balas Varo dingin, tatapannya begitu menusuk membuat mulut Arini langsung terkunci rapat. Ini adalah pertama kalinya Varo membalas perkataan Arini di pertengkaran mereka, sebelumnya cowok itu cenderung hanya akan diam membiarkan Arini mengeluarkan semua uneg-unegnya. Sikap berbeda Varo membuat Arini syok, matanya lantas berkaca-kaca menahan tangis.


“K-kamu marah sama aku?” tanya Arini bergetar.


“Aku capek” Varo menghela nafas. “Mending sekarang kamu istirahat. Aku harus nyelesain laporan keuangan Kak Nabila.”


Tidak ada lagi yang bisa Varo lakukan, tubuhnya sudah terlalu lelah bahan untuk sekedar memeluk Arini dan menjelaskan semuanya. Banyak hal terjadi dihari ini membuat pikiran Varo menjadi tidak menentu, karena itu tanpa banyak bicara Varo melangkah keluar, tidak memperdulikan Arini yang terpaku diam melihat sikapnya.


...*****...


Varo menapaki jalan setapak menuju kafe dengan perasaan tidak menentu, sesekali ia menendang kerikil sebagai pelampiasan rasa kesal yang entah harus ia tujukan kepada siapa. Varo masuk ke dalam kafe, sejenak langkahnya terhenti begitu melihat Olivia sedang duduk bersama Dimas. Mereka mengerjakan sesuatu, tapi sambil tertawa dan sesekali Olivia memukul punggung Dimas kuat-kuat.


“Oliv. Kerjaan aku mana?” tanya Varo tanpa basa-basi menghampiri mereka. Olivia mendongak lalu menunjuk ke arah laptop yang sedang dipakai Dimas.


“Aku kira kamu masih sama Arini, jadi aku minta tolong Dimas” jawab Olivia heran.


“Oh. Oke” angguk Varo.


“Lu mau rokok?” tawar Dimas, Varo menggeleng. “Lu kenapa sih? Sakit?”


“Enggak” jawab Varo singkat. Ponselnya kembali berdering, ia hanya melirik sebentar, dan langsung mematikan ponselnya begitu nama Amirah tidak lagi muncul dari layar ponsel.


“Bantuin aku ngehias kue yuk, daripada kamu duduk nganggur” tawar Olivia tiba-tiba. “Dim, kamu bisa ngerjain sendiri kan?”


“Bisa Oliv, tenang aja” angguk Dimas kembali fokus pada layar laptopnya sementara Varo mengikuti Olivia ke dapur.


“Potong melon jadi segitiga, biar bisa aku taruh disini” kata Olivia menunjuk ke arah kue bulat yang sudah dilumuri krim putih. Varo mengangguk melakukan apa yang Olivia minta.


“Segini ukurannya?” tanya Varo menunjuk ke arah potongan pertamanya. Olivia mengangguk ringan.


“Kamu udah cocok jadi tukang rujak buah” canda Olivia membuat Varo memaksakan diri untuk tersenyum.


“Ini kue buat siapa?”


“Kak Nabila”


Setelah selesai memotong, Varo membantu Olivia menaruh buah melon ke atas kue, ia tertawa geli ketika beberapa kali salah menempatkan buah dan membuat rusak krim yang sudah di rapikan. Sesekali Olivia mengomel, Varo tertawa, untuk sesaat ia melupakan perasaan kalut di dadanya.


“Kamu tadi kenapa?” tanya Olivia ketika suasana diantara mereka sudah terasa cukup rileks.


“Hmm?”


“Ekspresi kamu nggak enak gitu setelah nerima telepon” jelas Olivia hati-hati. “Terjadi sesuatu?”


“Enggak” jawab Varo berbohong. Olivia tidak bertanya lagi, tapi ia melangkah mengambil coklat lumer kesukaannya dan menyodorkan sesendok pada Varo.


“Satu sendok coklat bisa buat perasaan kamu lebih baik” gumam Olivia dengan senyum manis. Varo termangu menatap coklat lumer yang di sodorkan Olivia dan kemudian mendongak menatap wajah cewek itu serius.


“Kamu bilang kita nggak punya hubungan, tapi sikap kamu justru berbanding terbalik dengan perkataan kamu” kata Varo serius membuat senyum Olivia menghilang.


“Jangan kasih aku harapan….aku bisa gila karena sikap kamu.”


Olivia terdiam sejenak, ia menaruh kembali coklat lumernya ke atas meja dan mendongak balas menatap Varo serius.


“Jadi kamu mau aku gimana? Pergi ke Arini dan ngasih tahu dia apa yang udah kamu lakuin di belakang dia, selingkuh? Gitu? Atau kamu mau aku bentak-bentak kamu dan marah-marah kayak orang gila?”


“Boleh. Selama itu nggak buat kamu menjauh dari aku” kata Varo membuatnya terdengar dua kali lebih brengsek dari cowok-cowok tukang selingkuh di luar sana. Tapi Varo tidak peduli, banyak hal terjadi hari ini dan semua itu membuatnya tidak bisa lagi berpikir menggunakan logikanya dengan benar. Varo tidak ingin apapun, ia hanya menginginkan kepastian bahwa Olivia tidak akan meninggalkannya. Dalam sekejap Olivia sudah berhasil membuat Varo menggila.


“Aku sama Arini, kamu lebih suka siapa?” tanya Olivia setelah menghela nafas panjang.


“Kamu” jawab Varo tanpa berpikir dua kali membuat Olivia termangu.


Olivia tertawa kaku dan berkata pelan. “Kamu gila”


“Emang. Aku gila karena kamu dan aku nggak ada pembelaan untuk semua kelakuan aku. Aku salah, brengsek, dan egois. Aku mengakui itu” balas Varo. “Tapi aku mau kamu”


“Kamu bukan suka sama aku” geleng Olivia tegas. “Kamu terobsesi, dan menurut aku itu nggak benar. Aku rasa kita harus mengakhiri hubungan kita.”


Olivia kemudian memaksakan diri untuk tersenyum meskipun terlihat sedikit pilu. “Lucu ya? Mengakhiri hubungan, padahal sejak awal kita nggak punya hubungan apapun.”


Dan perkataan Olivia sukses membuat Varo bungkam, tidak mampu membalas perkataan cewek itu. Olivia berhasil melukai hati Varo dengan cara paling menyakitkan. Untuk pertama kalinya dalam hidup Varo baru saja merasakan bagaimana rasanya dicampakan seseorang yang ia suka.