
Suara berisik dari kumpulan anak-anak kecil yang meloncat ke dalam kali membuyarkan lamunan Varo, kepala cowok itu berpaling menatap sekilas anak-anak kecil tadi dan kembali menatap Ahmad sibuk melemparkan mata kail pancing ke dalam kali.
“Kamu tau nggak sampai seabad juga kita nggak bakalan dapat ikan?” ujar Varo menunjuk ke arah anak-anak kecil yang sedang berenang, suara ribut dan gaya heboh mereka ketika berenang tentu saja akan mengusir penghuni kali sejauh mungkin, itupun kalau ada. Terakhir kali ketika memancing bersama Ahmad yang ia dapat hanya sandal jepit bekas, panci bolong, kaos kutang, dan ****** *****.
“Tenang mas, pasti ada jalan.”
Varo tertawa ngakak lalu memperbaiki posisi duduknya agar tidak terjatuh ke dalam kali. Bau tidak enak tercium tapi tidak mematahkan semangat kedua orang itu untuk berpindah tempat. Selain karena terlalu pewe, suara melodi dari gitar tua milik Mbah Hadi juga membuat mereka semakin betah.
“Itu melodi lagu apa sih mbah?”
“Lagunya Doel Sumbang, judulnya aku cinta kamu” jawab Mbah Hadi lalu menyanyikan sepenggal dari lirik lagu aku cinta kamu yang dipopulerkan Doel Sumbang dan Nini Carlina penyanyi lawas tahun delapan puluhan.
Usia Mbah Hadi sendiri sudah bisa dibilang tidak muda lagi, hidup sejak pemerintahan presiden kedua Indonesia sampai sekarang membuatnya secara tidak langsung menjadi yang dituakan dan dihormati di desa itu. Mbah Hadi tidak memiliki keluarga lagi, awalnya beliau tinggal di kampung sendirian karena istri dan anak-anaknya sudah meninggal, tapi ketika mendengar kabar bahwa cucu satu-satunya yang kuliah di Jakarta menjadi korban kerusuhan besar pada tahun 1998 Mbah Hadi lantas pergi ke Jakarta. Setelah penguburan cucunya Mbah Hadi memutuskan tidak kembali ke kampung untuk memperjuangkan keadilan bagi kematian tragis cucunya. Meskipun sampai hari ini agaknya pemerintah masih tutup mata pada korban kerusuhan tahun 1998 tapi Mbah Hadi tidak menyerah, berbekal gitar dan biola usang ia mengamen dari satu jalan dan jalan lain di Jakarta, sampai kemudian pada suatu hari bertemu dengan Sigit almarhum ayah Ahmad dan menjadi ayah angkat dari lelaki itu. Ketika Sigit meninggal Mbah Hadi ikut ke Jogja atas permintaan lelaki itu semasa hidupnya yang ingin agar Mbah Hadi menghabiskan masa tuanya dalam ketentraman, dan disinilah mereka berkumpul. Menjadi satu keluarga tanpa ada ikatan darah.
“Kalau hati sudah bergetar, rindu selalu muncul, resah, dan bayangan sang pujaan hati selalu datang itu berarti kamu sudah terkena panah api asmara.”
Varo nyengir. “Ye mbah kalo saya kena panah api udah mati dong dari tadi”
“Ya kan ada asmaranya. Kalo menurut lirik dari satu lagunya Doel Sumbang, cinta itu anugrah maka berbahagialah, karena kalo enggak ada cinta kita bisa sengsara”
“Sengsaranya kayak gimana mbah?” pancing Varo.
“Resah, gelisah, dan hati tidak tenang”
“Oh pantes saya sengsara. Saya sering resah dan gelisah”
“Berarti Mas Varo butuh cinta”
“Tapi masalahnya mbah, nggak ada yang mau mencintai saya. Apalagi bercinta dengan saya” balas Varo, Mbah Hadi tertawa lalu menyanyikan tembang asmaradana dalam bahasa Jawa. Terdengar merdu karena meskipun tidak berusia muda lagi tetapi lelaki tua itu tetap memiliki kemampuan untuk menggetarkan telinga serta hati para pendengar. Varo sendiri hampir ingin memejamkan mata dan tertidur kalau saja suara langkah kaki Olivia tidak terdengar datang ke arah mereka.
