
Sera melangkah keluar kamar Olivia, ekspresinya terlihat tenang menatap ketiga cowok yang duduk di kursi meja makan.
“Masuk gih, udah ganti baju anaknya. Nih pake, entar kamu masuk angin, aku yang repot” kata Sera menyerahkan handuk pada Johan.
Johan mengintip sekilas. “Gue balik besok deh, mau ganti baju. Yang penting Olivia udah aman. Yuk Bim”
“Lah gue doang? Varo enggak?” protes Bima.
“Udah Bim, biarin Varo yang nemenin. Mending lu nemenin gue mandi” kelakar Johan menarik paksa Bima.
“Najis! Mending kepala gue dipenggal daripada harus nemenin lu! cuih! cuih! najis! jangan sentuh gue! jauh-jauh lu sana sepuluh meter ke belakang” teriak Bima histeris. Johan ketawa ngakak lalu mereka keluar dari kafe.
“Nggak masuk?” tanya Sera heran. Varo melemparkan tatapan ragu, ia masih terkejut dengan kejadian tadi, membuat tubuhnya kaku bingung harus melakukan apa.
“Waktu SMA Olivia pernah tenggelam di kolam renang sekolah kalian” cerita Sera tiba-tiba menarik kursi dan duduk di depan Varo. “Olivia hampir mati saat itu, tapi beruntung ada Johan yang nyelamatin. Sejak saat itu dia jadi trauma berat. Aku beberapa kali berusaha bantuin Olivia buat belajar berenang, sebenarnya traumanya mulai membaik. Olivia udah bisa masuk ke dalam kolam renang. Cuman, kalo jatuh tiba-tiba kayak gitu, tetap aja bakalan jadi mimpi buruk buat Olivia.”
Varo diam sesaat lalu tanpa berkata apapun ia melangkah masuk ke kamar Olivia dan menutup pintu pelan. Ekspresinya berubah sendu ketika melihat Olivia duduk bersandar di dinding, mata cewek itu terpejam, dan memeluk selimut tebal.
“Oliv” panggil Varo.
Mata Olivia terbuka, ia tersenyum lemah. “Maaf, tadi aku lebay pake nangis segala. Aku kayak orang gila.... Aku enggak tahu reaksi tubuhku masih kayak dulu, aku kira aku udah baik-baik aja... Maaf.”
Varo mendekat, ia duduk di depan Olivia. Rasa takut dan tangisan Olivia tadi dengan cepat membuat Varo merasa hancur, cewek itu membutuhkan pertolongannya tapi Varo justru diam bagai orang bodoh.
“Kenapa kamu nggak cerita?”
“Hmm?”
“Sera udah cerita ke aku….tentang trauma kamu. Kenapa kamu nggak cerita?” jelas Varo berusaha tenang.
Olivia tidak menjawab, bibirnya terkunci rapat tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Wajahnya menunduk tidak ingin menatap Varo. Cukup lama keduanya terdiam sampai terdengar suara Olivia.
“Aku boleh peluk kamu?” tanya Olivia pelan, nyaris tidak terdengar. “Hanya untuk sekarang. Besok-besok enggak-”
Varo memotong kalimat Olivia dengan menarik cewek itu ke dalam pelukannya.Tangannya menepuk-nepuk punggung Olivia pelan, mencoba memberikan rasa aman, meskipun hanya untuk sejenak.
Mata Olivia terpejam, apakah pelukan Varo selalu menenangkan seperti ini? Apakah memang benar jika melawan badai, maka tempat bersembunyi paling aman adalah pusaran badai itu sendiri? Pelukan Varo membuat Olivia bimbang, kini ia kembali pada hari-hari dimana ia tidak bisa mengerti perasaannya sendiri. Namun kali ini karena cowok yang memeluknya ini.
Varo sendiri terus menepuk pelan punggung Olivia, ia tidak bisa membayangkan hal gila apa yang akan dilakukan Varo apabila sesuatu terjadi pada cewek itu. Dengan Olivia yang berada di dekapannya membuat Varo sadar bahwa rasa sukanya pada Olivia kini sepenuhnya berubah.
Varo mencintai Olivia.
