
Pukul sepuluh pagi dengan semangat menggebu-gebu Varo sudah melangkah menyusuri jalanan menuju kafe. Ia bersiul-siul senang tidak merasa terganggu dengan beberapa anak kecil yang berlari dan hampir menabrak dirinya. Menurut Varo pukul sepuluh pagi ini adalah waktu terindah dari kumpulan pukul sepuluh pagi yang pernah ia lewati.
“Brengsek!” maki Bima ketika sebuah motor atv dengan asap mengepul tanpa sengaja melewati mereka. “Bikin polusi udara aja bajingan!” ketusnya jengkel. Tapi berbeda dengan Varo yang justru menarik nafas panjang dan mengendus-endus bau asap itu.
“Oh asap yang segar, segar sekali”
“Elo gila ya?” ujar Bima heran melihat tingkah laku aneh temannya. Sejak mereka bangun, Varo sudah bersenandung dan ia bahkan tidak marah ketika Bima menggunakan kolornya.
“Semalam gue mimpi lu jadi stroberi. Taunya pas pagi malah bodoh kayak biri-biri” sindir Bima.
Varo hanya nyengir tidak menjawab. Ia melambaikan tangan pada Nabila yang sibuk melayani transaksi pembayaran dari balik meja kasir.
“Orangnya di dalam” beritahu Nabila sudah tahu siapa orang yang selalu dicari Varo setiap kali datang ke kafe.
“Paham bener kak macam mama saya” balas Varo basa-basi. Ia melirik Sera sedang melatih anjing kecilnya untuk menangkap barang yang ia lempar. “Akrab banget, pernah jadi anjing ya?”
“Sembarangan aja. Di kehidupan sebelumnya, aku ini model tauk!” protes Sera.
“Iya, model majalah ternak” balas Varo cuek masuk ke dalam mendapati Olivia sedang berjongkok di bawah meja, sibuk melakukan sesuatu.
“Olivia” panggil Varo. Olivia mendongak dan memberikan kode agar Varo membantu mengangkat meja. “Lagi ngapain?”
“Mau nyanyi reggae” jawab Olivia menyisipkan kertas di bawah salah satu kaki meja. Varo ketawa.
“Mejanya rusak?”
“Iya. Semalam nggak sengaja kesenggol kaki Sera, terus jadi miring. Entar sore baru mau diperbaikin Pak Dirman”
“Kakinya kurapan ya? Jadi ada yang kesenggol dikit langsung rusak.”
Olivia tertawa geli. “Awas kalo di denger Sera, kamu bisa diajak gulat di pinggir pantai.”
Olivia mengambil secarik kertas dari atas rak dan menyerahkan ke Varo. “Kita singgah supermarket ya. Kak Nabila nitip tolong beli barang keperluan kafe” kata Olivia menjelaskan. “Kamu minta kunci mobil di Kak Nabila. Aku mau ganti baju”
“Pakai ini aja, bagus kok” kata Varo menunjuk kimono tidur Olivia. Kaki cewek itu lantas terangkat naik menendang betis Varo yang tertawa geli kemudian melangkah keluar.
“Tolong bensinnya sekalian diisi. Duitnya di Olivia” pintah Nabila. “Ingat, jangan balap-balap”
“Tenang kak. Kecepatan mobilnya lima km perjam”
“Kalo kecepatan segitu mah mending sekalian aja kamu lari dari sini ke kota” ujar Sera keluar dari meja bar untuk mengantar pesanan pengunjung kafe.
Varo nyengir lebar, mengambil sebuah cup cake dari piring di atas meja bar. Bentuknya cantik, tapi terlalu manis membuat kening Varo berkerut.
Sejak dulu Varo tidak begitu suka sesuatu yang terlalu manis. Apalagi setelah ia sakit gigi, Varo benar-benar berhenti untuk mengkonsumsi sesuatu yang memiliki kadar manis berlebihan. Ia takut sakit gigi. Bukan karena cengeng, tapi bagi Varo sakit gigi itu seperti dibantai dosen dengan tugas yang harus diselesaikan dalam waktu seminggu, mau dicuekin tapi tidak bisa.
“Enak nggak?” tanya Nabila.
