
Varo mengangkat koper masuk ke dalam bagasi. Matanya melirik jam tangan, masih ada beberapa jam sebelum keberangkatan menuju bandara.
“Lu mending nggak usah ikut” kata Dimas ketika melihat Bima menarik sarung dan mengoles minyak angin. Bima paling tidak tahan pergi tengah malam tanpa minyak angin, katanya kulit perut Bima tipis makanya mudah masuk angin.
“Lu kalo muntah-muntah, gue turunin tengah jalan” ancam Dimas duduk jongkok di tangga lobi.
“Lagian Varo, ngapain tiba-tiba mendadak balik sekarang sih? Nggak bisa besok pagi? Kayak monas mau pindah ke Bekasi aja, jadi kudu diselamatkan” omel Bima.
“Ada lagi mas?” tanya Pak Dirman. Varo mengecek semua barang bawaannya, memastikan tidak ada yang tertinggal.
“Masih ada pak yang ketinggalan, tapi di kafe. Coba lu cek deh, gue sama Pak Dirman mau minum kopi sambil rokoan. Yuk pak ngopi, ini perjalanannya jauh” cerocos Dimas menarik Pak Dirman dan Bima menjauh.
Varo bengong ditinggal sendirian, ia mendengus, tahu maksud Dimas. Dimomen-momen tertentu, kecerewetan Dimas hampir menyamai Bima.
Varo termenung, ia menghela nafas, meskipun terlihat ragu tapi kakinya secara otomatis melangkah menyusuri jalan setapak menuju kafe. Sudah hampir pukul sebelas malam dan lampu kade satu persatu mulai dipadamkan.
“Sera!” panggil Varo. Ada Johan di situ membantu Sera menaikan kursi ke atas meja.
“Ada apa?” tanya Sera bingung melihat Varo masuk dengan tampang seperti habis melihat setan tengah malam.
“Olivia ada?”
“Ada di kamar, kamu-”
“Oke, makasih” potong Varo. Ia tersenyum tipis pada Johan yang berinisiatif menarik Sera menjauh dari kafe ketika cewek itu hendak menghadang langkah Varo. Sera sedikit meronta tapi Johan tidak melonggarkan erat tangannya dari bibir cewek itu. Johan balas tersenyum memberikan kode agar Varo melangkah terus, sementara ia pergi bersama Sera.
Kini Varo seorang diri berdiri di depan kamar Olivia, ia terlihat gelisah.
Bagaimana jika Olivia tidak membuka pintu?
Bagaimana jika Olivia tidak ingin berbicara?
Bagaimana jika Olivia tidak ingin melihat dirinya?
Dan lebih parah lagi, bagaimana jika keputusannya datang kesini adalah sesuatu yang salah?
Varo menarik nafas panjang berkali-kali, pikirannya kacau tapi tangannya terangkat pelan mengetuk pintu kamar Olivia. Hanya dua ketukan singkat, tapi berhasil membuat degup jantungnya berdetak tidak karuan.
“Sera? Masuk aja, nggak aku kunci.” Terdengar suara Olivia dari dalam. Varo menelan ludah gugup tapi tidak berani menyentuh kenop pintu, ia diam menunggu sampai beberapa saat kemudian pintu terbuka.
“Aku bilang nggak-” ekspresi Olivia langsung berubah begitu melihat siapa dibalik pintu. Ia menutup pintu tapi dengan cepat tangan Varo menahan pergerakannya. “Mau apa lagi kamu kesini?”
Varo termangu, ini adalah pertemuan pertama mereka setelah terakhir kali Olivia meninggalkannya dengan amarah dan tangisan. Tapi ekspresi cewek itu seperti ingin menunjukan bahwa kejadian itu baru saja terjadi kemarin sore. Ia terlihat sangat kesal.
“Aku boleh masuk? Aku mau ngomong sesuatu” tanya Varo hati-hati, menghadapi amarah seseorang bukan hal yang mudah apalagi orang itu sudah terlanjur membenci Varo. “Aku rasa, aku nggak bisa lagi ketemu kamu dalam waktu dekat.”
Mata Olivia menatapnya tajam terlihat sedang menilai. Tanpa diduga ia mengangguk dan mundur selangkah, membiarkan Varo masuk.
“Kamu mau ngomong apa? Kalo kamu mau minta maaf, mending kamu keluar aja. Aku nggak butuh permintaan maaf dari kamu” kata Olivia ketus melipat kedua tangan. Tubuhnya bersandar di dinding menatap Varo lekat-lekat.
“Hari ini aku berangkat ke New York” kata Varo buka suara. Lidahnya terasa kelu, tapi tidak ingin membuang waktu sedetik pun untuk terdiam. “Seperti yang kamu bilang, masih terlalu dini bagi aku untuk menyerah.”
Olivia sedikit terkejut, tapi ekspresinya dengan cepat berubah, meskipun keningnya kini berkerut menunggu Varo menyelesaikan perkataannya.