Pukul sebelas malam Varo baru kembali ke kamarnya. Ia merenggangkan tubuh kelelahan, sejak tadi Varo sama sekali tidak berniat meninggalkan Olivia sampai cewek itu tertidur lelap. Bahkan kalau bukan karena Sera yang mengingatkan besok adalah hari kerja, Varo mungkin sudah begadang semalam untuk memastikan Olivia baik-baik saja.
“Kamu dari mana?” Suara Arini pertama kali terdengar menyambut Varo ketika ia membuka kenop pintu. Tubuh Varo bergeser dari pintu, membiarkan Bima secara sopan keluar kamar, memberikan ruang bagi dua sejoli itu untuk berantem.
“Kamu pasti dari tempat Olivia kan?”
“Iya” jawab Varo pendek mengambil handuk.
Mata Arini membulat marah, kini tidak ada lagi alasan untuk menahan diri melihat ketidakacuhan Varo pada dirinya. “Kok kamu gitu sih? Kamu tau nggak si Dimas marahin aku, si Johan juga. Udah kayak aku habis ngebunuh orang aja! Aku kan udah bilang aku nggak sengaja. Lagian lebay banget pake nangis. Kayak anak kecil!”
Tubuh Varo langsung berbalik ke arah Arini, ia menggantung handuk di leher. Ujung bibir Varo tersenyum, ia memutuskan untuk meladeni Arini malam ini.
“Aku tau kamu cemburuan, tapi aku baru tau kalo kamu nggak punya empati”
“Empati? Emang aku ngapain?! Aku tuh udah bilang aku nggak sengaja!” bentak Arini jengkel.
“Dibandingkan kamu bilang Olivia lebay, akan lebih bagus kalo kamu datang kesini nanya keadaan dia dan berinisiatif untuk minta maaf. Bahkan meskipun kamu bilang kamu nggak sengaja”
“Apaan sih! Kalian semua kok jadi ngebelain cewek itu?! Kamu suka kan sama dia? Ngaku aja! Kamu sering banget ngebelain dia, udah kayak Olivia pacar kamu!”
“Olivia punya trauma. Dia pernah hampir tenggelam” jawab Varo tenang. “Jadi kamu hampir bunuh anak orang. Dan iya, aku suka sama Olivia. Jadi kamu mau gimana sekarang?”
Amarah Arini langsung surut, digantikan rasa kecewa luar biasa. Tidak perlu perdebatan atau penjelasan panjang lebar, ia langsung tahu poin satu dari ketakutannya terbukti sudah. Varo menyukai Olivia. Arini tidak mengerti, apa yang menarik dari Olivia selain fisiknya dan sikapnya yang malah selalu terlihat penuh kepalsuan.
Arini mendongak, Varo yang berdiri di depannya ini terlihat seperti salah satu dari cowok-cowok brengsek diluar sana. Tangan Arini lantas terangkat naik dan menampar keras wajah Varo.
Plak.
“Dasar brengsek! Kita putus aja”
“Oke. Udah kan?” jawab Varo tenang memegang pipinya yang kemerahan karena tamparan Arini. Wajahnya bergerak sedikit memberikan kode pada Arini untuk keluar. “Bisa keluar sekarang nggak? Gue mau tidur.”
Mata Arini berkaca-kaca. Bukan ini yang ia harapkan. Tamparan tadi harusnya membuat Varo sadar bahwa ia baru saja membuat kesalahan besar, seharusnya Varo meminta maaf, menjelaskan semuanya, menyalahkan Olivia, dan berlutut di depan Arini. Varo yang Arini kenal sebagai cowok manis miliknya, kini menghilang, menampilkan sosok asli Varo.
Arini menangis. Hilang sudah mimpi indah akan cinta manisnya. Si penarik hati yang memberikan batas, kini menciptakan rasa sakit dan kecewa luar biasa untuk dirinya.
Suara pintu terbuka membuat Varo mendongak, Bima dan Ete masuk karena mendengar pertengkaran keduanya dari luar. Mereka menatap canggung ketika melihat Arini menangis.
“Gue aja deh yang pergi” dengus Varo acuh tidak acuh mengambil bajunya dari lemari lalu melangkah keluar. Tidak memperdulikan teriakan Bima memanggil-manggil namanya.