
Seminggu kemudian setelah mengurus berkas untuk kembali masuk kampus selesai, Varo menuju Yogyakarta. Kali ini ia sendirian, tanpa Bima dan Dimas.
Kaki Varo melangkah ringan menyusuri pasir putih di jalan setapak menuju kafe. Senyumnya tidak menghilang sejak tadi, wajahnya celingak celinguk melihat sekeliling penginapan. Tidak ada perubahan signifikan, kecuali pohon-pohon yang ditanam Rangga sudah agak tinggi dan berdaun lebat.
“Sera!” panggil Varo. Sera balik badan, ia terkejut bukan main dan tersenyum lebar langsung berlari memeluk Varo.
“Ya ampun kamu datang kapan? Kok nggak bilang-bilang?!” seru Sera senang.
“Baru aja nyampe. Langsung kesini” jawab Varo mengikuti Sera masuk ke arena kafe, ia duduk di depan meja bar sementara Sera menyodorkan air es.
“Kata Dimas waktu itu kamu pulang cepat karena mau ke New York. Jahat banget pergi nggak pamit.”
Varo tertawa geli menatap Sera. Rambut cewek itu dipotong jauh lebih pendek dibanding terakhir kali.
“Kamu berapa lama di New York?”
“Enam bulan. Mau tujuh lah”
“Lama ya. Kamu makin tinggi”
“Kamu juga makin pendek.”
“Sialan! Ini udah naik lima senti tau” balas Sera tertawa geli.
Wajah Varo berpaling, menatap seisi kafe, sepi. “Kak Nabila mana?”
“Liburan sama Kak Rangga di Lombok. Biasa, liburan sebelum masuk masa hectic”
“Maksudnya?”
“Kak Rangga dan Kak Nabila mau nikah bulan depan. Jadi liburan dulu sebelum pusing mikirin acara nikahan bulan depan” jelas sera.
“Ohhh. Akhirnya ya setelah penantian panjang Kak Nabila” senyum Varo senang, ia diam sejenak meneguk minumannya. “Terus….Olivia? Di dalem? Atau lagi ngajak Gegi jalan?”
Kening Sera berkerut bingung. “Olivia udah balik Inggris”
“Hah?”
“Seminggu setelah kamu pergi ke New York, Olivia wisuda. Dia balik Inggris, katanya mau balik Yogyakarta, tapi sampai hari ini nggak balik. Nomornya juga nggak aktif, tiba-tiba menghilang. Aku lagi nanya Johan, tapi Johan juga nggak tahu. Makanya aku cuman bisa nunggu Olivia muncul dinikahan Kak Nabila.”
Penjelasan panjang lebar Sera membuat tubuh Varo mendadak membeku. Olivia pergi. Tepat ketika Varo mengatakan tidak akan ada siapapun yang menyakiti cewek itu dan ketika Varo berjanji tidak akan kehilangan Olivia, cewek itu justru pergi.
“Olivia nggak bilang apapun ke kamu?”
“Enggak” geleng Sera pelan melemparkan tatapan iba. Varo menghela nafas, mendadak bingung harus melakukan apa.
“Tapi Johan pernah bilang, Olivia mau kerja di Indonesia” kata Sera membuat Varo mendongak penuh harap. “Tantenya Olivia mau nikah lagi dan Olivia memutuskan untuk balik ke Indonesia”
“Kamu tahu dimana?”
“Enggak. Sejak Olivia nolak kerja di KAP temannya, dia hilang kontak. Aku benar-benar nggak bisa dapat kabar Olivia.”
Sekali lagi Varo menghela nafas, harapannya hancur sudah. Ia terlambat, sangat terlambat. Mungkin akan lebih baik apabila Varo membawa Olivia bersamanya, entah bagaimanapun caranya, tapi setidaknya ia bisa membuat cewek itu tetap berada dalam jarak pandangnya.
“Tunggu bentar” kata Sera masuk ke dalam kemudian keluar dengan sebuah pot bunga red anemone. “Bunga yang Olivia tinggalin, dia minta aku buang. Tapi aku simpan sampai sekarang.”
Varo mengambil pot bunga itu lemas. Ekspresinya berubah sendu dan perasaannya mendadak kosong tidak menentu. Sesuatu menamparnya, membuat Varo merasa terlempar ke belakang. Dalam jangka waktu dua detik Varo kembali merasa kesepian, sama seperti dulu.
“Itu kamu yang kirim?”