“Enak. Kakak yang buat?”
Nabila menggeleng. “Olivia. Dia lagi semangat belajar bikin cup cake. Kamu sekali-kali datang deh, biar jadi tukang icip-icip juga”
“Saya nggak suka yang manis-manis”
“Tapi suka sama yang ngebuat kan?” goda Nabila. Varo hanya tersenyum sebagai jawaban.
“Kak Nabila” panggil seseorang membuat Nabila dan Varo memalingkan wajah. Tampak Johan muncul dengan ekspresi kusut dan rambut sedikit berantakan, tanda baru bangun tidur.
“Udah lama lu?” tanyanya pada Varo.
“Yoi”
“Mau pesan apa?” Sera muncul dari belakang memukul-mukul punggung Johan pelan dan masuk ke dalam area meja bar.
“Kopi”
“Jauh-jauh kesini cuman mesan kopi. Pesan yang mahal dong” ketus Sera bercanda tapi kemudian membuat kopi pesanan Johan. “Kamu tau nggak? Kopi kamu sering aku ludahin, makanya kamu jadi senang minum kopi disini. Itu sejenis cara penglaris terbaru”
“Oh pantas rasanya kayak ada narkotika gitu. Kamu pemakai ya?” balas Johan kalem. Varo dan Nabila ketawa ngakak sementara Sera mendelik sewot.
“Varo yuk. Johan, kamu baru bangun kan?” sapa Olivia. Ia mengenakan roll-up short jeans, kaos oversize warna hitam, sendal jepit, tas selempang kecil, dan rambut digulung keatas. Sesederhana itu penampilannya tapi mampu membuat Varo berhenti mengunyah cup cakenya. Bibirnya terkunci rapat tidak mengatakan apapun tapi pandangannya tidak lepas dari Olivia, sampai suara Johan membuyarkan fantasinya.
“Mau kemana?”
“Ke kota”
“Naik delman?”
“Kok delman?” kening Olivia mengernyit bingung.
“Ya kan lagunya gitu. Kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa” kata Johan tertawa geli. Olivia mencibir tapi tidak menjawab lelucon garing Johan.
“Bukannya nanti sama Pak Dirman?” tanya Sera buka suara.
“Tuh udah ada Varo yang gantiin” jawab Olivia kalem.
“Aduh saran gue mending nggak usah lu nganterin dia. Dia berisik banget” kata Johan seakan sedang berbisik pada Varo. “Gue kemarin waktu di Jakarta nganterin dia ke bandara, dia berisik banget. Kuping lu nanti lama-kelamaan meleleh dengar suaranya”
“Heh, heh! Kalo mau ngomongin aku, sini berdiri depan aku” balas Olivia mendekati Johan.
“Idih, siapa yang ngomongin kamu? Aku lagi ceritain dia, emang nama kamu dia?”
“Mati kamu, mati” gumam Olivia bercanda tapi mencekik pelan leher Johan.
“Oliv, Oliv. Aku mati beneran ntar”
“Nggak apa. Keluarga udah rela”
“Amit-amit. Sembarangan aja” semprot Johan menjitak pelan kepala Olivia membuat semua orang tertawa geli melihat tingkah mereka.
“Ayuk pergi. Omongan Johan nggak usah didengerin dia emang kayak setan, suka bisik-bisik” kata Olivia melangkah pergi.
Setelah mengenakan sabuk pengaman, Varo kemudian menyalakan mesin mobil dan mereka melaju pergi. Sepanjang perjalanan keduanya tidak banyak berbicara, mungkin karena lelucon dari penyiar radio sudah mampu membangkitkan tawa Olivia. Varo tersenyum kecil menyadari selera humor Olivia begitu receh, karena ia bisa tertawa hanya dengan mendengar lelucon yang sebenarnya terdengar garing ditelinga Varo.
Beberapa kali Olivia menurunkan kaca mobil dan menjulurkan jari-jarinya keluar. Bibirnya bersenandung pelan mengikuti lirik lagu can we kiss forever dari Kina.
Wajah Varo berpaling sekilas melirik Olvia. Kedua tangan Varo meremas erat stir mobil sebagai bentuk pertahanan diri, agar salah satu tangannya tidak bergerak menyentuh sisi kanan rambut Olivia yang tertiup angin.