“Mbah ini dari Mbak Ayu, katanya biar nggak bosen nungguin ikan.” Olivia menaruh loyang berisi ubi rebus dan duduk di antara mereka.
“Makasih cah ayu” kata Mbah Hadi lalu lanjut bernyanyi.
Olivia tersenyum manis mengambil ubinya sambil memperhatikan Ahmad sibuk melempar kail. Ia kemudian menggeser duduknya agak ke belakang mengikuti Varo yang menariknya pelan.
“Disini tenang ya, nggak kayak di Jakarta”
“Iya, panasnya juga beda. Kalo di Jakarta kayak kepanggang.” Angguk Varo setuju. Varo sering ke Yogyakarta dan sebenarnya tidak ada hal menarik, karena baginya Yogyakarta atau Jakarta sama saja, kalau siang panas kalau malam matahari sudah tenggelam, dan bedanya hanya Jakarta tidak memiliki prambanan.
Tapi untuk kali ini Varo merasa Yogyakarta sedikit berbeda, bahkan cuaca panas siang ini jauh berbeda dari siang yang pernah ia alami selama berada di tempat itu.
“Jogja itu kayak tempat pelarian, aku dulu kalo stres sekolah pasti bolosnya kesini”
“Jauh banget” kekeh Varo.
“Ya daripada aku mati di sekolah” jawab Olivia ringan dengan senyum tipis.
“Kamu waktu SMA kayak gimana?” tanya Varo untuk kesekian kalinya. Terlalu lama bersama Olivia dengan rasa penasaran, membuat pertanyaan ini menjadi pertanyaan favorit Varo pada cewek itu?
Olivia terdiam sejenak, kelihatan sedang berpikir, “aku nggak punya banyak teman.”
Varo tentu saja tahu itu dari cerita Ayu tempo hari, tapi ia memilih memasang ekspresi seakan dirinya tidak tahu apapun dan menunggu Olivia menceritakan semuanya. Meskipun jauh didalam hatinya Varo ingin sekali mengeluarkan berbagai pertanyaan yang sejak kemarin terus datang silih berganti dalam benaknya.
“Aku dulu gendut. Jerawat aku juga banyak, sampe sering dipanggil hamparan bintang” cerita Olivia santai.
Sebuah perasaan skeptis langsung muncul memenuhi dada Varo ketika mendengar cerita Olivia. Fisik Olivia terlalu sempurna untuk membayangkan gambaran diri cewek itu seperti yang ia katakan.
“Kamu tau hal yang paling sulit dilakukan di dunia ini?” tanya Olivia. Varo menggeleng lugu.
“Mencintai diri sendiri” kata Olivia menatap lurus ke arah kali namun jelas menunjukan ia hanya melemparkan tatapan kosong karena pikirannya sedang berada di tempat lain.
“Dulu setiap kali aku berdiri di depan cermin, aku benci banget ngeliat pantulan diri aku. Dan lucunya sekarang juga sama, sesekali aku masih benci melihat diri aku di depan cermin. Aku selalu ngerasa kurang cantik.”
Ada sebuah perasaan sendu terlukis dari raut wajah Olivia. Perasaan yang mungkin tidak akan begitu dimengerti Varo. Olivia berbicara pelan dan tenang, tapi mungkin perasaannya tidak begitu.
“Setiap kali aku ngeliat cewek cantik, aku langsung masang standar kediri aku sendiri, biar aku bisa sama cantik kayak dia” lanjut Olivia kembali bercerita. “Standar cewek cantik di mata aku adalah ketika dia bertutur kata lembut, punya selera pakaian yang bagus, dan harus selalu terlihat sempurna di mata orang lain.”
