Mr. Bully

Mr. Bully
Back to You - Selena Gomez



Varo melempar jasnya ke sofa, ia membaca sekilas email dari Indah tentang jadwal audit laporan keuangan oleh audit eksternal. Menurut Indah ada pergantian tim audit dari tahun kemarin dan Varo hanya membalas 'noted: sembari membuka kancing baju. Toh urusan audit akan ditangani bagian finance, Varo hanya perlu hasil akhirnya saja.


Ponsel Varo bergetar, Amirah mengirimkan rentetan foto. Foto Amirah, Sebastian, dan Kinasih sedang menghabiskan waktu di Belanda, tidak lupa foto Sean dan Ana.


Setelah membalas pesan itu Varo menaruh ponselnya.


Dalam suasana sepi ini Varo kembali teringat perkataan Bima, sudah enam tahun tapi hatinya masih belum bisa dimiliki oleh siapapun.


Selama ini banyak wanita datang silih berganti, tapi tidak ada satupun yang benar-benar bertahan lama. Kesenangan yang muncul dalam dadanya hanya sementara, karena setelah itu Varo kembali merasa sepi. Ia tidak pernah merasa bahagia dengan semua hubungan yang pernah dijalaninya selama enam tahun ini.


Wanita cantik, seksi, pintar, anak keluarga konglomerat, atau bahkan wanita mandiri. Tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar bisa mengambil hati Varo. Semua hanya membawa kesenangan semu dan dalam sekejap berakhir menciptakan hampa luar biasa dalam dada Varo.


Varo merasa frustasi, ia ingin merasakan letupan bahagia sama seperti saat bersama Olivia dulu. Hari dimana Varo dengan bebas mencurahkan isi hatinya, tertawa, dan menangis di pelukan Olivia.


Varo bangkit menarik laci meja mengambil buku sketsa. Buku dari sang pemilik yang tidak pernah kembali. Kemanapun Varo mencari, tidak ada satupun jejak dari Olivia. Seakan ia benar-benar hilang ditelan bumi.


Varo mengambil pena kemudian menulis di halaman akhir, tepat di bawah tulisan ‘sleep well’ milik Olivia.


Feels like home but you just be something that I'll never have.


...*****...


Pukul sebelas siang Varo baru terjaga dari tidur ketika mendengar suara gedoran di luar pintu kamar. Varo meringis, melirik ke arah jam weker. Mbok Yati tidak akan berani membangunkan Varo sebrutal itu, apalagi ini sudah hampir menjelang siang, tugasnya membangunkan Varo hanya ketika Varo berpesan untuk dibangunkan karena ada rapat penting.


“Siapa sih?” gumam Varo kesal melangkah turun dari kasur. Wajahnya langsung tertekuk begitu melihat raut wajah Bima tersenyum sumringah tanpa rasa bersalah.


“Makan yuk. Lu nggak mau mati dalam tidur kan?” ajak Bima. Varo berdecak, ia ingin  lanjut tidur tapi Bima tanpa sungkan menarik tangannya.


Varo menepis tangan Bima dan melangkah menuju ruang makan. Berbagai jenis makanan tersedia di atas meja, membuat siapapun berpikir sedang ada hajatan di ruangan itu.


“Ini lu semua yang masak?”


“Enggak. Mbok Yati yang masak. Gue cuman bagian request menu dan bangunin lu doang. Gue udah keren kayak gini masa mau bau bawang.”


Varo menatap Bima seksama dari atas sampai bawah. Rambut lelaki itu dipangkas, baju disetrika, dan sepatunya hitam licin. Sebuah penampilan yang hanya bisa dilihat sebulan sekali. Senyum Bima juga mengembang lebar, tidak seperti hari-hari biasa lelaki itu mendadak cekatan mengambil makanan untuk Varo.


“Kenapa lu?” Kening Varo berkerut, kalau tingkah Bima kayak begini, pasti ada maunya.


“Enggak papa. Kangen aja merhatiin lu” jawab Bima kalem menarik kursi dan duduk tenang.


