Mr. Bully

Mr. Bully
When The Party is Over - Billie Eilish



Seminggu setelah itu hubungan Varo dan Arini kandas. Arini yang masih menyimpan rasa sayang pada Varo mencoba melakukan segala cara untuk mengambil hati cowok itu. Tapi Varo sama sekali tidak bergeming, ia justru semakin menjauh. Bahkan meskipun Sandra yang baru datang kemarin sore mencoba menjadi penengah, tidak membuat hubungan Varo dan Arini membaik.


Arini frustasi, ia sudah kehabisan akal. Sesekali Varo masih berbicara dengannya, tapi hanya seperlunya. Batasan yang dibuat cowok itu semakin jelas ketara, ia bersikap seperti orang asing yang baru pertama kali mengenal Arini. Tangisan sedih Arini saat mencurahkan isi hatinya membuat Sandra menjadi geram, tapi tidak bisa menolong banyak.


Sandra mengenal Varo sejak SMA. Ia tahu benar, menaklukan Varo sama saja dengan mencairkan es beku. Varo bukan tipe yang akan datang karena kasihan pada tangisan, cowok itu tidak peduli. Varo akan datang ketika ia ingin, dan itu justru membuat kening Sandra berkerut ketika mendengar cerita Ete mengenai hubungan Varo dan Olivia berdasarkan pengamatannya.


“Gue penasaran, pengen tau mukanya Olivia kayak apa. Secantik apa sih sampai bisa buat seorang Alvaro Wijaya menggila?” kata Sandra di suatu siang panas ketika sedang berada di kamar Ete dan Arini. Sejak kemarin Sandra belum bertemu Olivia, ia hanya mendengar deskripsi Ete yang dirasa terlalu hiperbola.


Mana ada cewek sesempurna itu? batin Sandra skeptis.


“Cakep San, gue aja tertarik. Kalo gue cowok, udah gue sikat” jawab Ete pelan takut didengar Arini dari dalam kamar mandi.


“Dia kerja di kafe?”


“Cuman bantu-bantu, sepupunya tunangan pemilik penginapan ini. Kuliah di Inggris”


“Oh pantes, kayaknya belagu ya” balas Sandra sok tahu melipat kedua tangannya menatap ke arah kafe dari balkon kamar. Ia tidak mengenal Olivia, tapi perasaan kesal memenuhi dadanya ketika mendengar kabar putusnya Arini dan Varo ada sangkut pautnya dengan cewek asing bernama Olivia. Bagi Sandra, orang yang harus disalahkan atas kandasnya hubungan dua sejoli itu adalah Olivia. Cewek yang menurut cerita Arini selalu berusaha menempel dan menggoda Varo setiap ada kesempatan.


“Sorean kesitu yuk, gue pengen lihat tampangnya kayak apa” ajak Sandra. Ete mengangguk lalu melangkah masuk ke kamar dan berbaring di atas kasur.


“Tapi gue nggak ikutan ya.” Ete nyengir ketika Sandra melemparkan tatapan heran. “Ikutan berantem maksudnya, gue netral”


“Lu sama teman gitu. Emang jiwa penghianat lu tuh tinggi banget”


Ete hanya tertawa, ia sedang PDKT dengan Johan dan memusuhi Olivia sama saja dengan menggali kubur sendiri, mengingat betapa marahnya Johan tempo hari, Ete seharusnya paham bahwa sikapnya pada Olivia akan menjadi penentu kelancaran hubungan Ete dan Johan. Selama Ete bisa menunjukan bahwa ia netral, seharusnya dirinya aman. Persetan dengan setia kawan, Johan terlalu tampan untuk ia sia-siakan begitu saja.


Menjelang sore Sandra, Arini, dan Ete pergi ke kafe. Ada Varo, Dimas, dan Bima sedang duduk di pojokan dengan laptop masing-masing, sibuk melanjutkan laporan magang.


“Itu yang namanya Olivia?” bisik Sandra melihat sosok seorang cewek dari kejauhan.


Ete menggeleng. “Itu namanya Sera, temannya Olivia”


“Oh. Gue kira… Untung belum gue hujat mukanya” balas Sandra angkuh lalu masuk ke dalam dan menarik kursi duduk di sebelah Bima.


“Sibuk amat bapak-bapak kelurahan, sampai nggak sadar ada sekumpulan bidadari datang” tegur Sandra.


Bima menoleh lalu berkata acuh tak acuh. “Oh kalian, sorry tadi gue kira babi lewat”


“Sialan lu!” maki Ete. “Wow, mau kemana lu?” tanyanya ketika mengintip layar laptop Varo.