Luka.
Itu yang Varo tangkap.
Olivia terluka.
Banyak hal yang bisa menjadi alasan bagi Olivia untuk merasa sakit, banyak hal yang bisa menyakitinya, dan banyak hal yang bisa membuat bagian dalam dari dirinya hancur. Bahkan meskipun fisiknya sempurna tanpa cacat.
Si cantik yang penuh luka.
“Dan kamu tahu apa yang paling ironis dari kehidupan aku? Orang-orang disekitar aku terus masang standar kecantikan versi mereka ke orang lain, dan salah satu dari dari orang lain itu adalah aku. Karena terkadang bagi mereka naruh standar kecantikan ke orang lain itu jauh lebih mudah daripada harus ngejalanin sendiri.
Itu alasan kenapa saat SMA aku nggak punya teman. Karena aku nggak bisa menuhin standar kecantikan saat itu. Dan sekarang ketika aku udah berada di posisi ini, aku justru ngerasa capek harus terus kelihatan sempurna. Tapi mungkin kalo tanpa semua itu, aku hanya seorang cewek biasa yang lagi nemenin kamu mancing.
Aku nggak sempurna dan hidup aku terlalu banyak kepura-puraan.”
Perkataan Olivia jelas merupakan curahan hati, ia menceritakan semua yang terpendam. Gestur dan nada bicaranya tenang, namun raut wajah kontradiktif. Selain luka, ada kekecewaan yang Olivia simpan. Kecewa yang mungkin berasal dari apa yang ia miliki atau tidak sempat ia miliki. Sekali lagi, sesuatu yang tidak dimengerti Varo.
“Kalo kamu capek, kenapa kamu nggak berhenti?” tanya Varo serius. “Berhenti untuk jadi sempurna dan mulai menjadi diri sendiri”
“Terakhir kali ketika jadi diri sendiri, aku hampir mati” jawab Olivia dengan tawa geli.
“Aku serius.”
“Dunia itu kadang nggak adil sama orang-orang yang jadi diri sendiri” kata Olivia.
Varo diam, ia bukan tipe yang suka berbicara panjang lebar. Varo terbiasa menyimpan semua pemikiran dan tanggapan atas pernyataan seseorang hanya untuk dirinya sendiri. Varo juga bukan seorang yang suka memberi nasihat atau terlalu serius pada permasalahan orang lain, ia lebih cenderung membiarkan siapapun untuk berpikir sendiri dan mencari jalan keluar sendiri. Karena baginya memberikan perhatian itu melelahka.
Tapi aneh.
Diamnya Varo kali ini bukan karena ia tidak peduli, tapi justru karena ia merasa simpati. Semua perkataan Olivia dan kisah hidup cewek itu tanpa sadar menarik kembali perhatiannya pada orang lain. Sesuatu yang selama ini Varo kubur dalam hatinya.
“Kenapa kamu diam?” senyum Olivia muncul sekilas.
“Aku….” gumam Varo pelan terdengar agak ragu.
Aku pengen ngelindungi kamu, kata Varo dalam hati. Ia ingin mengatakan hal itu, tapi tatapan Olivia justru membuatnya bungkam.
“Kenapa?”
“Nggak papa” geleng Varo memaksakan diri ikut tersenyum.
“Ya mas kolor lagi” teriak Ahmad menarik kolor berwarna hijau dari pancing. Olivia dan Varo langsung berpaling, mereka lantas tertawa keras sementara Ahmad mulai marah-marah karena dari tadi tidak ada satupun ikan yang memakan umpannya.
“Tentang Ahmad, pasti ada jalan” goda Varo membalik kata-kata Ahmad sebelumnya.
...*****...
Tangan Dimas mengetuk-ngetuk meja dengan ekspresi muram, telinganya masih mendengar suara Alya dari ujung telepon. “Jadi nama SMAnya dulu Alex?”