Keduanya makan dalam diam, sampai kemudian ketika selesai makan Varo memaksa Bima untuk mengaku. Ia benar-benar tidak tahan dengan sikap manis Bima, rasanya seperti sedang berada di tengah ranjau.


“Udah lu ngomong aja. Mau apa lu?” tanya Varo. Bima bersiul-siul pelan neyodirkan segelas air.


“Duduk dulu. Nggak enak nih kalo ngomong sambil berdiri. Kesannya nggak sopan”


“Lu mau apa? Gue tanya sampai lima kali lu nggak jawab, lu keluar sekarang” ancam Varo.


“Iye, iye. Gue jawab nih. Sensian amat bapaknya, banyak masalah?” jawab Bima cengengesan. “Gue mau minta cuti sebulan.”


Mata Varo langsung menatap Bima tajam. “Dan lu mau gaji lu tetap full?”


Bima tertawa. “Setengah juga nggak papa. Ya? Ya? Kali ini aja, gue ada urusan penting. Bulan depan gue bakal jadi karyawan paling rajin. Kalo perlu gelar Andang sebagai karyawan terbaik bakal gue ambil”


“Lu ada urusan apa?”


“Itu….Mau urusan nikah. Cewek gue lagi isi, makanya kudu gue nikahin cepat-cepat” jelas Bima sukses membuat Varo tercekat, lalu tertawa terbahak-bahak.


“Bim, Bim, tampang lu aja yang alim. Tapi junior lu brutal”


“Tapi gue bertanggung jawab, mental gue udah siap untuk berumah tangga, finansial gue udah matang. Gue bahkan berencana setelah nikah Lia nggak usah lagi ngurus kafe. Tugasnya singkat, menerima dan memberikan cinta untuk gue. Sisanya rebahan tiap hari, suaminya udah kaya”


“Gue kasihan. Lia cantik, pinter. Kok mau terjebak hidup sama lu” ejek Varo nyengir lebar. Bima mendengus, tapi tidak membalas, nasib cutinya kini berada di tangan Varo.


“Jadi gimana?” kejar Bima tidak sabaran.


“Ya. Sana cuti. Nikah. Tapi nggak boleh lebih”


“Lu emang teman dan bos terbaik.” Bima mengangkat kedua jempolnya senang. “Nah sekarang lu mandi. Hari ini gue yang supirin lu sampai kantor.


Varo berdiri dari kursi dan masuk kamar. Sekitar tiga puluh menit ia keluar, sudah berpakaian lengkap.


“Ganteng banget sih” puji Bima.


“Mending lu tutup mulut lu rapat-rapat, sebelum gue berubah pikiran tentang cuti lu” kata Varo. Keduanya turun ke basement menuju mobil hitam milik Bima.


“Lia udah berapa bulan?” tanya Varo ketika mobil perlahan melaju pergi.


“Mau dua bulan. Ketahuannya kemarin. Pantas aja akhir-akhir ini dia sering mual-mual, mana makin sering sensian lagi”


“Lu harus extra sabar. Kakak gue waktu hamil kemarin, benci banget ngeliat muka suaminya tiap bangun pagi”


“Aduh jangan sampe deh. Gue bisa gila kalo Lia nggak mau ngeliat gue” balas Bima geleng-geleng menolak. “Ngomong-ngomong hari ini udah masuk masa audit ya? Kemarin Bram bolak-balik ngurus ruangan sama akses buat auditor yang mau datang”


“Iya. Gue mau ngecek juga. Katanya timnya beda dari tahun lalu”


“Engagement manager nya masih sama?”


“Masih. Ms. Ryu, cuman lagi balik ke Jepang. Tapi kata Arya bulan depan balik Indonesia”


“Tahun depan masih mau diaudit KAPnya Arya? Apa mau pindah ke big four?”


“Pindah. Bang Rava nyaranin buat pindah, jadi gue ikut. Paling setelah beberapa tahun gue balik lagi ke Arya”


“Abang lu masih sering mantau ya?”


