
Tangan Varo bergerak mengeratkan jaket hitamnya menahan udara dingin malam sembari menunggu nyala api unggun. Di sebelahnya ada Bima sibuk memetik gitar sementara angga, Nabila, dan Johan membakar ikan tidak jauh dari mereka.
“Sera nyanyi, nada C, aku main di kunci G” todong Bima ketika Sera datang bersama Olivia. Kedua cewek itu baru menutup kafe dan kemudian bergabung bersama yang lain. Mereka semua sedang menikmati waktu-waktu santai setelah beberapa minggu berada di tempat itu.
“Aku breakdance aja deh biar seru” jawab Sera cuek duduk di sebelah Bima dan Olivia duduk di sebelah Varo.
Mata Olivia menatap ke arah api unggun yang perlahan menyala dan menghangatkan mereka. Tiba-tiba dari samping, Olivia bisa merasakan sebuah sentuhan tangan di wajahnya, ia berpaling dan mendapati Varo sedang merapikan helain rambut di wajahnya.
“Sorry, tapi dari kemarin aku gemes ngeliat rambut kamu kena wajah kamu” kata Varo jujur. Bukannya marah, Olivia marah tersenyum manis membiarkan Varo menyisipkan rambutnya ke belakang telinga.
“Makasih” kata Olivia pelan.
“Kak, ini minumannya mau ditambah lagi atau enggak?” teriak Dimas pada Rangga.
“Cukup kok itu, makasih ya” jawab Rangga.
Dimas menaruh box berisi bir di sampingnya dan duduk di sebelah Olivia. “Varo, coba lu bayangin kalo tiba-tiba ada babi lari kesini buat matiin api unggun”
“Maksud kamu badak Afrika?” koreksi Olivia, Dimas diam sebentar kemudian mengangguk salah tingkah membuat semuanya tertawa geli.
“Dia emang gitu, kalo mau ngejokes nggak pernah observasi dulu” ujar Varo.
“Dibandingkan kurang observasi, gue lebih percaya kalo otak Dimas itu datar macam penggaris butterfly, makanya kalo ngejokes suka sembarangan” sambung Bima dari samping menimbulkan cekikikan geli. Dimas mendelik sewot tapi terlihat tidak peduli.
“Ada yang mau nggak?” Johan menyodorkan sepiring jagung bakar dan tanpa basa-basi langsung disambar oleh anak-anak sampai ia sendiri tidak kebagian.
“Brengsek” maki Johan.
“Nih punya gue. Gue lagi puasa makan biji-bijian” kata Varo nyengir lebar melihat ekspresi Johan.
“Gue nggak bakal basa-basi bilang ‘udah buat lu aja,’ gue pengen soalnya” balas Johan menerima jagung milik Varo.
“Sera, nyanyi” senggol Bima. Sera mendengus menunjukan ekspresi tidak berminat.
“Jangan diganggu Bim, lagi galau dia, entar kepala lu di bakar” ujar Johan santai. Sera mendengus keras.
“Kenapa lagi Ser? Kan aku udah bilang kawin lari aja biar keluarga langsung setuju” sahut Rangga bergabung bersama Nabila.
“Sera ada pacar?” bisik Dimas bertanya pada Olivia dan dijawab dengan anggukan polos.
Dimas mendadak syok sementara disisi lain Bima sibuk menahan tawa, mulutnya bergerak membisikan sebuah kalimat singkat. “Mampus lu!” gumam Bima terlihat puas.
“Sekarang bukan masalah restu keluarga kak. Doi aku marah besar” kata Sera curhat. “Udah tiga hari dia ngediemin aku, tapi nggak ngomong putus. Jadi sekarang aku bingung”
“Ya nggak apalah, paling ngambek biasa, ntar juga damai” balas Olivia menenangkan. Sera menggeleng kuat.
“Kali ini dia marah besar. Kalo dia minta putus gimana?”