[Iya, dia dulu sempat jadi anak PMR juga makanya gue tahu] kata Alya.
Dimas terdiam mendengarkan cerita panjang Alya, tapi matanya masih terus menatap foto seorang cewek bertubuh gendut dari foto buku tahunan yang diberikan oleh Alya. Alexandria Charmelia. Cerita Alya membuat semua ingatan Dimas kembali pada sosok cewek bertubuh gendut dengan wajah berjerawat yang selalu membeli nasi uduknya dulu. Cewek yang ia kenal bernama Alexa tapi semua orang memanggilnya Alex, bukan karena ia istimewa, tapi...karena ia dibully.
Dalam ingatan Dimas, Alexa bukan seseorang yang suka berbicara dan sering kali bersikap seakan ia bukan sosok nyata di sekolah. Sebenarnya tanpa perlu bersikap seperti itu keberadaan Alexa sendiri sudah terlebih dahulu tidak acuhkan oleh orang-orang sekitar. Dimas hanya salah satu dari sedikit orang yang mau berbicara dengan Alexa, itupun karena setiap hari cewek itu selalu membeli nasi uduknya.
Lebih jauh lagi ingatan Dimas kembali ke masa dimana Alexa hanya murid biasa yang ada ataupun tidak ada, keberadaannya tetap tidak akan diacuhkan karena cewek itu memang tidak cantik dan tidak sepintar dirinya yang tetap memiliki teman meskipun bukan berasal dari kalangan keluarga kaya raya.
Jadi sebenarnya tidak ada satupun hal dari dalam diri Alexa yang bisa menjadi alasan untuk menarik perhatian orang lain.
Namun, sebuah kesalahan yang dilakukan Alexa membuat hidupnya berubah.
[Dulu si Radit yang ketemu suratnya Alex buat Varo. Makanya habis itu dia langsung dibully habis-habisan] kata Alya. [Gue inget banget di hari terakhir sebelum dia pindah sekolah, roknya robek gara-gara kursinya ditempelin permen karet campur lem tikus]
“Ada yang laporin ke guru nggak?”
[Enggaklah] tawa Alya dari seberang. [Emang ada diantara kita yang berani laporin Varo sama komplotannya?”]
“Lu inget siapa yang naruh permen karet di kursi Alexa?”
[Grey kayaknya, tapi seinget gue itu permen bekas makan Varo. Jahat banget ya? Padahal setahu gue Alex bukan anak penerima beasiswa sosial sekolah.]
Dimas tersenyum getir. Saat SMA kelompok pertemanan Varo memang seperti lingkaran setan tanpa pawang, apalagi guru-guru seakan tutup mata dengan pembullyan yang disebabkan oleh kelompok itu. Seolah sumbangan dari orang tua mereka jauh lebih penting daripada kesehatan mental salah satu anak didiknya. Dimas mungkin satu-satunya anak penerima beasiswa sosial yang kehidupan sekolahnya aman tanpa gangguan, itu pun sebenarnya karena ia berteman dekat dengan Varo sejak SD, jadi tanpa sadar Varo menjadi bekingan Dimas untuk menjalani kehidupan sekolahnya dengan tenang.
[Gue dulu pernah ketemu Alex dikunci di gudang anak basket pas sekolah mau tutup. Dia teriak-teriak minta tolong, kebetulan gue lewat jadi gue bukain. Kasihan banget, teman-temannya Varo sengaja nyuruh Alex buat ngambil bola basket, katanya disuruh pelatih, eh malah dikunci. Terus yang lebih parah tasnya dibuang ke tempat sampah]
“Lu dulu pernah dengar si Varo ngebully Alexa nggak? Maksud gue si Varo ngebully secara langsung?” tanya Dimas. Sebenarnya itu yang paling ingin ia tahu dari antara semua percakapan di hari ini.
