Mr. Bully

Mr. Bully
Youth - Troye Sivan



“Weh Varo bangun, kuliah! Ngorok mulu lu kayak kuda nil.”


Varo berdecak tidak senang ketika Bima masuk ke kamarnya tanpa permisi. Cowok bertubuh gempal itu menarik paksa kaki Varo sampai tubuhnya turun ke lantai. Mata kanan Varo melirik Bima sinis, tapi setelah itu ia kembali cuek meringkuk di atas lantai sementara Bima mondar-mandir memakai pomade dan menyemprot parfum ke seluruh tubuhnya, syuuuu bahkan kaos kaki Bima ikut terkena parfum.


“Lu kelas nggak?”


“Skip, gue titip absen”


“Yaudah, mana kartu mahasiswa lu?”


Sejak tiga semester lalu, sistem absen kampus mereka mulai menggunakan tapping kartu mahasiswa. Aturan ini dilakukan dengan harapan tidak ada lagi mahasiswa yang berani titip absen, tapi faktanya tetap ada makhluk seperti Varo yang jauh lebih pintar untuk menitip kartu mahasiswa kepada temannya sementara ia tetap tertidur lelap di kosan.


“Di dalam tas.”


Mata Varo terpejam tetapi tangannya menunjuk tas hitam di pojok dekat pintu. Ia kemudian menarik selimut dari atas tempat tidur, membiarkan Bima mengubek-ngubek isi tasnya yang hanya terdapat satu binder, satu pena, dan kartu mahasiswa. Isi tas Varo jelas menunjukan betapa tidak niatnya sang pemilik mengenyam pendidikan di bangku kuliah.


“Buset bau banget tas lu, pernah ada bangkai ya disini?” dengus Bima bersin-bersin mengambil kartu mahasiswa Varo lalu melangkah keluar, membiarkan sang pemilik kamar kembali tertidur pulas melanjutkan mimpinya menjadi mahasiswa berprestasi dalam tidur.


Sekitar pukul sebelas siang suara ponsel membuat Varo terjaga dari tidur. Tangannya bergerak mencari benda berisik itu dan memaksa matanya untuk terbuka lebar, ada panggilan masuk dari Arini pacarnya.


“Kenapa?” Suara serak Varo membuat kening Arini berkerut dari seberang, ia tahu pacarnya baru bangun tidur dan berpikir sekarang masih subuh.


[Kamu masih tidur ya?]


“Hmm..enggak”


[Bangun ih, kamu kan ada kelas pancasila, katanya kemarin mau rajin masuk kelas, kok belum bangun? gimana sih kamu? ntar ngulang kelas baru tau rasa] omel Arini tidak percaya. Varo mengangguk-angguk melirik jam weker, kelas pancasila akan dimulai tiga puluh menit lagi.


[Bangun Alvaro! Mandi! Kuliah!]


“Iya, ini lagi otw. Udah dekat indomaret” balas Varo setengah terpejam mendengarkan teriakan Arini. Ia buru-buru mematikan sambungan telepon dan bergegas mengambil handuk untuk mandi, hampir terpeleset di dekat pintu dapur karena ada Tigor karyawan swasta berumur tiga puluh lima tahun duduk jongkok sibuk menyemir sepatu.


“Wih tumben subuh-subuh mau mandi, kesambet apa ente?” nyinyir Tigor nyaring, berhubung ia adalah anggota terlama kos buaya seringkali tingkah laku Tigor sama persis seperti ibu-ibu julid ketika melihat anak tetangga bangun siang.


“Karl Marx” jawab Varo sembarangan berlari masuk ke dalam kamar mandi, langsung jebar jebur mandi seenak sendiri dan setelah itu keluar dengan handuk melilit di pinggang dengan jangka waktu kurang dari lima menit.


Tigor lantas melongo keheranan. “Buset, lu mandi apa ngeludah diri sendiri sih? cepet bener”


“Yang penting mah basah” balas Varo cuek masuk ke dalam kamar, ia buru-buru mengenakan pakaian dan keluar setelah meraih tas dekil dan kunci motor. Sempat bertemu Mang Idris pembersih kosan buaya sibuk menyapu kosan sambil menari zumba, katanya biar cepat kurus.


“Rapi bener lu tong kayak tukang kredit” goda Mang Idris. Varo nyengir lebar tidak menjawab, ia sibuk mencari kaos kakinya yang dipinjam Bima semalam dan kemudian memakai sepatunya asal.