“Ya paling entar nyambung lagi”
“Tapi aku nggak mau kita putus nyambung, kayak bohlam murahan tau nggak?” ketus Sera. Bima dan Johan spontan ketawa ngakak, tapi kemudian buru-buru menutup mulut ketika melihat pelototan tajam Sera.
“Ketawa aja kalian berdua, ntar lihat kalo kalian berdua galau, aku ketawa lewat toa masjid” ancam Sera jengkel.
“Ya maap Ser, kamu kalo galau lucu soalnya” balas Johan menahan cekikikan.
“Udah-udah, daripada galau mending kita main game, yang kalah cuci piring” tawar Nabila menengahi. “Truth or drink the wine. Setelah orang pertama, bebas mau nunjuk ke siapa aja.”
Anak-anak spontan bersorak riang ketika Nabila mengangkat sebotol wine dan sebuah gelas kecil. Nabila kemudian mengambil botol kosong dan memutar di atas pasir, botol itu berputar beberapa kali kemudian berhenti di depan dirinya sendiri.
“Sialan!” maki Nabila. “Siapa mau nanya aku?”
“Saya.” Bima angkat tangan. “Sebutkan satu hal yang kakak nggak suka dari Kak Rangga”
“Rangga kalo tidur ngorok” jawab Nabila pikir panjang membuat sorakan geli terdengar.
“Udah tidur bareng dong?” tawa Sera ketawa ngakak. Spontan wajah Nabila berubah kemerahan lalu buru-buru menatap ke Dimas.
“Dari antara Olivia dan Sera, siapa yang kamu suka?”
Dimas melongo, agak kaget langsung ditembak dengan pertanyaan seperti itu, Varo dan Bima otomatis menahan tawa ketika melihat Dimas terlihat sedikit salah tingkah. Dimas memang ingin mendekati Sera, tapi beberapa menit lalu ketika tahu Sera sudah memiliki pacar Dimas langsung patah hati.
Dimas suka mendekati banyak cewek, tapi ia paling anti mendekati cewek yang sudah memiliki pacar. Bagi Dimas haram hukumnya.
“Ya nggak asik” kata Bima ketika Dimas lebih memilih menegak habis isi gelas winenya.
“Giliran gue sekarang,” Dimas menatap sekelilingnya dan berhenti pada Johan. “Ada nggak cewek yang lu incer disini?”
“Ada” jawab Johan serius membuat semua melemparkan ekspresi mau tahu. “Bima” lanjutnya menimbulkan tawa keras kecuali dari Bima yang melemparkan ekspresi sewot.
“Enak aja! Gue kan cowok tulen. Lu nggak lihat tembolok gue gede?” ketus Bima.
“Kali ini gue mau nanya ke Olivia” ujar Johan. Olivia mendongak, sejak tadi ia hanya tertawa geli melihat bagaimana permainan itu berlangsung.
“Nanya apa?” tanya Olivia acuh tidak acuh sibuk mengunyah jagung bakarnya.
“Kamu suka nggak sama Varo? Suka dalam arti lebih dari teman” tembak Johan langsung. Semua langsung diam menatap Olivia menunggu cewek itu menjawab pertanyaan Johan.
“Emm.” Olivia bergumam agak susah payah menelan jagung bakar, ekspresinya terlihat santai seakan pertanyaan Johan bukan hal besar untuknya. Sesaat ia diam sejenak, antara sedang berpikir atau memang sengaja ingin membuat semua orang terus menatapnya dengan ekspresi ingin tahu.
Diantara keheningan itu, ponsel Varo tiba-tiba berbunyi, ia langsung menghela nafas kesal begitu melihat nama Arini muncul di layar ponsel. Mau tidak mau Varo terpaksa berdiri dan memilih menjauh dari situ. Sesaat ketika kakinya melangkah, wajah Varo berpaling, dan ia melihat Olivia tersenyum kecil sambil meneguk isi gelas winenya.
