Mr. Bully

Mr. Bully
Memories - Maroon 5



Pukul tujuh sore, Varo dan Olivia masih berada di area malioboro. Sepanjang siang keduanya menyusuri jalanan Jogja, singgah di salah satu tempat makan, atau sekedar duduk di angkringan pinggir jalan sambil menunggu mendung kembali berubah cerah.


“Bima paling takut ketemu sama yang begituan” tunjuk Varo pada segerombolan kuntilanak, pocong, dan sebangsa jin yang sedang foto-foto bersama wisatawan.


“Penakut ya dia?”


“Iya, dulu waktu kecil dia pernah diajak main trampolin sama jin, makanya jadi trauma” cerita Varo menahan senyum. Pengalaman spiritual Bima memang adalah cerita paling random yang pernah ia dengar.


Olivia melemparkan tatapan tertarik. “Jadi loncat-loncat berdua gitu?”


“Iya, tapi kata Bima jinnya ada tujuh”


“Kayak boyband” celetuk Olivia heran. “Kamu sama Bima deket banget?”


“Bima itu kayak belahan jiwa aku” jawab Varo sok puitis. Olivia tertawa geli mendengar cerita cowok itu mengenai pertemuannya dengan Bima di awal-awal kuliah dulu.


Putra Sadewa Kaindra, sering dipanggil PSK atau Bima oleh teman-temannya adalah cowok bertubuh gempal dengan wajah unyu. Bima adalah teman pertama Varo dibangku kuliah yang merangkap sebagai penasehat spiritual Varo, Dimas, dan teman-teman lain apabila merasa terguncang akibat tumpukan tugas kuliah. Bahkan meskipun kuliahnya sendiri berantakan, tapi petuah bijak selalu keluar dari bibir Bima setiap melihat teman-temannya mulai ingin DO mandiri dari kampus.


Awal pertemuan terjadi ketika hari kedua ospek Varo terlambat dan dihukum jalan jongkok bersama Bima serta beberapa anak lain dari gerbang depan kampus.


‘Mau nggak?’ tawar Bima menyodorkan segelas ale-ale dan roti tawar ketika mereka baru selesai sit up dua puluh kali dekat koridor utama kampus.


Lagi dihukum kok malah buka bekal, gumam Varo melemparkan tatapan heran.


Awalnya Varo ingin menolak, tetapi senyum lebar Bima membuat Varo merasa tidak enak hati dan terpaksa mengambil apa yang ditawarkan cowok itu.


‘Gue Bima dari SMA garuda’


‘Varo, SMA merah putih’


‘Wow’ seru Bima takjub seakan Varo berasal dari planet lain. ‘Gue dengar rumor anak SMA merah putih itu cakep-cakep dan ternyata benar ya, lu cakep.’


Varo langsung tersedak ale-alenya sendiri sementara Bima masih terus mengoceh, tidak menyadari bahwa mungkin saja ada yang salah dengan perkataannya. Dari situ Varo bisa menyimpulkan bahwa Bima termasuk ke dalam jajaran anak yang paling Varo benci untuk dijadikan teman; polos dan cerewet.


Kemudian entah bagaimana, tapi mendadak tubuh Varo seakan timbul medan magnet dan Bima mendadak menjadi besi, keduanya sering terlihat bersama. Kemanapun Varo pergi, disitu pasti ada Bima selalu setia menemani.


Ketika kegiatan ospek selesai Varo berpikir akan terlepas dari bayang-bayang Bima, tapi sayang takdir berkata lain. Mereka sekos, dan tentu saja sejak saat itu sampai batas waktu yang tidak ditentukan, Bima adalah soulmate Varo. Agak jijik sih kelihatannya, tapi memang itu yang terlihat. Dimana ada Varo, disitu ada Bima.


Varo juga semakin yakin kalau Bima si manusia sableng memang ditakdirkan untuk menjadi temannya, ketika pada suatu hari Bima mengeluh ke anak-anak kos buaya kalau pantatnya sakit.


‘Kayaknya gue ambeien deh’ keluh Bima berbaring tengkurap. 


Anak-anak kos buaya spontan mendadak menjadi dokter dadakan. Bima dikasih obat ambeien, pantatnya dipijat pakai minyak tawon, sabun cuci pakaian diganti dengan yang lebih mahal, dan bahkan pantatnya diasepin pakai dupa takut ternyata ketindihan kuntilanak.


