
Sore hari ketika lampu satu persatu menyala terang, Olivia duduk dibalik meja bar kafe sedang menyelesaikan sketsa rumah Nenek Aisah yang ia buat dari beberapa hari lalu. Sejak kecil Olivia memiliki kebiasaan untuk melukis tempat-tempat yang pernah ia kunjungi, tempat yang menurutnya indah dan juga memberikan kenangan.
“Oliv.”
Olivia mendongak, tampak Johan datang dengan penampilan kusut, cowok itu melakukan peregangan sedikit sebelum menarik stool bar dan duduk di samping Olivia.
“Masih sakit?” tanya Olivia khawatir, sejak kemarin Johan mengaku tidak enak bandak, efek dari Semarang Johan masih harus bolak balik kesana kemari mengurus kerjaan.
“Udah agak baikan. Aku mau kopi dong” pintah Johan. Olivia mengangguk lalu beranjak membuat segelas kopi.
“Liburan kemarin gimana? Seru?” tanya Johan membuka buku sketsa Olivia.
“Seru. Aku ketemu nenek. Ngobrol. Aku dikasih bunga” jawab Olivia menunjuk ke arah bunga tiger lily di dalam vas. “Dari Varo”
“Wow.” Johan menarik vas bunga itu dan memperhatikan sekilas.
“Tau nggak arti bunga ini? Please love me.”
Bibir Johan membulat tercengang, kepalanya kemudian menggeleng dengan ekspresi agak khawatir. “Aku rasa kamu harus berhenti deh”
“Maksud kamu?”
“Aku tau kamu nggak ada perasaan khusus buat Varo” jawab Johan. Olivia menyodorkan gelas kopi dan duduk disamping Johan. “Atau mungkin perlahan udah ada?”
“Jangan sok tau” balas Olivia. “Aku masih benci sama dia.”
Johan menyesap kopinya, salah satu alisnya terangkat dengan senyum tipis ketika mendengar jawaban Olivia. “Kadang menjadi dewasa berarti kamu harus melepaskan beberapa hal, atau nggak kamu mungkin bisa kehilangan apa yang kamu miliki. Melepas benci itu termasuk bentuk kedewasaan.”
Olivia tersenyum tipis tidak menjawab perkataan Johan. Cowok itu adalah tipe pendebat, sesuatu yang menurut Johan salah akan selalu dipertanyakan. Sama seperti sekarang ketika ia merasa Olivia melangkah terlalu jauh dari apa yang diinginkan cewek itu.
“Ngasih perhatian boleh, tapi harus ada batas” kata Johan serius. “Kamu nggak bisa datang secara tiba-tiba ke kehidupan seseorang, membuat dia merasa istimewa, dan kemudian pergi. Itu menyakitkan”
“Aku nggak datang secara tiba-tiba. Sejak awal aku ada disana” jawab Olivia pelan sekali. “Dan...tau apa kamu tentang rasa sakit?”
Perkataan Olivia telak, membuat Johan diam. Matanya bisa menangkap perasaan sendu dari raut wajah Olivia, ia tahu cewek itu marah.
Marah pada situasi yang pernah terjadi. Olivia tidak datang dengan senyum manis, ia datang dengan kemarahan yang dibalut dendam. Dan orang yang menjadi target utamanya ada Varo, seseorang yang ia benci dari lubuk hati terdalam.
Johan menghelas nafas sadar betapa keras kepala cewek di sampingnya itu. “Jalan keluar satu-satunya buat lupain semua adalah kamu harus jatuh cinta sama Varo” ujar Johan tertawa pelan. Olivia mendengus lalu memalingkan wajah ketika mendengar seseorang berteriak memanggil namanya.
“Oliviaaa.” Bima melambaikan tangan masuk ke dalam kafe bersama Varo dan Dimas. “Oliv mau teh hijau dong”
“Disini nggak ada teh hijau” jawab Olivia.
“Lu peras kaktus gih, sama-sama hijau” kekeh Johan geli.
Bima nyengir mengeluarkan sebungkus teh hijau instan dari sakunya, sementara Dimas dan Varo tanpa basa-basi duduk di depan Johan.
“Tenang, aku bawa stok sendiri. Jadi aku cuman bayar buat air panas” ujar Bima kalem, Olivia hanya geleng-geleng membiarkan Bima sibuk sendiri menyiapkan teh hijau untuk mendukung program dietnya.