...*****...
Kaki Varo melangkah menyusuri pantai dengan ponsel masih berada di telinga. Keningnya berkerut mendengar Arini berbicara panjang lebar, sementara pandangan matanya menatap jauh ke arah garis pantai yang dapat terlihat berkat sinar lampu.
Untuk kesekian kalinya mereka bertengkar, meskipun Arini masih mencoba menahan amarahnya yang ingin meluap tapi rasa frustasi terdengar dari setiap penekanan katanya.
[Kamu dengerin aku kan?] tanya Arini menyadari komunikasi mereka terdengar hanya berasal dari satu pihak.
“Dengar”
[Terus kenapa kamu nggak ngomong apa-apa?]
“Emang kalo aku ngomong sesuatu, kamu bakal langsung berhenti marah?” tanya Varo tenang.
Arini menggigit bibirnya, ia marah dan kesal, tapi tanggapan Varo justru terdengar seakan kemarahaan Arini bukan masalah besar baginya. Arini menarik nafas panjang, terkadang ia mengutuk dirinya sendiri mengapa ia terlalu menyukai cowok yang sedang berbicara dengannya ini.
Jujur, terkadang Arini merasa lelah, hanya ia yang berusaha untuk mendekati Varo dan mencoba membuka hati cowok itu. Tapi disisi lain Varo justru terlihat tidak peduli. Sesekali Arini berpikir untuk mengakhiri hubungan mereka, tapi ia enggan melepaskan Varo begitu saja.
[Kita ngomong lagi nanti] kata Arini akhirnya menyerah. Bertengkar dengan Varo malam ini hanya akan membuatnya makan hati dan kecewa sendirian. [Ete udah datang, aku harus pergi. Kamu jangan lupa makan, istirahat, kalo ada waktu telepon aku]
“Iya” jawab Varo pendek.
Sambungan telepon dimatikan dari seberang. Sekali lagi Varo melempar kerikil kemudian duduk di pasir pantai. Ia merasa sepi, bahkan meskipun musik dari kafe terdengar samar-samar mengiringi ombak.
Perasaan sepi bukanlah hal yang asing bagi Varo. Ketika semua terlihat baik-baik saja, ketika sebuah lelucon menarik garis tawa di bibirnya, atau ketika sedang bersama teman-temannya. Varo tetap merasa kesepian. Rasa itu mungkin menghilang, tapi hanya sebentar, karena ketika ia kembali sendiri, rasa itu juga datang kembali.
Sepi, sunyi, sedih.
Tidak banyak orang yang mengerti dirinya, karena ia sendiri pun tidak bisa mengerti dirinya sendiri.
Varo menyalakan rokok, ia menarik asapnya dalam-dalam merasakan sensasi nikotin yang menenangkan, meskipun ketenangan itu hanya bersifat sementara.
“Kata orang, kalo ngerokok tengah malam di dekat pantai bisa manggil setan air loh.”
Wajah Varo berpaling, senyumnya langsung muncul begitu melihat Olivia datang dengan sebotol wine dan dua gelas kecil.
“Kamu udah minum berapa gelas??” tanya Varo baru mengingat game yang ia tinggalkan. Olivia duduk disamping dan mengangkat dua jari sebagai jawaban singkat.
“Siapa yang kalah?”
“Bima. Tapi percuma juga, gimana mau cuci piring, dia mabuk berat. Tadi aja pas makan, sempat muntah-muntah” cerita Olivia. Varo nyengir, bisa membayangkan betapa repotnya Dimas mengurus Bima yang sedang mabuk.
“Bima itu nggak kuat dikasih minum, nyium wangi stella aja bisa mual-mual kayak orang hamil” jelas Varo.
Olivia tertawa, ia menuang wine ke dalam gelas mereka dan meneguk miliknya. Sensasi panas dalam tubuh merayap naik memberikan kehangatan dari udara malam
“Kamu kenapa duduk malam-malam kayak orang galau?” tanya Olivia membuka percakapan.
