
Dimas masuk ke dalam kamar Varo dan Bima dengan tampang kusut. Dari kemarin mood cowok itu tidak begitu bagus, ditambah lagi terkendala laporan magang yang sejak kemarin belum bisa dilanjutkan.
“Laporan magang lu udah sampai mana?” tanya Dimas tanpa basa-basi. Varo menyodorkan laptopnya menunjukan tulisan ‘Bab Dua’ membuat semangat Dimas semakin merosot jauh.
“Gue kayaknya emang nggak ditakdirkan buat kuliah deh. Seharusnya gue buka bisnis” keluh Dimas.
“Nanti kalo bisnisnya gagal terus alasan 'kayaknya gue harus kuliah dulu' basi!” sambut Bima nyinyir. Dimas mendelik tapi sedikit takjub melihat Bima asik mempraktekan yoga dari tutorial youtube.
“Emang laporan magang lu sampai mana Bim?”
“Judul” jawab Bima langsung mendapat umpatan singkat dari Dimas.
Bima terlihat cuek, sesekali ia menarik dan menghembuskan nafas sesuai instruksi pelatih yoga. Dari tampang Bima memang terlihat bahwa menyusun laporan magang bukan sebuah masalah besar yang harus diselesaikan secepat mungkin. Bima baru berusia dua puluh tahun, tapi gayanya seperti orang tua yang sedang menikmati dana pensiun. Seakan hidup ini hanya diisi dengan makan, tidur, dan menari.
“Waktu konsultasi nilai sebelum liburan kemarin, gue diceramahin habis-habisan sama Bu Yuli” curhat Dimas. “Beliau nyindir kalo gue keseringan mengulang kelas, mending gue daftar jadi donatur tetap kampus.”
Varo cekikikan geli melihat tampang lesu Dimas ketika menatap langit-langit kamar yang terlihat suram seperti kehidupan perkuliahannya.
“Gue kira Bu Yuli baik”
“Emang baik, cuman mungkin dia sebel sama gue gara-gara keseringan mengulang kelas” jawab Dimas sadar diri.
“Gue pernah ketemu Bu Julia, orangnya baik. Waktu itu gue tersesat masuk toilet dosen, sama beliau ditunjukin jalan pulang” kata Bima tidak nyambung.
“Bim, mending lu fokus senam rakyat aja” ketus Dimas agak keki mendengar interupsi Bima. Begitu kebiasaan Bima kalau ada teman yang sedang mengeluh, sengaja dipanas-panasi dengan cerita atau kelakuan aneh yang membuat temannya makin kesal.
“Lu sama Olivia gimana?” tanya Dimas tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
Bahu Varo terangkat naik, helaan nafas terdengar jelas dari hidungnya, dan setelah itu Varo mulai menceritakan semuanya. Tentang kisah tragis orang tua Olivia, tentang Johan, dan tentang perasaannya yang mulai tidak menentu setiap kali berada di dekat Olivia.
“Apa mungkin karena gue kasihan ya sama dia?” tanya Varo menutup ceritanya. Dimas menyipitkan mata, ia maju menekan tangannya ke arah dada Varo.
“Apaan sih lu?”
“Lu bukan kasihan” geleng Dimas, ekspresinya terlihat sangat yakin. “Lu udah mulai suka sama Olivia”
“Nggak mungkin” balas Varo menolak pernyataan itu, meskipun jauh di dalam hatinya ia justru setuju dengan pernyataan Dimas. “Gue baru kenal dia sebulan, nggak mungkin gue suka”
“Olivia itu tipe lu kan?” tanya Bima akhirnya ikut bergabung, ia duduk di atas kasur sebelah Dimas dan menatap Varo serius. “Lu sering bilang Olivia cantik”
“Cantik nggak bisa jadi alasan bagi gue untuk suka sama dia. Itu nggak masuk akal. Banyak cewek lebih cantik dari Olivia” sahut Varo jelas berbohong. Sejak pertemuan pertama sampai hari ini Varo selalu mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Olivia adalah cewek tercantik yang pernah ia temui.