'Wah susah nih kalo kayak gini. Udah penyakit akut nih' ujar Bara sok tau. 'Varo coba deh, lu yang mikirin solusinya. Lu kan jago kalo disuruh mikir yang enggak-enggak'


'Sial!'


Untungnya Varo yang rada kasihan melihat Bima dikerjain anak kosan buru-buru berinisiatif membawa cowok itu ke dokter spesialis kulit dan kelamin.


“Terus apa kata dokter? Ambeiennya udah parah?” tanya Olivia penasaran.


Varo menggeleng. “Bukan ambeien, pantat Bima sebenarnya mau tumbuh bisul.”


Spontan Olivia tertawa ngakak, sampai menarik perhatian beberapa orang padanya. Ia buru-buru membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara keras, dan sebagai ganti air matanya meleleh ke pipi.


“Jangan nangis, aku nggak lagi cerita sedih” ujar Varo riang melihat tawa Olivia.


“Itu sumpah lucu banget. Kayaknya sekarang aku kalo ngeliat Bima bakalan ketawa deh”


“Tapi jangan bilang kalo aku yang cerita, ntar dia ngambek.”


Jari tangan Olivia terangkat naik membentuk bulatan sebagai tanda oke, tapi tawanya tak kunjung berhenti. Olivia tidak bisa membayangkan betapa menderitanya Bima setelah itu harus tidur tengkurap sampai bisulnya sembuh.


Varo mengecek jam tangan, mereka harus kembali sekarang atau akan sampai tengah malam.


“Balik yuk” ajak Varo. Olivia mengangguk memperbaiki letak tasnya.


Mereka berjalan menyusuri ramainya orang yang berlalu lalang. Malioboro selalu ramai, apalagi kalau malam, rasanya seperti seluruh warga Jogja sedang berkumpul di tempat itu. Berkali-kali Varo menyelinap sembari mencoba menghindar agar tidak menabrak pejalan kaki lainnya. Bahkan Varo menahan diri untuk tidak mengumpat ketika beberapa kelompok anak muda sedang berfoto ria di tengah trotoar.


Sudah tau lagi rame malah foto-foto ditengah, dengus Varo.


Untungnya Varo bisa menarik nafas lega ketika langkah kakinya sudah mendekati area parkir mobil, wajahnya lantas berpaling dan deg! Olivia tidak ada disitu. Cewek itu menghilang tanpa jejak, membuat ekspresi Varo berubah panik.


Jadi dari tadi ia berjalan sendiri?


Tanpa pikir panjang Varo langsung balik badan melangkahkan kaki kembali bergabung di antara keramaian tadi. Matanya menatap kesana kemari dengan ekspresi cemas luar biasa. Kalau sampai hilang bisa bahaya, apalagi tempat itu sedang ramai-ramainya.


Kaki Varo melangkah dua kali lebih cepat menyusuri ulang tempat yang mereka kunjungi tadi, dan sialnya tidak ada sosok Olivia berdiri atau berjalan diantara kerumunan orang banyak.


Dalam hati Varo berharap Olivia hanya sedang iseng mengerjainya dan akan keluar dari persembunyiannya sambil tertawa lebar. Varo berjanji tidak akan marah, sungguh, karena itu lebih baik dibandingkan sekarang ketika ia terlihat jelas kebingungan sambil berusaha keras mengendalikan dirinya agar tidak semakin panik ketika mencari Olivia.


Langkah demi langkah Varo lewati sampai hampir berada di ujung perempatan malioboro. Kedua tangannya bergerak mengacak rambutnya sendiri. Olivia tidak berada dimanapun, bahkan tidak ada diantara barisan setan-setan yang sedang sibuk berfoto bersama wisatawan.


Dan tanpa terasa kaki Varo melangkah mendekati titik nol kilometer malioboro. Ia merasa sangat putus asa.


Tapi mendadak ekspresi cemas sekaligus rasa paniknya meredah begitu melihat sosok Olivia sedang duduk sendiri di salah satu kursi sambil mengenakan jaket Varo yang terlihat kebesaran di badannya.


