Mr. Bully

Mr. Bully
S2: 5. Attention - New Jeans



Pukul dua siang Olivia terjaga dari tidurnya karena suara ponsel yang tidak berhenti berdering. Susah payah dengan satu mata terbuka Olivia mencari ponsel di bawah tempat tidur.


“Halo Jo. Ada apa?”


[Aku di depan rumah, buka pintu]


“...H-hah...A-apa?”


[Aku di depan rumah kamu]


“.....Kamu di Indonesia? Di depan rumah aku?”


[Iya, buruan, hujan nih.]


Olivia meloncat dari tempat tidur dan berlari ke depan membuka pintu. Tampak tampang Johan tersenyum sumringah muncul, lelaki itu masuk setelah melepas sepatunya yang basah.


“Kamu tidur apa mati? Aku ketuk-ketuk nggak ada yang jawab, aku kira kamu di kafe sama Rere. Aduh basah semua lagi” omel Johan melepas jaketnya.


Olivia tidak menjawab, ia malah membuka satu persatu kantong yang dibawa lelaki itu. Madame Roses, salah satu coklat paling mahal dari Paris yang sering dibawa Johan untuk Olivia saat pulang ke Indonesia. Tanpa permisi Olivia mengambil sekotak lalu memakan isinya.


“Tamu datang bukannya diperhatikan malah asik sendiri” sindir Johan saat melihat Olivia menarik selimut dan duduk di sofa. Lelaki itu menuju dapur menyeduh teh hangat untuk dirinya dan Olivia.


“Kenapa kamu tiba-tiba ke Indonesia? Bukannya masih bulan depan?”


“Aku kemarin dari Korea ngurus kontrak bareng ambasaddor baru. Selesainya ternyata lebih cepat dari jadwal dan aku mutusin kesini”


“Siapa ambassadornya?”


“Ada satu member dari girl grup terkenal” jawab Johan menyesap teh. “Kafe Rere gimana?”


“Mau digusur karena pemilik lamanya pindah ke luar negeri. Pemilik baru udah ngasih uang pengganti dua kali lipat, tapi Rere bersikeras nggak mau pindah”


“Terus gimana? Nggak mungkin dong Rere demo?”


“Aku yang turun tangan ngomong sama pemiliknya, masih usaha. Akan aku paksa gimana pun caranya biar Rere nggak pindah” kata Olivia. “Coba kamu tebak siapa pemiliknya...”


“Alvaro Wijaya” lanjut Olivia, ekspresinya berubah masam ketika Johan tertawa kencang.


“Kok ketawa sih?”


Johan tertawa geli tidak sengaja menumpahkan sedikit teh di lantai, ia berdiri mengambil tisu dengan bahu terguncang karena masih tergelak geli.


“Ih Johan, nyesel aku cerita ke kamu”


“Maaf, maaf. Habisnya lucu” balas Johan berusaha menahan tawa membuat wajahnya memerah.


“Lebih parah lagi perusahaan Varo jadi klien aku tahun ini. Audit terakhir sih, tapi aku berasa di neraka”


“Bentar....Pemilik baru gedung yang ditempati kafenya Rere itu si Varo dan kamu ngaudit tahun terakhir diklien yaitu perusahaannya Varo?”


“Iya...”


Johan tertawa lagi, ia memegang perutnya dan duduk di lantai. Olivia mendengus mengigit coklatnya menunggu sampai tawa Johan benar-benar berhenti.


“Ya ampun Olivia, apa gunanya enam tahun kamu lost contact sama Varo tapi ujung-ujungnya kamu terlibat lagi sama dia?....Takdir kalian lucu banget"


“Takdir matamu! Nggak mau aku punya takdir sama dia.”


Johan jadi senyum-senyum sendiri membuat Olivia berdeca jengkel melempar cowok itu dengan bantal.


“Ketawa aja terus! Puas kamu ngelihat teman menderita?”


“Kamu itu lagi dapat jackpot, cuman kamu nganggepnya penderitaan. Si Varo masih ngejar kamu nggak? Atau udah cuek?”


Olivia angkat bahu tidak menjawab. Kelakuan Varo tempo hari membuat Olivia hampir naik pitam, tapi sampai hari ini cowok itu tidak mengirim pesan atau menelepon. Bukannya berharap tapi Olivia hanya penasaran tingkah apa lagi yang akan dilakukan cowok itu.