 “Varo, ntar pas pulang titip rujak depan warung Mang Alih ya. Bengkoangnya dibanyakin” teriak Tigor dari dapur.


“Iye ibu hamil” balas Varo berteriak sambil menyalakan mesin motor dan tancap gas menuju kampus.


Tidak butuh waktu lama bagi Varo untuk sampai di kampus karena letak kos dan kampusnya masih berada di satu daerah yang sama. Varo memarkirkan motor dan berlari memasuki koridor utama, tubuhnya gesit menyelip diantara lalu lalang mahasiswa yang baru selesai kelas atau yang juga sama seperti dirinya terburu-buru berlari karena hampir telat di kelas berikutnya.


“Bebek aja antri!” sindir seorang cewek ketika Varo tanpa permisi memotong antrian cewek itu masuk ke dalam lift. Varo hanya nyengir dengan ekspresi masa bodoh karena jam tangan menunjukan ia sudah telat sepuluh menit. Wajah Varo muncul dari balik kaca pintu masuk, matanya menangkap sosok dosen pancasila sibuk berbicara dengan seorang mahasiswa di depan kelas. ‘Aman’ gumam Varo dalam hati langsung menyelinap masuk.


“Wah jam berapa ini?!” teriak Dimas tiba-tiba dari kursi belakang membuat semua perhatian tertuju ke arah Varo.


‘Brengsek!’ maki Varo tahu Dimas sengaja berteriak agar dosen pancasila menotice kedatangannya yang masuk tanpa permisi. Dan benar, ekspresi Pak Pangaribuan berubah begitu melihat Varo, kening dosen tua itu berkerut dengan tatapan tajam.


“Kamu kenapa telat?” tanya Pak Pangaribuan tenang tapi jelas mengisyaratkan bahwa jawaban Varo menentukan nasibnya di kelas itu. “Kamu tahu tidak kelas saya dimulai pukul 11.30? Apakah kamu tidak memiliki jam?”


Ini yang paling Varo benci, pertanyaan Pak Pangaribuan seperti jebakan batman. Kalau Varo bilang dia punya jam, maka tentu saja Varo akan diusir keluar karena dianggap sebagai mahasiswa yang tidak tepat waktu. Tapi kalau Varo bilang tidak punya jam, bisa dipastikan Varo akan menjadi bahan olokan Pak Pangaribuan sampai sebulan kedepan. Maka jalan keluar terbaik adalah berada di pertengahan.


“Maaf pak, saya punya jam tapi tadi mati” jawab Varo lugas membuat sekelas cekikan geli.


Mata Pak Pangaribuan semakin melotot tajam. “Siapa nama kamu?”


“Alvaro pak”


“Duduk sana, minggu depan kalau telat lagi kamu nggak usah masuk mata kuliah saya”


“Iya maaf pak, nggak akan saya ulangi lagi, makasih ya pak” jawab Varo sopan, sedikit merasa lega karena Pak Pangaribuan tidak memberikan hukuman apapun. Dengan perasaan senang ia melangkah ke arah belakang, tangannya meninju bahu Dimas yang tertawa geli. 


“Bajingan lu” umpat Varo kemudian duduk di sebelah Dimas.


Tiga puluh menit kemudian matanya mulai menatap bosan ke arah Pak Pangaribuan yang sibuk menerangkan materi sambil sesekali berdebat dan berdiskusi dengan mahasiswa di barisan depan, jauh berbeda dengan para calon cendekiawan di barisan belakang, wajah-wajah suntuk jelas menunjukkan pergi kuliah hari ini adalah salah satu kegiatan yang dilakukan agar tidak gabut di rumah.


“Lu tau nggak? maba-maba disini kurang ajar, masa tadi Nando masuk disalamin, dikira dosen” cerita Dimas tiba-tiba. Varo spontan cekikikan geli sementara Nando mendengus pura-pura tidak mendengar.


Kelas pancasila adalah salah satu mata kuliah umum yang dapat diambil oleh mahasiswa di semester berapa pun, seperti sekarang misalnya Varo yang berada di semester tujuh sekelas dengan adik tingkat semester awal. Tapi berhubung Nando sudah tiga kali cuti kuliah dan wajahnya berjenggot ala kambing gunung, penampilan cowok itu justru terlihat lebih mirip rektor dibandingkan mahasiswa. Bahkan terkadang seringkali ada adik tingkat salah mengira Nando sebagai satpam kampus.