“Pantes nurut banget kayak balita. Ternyata ada maunya” tawa Bima. Sekitar setengah jam mobil mereka masuk ke parkiran basement Ravent. “Pas jam dua, nggak telat-telat banget lah. Kan gue nemenin bos”


“Sampai karyawan lain niru kelakuan lu. Gue kick lu dari kantor. Persetan dengan pertemanan”


“Kan hari ini doang. Soalnya urgent kudu minta ijin cuti langsung dari bos besar” bela Bima menekan tombol lift.


Pintu lift berdenting, keduanya melangkah menyusuri koridor ruang accounting yang cukup berwarna-warni dengan hiasan patung karakter game mini survival. Tampak Bram, seorang staff baru accounting keluar dari ruang fotokopi dekat dispenser dengan satu helaan nafas panjang.


“Pagi pak” sapa Bram salah tingkah ketika melihat Varo dan Bima datang bersamaan.


“Muka kamu kenapa? Gimana udah nyesal jadi karyawan tetap?” goda Bima iseng.


Bram hanya nyengir lebar kemudian buru-buru melangkah pergi, bercanda dengan Bima memang asik, tapi kalau bercanda di depan Varo beda cerita. Dari pada Bram salah kata dan berakhir di kick dari perusahaan, mending ia langsung pergi. Karena meskipun bekerja sebagai akuntan di Ravent cukup membuat tekanan mental, tapi untuk ukuran gaji jauh diatas standar UMR, apalagi Bram termasuk beruntung karena diangkat menjadi karyawan tetap tepat setelah dua bulan magang.


“Bolak-balik mulu macam setrikaan”


“Saya lupa ngambil printan daftar sampel yang diminta pak” jawab Bram ketika berlari kembali ke ruang fotokopi.


“Pagi pak” sapa Indah keluar dari ruang accounting dengan setumpuk odner. “Tumben pak agak siangan. Biasanya subuh udah di kantor”


“Itu bukan datang subuh Indah. Tapi bos kamu ini memang nginap di kantor” jawab Bima.


“Bagus ya posternya” kata Varo malah lebih fokus melihat poster yang tertempel di luar ruang fotokopi. Poster game mini survival untuk mempromosikan merchandise terbaru, hasil kolaborasi dengan salah satu brand fashion terkenal.


“Kayaknya toko kita harus buka cabang” gumam Varo. Senyum Bima langsung menghilang, buka cabang berarti pekerjaannya akan bertambah.


“Saya setuju pak” dukung Indah. “Buka cabang di daerah pasar minggu aja pak”


“Jauh banget”


“Rumah saya di daerah situ pak, siapa tau bapak mau mindahin saya buat ngurus kantor cabang”


“Ndah, kalo masalah itu, kamu sampai mati bakal di samping Varo” tawa Bima geli. “Tapi kamu masih tinggal di pasar minggu? Bukannya udah pindah?”


“Enggak jadi pak. Saya kemarin habis banyak buat kuliah adik saya. Saya permisi duluan pak, mau masukin berkas” jelas Indah kemudian melangkah pergi.


Bima langsung menyikut Varo pelan. “Kode tuh, cariin apartemen gih. Susah dapat sekertaris setia kayak Indah”


“Lu yang urus”


“Oke. Tapi ijin cuti gue tanda tangan hari ini ya.”


Varo mengangguk, Bima buru-buru mengeluarkan ponsel menghubungi salah satu temannya pemilik gedung apartemen di dekat area Ravent.


“Permisi Pak, Pak Bramnya kemana ya?”


Suara lembut seseorang dari belakang membuat Varo dan Bima balik badan. Keduanya spontan membeku dengan tatapan membulat terkejut begitu melihat siapa pemilik suara yang berdiri di belakang mereka.


Seorang wanita berambut pendek sebahu berpenampilan formal lengkap dengan sebuah ID card bertuliskan ‘Alexandria Charmel.’ Matanya juga ikut membulat, terlihat sama terkejutnya seperti Varo dan Bima. Ketiganya sama-sama memberikan kesan bahwa mereka sedang melihat setan di siang bolong.


“Olivia…” panggil Varo tidak percaya.