“Coba deh buka hati kamu, diperiksa, siapa tau masih ada Varo disana” goda Johan lalu buru-buru menyingkir saat Olivia melempar bantal.


...----------------...


Mata Rakai berbinar girang menatap banyak cemilan di atas meja. Ini hari ketiga mereka fieldwordk di ravent tapi makanan berlimpah di dalam ruangan seakan mereka akan menginap disitu.


”Kak, ini beneran boleh dimakan? Nggak akan diungkit kan seandainya sampel dokumen yang kita minta banyak?”


“Makan aja, paling lu disuruh muntahin” kata Kesha ikut mengambil snack. “Berasa nikahan ya.”


Olivia ikut mencomot snack di atas meja, tapi pikirannya kemana-mana. Semua ini pasti kerjaan Varo, melihat banyak coklat di atas meja membuat Olivia yakin lelaki itu masih ingat benar apa kesukaan Olivia.


“Wih, apa nih?” Dendi baru masuk ruangan terkejut melihat banyak makanan di atas meja.


“Dari klien, rejeki anak soleh” jawab Kesha.


Dendi menaruh tas dan mencomot sepotong donat gula yang tertutup box. “Kayak acara perpisahan ya, mentang-mentang tahun depan udah nggak sama kita”


“Kalo klien baik kayak gini, gue rela sih kak begadang nyelesaiin kerjaan. Kalo perlu data pending gue tunggu disamping orang accountingnya, biar cepar kelar” kekeh Kesha senang.


“Bakalan kangen sama ravent” angguk Dendi setuju.


...----------------...


“Lu yakin nggak mau bareng?” tanya Kesha. Olivia menggeleng menunjukan datanya.


Olivia melirik ke arah jam tangan. Sudah pukul setengah enam lewat, ia menunggu sampai jam enam kemudian merapikan barang-barangnya. Olivia melangkah keluar, wajahnya celingak-celinguk memastikan tidak ada lagi timnya berada di situ. Kaki Olivia melangkah cepat menekan lift menuju lantai dimana Varo berada.


Satu tarikan napas Olivia terdengar. Ia berusaha mengatur raut wajahnya seramah mungkin sebelum berbicara dengan Indah.


“Permisi mbak.”


Indah mendongak, terlihat wanita itu sedang bersiap-siap untuk pulang. “Iya mbak, ada yang bisa saya bantu?”


“Pak Varo masih ada di dalam enggak ya? Atau udah pulang?”


“Masih ada mbak, kayaknya lembur. Ada keperluan apa ya mbak?”


“Saya mau nanya sesuatu terkait agremeent ravent, ada yang perlu saya klarifikasi dikit, takut kelupaan..emm, saya udah buat janji sama Pak Varo” dusta Olivia. Masa bodoh, ia harus bertemu lelaki itu untuk mengurus masalah sewa gedung.


Indah mengangguk paham lalu berbicara melalui pesawat telepon, setelah beberapa saat ia mempersilahkan Olivia masuk.


“Makasih ya mbak” kata Olivia masuk ke dalam ruangan Varo.


Senyum Olivia langsung menghilang begitu napasnya mencium aroma ruangan Varo. Lelaki itu duduk di meja kerjanya dengan setumpuk kertas, ia hanya mendongak sebentar ke Olivia dan menunjuk wirelessnya.


“Duduk dulu, aku masih meeting” pintah Varo.


Olivia mengangguk dan duduk di sofa. Matanya memperhatikan setiap sudut ruangan Varo secara detail. Ruangan dengan warna dominan coklat tua dan putih, sebuah rak besar berisi pialan penghargaan beserta foto Varo bersama beberapa orang penting tertata rapi disana, kemudian lukisan abstrak besar membentuk siluet bunga tergantung di dinding. Harga lukisan itu pasti mahal sekali, setara sepuluh kali gaji bulanan Olivia.


Kepala Olivia bersandar di sofa, matanya melirik ke arah Varo yang terlihat fokus menatap layar ipad. Merasa bosan Olivia mencoba memejamkan mata, suasana sunyi dan dinginnya ruangan menarik rasa kantuk Olivia.


