Mr. Bully

Mr. Bully
That XX - G-Dragon



Prahara itu pada akhirnya datang dan mencoba mengacak-acak semua yang telah terjadi.


Mata Varo menatap kaku Arini dan Ete yang turun dari mobil. Arini berteriak senang ketika melihat Varo, ia langsung berlari memeluk cowok itu erat, membiarkan Ete sibuk menurunkan koper mereka dari bagasi mobil.


“Aku kangen banget sama kamu!” ujar Arini riang. Varo melepas pelan pelukan Arini, ia mencoba melemparkan senyum meskipun ada sedikit siratan tidak nyaman.


“Kangen sih kangen, tapi gue jangan dicuekin dong” sindir Ete kerepotan menari koper ke lobi. Tanpa banyak bicara Varo langsung membantu Ete dan mengikuti langkah riang kedua cewek itu menuju kamar penginapan mereka di lantai tiga.


“Tempat magang kamu keren banget. Aku suka!” Arini berlari menuju balkon kamar, tangannya terentang merasakan hembusan angin yang menyentuh pipi. Matanya memandang takjub ke arah pantai di bawah sana. “Apa nanti aku coba lamar magang disini juga ya?”


Varo tidak menjawab, ia malah tiduran diatas kasur sambil memejamkan mata, sampai kemudian Arini duduk di dekatnya. Tangan Arini mengelus pelan rambut Varo, bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum melihat sosok yang selalu ia rindukan selama berapa bulan ini.


“Kalo mau ciuman tolong kabarin, biar gue nggak balik badan” kekeh Ete merokok di balkon ketika melihat Arini berbaring di samping Varo.


“Aku kangen” bisik Arini memeluk Varo erat.


“Kamu istirahat sampai jam berapa?”


“Satu”


“Lima belas menit lagi” gumam Arini melirik ke arah jam tangan.


Wajah Varo menunduk sedikit, menatap Arini dalam pelukannya. Cewek itu terlihat sedikit berbeda dari pertemuan terakhir mereka, ada sebuah tindik baru di ujung bibir dan rambutnya diwarnai kecoklatan. Arini mendongak, ia tersenyum manis dan memberanikan diri mengecup pelan bibir Varo.


“Kamu capek ya? Mukanya lemas gitu.” Arini mengelus pipi Varo lalu memejamkan mata.


Hening.


Ada sebuah perasaan aneh yang memenuhi dada Varo. Aneh, harusnya kedatangan Arini membuat Varo merasa senang, harusnya ia juga merasakan hal yang sama untuk melepas rasa rindunya pada Arini, dan harusnya ia bahagia. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Varo merasa asing, seakan Arini adalah seorang yang baru ia temui hari ini. Waktu tiga bulan sudah cukup untuk membuat mereka menjauh. 


Suara ketukan terdengar, Varo melepas pelukan Arini dan bangkit duduk. Wajah Bima muncul dengan senyum lebar. “Bawa oleh-oleh apa lu berdua dari Jakarta?”


“Oleh-oleh lu entar dibawain Sandra. Harusnya hari ini Sandra pergi sama kita, tapi mendadak cowoknya datang. Jadi Sandra nyusul”


“Lu kesini nyusul cowok lu. Nah itu teman lu diluar nyusul sapa?” nyinyir Bima agak keras agar didengar Ete.


Ete tertawa geli mematikan rokoknya dan masuk. “Nyusul lu sama Dimas. Gue takut kalo nggak di susulin, lu berdua meninggal di tempat kerja”


“Mulut lu kurang edukasi” sahut Bimas judes kembali berpaling ke arah Arini. “Gimana perjalanan kesini?”


“Jauh, capek, tapi worth it karena pantainya bagus. Kalo pas sampai jauh dari ekspektasi. Gue rencana mau geret lu semua balik Jakarta”


“Kafe disana milik penginapan?” tanya Ete mau tahu, Bima mengangguk singkat. “Buat tamu penginapan gratis dong”


“Iya. Tapi habis itu gaji pegawai kafe dibayar pake ucapan terima kasih” dengus Bima.


“Ya kan siapa tau aja begitu” kekeh Ete geli. “Setelah kalian kerja, ke sana yuk, gue pengen tau tempatnya kayak apa. Tadi gue lihat sekilas dari sini lumayan.”


Bima mengangguk kaku, ia melirik Varo yang tidak bereaksi apapun. Cowok itu justru mengecek jam tangan dan kemudian berdiri.


“Aku balik kerja” kata Varo lalu melangkah keluar diikuti Bima. Keduanya melangkah menyusuri koridor penginapan dalam keheningan, Varo terlihat tidak ingin mengatakan apapun sampai kemudian tangan Bima mencengkram bahunya erat.


“Badai lu udah datang” bisik Bima laku melangkah pergi, tidak memperdulikan Varo termangu memegang kenop pintu.


Benar kata Bima. Badai yang sejak kemarin tidak Varo pedulikan kini datang dan siap untuk memporak-poranda semuanya.


...******...