Dari segi fisik Olivia jelas berada di urutan teratas dalam tipe ideal Varo. Dan dari segi kepribadian, harus Varo akui ia nyaman berbicara atau berinteraksi dengan Olivia. Cewek itu seakan adalah sosok sempurna yang selalu berhasil membuat Varo bersikap seperti orang bodoh.
Varo tersenyum tanpa sebab bahkan meskipun Olivia hanya menatapnya dalam diam, Varo berusaha melemparkan lelucon untuk memunculkan tawa di wajah Olivia, dan bahkan sesekali Varo seperti kehilangan kendali atas dirinya ketika Olivia berada di dekatnya.
Namun tentu saja disisi lain harga dirinya terlalu tinggi untuk sekedar mengakui hal itu. Sama seperti sekarang ketika Varo menolak mentah-mentah pernyataan Dimas tapi sebenarnya kontradiktif dengan perasaannya.
“Olivia tau banyak tentang gue, meskipun gue bingung sedetail apa. Tapi setiap kali gue bilang 'kamu tau banyak ya tentang aku' Olivia akan jawab 'kan kamu terkenal di SMA.' Aneh” cerita Varo lalu bergumam pelan.
“Kalo itu gue setuju sih” balas Dimas melipat kedua tangannya. “Lu mungkin nggak ngerasa begitu, tapi untuk orang diluar lingkaran pertemanan lu, rasanya wajib sih harus tau siapa elu. Karena lu adalah pusat dari lingkaran setan”
“Gue bukan pusat, cuman emang salah pertemanan aja” dengus Varo membuat Dimas tertawa.
Saat SMA Varo dan beberapa temannya menamakan diri sebagai lingkaran setan. Entah dimana letak keren dari nama itu, tapi terkadang kelakuan mereka benar-benar seperti setan.
Pembully.
Itu adalah salah satu julukan yang ingin Varo lupakan dari momen di masa SMAnya.
Dimas tahu Varo tidak pernah ikut membully, ia hanya sesekali melampiaskan amarahnya dengan berkelahi. Tetapi lingkaran pertemanannya membuat Varo ikut mendapat julukan itu.
Bagi teman-teman Varo saat itu, ia adalah pusat dari mereka. Bukan karena Varo pintar atau berprestasi, tapi karena ayahnya adalah donatur tetap yayasan sekolah. Bagi mereka identitas Varo sudah cukup kuat untuk menjadi 'back-up' apabila terjadi sebuah masalah.
Varo adalah jawaban mengapa banyak korban pembullyan teman-temannya lebih memilih untuk pindah sekolah dibanding melapor guru. Terutama untuk mereka yang bersekolah menggunakan beasiswa sosial yayasan.
Dan Dimas adalah satu-satunya anak penerima beasiswa sosial yayasan yang dapat menyelesaikan masa SMAnya dengan tenang. Bukan karena Dimas pintar berbaur atau suka melemparkan lelucon, tapi karena Dimas adalah teman baik Varo.
“Jujur, gue inget Johan, karena dia anak ekskul fisika, dan lab mereka dekat sama ruang anak geografi” ujar Dimas serius. “Tapi gue nggak bisa inget siapa Olivia”
“Olivia bilang dia dulu kelas sepuluh tiga”
“Sekelas sama gue dong. Kok gue nggak inget ya?” seru Dimas tertarik. Dimas bukan tipe yang mudah melupakan orang lain, ia bahkan masih bisa mengingat siapa teman SDnya dulu, jadi rasanya agak aneh karena Dimas tidak bisa mengingat Olivia. Apalagi fakta bahwa cewek itu cantik, seharusnya Olivia bisa berada di urutan pertama dari memori ingatan Dimas tentang teman-teman SMAnya.
“Udalah, bukan hal penting juga” potong Varo ketika melihat kening Dimas berkerut-kerut bingung. Varo seperti bisa melihat cerminan dirinya dulu saat penasaran setengah mati dengan sosok Olivia dan kehilangan kontak cewek itu.
Olivia.
Seorang cewek cantik yang selalu menimbulkan tanya.
“Jangan-jangan Olivia itu anak yang dulu tiap makan siang duduknya wajib di dekat meja lu? yang sering dikerjain Sandra” ujar Dimas pantang menyerah.
