Mr. Bully

Mr. Bully
The Man Who Can't Be Moved - The Script



^^^Enam tahun kemudian….^^^


Bunyi denting pintu lift terdengar dan pintu terbuka, Varo keluar sembari mengebas-ngebas sepatu sedikit tidak sabaran dan melangkah menuju ruangannya.


“Pagi pak” sapa Indah, sekretaris Varo sopan.


Varo mengangguk singkat kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya. Papan nama kecil bertuliskan Alvaro Wijaya, Ravent CEO berdiri tegak menghias mejanya.


Pintu diketuk, Indah masuk membawa baki berisi kopi dan cemilan ringan untuk Varo. Sebuah kegiatan yang selalu ia lakukan selama empat tahun sejak Varo mendirikan Ravent, sebuah perusahaan startup di bidang teknologi yang menciptakan game dan berhasil menjadi perusahaan go public sejak dua tahun lalu.


“Bapak kurang tidur ya?” tanya Indah, Varo mengangguk menyesap kopi sembari memeriksa tumpukan laporan yang berada di bawah meja.


“Ndah, siang ini kamu minta ke Bambang buat nyerahin desain Death or live season dua. Saya mau lihat karakter baru yang dibuat tim desain”


“Udah ada pak. Di upload kemarin sama Pak Bambang” beritahu Indah. Varo membuka tabletnya kemudian mengecek sekilas semua hasil kerja tim desain.


“Indah, ini mirip kamu” kata Varo tiba-tiba menunjukan sebuah karakter wanita yang cukup nyeleneh. Baju daster, handuk di kepala, dan memegang sebuah senjata laras panjang.


Indah nyengir lebar kemudian buru-buru pamit keluar sebelum Varo semakin iseng untuk meledek dirinya, salah satu tingkah Varo yang sebenarnya cukup mengesalkan. Di depan karyawan lain Varo terlihat sangat kharismatik dan berwibawa, tapi di depan Indah cerewetnya bukan main. Apalagi kalau tiba-tiba menelpon Indah tengah malam hanya untuk meminta dipesankan tiket pesawat atau rapat dadakan. Varo seperti tidak mengerti perbedaan waktu kerja dan bukan waktu kerja, membuat Indah hampir setiap hari mengelus dada karena kelakuan bosnya itu.


“Indah, bos lu mana?”


Indah menoleh, Bima muncul dengan tampang kusut seperti tidak tidur berhari-hari.


“Ada di dalam pak. Bapak kurang tidur juga ya? Mau saya buatkan kopi?”


“Nggak usah Ndah, saya lagi diet kafein. Saya cuman ngantuk, biasalah begadang nonton piala dunia”


“Taruhan berapa-berapa pak?”


“Nggak banyak, cuman sertifikat rumah” jawab Bima kalem kemudian nyelonong masuk ke ruangan Varo.


Indah geleng-geleng. “Dasar kumpulan penjudi” gumamnya kemudian lanjut bekerja. Sekitar tiga puluh menit tenggelam dari balik layar laptop, wajah Indah mendongak ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Senyumnya langsung mengembang selebar mungkin begitu melihat Dimas datang.


“Indah, Varo ada?” tanya Dimas ramah.


Indah mengangguk. “Iya pak, lagi sama Pak Bima” jawabnya tak kalah ramah. Dari antara dua sahabat karib Varo, Dimas yang paling menarik perhatian Indah. Ganteng, tinggi, wangi, ramah, kaya, tipe idaman Indah banget.


“Oke, makasih”


“Pak. Bapak ikut nonton piala dunia?” panggil Indah menahan langkah Dimas.


“Iya. Kenapa?”


“Bapak taruhan juga?”


Dimas menggeleng dengan tawa kecil. “Saya nggak suka ikut taruhan-taruhan gitu. Mending duitnya dipake buat makan”


“Oh kirain” gumam Indah. Perasaannya meletup-letup bahagia, penilain dirinya pada Dimas naik satu poin.