Sepanjang hari ini bukan bukan hari yang baik untuk Varo. Matanya menatap layar komputer tapi fokusnya kemana-mana. “Mbak, kertasnya mau digeprek?” tanya Varo membuat semua mata menatapnya heran.


“Maksud lu distaples?” koreksi Dimas. Varo hanya nyengir mengambil staples, setelah itu ia kembali bengong di depan layar komputer, membuat Dina melemparkan tatapan khawatir.


“Kamu sakit?” tanya Dina prihatin.


“Enggak Mbak, itu dia lagi cosplay jadi kambing kurban, makanya bengong” sahut Dimas buru-buru.


“Istirahat aja kalo gitu, laporannya besok aja baru dilanjutin, udah mau selesai kan?”


Varo mengangguk, ia mencoba fokus tapi tiga puluh menit berikutnya sampai jam kerja selesai cowok itu tetap konsisten dengan tampang bloon menatap layar komputer.


“Sayang….”


Terdengar suara Arini dari belakang Varo dan Dimas yang baru saja keluar ruangan ketika jam kerja selesai. Dimas membulatkan mata agak terkejut, matanya melirik Varo dan kemudian tersenyum kecil baru menyadari alasan mengapa sejak tadi cowok itu hanya bengong seperti orang sakit.


“Lu berdua kapan datang?”


“Baru nyampe hari ini. Lu kok nggak jemput sih? Nari-nari penyambutan di koridor kek” omel Ete merangkul bahu Dimas.


“Sorry, selama lu berdua masih berstatus rakyat biasa, gue ogah mau nunjukin tarian turun-temurun keluarga gue” jawab Dimas nyengir lebar. “Lu berdua mau kemana?”


“Kafe di bawah. Mau ikut?”


“Ayok.”


Dimas tanpa basa-basi mengangguk mengikuti langkah kedua cewek itu. Ia bersiul-siul kecil menyadari Varo tidak mengatakan sepatah katapun bahkan ketika mereka masuk ke dalam kafe.


“Wow, siapa tuh cakep banget?” senggol Ete ketika melihat Johan berdiri dari balik meja bar bersama Olivia dan Bima. “Dia magang juga? Atau pegawai disini?”


“Johan. Anak magang dari kampus kita”


“Dari kampus kita? Kok gue nggak pernah lihat?”


“Emang apa pentingnya bagi Johan buat nunjukin ekistensinya ke depan muka lu?”


“Ya kali-kali aja bisa jadi teman gue” kilah Ete nyengir lebar sembari merapikan rambutnya, tidak memperdulikan decakan Dimas dari samping.


“Hai, mau pesan sesuatu?” tanya Johan pertama kali menyambut kedatangan mereka. Matanya melirik ke arah Arini yang menggandeng mesra lengan Varo.


“Ada buku menu?” tanya Ete ramah.


Olivia menyodorkan kertas menu pada mereka, ia tersenyum manis tidak terlihat terkejut melihat Arini dan Varo. Jauh berbeda dengan suasana canggung yang tercipta di antara Varo, Bima, Dimas, dan Johan.


“Lu magang disini juga?” tanya Ete basa-basi. Johan mengangguk kaku tapi tetap berusaha tersenyum ramah. “Gue Ete, temannya mereka bertiga”


“Johan” balas Johan menyambut uluran tangan Ete.


“Arini” kata Arini ikut mengulurkan tangan. “Lu fakultas mana? Kok gue nggak pernah lihat di kampus?”


“Manajemen, bareng Bima”


“Oh temannya Bima…. Kok lu nggak pernah ngasih tau sih punya teman nama Johan?” mata Ete menyipit sinis membuat Bima bengong.


“Gue aja baru kenal disini” protes Bima.


“Gue cuman beberapa kali sekelas sama Bima, jadi sekilas gue tau dia anak fakultas gue” jelas Johan. “Lu berdua kapan datang?”


“Tadi siang” jawab Ete. Wajah tampan serta tubuh tinggi Johan begitu menarik bagi Ete, membuat cewek itu tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagiannya. Seolah Ete baru saja menemukan batu mutiara di tengah pulau kosong.


“Lu pacarnya Varo? Atau adek?” canda Johan berpaling pada Arini.


Arini tersenyum geli. “Emang tubuh gue kecil banget ya sampai dikira adiknya Varo? Gue pacarnya”


“Cocok” angguk Johan tanpa makna.


“Kalian kalo masih bingung mau pesan apa, bawa aja kertas menunya, nanti aku ambil.” Olivia menyodorkan lagi selembar kertas menu pada Ete. Senyum manisnya membuat Arini dan Ete terkesima, dalam hati mereka sama-sama mengakui bahwa Olivia itu cantik sekali.


Arini pernah melihat lebih dari seratus cewek cantik, entah di kampus, TV, catwalk, katau sekedar lewat begitu saja. Tapi baru kali ini ada seseorang yang mampu membuatnya terpana dalam sekali pandang.


Hampir hanyut dalam pesona Olivia, Arini lantas memalingkan wajah, seketika itu senyumnya perlahan menghilang. Varo menatap Olivia dan Arini bisa menangkap ada sorotan sedih dari pancaran mata cowok itu.