“Udah puas?” tanya Varo ketika Olivia menarik kembali tangannya dan menaikan kaca mobil.
Wajah Olivia berpaling bingung lalu tersenyum. “Kamu merhatiin ya?”
“Iya” angguk Varo jujur. “Hati-hati kalo ngeluarin tangan, tiba-tiba kesenggol motor”
“Cuman jari-jari aja kok” jawab Olivia. “Tapi makasih ya”
“Kenapa tiba-tiba makasih?”
“Karena kamu nggak ngomel-ngomel. Kalo Johan biasanya berisik, takut aku ketiduran pas lagi ngeluarin tangan kayak tadi”
“Kalian dekat banget ya” komentar Varo dijawab anggukan singkat Oliva. Setelah beberapa jam lebih akhirnya mereka sampai ke supermarket.
“Belanjaannya banyak?” tanya Varo ketika Olivia mengambil troli besar. Olivia kembali menunjukan notesnya, ada tiga lembar catatan barang yang terlupa untuk dibeli.
“Ini mah bukan lupa, tapi emang sengaja lupa”
“Waktu itu aku sama Sera tujuan ke kota mau jalan-jalan, eh malah disuruh belanja. Mana Kak Nabila cuman ngomong ‘beli belanjaan kafe,’ ya mana kita berdua inget apa yang harus dibelajain” jawab Olivia membela diri.
“Iye iye udah, yuk.” Varo mendorong troli mengikuti Olivia berjalan di depannya, ia hanya diam memperhatikan Olivia sibuk mengambil barang sesuai catatan notes. Menatap cewek itu mungkin menjadi salah satu kegiatan favoritnya sekarang. Tapi bukan hanya Varo, beberapa cowok yang lewat disitu juga secara terang-terangan menatap Olivia. Pesona kecantikan cewek itu memang terlalu kuat untuk ditolak.
“Apa?” tanya Olivia heran karena tiba-tiba Varo berdiri tepat di sebelahnya.
“Enggak papa. Pengen aja berdiri di sebelah kamu. Cocok kan kita sebelahan gini, kayak teletubbies.”
“Ada-ada aja” tawa Olivia tidak menyadari bahwa sejak tadi Varo sibuk melemparkan tatapan tajam kepada siapapun yang berani menatap cewek itu.
“Oliv, pake jaket aku deh. Biar nggak kedinginan” kata Varo akhirnya merasa tidak tahan dengan tatapan beberapa cowok yang masih berani mencuri-curi pandang ke arah Olivia.
“Masa muka aku ditutup, entar aku nggak bisa lihat jalan” protes Olivia ketika Varo iseng menutup wajahnya dengan tudung jaket. Varo tertawa geli, terhibur dengan ekspresi cemberut Olivia.
“Suka nih aku sama cewek kayak kamu. Banyak nurutnya” canda Varo. Olivia nyengir mengambil bubuk coklat dan memasukan ke dalam troli.
“Jadi kamu sukanya jadi tipe yang dominan ya?” balas Olivia menanggapi candaan Varo.
“Kalo cewek aku sesekali mau jadi yang dominan, nggak papa sih. Cuman dominannya beda tempat aja”
“Dasar mesum”
“Eh, maksud aku kan kalo misalnya cewek aku mau sesekali memutuskan sesuatu, ya aku ikut” kilah Varo beralasan. Olivia menyipitkan mata tapi tidak menanggapi. Varo terlihat cukup puas menggoda Olivia dengan pernyataannya yang rada-rada ambigu.
Mereka kemudian berjalan ke bagian rak makanan manis. Olivia menatap satu persatu dengan tatapan minat. Ia sangat suka sesuatu yang manis terutama coklat, Olivia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencoba produk coklat yang baru pertama kali ia lihat. Efek selama beberapa tahun tidak bisa mengonsumsi coklat karena melakukan diet untuk menurunkan berat badan, jadi sekarang Oliva suka kalap sendiri setiap kali melihat makanan manis.
“Mau beli ini nggak?” tanya Olivia tiba-tiba menunjuk ke arah toples permen karet. “Kamu masih suka makan permen karet kan?”
