
Setelah seminggu lebih bekerja di ravent, tim Dendi kembali bekerja di kantor. Sejak pagi Olivia sudah sibuk kesana kemari karena mendapat klien baru, ia baru bisa duduk tenang menjelang pukul setengah lima sore.
”Mau makan nggak?” korek Lisa. Olivia mengangguk lemas lalu mencabut chargeran ponsel.
“Sedih ya jadi auditor, orang lain jam segini udah siap-siap mau pulang, kita jam segini malah makan buat lanjut kerja” keluh Olivia.
“Buat auditor jam setengah lima mah istirahat kedua” balas Lisa.
“Olivia!”
Olivia berpaling, Dendi melambaikan tangan mendekati mereka.
“Mau kemana kalian?”
“Makan. Kakak mau ikut?”
“Enggak. Cuman mau bilang minggu depan pas visiting saya nggak ikut, mau cuti, kamu tolong koordinir anak-anak ya biar nggak telat”
“Udah kak gitu aja? Uang jalan?” canda Olivia, Dendi tertawa geli.
“Rembes aja ke kantor. Kantor kita kaya kok. Saya serahin ya sama kamu, pokoknya saya percaya beres aja” balas Deni lalu pergi.
“Kantor kaya tapi pelit ngasih advance” nyinyir Lisa saat Dendi menjauh.
Kedua wanita itu kemudian memutuskan untuk makan di rumah makan padang, agak jauh dari kantor.
“Si Malika last daynya kapan?” tanya Lisa.
Olivia menelan rendang pelan. “Minggu depan. ****** tuh anak, gara-gara dia cabut gue yang harus megang kliennya. Mana asistennya cuman satu, fresh graduate lagi. Pusing gue, harus buru-buru ngerti profil perusahaan dan ngajarin anak baru dari dasar. Lu bayangin kemarin dia ngurus surat konfirmasi dari excel bukannya pake mail merger malah mindahin ke word pake cara manual satu-satu. Ada lima puluh surat lagi, gimana gue nggak mau nangis?”
“Emang nggak lu ajarin?”
“Udah Lis, lu tau kan gue nggak mungkin ngasih tugas kalo gue nggak mastiin anaknya nggak ngerti?”
“Mungkin belum ngerti kali? Tapi gengsi mau nanya”
“Kayaknya sih begitu, cuman tetap aja gue agak keki. Tapi habis itu udah sih, kemarin gue ajakin beli batagor biar lebih deket sama gue.”
Lisa nyengir lebar. “Lu tau nggak, kalo ada award senior paling baik dan sabar, elu pasti menang. Soalnya kalo gue jadi elu, gue pasti udah ngamuk”
“Gue juga mau ngamuk Lis, cuman kalo gue ngamuk ntar anaknya nggak betah, kalo dia cabut malah gue yang makin kerepotan kerja sendiri. Betul nggak?”
“Iya sih. Tapi tetap aja kesabaran lu patut gue acungin jempol.” Lisa mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi.
“Eh itu Andreas” kata Lisa melambaikan tangan saat melihat Andreas. Lelaki itu mengangguk dan menghampiri mereka.
“Cakep banget lu, potong rambut ya? Mau ke rumah gue nggak minggu ini? Gue kenalin sama orang tua gue, kebetulan bokap gue seneng nikahan pake adat Padang” cerocos Lisa bercanda.
Andreas tertawa geli menarik kursi duduk sebelah Olivia. “Kenapa nih temen lu? Kusut banget mukanya. Dapat klien baru ya?”
“Iya. Jangan diganggu, nanti digigit” angguk Lisa, Olivia mencibir.
“Mau kopi nggak?” tawar Andreas.
Lisa langsung mengangguk bersemangat. “Lu traktir kan?”
“Iya. Kita merayakan bulan-bulan muramnya Olivia karena dapat klien baru”
“Sialan lu berdua” maki Olivia tapi tetap mengikuti kedua orang itu.
Mereka menyebrang jalan menuju starbucks yang berada di lantai satu gedung sebelah. Olivia yang pertama kali masuk langsung memesan minuman.
“Green tea ya?” tanya Andreas sudah hapal.
“Aneh lu, jauh-jauh ke starbucks beli minuman rasa rumput” ringis Lisa, Olivia menjulurkan lidah tidak peduli.
Sembari menunggu Andreas membayar Lisa iseng memperhatikan keadaan sekitar, matanya menyipit ketika melihat seseorang yang ia kenal sedang duduk di dekat pintu keluar.
“Eh itu kan Pak Arya” senggol Lisa.
Andreas dan Olivia ikut berpaling. Tampak Arya, pemimpin kantor mereka sedang duduk berhadapan dengan seorang lelaki dan wanita, ia terlihat mendengarkan perkataan lawan bicaranya lalu mengangguk serius.
“Wah, harus nyapa. Lu aja ya Ndre, gue maunya ngangguk doang. Mendadak bisu nih bibir gue kalo ketemu bos” kata Lisa.
“Sapa aja Lis, lumayan kan kalo dia kenal lu”
“Nggak mau, ntar kalo kenal gue malah makin dikasih banyak klien. Ogah. Gue mau menikmati gaji besar dengan klien dikit dan suatu saat nanti resign tanpa dinotice bos kalo gue pernah kerja sama dia” geleng Lisa menolak.
Olivia diam, matanya masih mencuri pandang ke arah Arya. Orang yang duduk di depan Arya terasa mirip seseorang, membuat degup jantung Olivia agak berdetak dengan sedikit perasaan was-was.