Sera mengangguk pelan. “Buku sketsa dan pot bunga ini satu paket. Tapi aku nggak berani ngirim pot bunga ini, takut rusak di jalan” jelas Sera hati-hati. “Aku udah buka buku sketsanya dan itu alasan kenapa aku nggak mau buang.”
Rahang Varo mengeras. Perasaan hampanya berubah campur aduk. Marah, kesal, sedih, rindu.
“Olivia jahat banget ya….” gumam Varo pelan sekali tapi masih dapat didengar Sera. “Dia seenaknya datang, ngacak-ngacak kehidupan gue, dan pergi tanpa jejak ketika gue udah jatuh hati sama dia. Menurut lu gue harus gimana sekarang?”
Sera diam. Nada berbicara Varo terdengar berbeda, membuat Sera langsung tahu lelaki itu sedang merasa frustasi pada apa yang terjadi sekarang. Perkataan apapun yang keluar dari bibir Sera tidak akan mampu menghibur cowok itu, Varo terlanjur merasa hancur. Sera bingung, ia tidak mengetahui secara spesifik apa yang terjadi antara Varo dan Olivia.
Olivia membenci Varo, tetapi sikapnya kontradiktif dengan perasaannya. Beberapa kali Olivia berusaha meyakinkan Sera bahwa ia sangat membenci Varo, tapi Sera bisa melihat perhatian Olivia pada Varo serius. Meskipun Olivia tidak mengaku, tapi tanpa sadar cewek itu telah menaruh hatinya pada Varo.
Ada suatu momen dimana Sera berpikir apa yang ia lihat benar, tapi ketika Olivia pergi tanpa jejak, semua malah menjadi rumit seperti semula. Termasuk perkiraan Sera.
Olivia menyukai Varo. Sebuah perasan yang ingin ia sangkal dan lupakan di tempat ini.
“Kamu mau nginep disini?” tanya Sera setelah cukup lama mereka terdiam.
Varo menggeleng. “Aku langsung balik” jawabnya tenang namun ekspresi wajahnya terlihat sendu.
“Langsung balik? Kamu nggak capek? Sehari aja istirahat, besok baru balik” ujar Sera prihatin melihat tampang Varo.
“Nggak papa, makasih. Aku harus balik cepat buat ngurus berkas lanjutan buat masuk kampus” jawab Varo berbohong. “Lagipula yang aku cari nggak ada”
“Maaf karena aku nggak bisa bantu banyak.”
Varo memaksakan diri untuk tersenyum. “Tanpa kamu aku mungkin nggak akan tahu ada sketsa dan pot bunga ini.”
Sera ikut tersenyum, ia menghela nafas pelan. “Setelah ini kamu mau gimana?”
“Kuliah, lulus, kerja” jawab Varo masih berusaha tersenyum seakan ia baik-baik saja. “Aku boleh ke kamar Olivia? Bentar aja. Belum diruntuhin kan?”
“Masuk aja” angguk Sera.
Varo melangkah masuk ke dalam kamar Olivia, tangannya memegang pot bunga hati-hati sementara tangan lain membuka kenop pintu kamar.
Kosong.
Tidak ada satupun barang tersisa yang menandakan pernah ada seseorang tinggal disana. Seseorang yang sebenarnya menjadi alasan bagi Varo untuk pulang, seseorang yang menjadi tempatnya untuk bersandar, dan seseorang yang begitu berarti untuk Varo. Dalam sekali jentikan jari, orang itu kini menghilang. Menciptakan ruang hampa, sakit, rapuh, dan kecewa luar biasa.
Seharusnya Varo sadar, sejak awal Olivia memang hanya ingin datang, membuatnya merasa istimewa, dan pergi begitu saja setelah hati Varo menjadi miliknya. Sejak awal, Olivia memang berniat untuk menghancurkannya menjadi berkeping-keping.
Cukup lama Varo berdiri di kamar kosong Olivia. Setelah itu kakinya melangkah keluar dan ketika matanya tertuju pada pot bunga dalam pelukannya, ia teringat akan sesuatu.
Red anemone.
I love you.
Seperti biasa, kontradiktif
Olivia membenci Varo, tapi ia juga mencintainya. Mendadak Varo tidak ingin menyerah, sikap inkonsisten Olivia membuatnya ingin mencari cewek itu. Kemanapun Olivia pergi, dimanapun ia sekarang, Varo ingin menemukannya.
Varo akan terus mencari Olivia sampai ia sendiri mendengar jawaban dari bibir cewek itu. Varo tidak akan membiarkan kisah mereka berakhir tragis, karena perasaannya pada Olivia sudah jatuh terlalu dalam.