“Olivia! Kok kamu disini?” panggil Varo. Ekspresinya terlihat sangat marah, bukan karena Olivia duduk sendirian disitu, tapi karena Varo tahu ia akan menyalahkan dirinya habis-habisan apabila terjadi sesuatu kepada cewek itu.


Wajah Olivia terangkat, tapi bukannya merasa bersalah ia justru tersenyum manis. “Aku mau nelpon kamu, cuman ternyata aku nggak ada nomor kamu.”


Varo menarik napas panjang mencoba membuang amarahnya menjauh. Ia berjongkok tepat di depan Olivia dan mengangkat wajahnya menatap cewek itu. Umur Varo terasa sudah dipotong malaikat maut lima tahun lebih cepat.


“Tadi waktu jalan sandal aku putus, aku manggil kamu tapi kamu nggak denger. Aku mau nyusul cuman badan aku nggak bisa nyelip, jadi aku ketinggalan” jelas Olivia pelan. “Aku akhirnya beli sandal baru dan duduk disini, karena aku tau kamu pasti bakal balik nyari aku.”


“Maaf” lanjut Olivia berbisik pelan, wajahnya tertunduk menatap ke arah lantai nol kilometer.


Varo hanya bisa melirik sandal kuning Olivia dengan perasaan berkecamuk, ia ingin marah tapi entah mengapa amarahnya malah perlahan menghilang jauh.


“Aku tadi cuman takut aku terlambat sadar kamu nggak ada dan kamu kenapa-napa” kata Varo serius, tangannya tanpa sadar mengelus pelan rambut Olivia membuat wajah cewek itu mendongak menatapnya. “Lain kali jangan diulang, aku bisa gila kalo tadi nggak ketemu kamu.”


Kepala Olivia mengangguk dan bibirnya tersenyum kecil. “Aku sebenarnya mau nungguin kamu di tempat setan-setan tadi. Tapi aku pikir kamu pasti nggak bakalan ngeliat aku karena disitu terlalu ramai”


“Dan kamu milih duduk disini? Ini kan ramai juga”


“Tapi ini titik awal, aku yakin kalo kamu nggak ketemu aku sepanjang perjalanan kamu kesini, kamu pasti bakalan ketemu aku di titik awal” jawab Olivia terdengar lugu.


Varo tertegun, sorot matanya berubah lembut ketika mendengar perkataan itu, sesaat kemudian tangannya terulur ke arah Olivia. “Ayuk, biar kamu nggak hilang lagi.”


Tanpa ragu Olivia meraih tangan Varo, kali ini mereka berjalan bersama menyusuri keramaian, dan Varo sendiri tidak melepaskan genggamannya, bahkan ketika mereka sudah menjauh dari ramainya pejalan kaki. Varo hanya tidak ingin melewatkan momen itu.


...*****...


Pukul dua siang di hari minggu Varo sedang tertidur pulas dan Bima tanpa  sopan santun mengguncang-guncang tubuh cowok itu sampai terbangun dari tidurnya. Ia tanpa rasa bersalah memerciki wajah Varo dengan air dari vas bunga, membuat Varo mengumpat kasar tidak senang tidurnya diganggu.


“Apa sih Bim? Gue masih ngantuk!” bentak Varo jengkel dan semakin bertambah jengkel begitu melihat Bima bertelanjang dada berdiri di depannya, lengkap dengan pelampung melingkar di pinggang.


“Ayo berenang, mumpung kolam renang lagi sepi”


“Nggak, gue mau tidur” tolak Varo ketus, semalam sekitar jam setengah dua belas malam ia baru sampai di penginapan, belum lagi harus membantu Olivia memindahkan semua barang belanjaan ke kafe.


“Yaudah deh kalo lu nggak mau” angguk Bima tidak seperti biasa memaksa. “Wah sayang banget padahal ada Olivia” gumamnya sengaja agak keras lalu pergi keluar.


Mata Varo spontan terbuka lebar. Ada Olivia? Tubuhnya mendadak berenergi langsung melompat turun, buru-buru mencuci muka, dan melangkah keluar mencari Bima.


Varo terlonjak kaget karena ternyata Bima menunggunya di luar.


“Lu nipu gue ya?” dengus Varo jengkel. Semangatnya langsung merosot jauh hendak kembali ke kamar, tapi tangannya dicengkram Bima kuat-kuat.