“Entar malam ke club yuk” ajak Dimas.


“Nggak, skip”


“Ah nggak asik lu” gerutu Dimas menunjukan layar ponselnya, tampak seorang cewek dengan baju seksi memeluk Dimas mesra. “Seksi kan? namanya Sasha, gue kenal waktu kemarin main-main ke central park”


“Anak kampus mana?”


“Masih kelas tiga SMA, masih daun muda. Lihat alisnya, tebel, bisa dipakai gulung sushi.”


Varo menggeleng. Untuk urusan cewek, kelakuan Dimas memang masuk ke dalam kategori cowok buaya nan brengsek, paket lengkap memang. Mau cewek SMA, sudah punya pacar, atau sekedar jadi pelarian semua akan diladenin oleh Dimas.


“Awas lu karma” tegur Nando pelan mengingat Dimas masih punya satu adik cewek di bangku SMP, kasihan soalnya kalau kebejatan kakaknya malah kena ke adiknya yang pastinya bakalan disakiti oleh cowok-cowok brengsek sejenis Dimas.


“Lah gue nggak salah, orang mereka yang mau. Gue mah dengan tangan terbuka menerima siapapun yang ingin bersandar” elak Dimas beralasan, wajahnya kembali berpaling ke Varo. “Lu beneran harus ikut malam ini, kita sekalian mau ngerayain Agung habis disunat pas liburan bulan kemarin”


“Agung udah sunat?”


Dimas berdecak. “Tuh kan, lu sejak punya pacar jadi lupa sama teman. Bisa-bisanya lu nggak tau Agung udah disunat, parah lu”


“Gue tau Agung mau disunat, tapi gue nggak tau kalo dia udah disunat. Dia waktu itu bilang ke gue mau disunatnya pas idul adha”


“Varo, Agung itu manusia bukan kambing. Kalopun dia dikurbankan nggak ada yang mau makan daging manusia mesum macam Agung” dengus Dimas paham inti jokes garing Varo. “Pokoknya malam ini lu harus ikut, kalo lu masih nolak gue seret lu dari kosan”


“Gue serius males”


“Demi persahabatan.” 


Wajah Varo berpaling sebentar dengan ekspresi super duper malas, namun ada sekelebatan reaksi yang menunjukan ia tidak akan mampu menolak paksaan Dimas sepanjang hari ini.


“Kasih tau gue apa faedahnya pergi ke club sementara gue ada cewek?”


“Gue mau meluruskan satu hal, kepergian kita malam ini nggak ada hubungannya dengan punya pacar atau enggak. Kita pergi karena murni ingin merayakan sunatan Agung. Kan nggak mungkin Agung pamer tititnya di depan cewek lu” 


“Jadi maksud lu pas kita di club, kita bakalan di pamerin tititnya Agung? Gitu?”


“Ya nggak pamer seluruhnya sih, cuman kita bisa ngintip.”


Kedua mata Varo menyipit tajam menanggapi candaan aneh Dimas.


“Cemen ah lu, masa karena pacar nggak berani datang? Nggak cocok lu jadi cowok, cemen, ***** lu potong aja, pakai dress adek gue” ejek Dimas sengaja.


“Iya gue ikut. Cerewet lu!”


Varo sebagai pendengar hanya bisa memasang tampang jenuh. Perkataan Dimas terdengar seperti lagu cinta lama, sama dan monoton. Semua cewek yang dekat dengannya selalu ia definisikan seperti itu.


“Hati-hati lu dilaporkan ke Komnas Perlindungan Anak karena pacaran sama anak kecil”


“Siapa anak kecil?”


“Itu gebetan lu”


“Lah, dia yang mau. Gue mah iya-iya aja” jawab Dimas kalem. “Lagian lu nggak pernah baca berita kakek-kakek nikah sama remaja?”


“Lu dong kakek-kakeknya? muka lu kan tua”


“Ya nggak papa. Atau lu mau gantiin Sasha, jadian sama gue? Sebenarnya gue open sama semua jenis kelamin” tawar Dimas cuek langsung kena tusuk pena Varo.


“Iya itu mas yang di belakang kenapa? Kamu tidak setuju sama statement saya?” tanya Pak Pangaribuan ketika mendengar Dimas berteriak keceplosan, spontan cowok itu gelagapan ketika semua mata tertuju padanya. Dimas mengumpat dalam hati begitu melihat Varo dan Nando pura-pura sibuk mencatat tulisan cakar ayam Pak Pangaribuan dari whiteboard kelas.