“Kalian berdua mau pesan apa? Kata Kak Nabila kalo cuman nongkrong tapi nggak mesan, mending pulang” ujar Olivia bercanda. Dimas nyengir menunjuk bir dari menu dan mengangkat dua jari.
“Laporan magang lu udah sampai mana?” tanya Dimas pada Johan.
“Lokasi dan tata letak. Lu?”
“Masih ngestuck di tujuan. Nggak tau deh gue magang buat apa”
“Tulis aja ‘tujuan saya magang untuk mendapatkan nilai dan lulus mata kuliah ini’ selesai” ide Varo, Johan nyengir sementara Dimas mendelik singkat.
“Kamu nggak minum?” tanya Varo ketika Olivia menyerahkan bir kepada ia dan Dimas. Olivia menggeleng.
“Aku nggak suka minum alkohol.”
Alis kanan Varo terangkat naik. “Terus waktu itu di club-”
“Aku minum air mineral” jawab Olivia cengengesan.
“Oh. Aku baru tau” angguk Varo sedikit tercengang.
“Olivia bisa minum, cuman gue larang, dia kalo mabuk rese” beritahu Johan, Dimas tertawa geli.
“Olivia mah bukan kayak lu yang dari SMA berendam di kolam alkohol”
“Sejak kapan gue gitu?”
“Kan itu hiperbola” balas Dimas menepuk-nepuk pundak Varo. “Tapi dibanding alkohol, lebih rese kalo temen lu konsumsi magic mushroom.”
“Dulu waktu awal kuliah, Varo pindah ke kos Bima. Nah gue main kesitu. Pas gue datang, ada senior di kosan namanya Bang Tigor lagi masak sup magic mushroom. Gue sama Bang Tigor nggak makan, yang makan Varo, Bima, sama Kak Dion. Gue cuman makan nasi tempe karena gue pernah ngerasain efek magic mushroom. Habis makan, gue ke kamar Varo buat main game, tiba-tiba Varo masuk dengan sepiring nasi dan duduk di pojokan. Lama Varo disitu, gue kira mungkin lagi makan sambil ngapain kan. Saat itu gue kebelet, yaudah gue lepas headset terus balik badan, gue kaget Varo lagi ngobrol serius sama nasi, bahas sejarah kerajaan Kutai” cerita Dimas sukses membuat Olivia dan Dimas tertawa terbahak-bahak, bahkan Varo juga ikut tertawa.
“Tapi belum selesai sampai disitu. Karena ngeliat Varo ngobrol sama nasi gue jadi inisiatif langsung keluar kamar, dan di luar Bima lagi nangis, karena ternyata dia berhalusinasi tititnya bergerigi. Terus Bang Tigor tuh berusaha meyakinkan kalo ‘titit lu tuh masih sama bentuknya,’ eh tangisan Bima malah makin kenceng. Saking kesalnya Bang Tigor, dia sampe ngutik-ngutik tit1t Bima terus ngomong ‘ini loh bentuknya sama! Ada disini! Masih betah disini dengan bentuk yang sama!’ Gue yang ngelihat kejadian itu ngakak setengah mati”
“Terus Kak Dion gimana?” tanya Olivia di sela-sela tawanya.
“Gue karena kebelet akhirnya ke kamar mandi, gue kaget Kak Dion lagi berendam di ember gede buat nyuci baju, pas gue tanya taunya Kak Dion lagi berhalusinasi jadi deterjen”
“Sumpah kalian kocak banget” kata Johan memegang perutnya, ia masih tertawa geli sementara Olivia disamping sibuk menyeka air matanya yang meleleh karena terlalu banyak tertawa.
“Tapi kamu sendiri pernah ngerasain magic mushroom?” tanya Olivia ketika sudah benar-benar berhenti tertawa.
“Pernah. Waktu kelas satu SMA. Lu inget nggak pas gue nginep di rumah lu, terus besok paginya gue nyoba selai magic mushroom?” tanya Dimas pada Varo.
“Inget, inget”
“Habis nyobain selai magic mushroom, gue ke sekolah sendiri karena Varo bolos, sampai tengah jalan gue balik ke rumah Varo gara-gara gue ngeliat banteng **** nyebrang jalan. Hari itu gue nggak jadi pergi sekolah” cerita Dimas. Mereka semua sama-sama tertawa geli, sampai beberapa menit kemudian baru satu persatu mulai terdiam karena lelah tertawa tanpa henti.