“Kakak aku berisik, nelpon aku kayak mau nawarin pinjol” jawab Varo berbohong.
“Kakak kamu yang cewek ya?”
“Kamu tau?”
“Iya. Kamu kan anak bungsu. Kakak pertama kamu cowok dan kakak kedua kamu cewek” balas Olivia membuat Varo menatapnya. “Semua anak sekolah tau itu, ayah kamu donatur tetap yayasan, jadi segala sesuatu tentang kamu bukan rahasia lagi.”
Entah mengapa penjelasan Olivia membuat Varo merasa sedikit kecewa, tapi dengan cepat ia menepis perasaan itu dan kembali berpaling menatap Olivia.
“Kenapa sih kamu ngeliatin aku kayak gitu?”
“Karena aku berusaha untuk mengingat-ingat seperti apa kamu saat SMA” jawab Varo. Olivia melipat kedua tangannya di lutut dan menyandarkan kepalanya lalu balas menatap Varo.
Varo bisa merasakan bagaimana tatapan Olivia mampu membuat jantungnya berdetak kencang, ia terpesona melihat bagaimana tatapan teduh yang diberikan Olivia padanya, dan sekali lagi bibir...bagian dari wajah Olivia yang selalu berhasil menarik perhatiannya.
“Sekeras apapun kamu mencoba, kamu nggak bakalan inget aku” kata Olivia tenang. “Aku dulu lebih sering di kelas, bahkan pas istirahat aku lebih suka di kelas, dan pas kenaikan kelas aku pindah”
“Istirahat juga di kelas? Nggak pernah ke kantin sama sekali?” tanya Varo heran.
“Pernah, tapi karena kantin selalu ramai makanya aku malas. Lagian aku tiap istirahat kerjaannya baca novel.”
Kepala Varo menggeleng dengan ekspresi serius. “Kamu itu kayak cewek cantik anti sosial yang munculnya pas gedung sekolah kebakar”
“Eh tapi aku dulu berharap sekolah kita kebakar tau, biar aku nggak usah sekolah”
“Sama aku juga, biar aku nggak usah belajar”
“Aku sih suka belajar, yang aku nggak suka sama teman-teman lain, pada berisik suka gangguin aku”
“Mungkin karena kamu cantik, makanya sering diganggu” balas Varo.
“Aku, cantik” gumam Olivia pelan terdengar seperti sebuah pernyataan dan juga pertanyaan. “Kamu suka cewek cantik?”
“Kamu sendiri suka cowok cakep nggak?“ Varo malah membalik pertanyaan Olivia.
“Aku suka cowok baik”
“Kalo gitu sama, aku juga suka cewek baik.”
Olivia tersenyum tipis. “Berarti aku nggak masuk ke tipe kamu”
“Kenapa? Karena kamu bukan cewek baik?”
“Iya”
“Wow. Kalo gitu jauh-jauh dua meter dari aku” balas Varo bercanda, Olivia tertawa geli menuang winenya ke dalam gelas.
“Apa contoh kalo kamu bukan cewek yang baik?” pancing Varo terdengar ingin tahu. Semua pernyataan dari bibir Olivia seakan memiliki medan magnet kuat yang dapat dengan mudah menarik rasa keingintahuannya naik kepermukaan.
“Hmm.” Olivia bergumam, ia memperbaiki posisi duduknya agar dapat menatap ke arah garis pantai dengan benar.
Varo menunggu, ia terlihat begitu menikmati ekspresi serius Olivia ketika memikirkan jawaban atas pertanyaannya. Tapi setelah beberapa lama, Olivia malah memalingkan wajah ke arah Varo, tanpa mengatakan apapun senyum manisnya muncul. Dan setelah itu Varo yakin benar, ada sesuatu yang salah dengan dirinya, karena tanpa sadar ia perlahan mulai menyukai Olivia.