Mr. Bully

Mr. Bully
I know You were Trouble - Taylor Swift



“Gila tuh cewek, cantik banget!” puji Ete ketika mereka duduk di kursi jauh dari meja bar. Sesekali ia melirik gerak-gerik Olivia yang sangat menarik perhatiannya. Pesona fisik Olivia terlalu indah untuk diabaikan, Ete tidak bisa memikirkan kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaan takjubnya saat melihat Olivia. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, Olivia memiliki semua yang diinginkan oleh Ete. Keberadaannya di sana seakan ingin menunjukan bahwa kesempurnaan itu memang nyata adanya.


“Dia model ya? Kok bisa terdampar sampai sini?” tanya Arini mau tahu, siratan wajahnya menunjukan bahwa ia setuju dengan Ete.


“Enggak. Mahasiswa biasa yang lagi liburan. Olivia kuliah di Inggris” jawab Dimas.


Ete bersiul-siul takjub. “Fix gue harus oplas dan diet”


“Duit udah cukup buat oplas?”


“Udah, kan ada sugar daddy” jawab Ete cuek.


Dimas nyengir lalu menyodorkan rokok pada Varo yang sejak tadi hanya terdiam di Sampingnya. Varo melirik Dimas sekilas, ia sudah berhenti merokok tapi tangannya malah menarik sebatang rokok keluar.


“Kamu sakit ya? Aku perhatikan dari tadi kamu lemas banget” tanya Arini khawatir.


Varo mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban dan menghisap rokok. Perasaan khawatir, marah, dan hampa keluar bersama dengan hembusan asap rokok. Wajahnya terlihat tenang, tapi kontradiktif dengan tatapan matanya yang menatap Olivia cemas. Dari tempat ia duduk, Varo bisa melihat tawa lebar Olivia pada Bima, cewek itu terlihat tidak merasa terganggu, kesal, ataupun marah. Sikapnya membuat Varo semakin gelisah mencoba menebak-nebak apa yang akan terjadi setelah ini.


“Gue jus dong, jus mangga, biar nambah vitamin A ke tubuh” pintah Dimas pada Ete yang sigap mencatat pesanan mereka di kertas.


“Biar gue yang bawa.” Tanpa persetujuan Ete, Varo langsung menarik kertas dari tangan cewek itu dan melangkah pergi. Varo sudah tidak tahan lagi, rasa gelisah di hati membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak berbicara pada Olivia.


Ia butuh tanggapan Olivia. Semarah apapun cewek itu, Varo siap, bahkan meskipun ada kemungkinan Olivia akan  menamparnya dengan sebotol bir. Setidaknya tanggapan Olivia nanti akan membuat Varo tahu, jalan keluar seperti apa yang harus diambil untuk mempertahankan Olivia tetap berada disisinya.


Ya benar.


Varo menginginkan Olivia tetap bersamanya dan menjadi miliknya. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, hati Varo sudah berhasil berpindah arah pada Olivia.


“Udah semua? Nggak ada yang mau ditambahin?” tanya Olivia ketika Varo muncul menyerahkan kertas pesanan.


“Enggak. Sini aku bantuin” balas Varo datar malah mengambil posisi Bima yang buru-buru menyingkir dari situ, bergabung bersama Dimas.


“Kamu bisa buat jus mangga?” tanya Olivia ketika Varo mengambil mangga dari keranjang dan langsung memasukan ke dalam blender.


“Tinggal di blender”


“Kulitnya dikupas dulu” tawa Olivia mengambil mangga dari dalam blender. Varo menghela nafas, ia mendadak merasa kesal, entah pada dirinya atau pada Olivia yang tertawa. Kenapa Olivia justru terlihat bahagia? Bukannya sekarang adalah waktu yang tepat bagi Olivia untuk menampilkan ekspresi marah dan berteriak pada Varo? Kenapa segalanya berjalan diluar perkiraan Varo?


“Kenapa kamu narik nafas gitu? Capek?” tanya Olivia ketika mendengar Varo  menghela nafas. Cowok itu menaruh mangganya kembali ke atas keranjang dengan ekspresi serius.


“Kamu nggak pengen marah? Atau nampar aku?”


“Kenapa marah?” balas Olivia bertanya seolah Varo baru saja menanyakan pertanyaan paling aneh padanya.


“Aku punya pacar”


“Terus?”


“Kamu nggak merasa sakit hati?” Varo menatap Olivia lekat-lekat, tidak memperdulikan Arini yang menatap mereka dari kejauhan dengan penuh tanda tanya.


“Enggak. Kita nggak punya hubungan apapun, jadi apa alasan aku harus sakit hati sama kamu?” jawab Olivia tenang membuat Varo melepas pisau dan mangganya.


“Kita nggak punya hubungan.......” gumam Varo terpaku mendengar perkataan Olivia.


“Hmm. Kamu bukan siapa-siapa aku, dan begitupun dengan aku. Jadi apa alasan aku harus merasa sakit hati karena kamu ada pacar?”


Rahang Varo mengeras, tangannya tergenggam erat sebagai pertahanan diri untuk tidak menarik Olivia keluar dari tempat itu. “Aku nggak berpikir begitu. Kamu dan aku punya hubungan.”