“E-enggak kok pak, saya setuju”


“Setuju ya?” Mata Pak Pangaribuan menyipit dengan pandangan curiga.  “Coba kamu jelaskan kenapa kamu setuju?”


Otak Dimas mendadak beku, tidak siap dilempar pertanyaan menjebak seperti itu. Matanya melirik kiri kanan meminta bantuan tapi tidak ada satupun temannya yang terlihat ingin membantu, mereka justru sibuk menahan tawa dari balik punggung orang yang duduk di depannya.


“Emm….itu, anu…. anu pak… anu….saya.” Dimas tergagap masih berpikir keras, wajahnya jelas menunjukan ia sama sekali tidak mengerti materi apa yang disampaikan Pak Pangaribuan hari ini. “A-anu...saya”


“Ya, anu kamu kenapa? Ada yang salah dengan anu kamu?” kejar Pak Pangaribuan membuat sekelas langsung terbahak keras sementara Dimas melemparkan tatapan melongo.


...*****...


“Woi! Beli risol gue dong.” Bima menyeruak masuk di antara gerombolan Varo yang sedang duduk di kantin setelah mata kuliah pancasila selesai.


“Astaga cantik banget Arini, harum lagi” puji Bima. Arini tersenyum kecil, ia tahu setiap kali pujian keluar dari mulut Bima, pasti karena ada maunya.


“Pacar gue” tegur Varo menjauhkan Arini dari Bima ketika cowok itu iseng ingin mencium-cium bau rambut Arini.


“Iye..iye tau. Sensitif lu macam bapaknya Arini” dengus Bima lalu menaruh plastik berisi risol diatas meja dan duduk di sebelah Varo. “Yang beli risol, akan gue bawa harapan kalian dalam doa gue tiap malam”


“Marketing lu nggak bekerja Bim. Lagian Tuhan sibuk, nggak punya waktu buat ngeladenin elu” teriak Dimas nyaring dari samping.


Kepala Bima menggeleng. “Sorry, tapi Tuhan tau gue hamba yang setia”


“Setia dalam perkara maksiat” celetuk Varo. Teman-temannya ketawa geli.


“Berapa risol lu?”


“Dua ribu”


“Buset mahal amat. Mana ukurannya kecil lagi, gedean jempol kaki Varo mah ini. Udah gitu warnanya kurang orens, nggak niat nih yang goreng. Asal ngerjain yang penting jadi, jatuhnya makan uang haram” ujar Dimas cerewet memilih-milih risol yang bagus, sesekali diterawang risol Bima sampai pemiliknya jadi sewot sendiri menarik plastik risolnya.


“Risol gue mahal karena digoreng pakai minyak bumi Arab” bentak Bima ketus lalu memaksa Jaya yang kebetulan lewat di situ untuk membeli risolnya.


“Bapak lu caleg kan? Kebetulan kakek gue masih menjabat sebagai ketua RT, ntar gue bilang ke kakek biar warga RTnya milih bokap lu. Ayo beli risol gue”


“Sialan lu! Kakek lu kan tinggal di Solo, bokap gue nyaleg di Jakarta, mana nyambung” maki Jaya terpaksa membeli risol karena tampang Bima sudah jelas menunjukan ia tidak menerima penolakan.


“Haram tau ngambil duit hasil paksaan gitu” kata Arini sambil menyodorkan uang sepuluh ribu. “Risol lima biji. Sayang kamu mau nggak?” tanya Arini. Varo menggeleng membuat Bima mencibir.


 “Dibayarin malah nggak mau. Dasar cowok aneh. Beli yang banyak dong, buat dana acara organisasi gue nih.”


“Lima udah cukup, ntar kalo kebanyakan gue kena radang lagi”


“Alah kalo radang minum air hangat juga sembuh. Lagian ada Varo siap siaga buat beliin lu obat.”


Arini tertawa geli. “Organisasi lu ada acara apa sih? Perasaan dari kemarin lu rajin bener jualan risol” tanyanya menyadari setiap semester Bima selalu berjualan sesuatu untuk mencari dana. Entah berapa banyak organisasi atau acara organisasi yang ia ikuti, tapi di kampus Bima jauh lebih mahir berjualan risol dibandingkan menjelaskan tentang bagaimana strategi manajemen perusahaan dalam memberikan keuntungan bagi investor.