[Kayaknya sih nggak. Varo kan dulu pacaran sama Dea, dia mana peduli sama yang begituan? Lu tahu sendiri kan Varo kayak gimana? Ada orang mati disamping dia juga nggak bakalan peduli] jawab Alya. [Tapi yang gue tahu orang yang mulai semuanya buat ngebully Alex itu si Dea. Gue dulu sempat diajak buat nyiram air ke toilet yang lagi di pake Alex, cuman gue milih cabut duluan]
“Tapi saat itu Varo tahu kan ada anak yang dibully separah itu gara-gara dia?”
[Mungkin dia tahu, tapi kayaknya nggak peduli] geleng Alya yakin. [Lagian yang dibully sama komplotannya Varo bukan Alex doang. Inget Wawan yang milih pindah sekolah gara-gara ditonjok Varo di lapangan basket?]
“Yang nyolong duit Dea?”
[Wawan nggak nyolong Dim, itu si Grey sama Erwin yang sengaja naruh dompetnya Dea di tas Wawan, biar Varo sesekali ikutan buat ngebully Wawan. Eh tapi bukannya dibully malah langsung ditonjok]
“Lu tau dari mana itu kerjaan Grey sama Erwin?”
[Banyak saksi mata Dim, cuman nggak ada yang berani belain Wawan. Daripada jadi korban selanjutnya, mending diem-diem aja kan? Lagian paling mereka cuman dihukum skorsing doang.]
Dimas ingat. Ia ingat betul kejadian saat Varo seakan kerasukan setan dan memukul Wawan habis-habisan. Hari itu Dimas melihat sosok lain pada Varo, si paling tidak peduli yang mendadak melampiaskan kemarahannya tanpa batas. Bukan...bukan karena Varo marah Wawan ‘mencuri’ dompet Dea, tapi karena saat itu adalah hari-hari dimana ia tahu keharmonisan keluarganya akan berakhir. Tidak ada lagi sosok ibu yang hanya mencintai satu lelaki di hidupnya dan tidak ada lagi sosok ayah yang hanya mencintai istrinya. Mereka diam-diam memiliki kehidupan masing-masing dan hal itu menciptakan luka dalam bagi Varo. Luka yang membangkitkan amarahnya dan tanpa sadar ia lampiaskan pada Wawan.
Dimas tahu Varo sadar Wawan tidak bersalah, tapi amarah cowok itu menutup logikanya.
[Lu tau nggak? gosipnya Alex sudah meninggal] kata Alya membuat kening Dimas berkerut. [Tapi waktu itu Sandra bilang dia ngeliat Alex di Jakarta. Katanya udah beda banget]
“Kok Sandra bisa tau itu Alexa?”
[Entah. Tapi kata Sandra, si Alex berusaha buat ngehindarin Sandra. Mungkin karena dia benci banget. Si Sandra pernah ngelempar baju olahraga Alex ke tempat sampah. Gue juga kalo jadi Alex udah gue tonjok mukanya Sandra, sebel lihat alisnya tebel kayak sushi] tawa Alya. Ia adalah satu dari sekian banyak siswi sekolah yang benci setengah mati melihat gaya sok Sandra bersama komplotannya saat berjalan di koridor sekolah.
[Tapi lu kenapa tiba-tiba nanyain Alex?]
“Kangen” jawab Dimas sembarangan.
Terdengar suara tawa geli Alya. [Oh itu tanda-tanda Dim, tanda-tanda mau meninggal suka kangen sama orang yang nggak deket sama kita.]
Dimas ikutan ketawa. Setelah basa-basi sebentar ia kemudian mematikan sambungan telepon dan menyalakan rokoknya. Tubuh Dimas bersandar di kursi dengan berbagai pikiran muncul dalam benaknya.
“Alexa” gumam Dimas.
Sulit rasanya untuk percaya bahwa wajah berjerawat dengan poni tebal dan senyum tipis yang berputar-putar dalam benaknya adalah wajah milik seorang cewek cantik yang ia kenal sekarang dengan nama Olivia.