Hanya sebentar, batin Olivia.


Namun perlahan rasa nyaman di ruangan itu malah membuat Olivia benar-benar tertidur terlelap.


...----------------...


Olvia terkejut terbangun dari tidurnya, ia memegang dadanya karena kaget dengan mimpinya hampir jatuh di jurang. Kesadaran Olivia kembali lebih cepat saat menyadari ia berada di ruangan Varo. Sudah berapa lama Olivia tertidur? Dan jam berapa sekarang?


“Udah bangun?” tanya Varo dari samping.


Olivia berdehem memperbaiki rambutnya, wajahnya bersemu kemerahan malu karena tertidur.


“Kamu begadang ya? Tidurnya nyenyak banget, aku sampai nggak tega mau bangunin kamu” kata Varo menyodorkan air mineral lalu merapikan tumpukan kertas.


“Makasih” jawab Olivia salah tingkah meneguk air itu. “Rapat kamu udah?”


Varo mengangguk menaruh kertas tadi di atas meja kerjanya dan kembali duduk di samping Olivia. Wajah Olivia mendongak dan agak terkejut mendapati jarum jam sudah menunjukan pukul delapan malam. ****! Rupanya Olivia benar-benar tertidur lelap.


“Kamu ngapain kesini?”


“Aku mau ngomongin soal sewa gedung” kata Olivia pelan. “Boleh nggak kalo Rere tetap nyewa gedung kamu? .....Dengan harga yang sama”


“Gedung itu mau aku pake buat buka cabang toko mainan ravent”


“Seandainya toko kamu berdirinya barengan sama kafe Rere gimana?” tanya Olivia hati-hati. Ekspresinya terlihat jelas menunggu jawaban Varo.


“Aku pribadi nggak suka sih kalo ada toko lain di dekat toko ravent.”


Olivia terlihat kecewa, tapi ia tidak kehilangan akal. “Kalo kita coba dulu gimana? Aku percaya orang yang habis beli mainan akan lapar dan mau makan manisan, konsep kafe Rere juga bagus untuk melengkapi toko kamu. Habis beli mainan, makan. Rere juga bisa buat kue yang mirip sama karakter game kamu, hitung-hitung promosi kan?”


Dalam hati Olivia meringis. Entah dari mana datangnya ide itu tapi mulut Olivia mendadak bergerak begitu saja.


“Boleh ya? Ya? Boleh kan?” tanya Olivia berharap. Satu jurus terakhirnya adalah merayu Varo. Persetan ia dicap cewek gampangan, tapi kali ini menyangkut hidup dan mati kafe.


Varo menatap Olivia serius, sesaat kemudian tawanya muncul. Jemari Varo menyentil pelan kening Olivia.


“Kamu ngerayu aku gitu nggak bakal buat aku langsung setuju sama mau kamu” senyum Varo geli.


Olivia menghela napas. Gagal sudah usahanya. Kening Olivia bersandar di sofa, matanya terpejam memikirkan usaha apa lagi yang bisa ia lakukan untuk merayu Varo.


“Jadi kami harus pindah?” tanya Olivia memelas.


“Harusnya sih begitu.”


Olivia berdecak pelan lalu mengambil tasnya.


“Mau kemana kamu?”


“Pulang. Aku gagal buat kesepakatan sama kamu, jadi aku harus pulang untuk bilang ke Rere kalo aku gagal dan kita harus pindah” jawab Olivia lemas.


“Aku lapar. Kamu juga pasti lapar kan? Sekarang udah pukul delapan, kamu nggak mungkin ngelewatin jam makan malam kamu” kata Varo berdiri mengambil jasnya dari tiang gantung.


“Ayo”


“Kemana?” Olivia menatap bingung.


“Makan malam sama aku. Sekalian aku kasih kamu kesempatan untuk ngubah pemikiran aku, siapa tau hati aku tergugah untuk biarin kalian tetap disitu” kata Varo membuat ekspresi Olivia berubah, senyum wanita itu mengembang lebar.


“Serius?”


Varo mengangguk lalu menunduk dan berbisik pelan. “Sekarang sikap kamu ke aku yang akan nentuin semuanya.”


Dan Olivia tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika Varo menarik dirinya keluar dari ruangan itu.