Olivia melepas pisau dan mangganya lalu berpaling ke arah Varo, ia ingin mengatakan sesuatu tapi langkah kaki dan suara Arini yang memanggil nama Varo membuat keduanya berpaling.


“Sebentar ya, pacar kamu tadi mau blender mangga sekalian sama kulitnya, jadi harus aku marahin” kata Olivia ramah.


“Gue boleh bantu nggak?” tanya Arini kikuk.


“Boleh” angguk Olivia membiarkan Arini berdiri di antara dirinya dan Varo.


“Sini aku yang kerjain, ntar Dimas keracunan lagi minum jus mangga buatan kamu” kata Arini berdiri di sebelah Olivia. Ketiganya bekerja dalam diam, tidak ada satupun yang berbicara, sampai terdengar bunyi ponsel Varo, ada panggilan masuk dari Amirah.


Olivia memalingkan wajah. Cowok itu terlihat gelisah dan tanpa berkata apapun ia melangkah pergi.


“Kata Dimas, lu kuliah di Inggris. Lu ngapain ke sini? Liburan?” tanya Arini membuka percakapan.


“Iya aku liburan”


“Liburan kok kerja? Kasihan banget liburannya jadi kepake”


“Pemilik kafe ini tunangan sepupu aku. Namanya Kak Nabila” senyum Olivia. “Kamu fakultas apa?”


“Akuntansi. Lu?”


“Ekonomi”


“Keren”


“Makasih” jawab Olivia menaruh gelas kopi dan jus mangga di atas nampan. “Sini biar aku aja yang bawa” tahan Olivia ketika Arini hendak membawa nampan.


“Aduh sini aku yang bawain, kasihan cantik-cantik bawa yang berat-berat” kata Bima langsung kena cibir Ete, ia membantu Olivia menaruh pesanan mereka di atas meja.


“Udah duduk disini aja, disana sendiri, entar kerasukan jin loh” tahan Dimas.


“Nggak papa nih aku gabung? Ntar ganggu reuni kalian lagi”


“Nggak papa. Dua orang ini bukan orang yang penting buat aku”


“Gatal banget sih lu Dim kalo sama cewek cakep” ketus Ete nyinyir. Olivia nyengir menarik kursi dekat Dimas.


“Apaan sih, Olivia teman gue kok. Kita udah dekat dari zaman jadi member Tut Wuri Handayani” balas Dimas cuek.


“Emang iya? Lu udah kenal dia dari lama?”


Oliva mengangguk. “Aku satu SMA sama Dimas. Dia dulu ketua kelas aku”


“Sama Varo juga dong?” tanya Arini tertarik. Olivia mengangguk. “Kalian...dekat?” lanjut Arini agak ragu.


“Pas SMA?”


Arini mengangguk. Olivia menggeleng. “Aku kenal Varo, tapi dia nggak kenal aku”


“Kok gitu?”


“Kita beda kelas. Dan aku tau Varo karena dia kapten tim basket sekolah”


“Pacar lu itu kayak artis, terkenal, tapi susah ditemenin” tambah Dimas.


Mereka kemudian mengobrol panjang lebar, termasuk Ete yang terus menggali informasi tentang Johan dari Olivia. Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, Ete sudah memiliki cukup informasi tentang Johan.


“Percuma lu nanya-nanya, kalo Olivia nggak restui lu berdua, nggak bakal bisa lu dapat hatinya Johan” ujar Bima kalem membuat Ete mendengus.


“Gue kan cuman nanya, bukan minta restu”


“Alah! Sama aja, ujung-ujung juga kesitu. Lu kan Dimas versi cewek, nggak bisa diem kalo lihat cowok cakep”


“Berisik lu! Eh Oliv, tapi kalo sampai kesitu, lu bersedia kan ngerestuin gue?” tawa Ete membuat Olivia ikut tertawa.


Mereka terus mengobrol dan sesekali melemparkan candaan. Olivia terlihat menikmati waktunya berada disitu, meskipun ia jarang berbicara tapi celetukan Bima dan Ete sudah cukup untuk menciptakan tawa diantara mereka. Tarikan kursi di samping Olivia membuat wajahnya sekilas berpaling, Varo duduk disampingnya, cowok itu terlihat tidak tertarik untuk bergabung dengan obrolan mereka dan hanya sibuk menatap layar ponsel. Kening Varo berekrut-kerut tanda sedang mempertimbangakan sesuatu.


“Lu mau ke New York? Ngapain?” tanya Bima ketika tidak sengaja melihat Varo menscroll jadwal penerbangan dari layar ponselnya. Varo berpaling langsung mematikan layar ponsel dengan ekspresi kikuk.


“New York?” Arini ikut menatap Varo heran, ia terlihat ingin tahu.


“Enggak, gua cuman mau lihat jadwal penerbangan buat Kak Amirah” jawab Varo berbohong.


Semua orang hanya mengangguk-angguk tidak membahas lagi. Mereka kembali mengobrol membicarakan hal lain, kecuali Olivia yang diam-diam melirik Varo, dan ketika wajah Varo berpaling ke arahnya Olivia bisa melihat jelas sekilas siratan bahwa cowok itu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.