
Atmosfer di ruang fotocopy terasa begitu mencekam bagi Olivia. Matanya bisa melihat seksama setiap gerak-gerik Varo, bahkan meskipun lelaki itu hanya menggulung lengan kemeja dan membuka akses fotocopy. Sebuah perasaan asing memenuhi dada Olivia. Sosok Varo di depannya ini terlihat seperti orang yang berbeda
“Sejak kapan kamu jadi auditor di KAP Arya?”
Varo berpaling, ia menyingkir, membiarkan Olivia menggunakan mesin fotocopy sementara dirinya menunggu di belakang.
Olivia tidak menjawab, bibirnya terkunci rapat tidak bisa mengatakan apapun. Tampang Olivia terlihat seperti sedang tertangkap basah, seakan persembunyiannya selama enam tahun ini tidak ada artinya. Seseorang yang ia hindari dari hari pertama membaca nama lengkap CEO Ravent kini berdiri tepat di belakangnya.
Sebuah kejadian dengan persentase kemungkinan terjadi sekitar nol koma lima persen malah terjadi padanya.
Tubuh Olivia tersentak. Tanpa permisi tangan Varo menyentuh kedua lengannya. Lelaki itu mendekat, membuat bau parfumnya semakin tercium jelas. Wajah Varo menunduk sedikit dan berbisik.
“Darimana aja kamu?”
Olivia gugup bukan main, ia bisa merasakan tubuhnya mendadak berkeringat dingin. Tangannya bahkan tidak bisa bergerak untuk menyelesaikan pekerjaannya atau sekedar menghempas kasar tangan Varo dari lengannya.
“Aku nyari kamu kemana-mana. Tapi kamu hilang…..Kamu sembunyi dimana?” tanya Varo pelan tapi terdengar menekan, jemarinya menegetuk-ngetuk pelan kedua lengan Olivia.
Wajah Olivia mendongak, dari pantulan kaca dinding bening samar-samar siluet keduanya terpantul. Olivia benar-benar mati kutu.
“Sekarang kamu nggak bisa lari lagi. Ada urusan kita yang belum selesai.”
Varo memutar tubuh Olivia menghadap ke arahnya. Olivia menelan ludah, ekspresinya pucat pasi. Wajahnya mendongak, takut-takut menatap Varo. Lelaki itu terlihat tenang, tetapi sorot matanya berkata lain.
Ada pancaran kemenangan dari sana membuat Olivia mendadak merasa gusar.
Ujung kanan bibir Varo bergerak menampilkan senyum kecil. Varo menemukan Olivia dan wanita itu terlihat tidak berdaya berada dalam cengkramannya. Mendadak perasaan hampanya menghilang begitu saja saat melihat Olivia secara nyata berdiri di depannya.
Disisi lain dari pandangan Olivia, senyum Varo justru terlihat sangat menakutkan baginya. Tubuh tinggi Varo dengan sorot mata tajam membuat Olivia ingin berlari keluar dari gedung ini dan menabrakan diri di tengah jalan.
“Lanjutin kerjaan kamu” pintah Varo tenang melepaskan tangannya dari Olivia. Kepalanya bergerak memberikan kode agar wanita itu kembali bekerja.
Olivia menelan ludah, tanpa sadar ia menghela nafas sembari menekan keyboard mesin fotocopy. Dalam hati Olivia sangat berharap Varo segera pergi dari ruangan itu. Olivia butuh ruang bagi dirinya sendiri, kehadiran Varo membuatnya sesak.
“Kamu tinggal dimana?”
Olivia diam. Ia sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan Varo ataupun berbicara dengan lelaki itu. Olivia benar-benar mengunci mulutnya serapat mungkin.
Suasana menjadi lebih sepi, hanya terdengar suara mesin fotocopy. Cara kerja Olivia menjadi tiga kali lebih cepat, ia terlihat jelas buru-buru menscan semua dokumennya. Terserah hasil scannya akan seperti apa nanti tapi yang penting Olivia harus segera pergi dari situ.
“Kalo kamu scan kayak gitu, ntar hasil pdfnya kebalik” tegur Varo tiba-tiba mengambil semua dokumen dari tangan Olivia.
“Minggir, biar aku yang kerjain.”