“Kamu tau dari mana?” Varo heran menatap Olivia.
“Kan pas SMA kamu suka permen karet. Apa aku salah?” Olivia balas melemparkan tatapan heran.
“Enggak, kamu benar, pas SMA aku suka makan permen karet. Tapi sekarang udah enggak”
“Oke” balas Olivia singkat kemudian mengambil beberapa coklat.
“Kamu tau dari mana?”
“Hmm?”
“Kamu tau dari mana aku suka makan permen karet?”
“Bukannya semua anak tau ya?” jawab Olivia acuh tak acuh masih sibuk menimbang-nimbang coklat mana yang akan ia beli lebih banyak.
“Enggak. Aku rasa cuman kamu doang. Aku suka permen karet waktu SMA, tapi cuman pas kelas satu semester awal. Karena habis itu aku ngerokok” jelas Varo.
“Aku tau karena dulu aku pernah dihukum bersihin pojok perpustakaan, dan aku nemu banyak permen karet bekas di bawah meja. Kata Bu Peggy, itu hasil karya kamu, makanya kamu setiap masuk perpustakaan selalu digeledah biar nggak bawa permen karet” jawab Olivia lalu melangkah mendekati Varo. Wajahnya sedikit mendongak karena perbedaan tinggi yang cukup besar.
Tangan Oliva menarik kerah baju Varo. “Kamu harus tanggung jawab karena aku yang ngebersihin bekas permen karet kamu. Susah tau!”
Mata Olivia menyipit menatap Varo, tapi hanya tiga detik dan setelah itu ia tertawa geli. “Kamu takut ya? Aku cuman bercanda. Aku ikhlas ngebersihin bekas permen karet kamu, tapi waktu itu aku tetap kerja sambil maki-maki kamu”
“Aku tau kamu bercanda. Ekspresi kamu nggak nyeremin” dengus Varo meremas tangannya kuat-kuat tidak ingin mencubit pipi Olivia gemas.
“Aku sebenarnya juga nggak bakalan beli permen karet buat kamu. Aku punya phobia ngeliat bentuk permen karet.”
Kening Varo berkerut bingung. “Hah? Emang ada?”
“Ada. Aku nih contohnya. Aku itu nggak suka kalo ada bekas permen karet nempel di baju aku” jawab Olivia serius.
Varo mengambil vitamin c dari rak depan. “Yaudah, mulai sekarang kita konsumsi vitamin c aja, biar sehat.”
Olivia tertawa mengambil vitamin c dari tangan Varo dan menaruh ke rak.
“Oliv bentar, mau ngambil sesuatu” kata Varo tiba-tiba. “Tungguin sini ya, jangan hilang.”
Olivia mengangguk masih sibuk melihat coklat, sementara Varo berjalan menyusuri bagian shampo dan mengambil tiga botol dari merek yang sering ia pakai. Satu untuk dirinya dan dua lagi untuk Bima yang kalau sekali shampoan bisa habis sebotol. Sampai terkadang Varo yakin Bima itu bukan shampoan, tapi ngemil shampo setiap kali mandi.
Dengan langkah ringan Varo kembali dan matanya menangkap Olivia sedang berbicara dengan seorang cowok asing, entah siapa, tapi terlihat jelas cowok itu tersenyum lebar menunjukan rasa tertariknya pada Olivia. Tangan Varo terkepal, tapi dengan ekspresi tenang ia melangkah mendekati mereka, dan tanpa basa-basi salah satu tangannya menyentuh bahu Olivia menarik cewek itu mendekat.
“Udah selesai belum?” tanya Varo pelan tapi tatapannya tajam menatap lurus ke arah cowok asing di depan mereka. Cowok itu jadi salah tingkah menyadari arti tatapan Varo adalah sebuah peringatan agar ia segera angkat kaki dari situ, ia lantas buru-buru pamit dengan senyum kikuk menghilang ke bagian rak lain.
“Itu siapa?”
“Nggak tau, tadi sih bantuin ambil ini.” Olivia menunjukan kotak coklat yang berada di rak cukup tinggi. Varo hanya mengangguk kemudian setelah itu mereka melangkah pergi menuju ke kasir.