“Enggak, gue cuman mau perpanjang masa berlaku pasport gue” jawab Varo menutup layar chat yang ia kirimkan pada Putra.


“Oh gue kirain lu mau travelling ke luar negeri”


“Kalo gue mau travelling kenapa? Lu mau ikut?”


“Ogah. Entar bukannya travelling malah pesta seks” jawab Ete kalem.


Varo bergumam dengan senyum geli. “Gila.” Ia kembali menatap layar laptop, terlihat tidak ingin bergabung dengan obrolan mereka. Tubuh Varo berada disitu, tapi pikirannya di tempat lain. Bahkan meskipun beberapa kali Arini secara terang-terangan menatapnya, ia tidak juga bergeming.


“Hai Johan!”


Saapan Ete membuat semua berpaling, Johan dan Olivia masuk ke dalam kafe.


“Dua yang datang, tapi yang disapa cuman satu” nyinyir Bima tapi Ete tidak peduli.


“Dari mana?”


“Depan, ngambil paketan” jawab Johan.


“Eh kenalin ini teman gue Sandra” kata Ete buru-buru memperkenalkan Sandra dan memberikan kode singkat pada cewek itu bahwa ia telah menandai Johan sebagai miliknya.


Sandra mendengus, meskipun dalam hati mengakui ketampanan Johan. Kalau saja Sandra tidak memiliki pacar, sudah pasti ia tidak akan mengacuhkan kode Ete.


“Johan”


“Sandra”


“Dan yang ini Olivia” kata Ete.


Olivia menyambut uluran tangan Sandra, tapi cewek itu tidak tersenyum. Siratan kebencian dari mata Arini membuat senyum Sandra ikut menghilang, dan sedetik kemudian Sandra seperti terkena sengatan listrik. Bagai melihat setan di tengah bolong, Sandra baru menyadari sesuatu.


“Alex?..... Lu Alexandria kan?” Mata Sandra membulat. “Masih ingat gue kan? Gue Sandra, kita pernah ketemu di club waktu itu”


“Inget. Lu apa kabar?”


“B-baik. Gue nggak tau lu disini.” Sandra menatap heran, Olivia tidak menghindar seperti saat terakhir kali mereka bertemu di club. Jangankan menanyakan kabar, menatap Sandra saja Olivia tidak mau.


“Lu beda banget ya sekarang”


“Hmm, dan gue lihat lu masih tetap sama, kayak di SMA” Sudut bibir kiri Olivia terangkat menampilkan senyum ganjil.


Sandra sadar, itu adalah siratan ejekan yang paling dibenci Sandra. Ia membenci versi lama dirinya, seorang anak SMA tanpa implan payudara, filler bibir, dan tanpa hidung mancung. Tapi sekarang, di tempat ini Olivia seakan ingin mengatakan bahwa sekeras apapun Sandra berusaha, ia akan tetap sama seperti versi lama dirinya. Hanya sebuah kalimat, namun Olivia berhasil melukai harga diri Sandra.


“Gue sama Olivia masuk duluan ya, tadi Kak Rangga ada minta tolong. Yuk Oliv.” Johan menarik Olivia menjauh ketika menyadari tatapan terkejut Sandra atas perkataan Olivia.


“Cewek brengsek!” umpat Sandra ketika Olivia menjauh. “Kok lu pada nggak cerita kalo ada Alex disini?”


“Alex?” gumam Varo pelan agak kebingungan dengan situasi ini. Terdengar suara dengusan Dimas yang mengambil air mineralnya dan menegak dengan ekspresi sedikit tidak senang.


“Namanya Alex?” kali ini Arini yang bertanya.


“Dia satu SMA sama kita bertiga. Namanya Alexandria, cuman sering dipanggil Alex. Dia kan cewek yang dulu suka sama Varo. Sering dipanggil Radit hamparan bintang karena mukanya jerawatan….. Itu loh yang mau ngirim surat ke elu tapi keburu ketahuan sama anak-anak, jadi ya agak dibully gitu deh. Masa lu nggak ingat sih?” jelas Sandra menatap Varo.


“Dia udah cantik ya sekarang. Pasti diet keras tuh, keganggu mentalnya karena dikatain gendut” tawa Sandra berpaling pada Arini dan mengedipkan mata, meskipun Arini hanya diam dan memaksakan diri untuk tersenyum. Sandra tidak peduli. Jika ia tidak bisa membalas penghinaan Olivia tadi, maka ia akan menghancurkan reputasi cewek itu di depan semua orang, terutama Varo.


