Mr. Bully

Mr. Bully
Stitches - Shawn Mendes



Pukul dua belas malam Varo terjaga dari tidur, ia melangkah keluar balkon dengan perasaan gusar dan kemudian memutuskan untuk turun ke bawah, berjalan menyusuri bibir pantai.


Sepi.


Hanya terdengar suara ombak dan remang-remang cahaya kafe dan penginapan dari kejauhan. Varo menghela nafas, ia duduk di atas pasir dengan ekspresi sendu. Matanya menatap rentetan panjang pesan dari Amirah. Ia ingin menangis dan berteriak tapi tenggorokannya seakan tercekik tertutup sesak dan kesedihan yang tidak berkesudahan.


Sebuah langkah kaki dan selimut yang menyelimuti tubuh Varo membuatnya tersentak, wajah Varo berpaling mendapati Olivia datang dan tanpa basa-basi duduk di sampingnya. Cewek itu tersenyum menciptakan suasana menenangkan dari raut wajahnya.


“Kamu belum tidur? Ngapain kamu kesini?” tanya Varo agak terkejut.


“Kamu sendiri ngapain malam-malam duduk sendirian disini?” tanya Olivia balik lalu menunjuk ke arah belakang mereka. “Aku bisa lihat punggung kamu dari jendela kamar aku.”


Varo memaksakan diri tersenyum. “Harusnya kamu tidur, ini udah malam”


“Aku pengen tidur tapi tadi aku lagi nonton film, pas mau tidur aku iseng lihat keluar jendela dan ada kamu” jawab Olivia jujur. Ia menopang dagunya di atas lutut sementara wajahnya berpaling menatap Varo lekat-lekat.


“Mama sakit…..” kata Varo tiba-tiba buka suara, matanya menatap jauh ke arah garis pantai di ujung sana. “Mama sering lelah dan pingsan tiba-tiba. Beberapa waktu lalu mama nyetir mobil, mama kecelakaan. Untungnya mama berhasil selamat, tapi kecelakaan itu ngefek ke beberapa saraf, mama di operasi tapi tubuh bagian kanannya mati. Mama sekarang nggak bisa lagi bicara dengan benar atau bahkan ngelakuin hal sederhana seperti buka tutup botol. Dokter nyaranin mama untuk terapi syaraf dan Kak Amirah minta aku buat datang nemenin mama.”


Varo menghela nafas dengan perasaan putus asa. “Mama pintar main piano, tapi sekarang mama sama sekali nggak bisa ngelakuin apa yang mama suka…… Aku jadi mikir, apa ini karma aku ya? Karena sering nggak ngacuhin keberadaan mama dan bersikap seakan aku nggak punya mama?” Varo menunduk dalam-dalam, tangannya tergenggam erat berusaha keras untuk menahan tangis. “Aku pengen mati aja rasanya.”


Tangan Olivia bergerak naik terus menepuk-nepuk punggung Varo dan ketika wajah Varo mendongak menatapnya, tangan Olivia langsung terbuka lebar memeluk cowok itu erat.


“Kamu masih punya kesempatan untuk pergi ke mama kamu. Jadi aku rasa terlalu dini buat kamu untuk putus asa” bisik Olivia.


Varo membenamkan wajahnya di pelukan Olivia, ia menarik nafas panjang dan beberapa saat kemudian tubuhnya bergetar. Varo menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menangis di pelukan seseorang.


Perasaan sedih, sesak, dan sesal perlahan mulai menguap keluar. Tangisannya terdengar pilu seakan tidak ada lagi hari esok untuk dirinya, tangan Varo menggenggam lengan Olivia erat. Ia jelas membutuhkan seseorang di sisinya dan keberadaan Olivia dengan tepukan serta bisikan menenangkan secara langsung menjadi netralisasi bagi rasa frustasi Varo yang sebenarnya ingin berlari dan mati di makan ombak laut.


“Aku kehilangan orang tua aku ketika aku SMA. Aku juga pengen mati saat itu karena aku ngerasa nggak punya siapa-siapa lagi di hidup aku” cerita Olivia pelan. “Tapi mati bukan jalan yang tepat buat lari dari masalah.”


Tangan Olivia terus menepuk-nepuk punggung Varo, ia diam menunggu cowok itu berhenti terisak dan kemudian terdengar tarikan nafas panjang. Varo melepaskan diri dari pelukan Olivia, wajahnya mendongak menatap wajah cewek itu lekat-lekat.