“Nggak sepenuhnya nipu. Ada Sera di bawah, kata dia Olivia entar nyusul sehabis buat kue sama Kak Nabila.”


Varo berdecak, mau tidak mau akhirnya ikut ke kolam renang. Tapi begitu melihat matahari bersinar terik tepat di atas kepala, Varo langsung mengurungkan niatnya untuk menyentuh air kolam. Ia lebih memilih duduk di bawah payung sebelah Johan, sementara Bima dan Dimas sudah berenang kesana kemari.


Kedua orang itu memang paling tidak tahan setiap kali melihat genangan air, bawaannya pengen berenang. Mungkin dulu waktu mamanya hamil kebanyakan ngidam bebek peking.


“Lu nggak renang?” tanya Varo basa-basi. Johan menggeleng menyedot pelan es tehnya.


“Panas, ntar kulit gue makin kebakar” jawab Johan singkat.


Mereka kemudian terdiam sama-sama memperhatikan Sera yang baru muncul dan bergabung ke dalam kolam renang. Kening Varo berkerut dengan ekspresi ngantuk, ia tidak melakukan apa-apa, tapi melihat Bima dan Dimas berenang membuat tubuhnya terasa capek. Lagi pula kok bisa ada orang betah berenang siang bolong seperti Bima dan Dimas? Dasar orang-orang aneh.


“Lu semalam baru balik jam dua belas ya?” tanya Johan.


“Iya”


“Pergi kemana aja kalian?”


“Nongkrong di Malioboro”


“Berisik nggak Olivia?”


“Enggak sih. Emang dia berisik kalo sama lu?” tanya Varo agak penasaran. Johan mengangguk.


“Sesekali pengen gue lakban mulutnya.”


Varo ketawa geli. “Kalian deket banget?”


“Iya dari kecil main bareng. Makanya gue sedikit terlatih buat ngadepin dia, tiap kali dia mulai ngedumel, gue langsung putar lagu death metal, biar dia diem. Kalah berisik soalnya”


“Gue simpen cara lu” tawa Varo. “Tapi dari kemarin dia nggak seberisik yang lu deskripsikan sih”


“Dia mah gitu kalo lagi tertarik sama orang. Suka jaga image” jawab Johan santai lalu tertawa geli ketika Bima hampir tenggelam karena Dimas iseng mengambil paksa pelampungnya.


Varo mendadak diam karena perkataan Johan barusan seakan menjadi kode bahwa Olivia memiliki rasa tertarik pada dirinya. Tapi sekali lagi dengan cepat Varo menghempas pemikiran itu jauh-jauh.


“Intinya, lu jangan sampai jatuh cinta sama Olivia” tawa Johan terkekeh geli.


“Kenapa? Lu suka sama Olivia?”


Johan menggeleng masih dengan tawa geli. “Gue ada cewek. Lu ada cewek juga kan?”


Ditembak dengan pertanyaan to the point begitu membuat Varo salah tingkah. Ia terlihat ragu menjawab tapi Johan malah tersenyum geli, ekspresinya santai seakan pertanyaan barusan hanya sekedar angin lalu.


“Gue nggak bakalan ikut campur, karena itu hubungan lu berdua. Cuman Olivia sahabat gue, dia rada keras kepala sih, jadi gue cuman bisa bilang ke elu. Hati-hati” ujar Johan setengah berbisik.


“Itu yang mau lu bilang?”


Johan mengangguk. “Hati-hati jangan sampai lu patah hati.”


Varo memaksakan diri untuk tersenyum, padahal harga dirinya sedikit tercoreng mendengar nasehat Johan yang terdengar kekanakan di telinganya.


“Lu masih main basket?”


“Enggak. Gue berhenti pas masuk kuliah”


“Gara-gara cedera bahu waktu itu?”


“Enggak, cuman pengen berhenti aja”


“Dulu gue sama Oliva taruhan, kalo lu nggak jadi kapten basket lagi, tim sekolah kita pasti kalah”


“Dan taunya beberapa bulan kemudian gue sembuh” balas Varo mengingat cerita Olivia di club saat pertama kali mereka bertemu. “Olivia udah cerita”


“Olivia berharap banget lu sembuh, sedangkan gue berharap bahu lu patah sampai satu semester.”