“Itu mah Mely, eh apa Mega ya? Nggak tau gue, lupa”
“Brengsek” maki Dimas geleng-geleng.
“Olivia bilang dia jarang ke kantin. Udah, cukup, lu nggak usah mikir-mikir lagi. Fokus aja hubungan lu sama Sera” ketus Varo. Dimas langsung sewot.
“Jangan dimention, ntar makin galau” celetuk Bima menahan tawa dari samping.
“Sikat aja Dim, selama janur kuning belum melengkung berarti masih ada jalan”
“Sorry, gue nggak brengsek kayak elu” balas Dimas sewot. Varo nyengir tapi tidak berusaha untuk membela diri.
“Weh makan yuk, gue lapar. Jadi pengen makan salad” ajak Bima mengelus-elus perut buncitnya.
“Alah belagu lu sok-sokan makan salad, tuh ada rumput di luar kunyah aja” dengus Dimas ketus, ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk.
...*****...
Matahari telah tenggelam dari setengah jam lalu dan lampu kafe menyala terang menemani Olivia duduk sendirian disana, ia tampak sibuk merangkai bunga satu persatu ke dalam vas bulat, pekerjaan yang seharusnya diselesaikan Sera dari kemarin.
“Oliv” panggil Johan tanpa basa-basi mengambil cupcake dari atas piring, ia menarik sebuah stool bar dan duduk sambil menguyah cupcakenya.
“Aku nggak ikhlas kamu makan itu” dengus Olivia. Johan nyengir lebar terlihat agak tidak peduli.
“Bunga apa nih?”
“Bunga tai ayam”
“Bunga” tunjuk Johan ke arah bunga lalu berpindah pada Oliva. “Tai ayam.”
Mau tidak mau Olivia tertawa geli, meskipun terkadang lelucon Johan terdengar garing, tapi nyatanya lelucon seperti itu sesekali mampu menggerakan otot-otot bibirnya untuk tertawa.
“Sera mana?”
“Lagi ngajak Gegi jalan-jalan” jawab Olivia merujuk pada anjing kecil milik Sera yang setiap pagi dan sore harus diajak jalan-jalan.
“Enak ya?” tanya Olivia tersenyum lebar ketika Johan mengambil cupcake kedua. Cowok itu menggeleng dengan ekspresi pura-pura ingin muntah, tangan Olivia serta merta langsung naik mencubit bahu Johan kencang.
“Sakit tauk!” ketus Johan mengelus-elus bahunya. “Ntar sendi bahu aku lepas”
“Paling jadi buntung” balas Olivia tidak acuh. Joan mendelik singkat, mengunyah potongan cupcakenya susah payah.
“Aku cerita sama Varo” kata Johan membuka percakapan. “Tentang masa lalu kamu.”
Wajah Olivia langsung berpaling, sedikit menampilkan ekspresi tegang.
“Tentang kecelakaan kamu” jelas Johan. Bibir Olivia bergumam tidak jelas tapi ekspresinya terlihat lebih lega.
“Kenapa kamu cerita?”
“Karena aku lihat dia tertarik sama kamu” jawab Johan sama persis seperti ketika Varo bertanya padanya. “kamu tau kan Varo udah punya pacar?”
Tangan Olivia terangkat menopang dagu. Matanya menatap jauh ke arah jajaran rak dinding dari balik meja bar. Anker, carlsberg, san miguel, bintang.
“Aku berencana mau latihan renang sama Sera” kata Olivia setelah bergumam membaca nama merek bir yang berada di dalam rak. Kali ini Johan yang berpaling, ekspresinya agak kaku menatap Olivia.
“Yakin?”
“Yakin” angguk Olivia terlihat percaya diri. “Paling kalo gagal, aku mati tenggelam”
“Oliv, bercanda kamu jelek” tegur Johan halus.
Bibir Olivia menarik senyum kecil. Ia menyandarkan kepalanya di atas meja sementara matanya tetap menatap Johan. “Kalo nggak ada kamu saat itu...mungkin aku udah tewas.”
Johan tidak menjawab, tapi masih segar dalam ingatannya kejadian beberapa tahun lalu ketika Olivia jatuh ke kolam renang sekolah. Saat itu Johan harus bersusah payah mengangkat tubuh Olivia naik ke tepian kolam, sementara cewek itu sendiri hampir kehilangan kesadarannya karena terlalu banyak meminum air kolam renang.