“Wedding ketua organisasi, makanya butuh duit banyak” jawab Bima sembarangan. “Brengsek emang ketua organisasi. Gue masuk organisasi kan niatnya mau nyari pengalaman dan memperluas koneksi, eh malah disuruh jualan risol”


“Lu makanya jangan kebanyakan ikut organisasi. Ntar UAS lu keteteran, waktu lu habis buat jualan risol” tegur Sandra, cewek berambut pirang itu menatap Bima kasihan.


“Calon rektor mah gitu. Ikut organisasi lebih dari satu, biar koneksinya luas” sindir Varo.


Bima tersenyum pahit, hanya bisa menatap nelangsa kearah risol-risolnya, tetapi kemudian senyumnya berubah cerah begitu melihat Ete mendekat dengan buku tebal teori akuntansi dalam pelukan. 


“Aduh Ete cantik, jangan bawa yang berat-berat dong, sini abang bawain” kata Bima buru-buru mengambil buku Ete dan mempersilahkan cewek itu untuk duduk. “Panas ya jalan dari kelas ke kantin? sini abang kipasin, mau pakai bibir atau buku?”


“Lu kipasin gue pake bibir, gue tonjok lu” ancam Ete ketus. Bima nyengir lalu mengipas Ete dengan bukunya. “Lu pasti ada maunya kan Bim?”


“Tau aja sih lu. Udah cantik peka lagi. Ini alasan kenapa gue cinta sama lu. Beli risol gue dong, gue malas banget mau nawarin kemana-mana” cerocos Bima langsung menyodorkan plastik risolnya.


“Ye elu maunya duit doang tapi nggak mau usaha”


“Lah kan gue nawarin elu beli termasuk usaha”


“Bim, mau tau caranya dapat duit tanpa jualan risol nggak?” cetus Agung tiba-tiba bersuara. Bima melemparkan tatapan tertarik. “Jual diri ke tante-tante”


“Tolol, itu mah intinya jualan juga” tawa Dimas terdengar paling kencang. “Tapi emang tante-tante mau sama Bima? Kan terakhir kemarin waktu lagi gitu-gitu yang keluar cuman angin, bunyinya puushh.”


“Ih kalian mulutnya, mesum banget!” geleng Arini ketika teman-temannya tertawa geli sementara Bima terlihat cuek bebek tidak peduli masih memaksa orang lewat untuk membeli risol.


“Rambut aku berantakan nggak?” tanya Arini pada Varo.


“Enggak”


“Make-up?”


“Kamu pake make-up?”


Mata Arini membulat kesal. “Kamu mah gitu, aku potong rambut aja kamu nggak notice loh. Malah Dimas yang notice, kamu itu pacar aku atau Dimas yang pacar aku?” omelnya agak kesal.


“Aku pacar Dimas” celetuk Varo santai.


Arini mendengus menyadari sifat cuek Varo permanen dari lahir, bahkan meskipun mereka sudah berpacaran selama tiga bulan cowok itu tidak berubah. Arini pernah bertengkar hebat dengan Varo karena Varo memblokir nomornya ketika sedang bermain PS dua hari dengan Dimas, dan korbannya adalah ponsel Bima yang terus berdering sepanjang hari menerima panggilan masuk dari Arini.


“Kamu pake make-up dan nggak pakai make-up sama aja sih di mata aku”


“Cantik?”


Sudut bibir kanan Varo terangkat menampilkan senyum tipis, ia tidak menjawab pertanyaan Arini tapi tangannya bergerak mengelus-elus pelan rambut cewek itu.


Tanpa banyak bicara Varo menyandarkan keningnya ke bahu Arini, hanya sebentar, dan kemudian Varo menarik wajahnya setelah sebelumnya mengecup pelan bahu Arini, membuat jantung Arini seakan ingin loncat dari tempatnya.


Ini alasan kenapa Arini tidak bisa melepas Varo, sebrengsek-brengseknya cowok itu tapi Varo tahu benar bagaimana cara memperlakukan Arini dengan manis. Membuat Arini yang tadinya marah mendadak tidak berkutik. Arini seperti tikus kecil yang sudah pasrah berada dalam terkaman kucing dan tidak mampu untuk bergerak kemanapun.


“Aku ke kelas sekarang” kata Arin melirik jam tangan, sepuluh menit lagi kelasnya akan dimulai. “Pulangnya bareng.”


Varo mengangguk membiarkan Arini memeluknya sejenak lalu pergi bersama kedua temannya.