Varo mendengus sementara Johan angkat bahu. “Taruhannya seratus ribu, untuk anak SMA kayak gue, seratus ribu itu gede” kata Johan kalem. “Tapi ya tetap aja gue kalah taruhan”


“Thanks to Olivia dan harapan baiknya” balas Varo sarkas. “Tapi, gue rasa Olivia tau banyak tentang gue”


“Pastilah. Lu kan punya reputasi jelek waktu SMA” canda Johan sambil tertawa. Varo memaksakan diri untuk ikut tertawa, meskipun sebenarnya terdengar kaku.


“Emang siapa sih anak yang nggak tau Alvaro, kapten basket SMA merah putih?” tambah Johan membuat Varo diam.


Meskipun itu adalah sebuah candaan, tapi Varo tidak akan membela diri dengan melempar candaan lain. Bagi Varo, masa SMAnya adalah masa yang paling kelam dari hidupnya, dan menjadi akar dari semua penjelasan mengapa ia tumbuh menjadi seorang yang dingin.


“Di SMA dulu lu ekstrakulikuler apa?” tanya Varo mencoba mengganti topik pembicaraan.


“Gue dulu ekskul fisika” jawab Johan. “Cuman pas kuliah masuk manajemen bisnis. Bokap gue mau gue nerusin perusahaan dia.”


Varo mendengus, membuat Johan berpaling. “Lu juga?”


“Pengen gue bakar perusahaan bokap” gumam Varo.


“Sama. Gue anak kedua. Terus gue pikir cuman kakak cewek gue yang ngurus masalah perusahaan, taunya gue yang kena. Karena gue anak cowok. Bokap gue masih menganut sistem; cowok adalah pemimpin”


“Bokap lu gila” kata Varo jujur.


“Emang. Gue bahkan hampir dijodohin sama Olivia. Untung tantenya Olivia nggak berpikiran sempit. Jadi Olivis dibawa pindah ke Inggris”


“Gue kira Olivia pindah karena orang tuanya meninggal?” balas Varo bingung.


Johan mengangguk. “Itu alasan utama”


“Orang tua Olivia meninggal karena apa?”


“Kecelakaan” jawab Johan, ekspresinya berubah dua kali lebih serius. “Lu inget kecelakaan beruntun di daerah senopati, sampai heboh jadi pembicaraan kita pas SMA dulu?”


“Inget. Gara-gara lampu jalan roboh kan?”


Johan mengangguk. “Orang tua Olivia korban. Olivia juga, cuman dia selamat. Dia sempat koma seminggu dan setelah itu dibawa ke Inggris buat pengobatan, Olivia sekarang tinggal sama tantenya. Ibu tunggal.”


Varo tercengang, tidak menyangka sedetail itu kisah hidup Olivia yang tragis.


“Setiap kali Olivia naik mobil, dia suka nurunin jendela kaca dan ngeluarin tangannya sebentar”


“Gue tau. Kemarin dia sempat ngelakuin itu. Dia suka kena angin ya?”


“Enggak, bukan karena itu. Olivia punya trauma naik mobil. tapi sekarang udah agak membaik, cuman dia jadi punya kebiasaan buat nurunin kaca dan ngeluarin tangan sebentar. Karena itu bisa buat dia nyaman dan aman” jelas Johan. “Lu tau nggak kenapa pas kecelakaan, Olivia bisa selamat?”


Varo menggeleng, ia tahu berita kecelakaan itu selalu menjadi topik yang dibicarakan saat itu karena penyebabnya adalah robohnya lampu jalan, membuat banyak orang khawatir apabila situasi yang sama terjadi lagi. Tapi Varo tidak pernah tahu ada korban selamat dari kecelakaan itu.


“Saat itu Olivia buka jendela mobil dan ketika mobil kebalik, dia bisa merangkak keluar. Cuman ya itu, orang tuanya kebakar tepat di depan matanya.”


Hening.


“Kenapa lu cerita ini semua ke gue?” tanya Varo agak bingung harus memberikan tanggapan seperti apa atas cerita itu.


“Karena gue lihat, lu tertarik sama Olivia…..Apa gue salah?” tanya Johan sukses membuat Varo terdiam tanpa suara.