Tidak salah lagi, wanita yang ia lihat sekarang adalah Olivia. Sosok yang ia cari selama enam tahun, kini berdiri di depannya. Sebuah perubahaan mencolok terlihat dari Olivia, potongan rambutnya pendek sebahu, membuatnya terlihat jauh lebih dewasa, seakan sosok lama dari diri Olivia telah mati. Namun tetap saja, pandangan matanya membuat perasaan Varo kembali terombang-ambing.


“Mbak Charmel udah selesai?” Bram muncul memecah keheningan diantara ketiga orang itu. Olivia berpaling memaksakan diri untuk tersenyum.


“Saya boleh minta akses email ke mesin fotokopinya nggak pak? Saya mau scan beberapa dokumen pajak untuk dokumentasi, biar langsung terkirim ke email” tanya Olivia agak canggung.


Bram mengangguk. “Boleh mbak, pake akses saya aja, mari-”


“Nggak usah. Pake akses saya aja” potong Varo. Setelah cukup lama terdiam karena terkejut, ekspresinya kini berganti. Sebuah senyum penuh makna tersungging di bibirnya. Varo melirik ID card Olivia sekilas. “Mari Mbak Charmel ikut saya”


“Kamu kalo nggak mau dipindahin ke gudang, saran saya mending kamu balik ke ruang accounting” tahan Bima ketika Bram hendak mengikuti Varo pergi bersama Olivia masuk ke ruang fotokopi.


Bram bingung, namun ia akhirnya mengangguk dan melangkah pergi, meninggalkan Bima masih berdiam diri situ menatap ke arah pintu ruang fotokopi yang telah ditutup rapat oleh Varo.


...*****...


Olivia terdiam menatap Varo. Ada banyak perubahan dari Varo yang membuat Olivia sadar bahwa ia telah tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa. Sebuah perasaan asing memenuhi dada Olivia, ia seperti melihat orang sama dengan sosok berbeda.


Varo menggulung lengan kemejanya santai dan membuka akses mesin fotokopi. “Sejak kapan kamu jadi auditor di KAP Arya?” tanya Varo tenang kemudian menyingkir membiarkan Olivia menggunakan mesin fotokopi sementara ia menunggu di belakang.


Olivia tidak menjawab. Bibirnya terkunci rapat tidak bisa mengatakan apapun. Olivia seperti tertangkap basah, seakan persembunyiannya selama enam tahun tidak berguna lagi.


Seseorang yang ia hindari dari hari pertama membaca nama lengkap CEO Ravent kini berdiri tepat di belakangnya. Sebuah kejadian yang persentase kemungkinan terjadinya hanya sekitar nol koma lima persen kini terjadi padanya.


Sentuhan lembut pada lengan Olivia membuat tubuh wanita itu tersentak. Tanpa permisi Varo menyentuhnya, sama persis seperti dulu. Olivia bisa mencium jelas bau parfum Varo dan merasakan tubuhnya merapat pada Olivia. Wajah Varo menunduk dan berbisik dari belakang.


“Darimana aja kamu?”


Olivia gugup bukan main, tangannya bahkan tidak bisa bergerak untuk menyelesaikan pekerjaannya. Eksistensi Varo di ruangan sudah itu cukup untuk membuat pikirannya menjadi kacau.


“Aku nyari kamu kemana-mana. Tapi kamu hilang.”


Suara khas penuh penekanan membuat Olivia seperti terkurung dalam sebuah ruang beracun yang siap membunuhnya kapan saja.


“Sekarang kamu nggak bisa lari lagi. Ada urusan kita yang belum selesai.”


Dan tepat ketika Varo menyelesaikan perkataannya, ia memutar tubuh Olivia menghadap ke arahnya. Olivia menelan ludah, ekspresinya pucat pasi. 


Varo terlihat tenang, namun tatapannya begitu menusuk. Varo dengan jelas membuat Olivia sadar. Kini ia sudah berada dalam genggaman lelaki itu dan tidak ada lagi kesempatan bagi Olivia untuk melarikan diri.


Kali ini Varo tidak akan membiarkan Olivia pergi.