“Kamu potong rambut ya?”


“Iya pak”


“Oh, cocok. Saya masuk dulu” puji Dimas lalu masuk ke dalam.


Indah bersorak pelan, senang dipuji Dimas. Sesekali ia berharap bosnya adalah Dimas, kalau seperti itu mungkin Indah akan lebih rajin pergi bekerja. Karena meskipun Varo cerewet, tapi lelaki itu cuek setengah mati. Mau Indah botak sekalipun, ia tidak peduli, yang penting pekerjaan selesai. Sedangkan Dimas, ia terlihat sangat memperhatikan perubahan-perubahan kecil pada orang sekitarnya, tanda bahwa ia adalah seseorang yang peduli.


Kalau sudah seperti itu, siapa yang tidak akan jatuh cinta?


Dan selanjutnya Indah buru-buru ke pantry membuat kopi, ia berharap setelah mengantar kopi Varo akan memanggil dirinya masuk, biar sesekali ia bisa curi pandang atau tebar pesona ke Dimas. Jodoh memang tidak ada yang tahu, tapi kalau usaha kan tidak ada salahnya, batin Indah senang.


...*****...


Dimas berdecak kagum ketika masuk dan mendapati Varo dan Bima sedang bermain monopoli dari tab masing-masing, ia bersiul-siul membuat perhatian dua orang itu tertuju pada dirinya.


“Pantas aja banyak orang mau kerja di Ravent. Lingkungan kerjanya kayak lagi di Tk Tadika Mesra” ujar Dimas duduk di sofa.


“Sorry, tadi macet di jalan. Ini gue nggak dikasih minum?”


“Kantor belum bayar air PAM, jadi lagi nggak ada air buat nyeduh teh” jawab Bima mematikan layar tablet. Dimas nyengir, tidak berapa lama kemudian pintu diketuk, Indah masuk membawa dua cangkir kopi dan teh untuk Dimas dan Bima.


“Ini tehnya lu isi apa Ndah? Kok rasanya aneh gini?” tanya Bima meringis ketika mengecap rasa tehnya.


“Itu teh ginseng pak. Untuk membantu tubuh melawan stres akibat tekanan pekerjaan” jawab Indah kalem kemudian melangkah keluar. Dimas dan Varo ketawa geli sementara Bima ngedumel.


“Mentang-mentang gue pernah ngeluh soal kerjaan di depan dia, seenaknya aja ngasih teh ginseng”


“Itu namanya dia perhatian Bim, jarang punya sekertaris peka gitu” kekeh Varo geli.


“Lah, Indah kan sekertaris lu bukan gue. Dia pekanya sama lu aja, jangan sama gue” jawab Bima akhirnya terus menyesap teh ginsengnya sampai habis.


“Gue dengar desa-desu, lu mau rilis game baru. Bener?” tanya Dimas membuka percakapan, Varo mengangguk singkat. “Death or Life gimana?”


“Death or Life masuk season dua. Game baru bakal dirilis setelah season dua Death or Life rilis”


“Masih lama dong?”


“Iya, cuman gue udah nargetin promosi iklan dari sekarang” jelas Varo. “Game gue kali ini jauh dari genre action, perusahaan gue kerja sama dengan salah satu perusahaan grup musik terkenal”


“Jangan bilang lu mau buat game, main musik pake jari. Udah basi itu, lu buat pake jari kaki aja”


“Enggak, lebih dari itu. Game gue unik, nggak pernah ada di pasaran.” Ujung bibir kanan Varo terangkat naik menampilkan senyum angkuh. “Target gue kali ini adalah fans dari grup musik ini. Beritanya bakal muncul dua hari lagi”


“Ini pertama kalinya lu buat game keluar dari genre lu kan? Lu gila” geleng Dimas tapi ada kekaguman dari suaranya.