“Di dunia ini ada orang yang sama sedihnya kayak kamu. Mereka sedih, putus asa, dan nangis. Tapi hanya sebagian dari orang-orang itu yang mau bangkit dan nyelesain masalahnya dengan baik, sebagiannya lagi milih untuk nyerah” kata Olivia pelan dan lembut. “Kamu sekarang mau jadi bagian yang mana?”


“Aku…..” Varo terdiam, ia terlihat sangat ragu.


“Apapun keputusan kamu akan aku dukung. Bahkan meskipun kamu mau milih untuk tetap diam disini.”


Tangan Varo bergerak pelan menyentuh tangan Olivia. “Kamu mau nemenin aku?......Ke New York”


Untuk sesaat Olivia terdiam, ia bisa melihat keseriusan dari mata Varo, membuat hatinya sempat merasa goyah.  “Harusnya kamu tanya itu ke Arini. Aku disini hanya seorang yang numpang lewat di kehidupan kamu.”


Keduanya sama-sama terdiam, genggaman Varo pada Olivia semakin erat.


“Sampai akhir….kamu bakal tetap nolak aku kan?” gumam Varo pelan.


Bibir Olivia bergerak memaksakan diri untuk tersenyum, meskipun kenyataan yang ia berikan pada cowok itu sangat pahit. “Aku itu cewek jahat yang ngedeketin pacar orang, dan kamu cowok jahat yang selingkuh dari pacarnya. Hubungan orang jahat itu nggak bakalan mulus, ujung-ujungnya bakal saling nyakitin.”


Varo tidak menjawab ataupun berniat untuk menyela argumen Olivia. Ia hanya tersenyum tipis lalu memalingkan wajah menatap ke arah laut. Udara malam terasa sangat dingin, dua kali lebih dingin, untuk kulit luar Varo dan juga untuk hatinya.


“Jadi kapan kamu mau mesan tiket?” tanya Olivia setelah keduanya terdiam cukup lama.


...******...


“Dim, Dim. Map lu taruh di atas meja gih, lu kemana-mana bawa map gitu kesannya kayak anggota kelurahan lagi nagih uang sampah” tegur Bima.


Dimas mendengus menaruh mapnya di atas meja kemudian bergabung bersama yang lain di dekat kolam renang. Pukul setengah tujuh malam dan mereka semua sedang melakukan party kecil-kecilan.


“Kita bakar-bakar ikan gini buat ngerayain apa sih?” tanya Johan baru muncul bersama Olivia dengan sebox minuman.


“Menyambut datangnya bulan oktober” jawab Bima kalem. Johan mengernyit heran.


“Karena ini bulan kelahiran gue” jelas Bima mengambil box dari tangan Johan dan menaruh di atas meja.


“Hati-hati, ntar tangan kamu kebakar” kata Dimas menahan langkah Olivia agar tidak mendekat.


“Dim, aku cuman mau naruh ikan di atas pembakaran, bukan mau megang bara api” balas Olivia geleng-geleng menaruh ikan di atas pembakaran. Ia dan Dimas sibuk membakar ikan sementara yang lain berdiri tidak jauh dari situ, Bima sendiri sebagai pengide party sudah mulai memutar musik dari speaker besar miliknya.


“Kenapa muka lu gitu? Asam lambung naik?” tegur Dimas ketika Varo muncul, cowok itu baru saja menyelesaikan laporan mingguan milik Nabila.


“Nggak semua orang yang mukanya kusut itu lagi asam lambung ya tai” dengus Varo tanpa basa-basi mengambil alih pekerjaan Olivia. “Oliv, tolong ambilin minyak goreng di kotak kecil itu”


“Mau diapain?” tanya Olivia mengambil apa yang dipintah Varo.


“Mau urut ikannya biar licin”


“Butuh handuk?” celetuk Dimas lalu tertawa geli bersama Varo.


“Dasar!” kata Olivia geleng-geleng dengan mata menyipit. Ketiganya tetap berada disitu, mengobrol, bercanda, dan tertawa. Mereka terlihat asyik sendiri, sampai tidak menyadari ada seseorang yang sedang menatap dengan pandangan tidak suka.


Arini.


Cewek itu duduk di tepian kolam, menemani Ete mengobrol bersama Johan. Wajahnya tertekuk, tanda kecemburuannya sudah melewati limit.