“Eh, tapi dia nggak oplas kan? Kok bisa jerawatnya nggak ada bekas gitu? Padahal normalnya kalo sampai mukanya hancur karena jerawat, harusnya ada bekas” kata Sandra lagi.


“Apaan sih, lu kalo jelek nggak usah ngata-ngatain orang” ketus Dimas tidak tahan. Sandra terkejut tapi dengan cepat merubah ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang.


“Lah kan gue cuman nanya. Lu suka ya sama dia?”


“Iya. Gue suka sama dia. Puas?” dengus Dimas menutup laptopnya lalu tanpa basa-basi melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


“Kan gue udah bilang San, sensitif semua orang kalo topiknya Olivia” senggol Ete berbisik pelan. Sandra mendengus sebal, moodnya semakin hancur karena teguran Dimas tadi.


Setelah itu tidak ada satupun yang berbicara. Bahkan Bima yang pintar mencairkan suasana memilih untuk diam, pura-pura mengetik laporan magang. Amarah Johan di hari kemarin dan Dimas di hari ini, sudah menjadi pertanda bagi Bima untuk mengunci mulutnya rapat-rapat dan tidak ikut campur, bahkan meskipun ia juga terlihat penasaran setengah mati.


Siapa Alex? Siapa Olivia? Surat apa?  Siapa yang dibully? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul dibenak Bima, tapi sekali lagi ia memilih mengunci mulutnya rapat-rapat.


“Varo ini….nggak jadi deh gue udah ketemu jawabannya” ringis Bima ketika melihat ekspresi Varo saat menatap layar laptop. Muram, tanda fokusnya sedang berada di tempat lain. Bahkan Bima bisa merasakan aura tidak enak keluar berhembus bebas di udara.


“Lu kenapa diam aja? Syok cewek yang dibully kelompok lu udah jadi cakep?” korek Sandra. Bima menatap ngeri, ia spontan menyepak kaki Ete untuk menegur Sandra agar menutup mulut. Mengajak Varo berbicara saat ia menampilkan ekspresi seperti itu, sama saja dengan mengibarkan bendera perang.


“Kasih tanggapan dong. Lu nggak tau kan kalo Olivia itu Alex?” tanya Sandra, Varo diam membuat senyum Sandra mengembang. “Dia pembohong. Nyembunyiin identitas, biar apa? Kita nyesel dan muji-muji perubahannya gitu? Gua sih ogah, najis. Dan sekarang lu serius mau sama cewek pembohong kayak gitu? Identitas aja ditutup-tutupi, apalagi yang lain. Sekalinya bohong mah bakalan bohong terus. Tukang bohong nggak akan pernah berbuah.”


Varo menutup layar laptopnya dan berpaling pada Sandra dengan ekspresi tenang. “Tukang bohong masih mending San, dibanding kita….kita pembully.”


Sandra berdecak tidak terima mendengar penuturan Varo, ia mengebas rambutnya angkuh. “Lu naif. Buang berlian demi batu.”


Varo ketawa, tapi ekspresinya dengan cepat berubah dingin. “San, lu kenal gue dari SMA kan? Harusnya lu tau ada batasan yang gue ciptain  antara gue dan semua orang, termasuk ucapan”


“Jadi maksudnya, lu nggak terima ucapan gue tentang Alex? Gitu? Lu gila, ngebela cewek asing dibanding teman lu” tantang Sandra melipat kedua tangan dan wajah terangkat angkuh.


“Gue mau meluruskan beberapa hal San. Pertama, lu cuman teman yang gue kenal, jadi nggak usah ngerasa spesial. Kedua, gue nggak suka berantem sama cewek, tapi kalo gue ngerasa apa yang lu lakuin udah diluar batas…..” Varo mencondongkan tubuh mendekati Sandra dan pura-pura ingin berbisik. “Gue nggak bakal segan buat nutup mulut lu dengan cara yang sama persis seperti yang gue lakuin ke korban bully kita.”


Sandra langsung membeku. Varo baru saja memberikan peringatan padanya. Dengan senyum manis dan satu tepukan di bahu Sandra, Varo berdiri membawa laptop.


“Gue balik, daripada kita makin canggung” kata Varo kalem lalu melangkah pergi.


Sandra menarik nafas, mencoba menghempas jauh rasa terkejutnya. “Mantan lu gila”


“Lu juga. Udah gue bilang semua sensi kalo topiknya Olivia, masih aja lu bahas. Kena kan lu sekarang” balas Ete ikutan ngeri melihat sikap Varo tadi.


“Kayaknya sekarang, gue nggak bisa bantu lu banyak” ujar Sandra pada Arini dengan ekspresi kecut.