“Lu SMA bandel banget” geleng Johan cekikan geli.
“Gue nggak bandel, cuman waktu itu penasaran sama rasa selai magic mushroom. Taunya halusinasinya parah banget”
“Magic mushroom udah masuk narkotika golongan satu kan? kalo gue nggak salah” tanya Olivia.
“Iya, namanya psilosibin” angguk Varo lalu meneguk birnya. “Dimas pas SMA suka banget ngelakuin hal-hal aneh”
“Namanya juga masih muda, masih pengen coba-coba” kekeh Dimas kemudian berpaling pada Olivia. “Kamu dulu waktu SMA di kelas apa?” tanyanya meskipun sudah tahu jawaban dari pertanyaan itu.
“Sepuluh tiga”
“Sekelas sama aku dong”
“Iya, kita emang sekelas. Kamu dulu ketua kelas aku”
“Berarti kamu sering beli nasi uduk aku? Inget nggak aku dulu dipanggil Udin nasi uduk?” tanya Dimas dengan tawa lebar. Olivia berpikir sejenak kemudian angkat bahu tidak yakin.
“Aku sering beli nasi uduk kamu, tapi aku nggak tau kalo mereka manggil kamu Udin”
“Masa? Aku terkenal banget dengan nama Udin”
“Kalem Dim, kalem, gue juga nggak tau nama lu Udin” ujar Johan. Dimas nyengir lebar meneguk birnya masih menatap Olivia.
“Kamu di kelas, duduk di barisan mana?”
“Lupa. Dekat jendela kayaknya” jawab Olivia terdengar ragu. Dimas diam sejenak menatap Olivia lekat-lekat.
“Dekat jendela, barisan kedua dari depan?” tanya Dimas memastikan. Olivia tidak menjawab, hanya matanya menatap lurus wajah Dimas, sedetik kemudian senyum Olivia muncul.
“Aku nggak inget”
“Oh. Oke” balas Dimas singkat. Mereka kemudian membicarakan hal lain, secepat itu topik pembicaraan berganti, tapi tidak membuat Dimas berhenti untuk mencuri pandang ke arah Olivia.
“Ini bunganya kasihan amat sendirian disini” kata Varo baru menyadari bunga pemberiannya berada di dalam vas bunga dekat Dimas.
“Aku sengaja taruh disitu. Kata Kak Nabila bagus buat dipamerin ke orang-orang”
“Bukan Kak Nabila yang bilang, tapi emang dia mau pamer ke semua orang. Maklum nggak pernah dikasih bunga” ejek Johan.
“Sirik kamu yang nggak dikasih bunga sama Varo” delik Olivia bercanda.
“Woi lihat, gue baru dapat nomor cewek cakep” kata Bima tiba-tiba muncul membuat mereka sadar bahwa sejak tadi cowok itu asik sendiri entah dimana. Bima menyodorkan secarik kertas dan dagunya menunjuk ke arah seorang cewek yang baru keluar kafe. “Seksi kan?”
“Iya Bim, iya. Selamat” angguk Varo.
“Itu cewek pasti habis makan magic mushroom makanya halusinasi ngasih nomor ke kepiting laut” canda Johan membuat semuanya terbahak geli. Bima mencak-mencak menjitak dahi Johan keras-keras.
Dimas juga tertawa tapi hanya sebentar, matanya kembali memperhatikan Olivia yang kemudian ikut berpaling balas menatapnya.
Senyum Olivia muncul, tapi malah membuat Dimas merasa sedikit tidak nyaman. Senyum itu terlihat sangat manis namun kontradiktif dengan tatapannya, seakan ada sebuah kepalsuan yang tersimpan rapi dari dalam pancaran mata Olivia.
Dan Dimas yakin benar, meskipun Alexa kini menjadi Olivia yang cantik, sisa-sisa dari masa lalu Alexa tetap ada dalam diri Olivia.
Entah baik atau buruk, Dimas juga tidak bisa memprediksi hal itu. Tapi satu hal yang pasti, dimata Dimas, Olivia terlihat jelas sedang memainkan sebuah permainan yang akan berakhir ketika nanti ia sendiri sudah merasa bosan, dan korban pertama adalah seseorang yang duduk tepat di depan Olivia. Varo.