“Mbak Olivia?”
Olivia berpaling, senyumnya pada Arya mendadak kaku begitu melihat Indah melambaikan tangan padanya, di sebelah wanita itu tentu saja ada bos besar ravent yang terang-terangan menatap Olivia.
“Loh, Indah kenal?” tanya Arya basa-basi.
“Kan Mbak Olivia tim audit untuk kami” jelas Indah riang.
“Oh, kamu bawahannya Dendi?”
“Iya pak, saya tahun ini megang ravent” jawab Olivia kikuk.
“Parah lu Ya nggak kenal karyawan sendiri, gue aja kenal” ujar Varo tiba-tiba, mata Olivia hampir membulat keluar. Senyum cowok itu mengembang lebar, kontradiktif dengan tatapan matanya yang terlihat sangat mengesalkan.
“Kenal dimana?”
“Di kantor ravent pak. Beberapa minggu lalu kami fieldwork disana” jelas Olivia buru-buru. Arya mengangguk paham.
“Kami permisi duluan pak, maaf menganggu waktunya. Mari pak, permisi” lanjut Olivia berpamitan. Ia kemudian mengandeng lengan Lisa dan melangkah pergi.
“Kenapa sih lu kayak dikejar setan” tegur Lisa karena mendadak langkah Olivia semakin cepat.
“Gue emang lagi menghindar dari kemungkinan dikejar setan” balas Olivia serius. Lisa tertawa geli langsung menyentil pelan kening cewek itu.
“Bentar Oliv, Andreas ketinggalan di belakang” kata Lisa. Mereka berhenti di depan pintu masuk menuju gedung kantor. Olivia mendengus ketika melihat Andreas berjalan santai sembari menyesap kopi.
“Andreas jalan lama ah!” ujar Olivia saat Andreas tiba, lelaki itu hanya tersenyum santai.
“Lagian lu berdua jalan cepet banget. Sore kayak gini tuh harusnya dinikmati. Gue lihat-lihat kalian semangat banget mau lanjut kerja” goda Andreas.
“Emang semangat. Gue mau lanjut kerja, klien gue banyak, problemnya beda-beda dan aneh, jadi gue kudu rajin. Ayo buruan, gue nggak bisa gendong lu, jadi langkah lu digedein biar nggak ketinggalan” dumel Olivia cerewet melangkah pergi, meninggalkan Andreas dan Lisa yang bengong lalu tertawa geli melihat tingkahnya.
...----------------...
Pukul setengah tujuh malam Olivia masih di kantor, kemungkinan hari ini ia akan lembur. Meskipun besok Olivia boleh masuk kantor jam sepuluh tapi tetap saja rasa kantuk mulai menjalar naik mengoda matanya agar tertutup rapat.
“Ngerjain apa?”
Olivia mendongak, Andreas menarik kursi duduk di sampingnya sembari menyodorkan segelas kopi.
“Draft report”
“Bukannya dikerjain manajer? Manajer lu siapa?”
“Kak Susi, cuman kemarin mendadak diopname jadi gue yang backup”
“Mau gue bantuin?”
“Udah kelar kok, tapi coba lu tolong cek angka tahun sebelumnya, kalo udah bener mau gue kirim ke klien besok.” Olivia menggeser laptopnya pada Andreas.
“Gila, gue seharian ini kafein mulu. Kayaknya gue harus cari kerja baru” geleng Olivia menyesap kafeinnya. Andreas menepuk punggungnya pelan sembari matanya terus menatap laptop.
Olivia menscroll twitter, satu-satunya hiburan menyenangkan disaat suntuk seperti ini. Trending kata ravent membuat Olivia tertarik membuka isinya. Berita kerjasama ravent dengan idol terkenal dari korea dan rencana pembuatan game. Dibanding game ravent yang bergenre action, game kali ini cenderung lebih cute dan akan melibatkan idol ini untuk membuat karakter mereka sendiri. Sepertinya pihak ravent sudah merencanakan target pasar dan strategi yang matang.
Semakin jauh Oliva menscroll, ia bisa menemukan wajah Varo disana disandingkan dengan idol Korea. Banyak komentar yang memuji ketampanan lelaki itu dan komentar menggila lainnya.
“Vi, udah nih, udah oke.”
Olivia mendongak. “Makasih ya, tinggal gue kirim besok”
“Lu mau langsung balik?”
“Iya. Sabtu minggu gue visit gudang”
“Mau gue anterin?” tawar Andreas.
“Emang kerjaan lu udah?”
“Dikit lagi sih, cuman gue mau kabur, gue mending kerja di rumah biar bisa sambil rebahan” bisik Andreas. Sekilas Olivia menatap ke luar jendela ruangan, hujan.
“Yaudah yuk” angguk Olivia merapikan barang-barangnya. Andreas menahan senyum langsung beranjak mengambil tasnya. Sekitar sepuluh menit kemudian kedua orang itu sudah berjalan keluar.
“Lu tunggu di lobi aja.”
Olivia menunggu di lobi, matanya menangkap iklan game ravent dari billboard besar di depan gendung kantor. Mendadak Olivia teringat pertemuannya dengan Varo tadi sore. Varo menatapnya tapi tidak tersenyum..... Lelaki itu sedang apa ya sekarang?
“Gila!” gumam Olivia. Suara klakson mobil Andreas membuat Olivia berpaling, ia masuk ke mobil dan segera membuang lamunannya tentang Varo sejauh mungkin.