“Aku tau kamu benci sama aku. Tapi aku akan berusaha keras gimana caranya agar kamu mau maafin aku. Aku akan nunjukin ke kamu kalo aku benar-benar udah berubah dan menyesal dengan semua perbuatan jahat aku ke kamu.” Varo menarik nafas dalam-dalam. Ini adalah pertama kalinya ia berusaha mendapatkan kembali kepercayaan dari seseorang yang membencinya. Dan ini juga adalah pertama kalinya ia tahu kemana hatinya harus berlabuh, meskipun ada amarah disana, tapi Varo ingin menyelesaikannya, mengulang semua dari awal.
“Aku tau, permintaan aku ini akan buat aku terlihat empat kali lebih brengsek dimata kamu….tapi, aku berharap kamu mau nunggu aku sebentar saja. Nunggu aku kembali dan lihat bagaimana aku nunjukin semua keseriusan aku ke kamu.”
Hening.
Tidak ada satupun reaksi dari Olivia, meskipun ia tahu Varo baru saja mengakui isi hati dan perasaannya.
Hati Varo terasa sakit, fakta bahwa ia harus pergi dari tempat itu tanpa mendengar jawaban Olivia membuatnya ingin menggila. Varo tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran Olivia, ekspresi cewek itu terlalu sulit untuk dimengerti.
Memang tidak mudah untuk meluluhkan es yang telah lama membeku. Apalagi jika ditarik kronologinya ke belakang, timbunan es itu sudah menumpuk sejak lama.
“Aku pergi sekarang. Pesawat aku berangkat subuh.” Varo balik badan dengan senyum pahit. Kakinya terasa berat melangkah keluar dari situ, ia tidak ingin meninggalkan Olivia.
Tidak ketika Olivia membencinya.
“......Hati-hati dijalan.”
Langkah Varo terhenti, tangannya membeku di kenop pintu ketika mendengar suara pelan Olivia. Tubuh Varo seakan tersengat listrik, membuatnya tidak mampu melakukan apapun. Untuk beberapa saat Varo terdiam, setitik harapan muncul membuat tubuhnya berbalik.
“Keputusan kamu untuk nemuin mama kamu, adalah keputusan terbaik yang pernah kamu buat.” Olivia tersenyum tipis, ia menggigit bibir bawahnya seperti menahan tangis, wajahnya menunduk menatap lantai kamar. Semenit lebih lama berbicara dengan Varo, bisa dipastikan pertahanan Olivia akan runtuh.
“Oliv…” gumam Varo.
Wajah Olivia mendongak, tatapan sendu Varo membuat pertahanannya runtuh. Setetes air mata jatuh membasahi pipi Olivia.
Seandainya mereka tidak bertemu, apa Olivia tidak akan terluka karenanya?
Seandainya mereka tidak pernah bertemu, apa Olivia akan tetap menangis seperti itu?
Seandainya mereka tidak pernah bertemu, apa Olivia akan tetap membenci seseorang dalam hidupnya?
Mengapa pertemuan mereka seakan berada pada waktu yang salah?
Varo ingin mengubah semuanya, kembali ke awal. Ia ingin sebuah pertemuan menyenangkan tanpa rasa benci, menghapus kepura-puraan, dan menghapus amarah. Varo menginginkan sebuah perasaan tepat yang bisa menggambarkan hubungan mereka.
“..Aku…” Olivia diam, ia tidak mampu untuk mengatakan apapun lagi. Bibirnya terkunci rapat, menunggu Varo pergi agar isak tangisnya dapat keluar dengan bebas.
Kedua tangan Varo terkepal erat, ia sudah tidak bisa menahan diri lebih lama. Tanpa berpikir dua kali, Varo melangkah kembali pada Olivia. Tangan Varo menarik tubuh Olivia mendekat dan mencium pelan bibir cewek itu.
Manis dan sedih.
Itu adalah dua perasaan kontras yang dirasakan Varo saat ini.
Olivia sendiri tidak menolak, air matanya justru semakin deras memenuhi pipi. Seakan ciuman itu adalah isyarat perpisahan terakhir mereka.
Perasaan Olivia berkecamuk, ia ingin membenci Varo tapi disisi lain, sebagian dari dirinya tanpa sadar menaruh empati pada Varo. Membuatnya yang sebenarnya ingin menghancurkan Varo, justru hancur dengan jatuh hati pada cowok itu. Olivia seperti terjebak dalam perangkapnya sendiri. Ia merada dilema. Apakah Olivia harus melepaskan diri atau tetap diam disitu dan terjebak dalam perasaannya?
Nafas Varo menderu hebat, bibirnya bisa mengecap air mata Olivia. Dalam beberapa saat Varo benar-benar berpikir untuk tidak meninggalkan tempat itu. Hatinya terasa semakin sakit harus meninggalkan Olivia, Varo ingin berada disitu sepanjang waktu.
Wajah Varo menjauh, tangannya terangkat naik menghapus air mata dari pipi Olivia lalu memeluk cewek itu erat.
“Aku sayang sama kamu. Maafin aku karena udah nyakitin kamu. Mulai hari ini aku janji, nggak bakal ada lagi yang bisa nyakitin kamu, bahkan aku sekalipun” bisik Varo bergetar memeluk Olivia erat.
Olivia membenamkan kepalanya dalam pelukan Varo, tanda bahwa pelukan itu akan menjadi perpisahan paling menyedihkan untuk mereka