Sebenarnya tidak ada yang salah, karena ada Dimas disitu dan mereka hanya terlihat seperti teman yang sedang mengobrol. Tapi logika Arini mendadak mati, tawa Olivia tidak membuatnya merasa senang. Rasa amarah justru muncul dari hati Arini, ia ingin sekali melangkah mendekati mereka dan menarik rambut Olivia kuat-kuat. Arini terlalu membenci Olivia sampai ke akar-akarnya.


“Kenapa muka lu ketekuk gitu?” senggol Bima bertanya ketika Arini bangkit berdiri dan menegak sebotol air mineral. Wajahnya ikut berpaling ke arah pandang Arini dan kemudian tersenyum geli


.


“Jangan kaget, cowok lu emang brengsek. Harusnya lu tau itu dari awal PDKT” bisik Bima terkesan memanas-manasi, Arini mendengus kesal. Bima menahan tawa geli, ia tahu Arini sedang cemburu, tapi entah mengapa Bima begitu menikmati  drama percintaan Varo yang rumit bagai benang kusut.


“Kadang kalo kita nggak tegas, milik kita bakal di ambil” bisik Bima. Arini menatap Bima, ia menyerahkan botol minumnya kasar dan melangkah ke arah Olivia.


“Mau kemana lu?” teriak Bima tapi tidak digubris Arini.


Senyum licik Arini mengembang ketika Olivia melangkah ke arahnya hendak menaruh ikan di atas meja, dan... Byur. Arini secara sengaja namun tidak terlalu kentara mendorong tubuh Olivia jatuh ke dalam kolam renang. 


Kolam itu tidak terlalu dalam, tapi teriakan keras Johan yang terkejut membuat semua berpaling. Tanpa basa-basi ia meloncat masuk ke dalam kolam, ekspresinya panik bukan main ketika menarik Olivia yang meronta di dalam air. Varo dan Dimas serempak berlari membantu Johan mengangkat Olivia naik ketepian. 


“Oliv! Olivia!” panggil Johan semakin panik. Olivia batuk-batuk memuntahkan air dari mulut, nafasnya terengah-engah seakan baru selesai berlari beratus-ratus mil. Tanpa diduga Johan langsung memeluk Olivia, tubuh cewek itu gemetar ketakutan, wajahnya pucat pasi dan dalam beberapa menit saja ia terlihat seperti mayat hidup.


“Oliv, Oliv. Udah, kamu udah aman kok. Udah.” Sera membungkus tubuh Olivia dengan handuk, ia menepuk-nepuk punggung cewek itu, tidak memperdulikan tatapan kebingungan sekaligus khawatir dari teman-temannya. 


“Oliv….udah, kamu aman. Udah...tenang” bisik Johan karena Olivia masih terisak. “Ser, tolong bawa ke kamar” pintah Johan.


Dibantu Bima, Sera membawa pergi Olivia dari situ. Suasana mendadak hening, semua mata sama-sama menatap punggung Olivia sampai ia menghilang ke dalam kafe.


“Lu gimana sih? Kalo jalan mata dipake juga, jangan kaki doang” ketus Dimas tiba-tiba marah. Arini yang semula terkejut karena reaksi Olivia, kini justru merasa kesal. Harga dirinya terluka karena amarah Dimas padanya.


“Gue nggak sengaja. Lagian udah tau jalan sempit malah nggak mau minggir bentar” bela Arini memberikan kesan bahwa ia tidak peduli dan menyesal pada apa yang baru saja terjadi. Dimas melotot marah, ia benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap Arini, baru saja Dimas hendak buka suara membalas Arini, suara Johan terdengar.


“Besok-besok kalo mau bunuh anak orang, mending sekalian tusuk pakai pisau.” Ekspresi Johan terlihat begitu menusuk, ia langsung melangkah pergi menuju kafe.


Arini berdecak, semua orang menyalahkannya. Kebenciannya pada Olivia tentu saja semakin besar, eksistensi cewek itu di tempat ini membuat liburan Arini terasa seperti di neraka.


Dasar cewek brengsek!, maki Arini, wajahnya berpaling hendak mencari pembelaan dari Varo, tapi cowok itu tidak berada disitu. Varo diam-diam sudah pergi menyusul Olivia. Arini terpaku, kini ia tahu, hati Varo bukan lagi sepenuhnya untuk dirinya.


Arini merasa kalah.