Varo terlihat senang, obsesinya untuk menyibukan diri membuat banyak ide terlintas dalam benaknya. Beberapa waktu lalu ia nekat membuat game action bernama mini survival. Game yang menggabungkan konsep simulasi kehidupan dan survival action, dengan karakter yang bisa dibuat sesuka hati dan juga memiliki kehidupan sendiri. Sejak rilis, mini survival berhasil berada di urutan kedua untuk urutan game paling diminati. Kesuksesan ini membuat Varo nekat melakukan ekspansi besar-besaran, ia bahkan membangun toko merchandise untuk game-game yang berada di bawah kepemilikan Ravent.


“Pantes… gue lihat-lihat saham perusahaan lu mulai naik karena desa-desu ini. Baru desa-desu aja udah tinggi, gimana pas udah rilis? Bisa mandi duit lu”


“Karena gue mandi duit. Lu mau pindah kesini nggak? Jangan nolak lah, lu teman gue, masa sih lu gitu sama teman sendiri. Kan angka gaji lu juga bukan di angka teman, tapi setara dengan kemampuan lu untuk mengurus keuangan perusahaan” tawar Varo.


“Gue pikir-pikir dulu deh, tapi setelah gue balik dari Paris” angguk Dimas membuat Varo tersenyum senang, setidaknya Dimas tidak langsung menolak. Merayu Dimas untuk pindah ke perusahaannya sulit bukan main, mereka bersahabat cukup lama tapi Dimas cukup loyal dengan tempatnya bekerja. Meskipun tawaran yang diberikan cukup besar, tapi kalau tidak sreg bagi Dimas maka tidak akan diambil.


“Lu ngapain mau ke Paris? Ketemu Gisela? Ya elah, baru juga ketemu kemarin” tanya Bima. Gisela, pacar Dimas, seorang wanita Bandung-Perancis yang sudah menjalani hubungan empat tahun dengan lelaki itu. Meskipun LDR, tapi kali ini Dimas serius. Ia sering menghabiskan waktu cutinya untuk menemui Helena di Paris.


“Gue mau nikah”


“Ooh. HAH?!” Bima histeris sementara Varo tersedak kopi.


“Nikah? Kok tiba-tiba? Lu hamilin Gisela ya?”


“Mulut lu Bim, rekatin pake lem tikus biar nggak ngomong sembarangan” ketus Dimas.


“Ya habis lu tiba-tiba mau nikah” kekeh Bima.


“Gue udah rencana mau nikah dari tahun lalu kok, cuman gue nunggu Gisela selesai kuliah S2 dulu”


“Orang tuanya udah tau?”


“Udah. Gue kesana buat acara lamaran, tapi nikahan gue di Bandung. Neneknya Gisela mau disana. Gue sih hayuk-hayuk aja, yang penting nikah” jelas Dimas. Kedua temannya senyum-senyum sendiri, tidak bisa membayangkan Dimas akan menjadi yang pertama melepas masa lajang.


“Selamat ya Dim, semoga acara lamaran lu lancar. Kalo butuh apa-apa bilang aja” ujar Varo.


“Iya Dim selamat, semoga lu bahagia. Meskipun gue tau akan ada yang patah hati” tambah Bima melirik ke luar ruangan dari dinding kaca lalu tertawa geli. “Ah, kalo kayak gini gue jadi pengen ngelamar Lia juga” lanjut Bima menyebut nama pacarnya, wajahnya kemudian berpaling pada Varo dengan senyum tengil. “Tinggal lu aja nih”


“Apa?”


“Lu nggak ada rencana apa gitu? Nyari pasangan gitu? Mau sampai kapan lu biarin singgasana untuk gelar Nyonya Ravent kosong?”


Varo diam, pura-pura menyesap kopi yang tersisa ampas. Itu lebih baik dibanding menjawab pertanyaan Bima yang sebenarnya ia sendiri sudah tahu jawabannya.


“Udah enam tahun nih! Dunia aja bisa move on dari perang dunia, masa lu nggak bisa move on dari masa lalu?” tawa Bima geli menatap ekspresi jutek Varo.