“Aku belajar renang biar bisa damai sama masa lalu”
“Temenan sama Varo juga termasuk damai sama masa lalu?” tembak Johan langsung membuat Olivia bungkam. Jari tangan Olivia bergerak membentuk lingkaran-lingkaran kecil di atas meja, kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika tidak ingin menjawab pertanyaan seseorang.
“Varo itu cinta pertama aku, tapi aku hampir mati juga karena dia” kata Olivia setelah cukup lama mereka terdiam.
“Kamu masih suka sama Varo?” tanya Johan tiba-tiba.
“Suka?”
“Atau kembali jatuh cinta?”
Olivia tertawa tapi terdengar kaku, pancaran matanya terlihat agak sayu tapi kontradiktif dengan ekspresinya yang ingin menunjukan bahwa perkataan Johan terdengar seperti lelucon menyedihkan.
“Aku gila kalo jatuh cinta sama pembully” balas Olivia bergumam.
“Orang itu pasti berubah, Oliv” balas Johan.
“Secara fisik iya, tapi dari dalam enggak” geleng Olivia menolak pernyataan Johan. “Kamu mungkin akan tumbuh cantik atau tampan, tapi bagian dalam dari diri kamu nggak akan pernah berubah. Karena bagian itu adalah bagian yang paling real dari diri kamu. Aku nggak pernah percaya manusia berubah, dan walaupun berubah, nggak mungkin secepat itu.”
Johan memalingkan wajah menghindari tatapan intens Olivia, tangannya mengambil sebuah botol air mineral dan meneguk sampai setengah.
“Satu pertanyaan terakhir….kamu benci Varo?”
Senyum kecil Johan muncul, ia tidak menatap Olivia tapi tetap dapat menangkap ada sedikit keraguan di wajah cewek itu. Perkataan Olivia terdengar seperti ia membenci Varo, tapi ekspresinya justru terlihat inkonsisten.
“Lihat, kamu bahkan nggak bisa jawab pertanyaan sederhana dari aku” kata Johan. “Kalo benci, bilang. Kalo nggak benci, bilang. Kalo ingin mereset semua dari awal, bilang. Kamu punya aku disini yang selalu mendukung kamu.”
Olivia masih terdiam tanpa suara. Diam-diam mata Johan melirik Olivia, pertemuan terakhir mereka adalah dua tahun lalu ketika Johan berlibur di Inggris. Meskipun Johan dan Olivia menghabiskan banyak waktu bersama sejak kecil, tapi tetap saja ada beberapa bagian dari diri Olivia yang sampai kapanpun tidak dapat dimengerti Johan. Termasuk urusan hati.
“Jadi, aku harus benci Varo?” gumam Olivia terdengar seperti bertanya pada dirinya sendiri. Johan hanya diam, ia tidak ingin memberikan jawaban apapun, karena pada akhirnya hanya Olivia sendiri yang akan menemukan jawaban atas pertanyaannya.
Trinng.
Bunyi notifikasi ponsel membuat Olivia dan Johan sama-sama memalingkan wajah ke belakang. Ada Dimas membawa sekardus air mineral, ekspresinya terlihat santai, berbanding terbalik dengan ekspresi Olivia dan Johan yang nampak terkejut karena cowok itu masuk tanpa suara sama sekali.
“Eh, lu berdua bantuin gue dong buat nyusun air mineral ke dalam freezer” pintah Dimas tanpa basa-basi.
Johan mengangguk langsung bangkit berdiri membantu Dimas menyusun air mineral ke dalam freezer.
“Oliv jangan bengong dong. Kata mama aku anak gadis kalo bengong sore-sore, ntar bakal dikawinin sama jin” tegur Dimas, nada suaranya terdengar cerah, berbeda dengan Olivia yang hanya bisa diam mematung.
Perlahan ekspresi terkejut Olivia meredah, tapi sesaat kemudian benaknya mendadak mengaktifkan kinerja otak dan mengeluarkan satu pertanyaan mengerikan; sejak kapan Dimas berada disitu?