Olivia ingin protes, tapi mengingat dirinya sama sekali tidak ingin berbicara, terpaksa ia membiarkan Varo mengambil alih pekerjaannya.
“Kamu sekarang tinggal dimana?” ulang Varo bertanya, wajahnya berpaling lalu tersenyum kecil menyadari eskpresi gugup Olivia.
“Kayaknya kamu lagi mogok bicara, yaudah nggak papa. Aku bisa nanya ke Ms. Ryu atau Arya alamat tempat tinggal kamu”
“Saya pikir bapak nggak perlu sejauh ini untuk tahu tentang saya” jawab Olivia formal. Pada akhirnya mau tidak mau ia harus bersuara dan menunjukan pada Varo batas diantara mereka. Mungkin mereka pernah memiliki hubungan, tapi sekarang bagi Olivia, Varo adalah salah satu klien kantornya.
Varo merapikan semua dokumen yang ia scan.
“Hasil scan dokumen ini masuk ke email aku. Kalo kamu mau, kamu bisa telepon aku untuk minta dokumennya. Aku nggak pernah ganti nomor.”
Varo kemudian melangkah santai melewati Olivia sembari membawa semua dokumen tadi, sesaat sebelum tangannya memutar knop pintu ia kembali berpaling.
“Oh iya, jangan coba-coba minta akses Bram atau karyawan lain, karena mulai hari ini auditor eksternal hanya bisa pakai akses dari aku. Dan juga kamu nggak bisa dapat dokumen tanpa seijin aku. Persetan dengan profesionalisme, aku bakal bikin kamu datang ke aku.”
Olivia menganga lebar mendengar perkataan Varo. Ekspresi gugupnya langsung menghilang digantikan tatapan tidak percaya. Ternyata Varo bisa bertingkah segila ini. Mata Olivia membulat jengkel ketika menangkap jelas senyum Varo. Cowok itu sedang menunjukan seberapa jauh ia bisa melalukan tidakan gila yang akan membuat Olivia kesulitan.
“Brengsek!” maki Olivia emosi.
...----------------...
“Gue mau resign! Nggak mau lagi gue jadi auditor! gue mau berkebun” dengus Olivia ketika masuk ruang auditor.
Rakai mendongak bingung sementara Kesha cekikikan geli.
“Awas, kalo sampai didengar Kak Dendi, bisa habis lu. Dia lagi sensitif gegara ngelihat Rangga mondar-mandir di ruang accounting” kata Kesha.
“Kak Dendi ada ngomong?”
“Enggak, cuman kelihatan aja bete. Lagian si Rangga rada bajingan, masa tadi Rakai mau minta dokumen pajak ditanyain dulu 'ini buat apa?' Nyusahin! Padahal menurut gue ya kalo lu pernah jadi auditor harusnya lu lebih paham data yang kita butuh apa dan gunannya apa” omel Kesha agak keki.
“Terus lu jawab apa Kai?”
“Saya jawab buat ngecek tanggal pembayaran pajak udah bener atau belum, angkanya udah bener atau belum dengan yang tercatat di general ledger. Terus udah langsung dikasih.”
Olivia mangut-mangut. “Bagus! Jangan mau lu terlihat bodoh di depan klien!”
“Apalagi di depan si Rangga!” tambah Kesha setuju. “Kalo sampai dia berani nanya gitu ke gue bakal gue balikin 'menurut lu datanya buat apa? kan lu pernah jadi auditor nih.' Mau kita debat juga mah gue ayuk!”
“Nggak bakal berani dia Kesh. Rangga itu sama-sama senior satu kayak kita nggak bakal berani dia, apalagi sama Kak Dendi. Nah kalo bocah-bocah baru macam Rakai baru dia berani”
“Tipe orang yang pengen banget diakui pinter sama satu semesta. Bikin ribet kerjaan kita aja” kata Kesha dijawab anggukan setuju Olivia.
Setelah itu Olivia kembali bekerja, tapi baru beberapa menit ia kembali teringat problemnya. “Tuh kan hampir lupa gue! Pokoknya gue mau resign! Minta formulir resign dimana?”
“Lu serius mau resign? Keluar dimasa sibuk gini, dendanya tiga kali lipat gaji loh.” Kening Kesha mengernyit bingung.
Olivia mengangguk serius.
“Nggak papa. Gue nggak butuh duit, yang penting gue selamat”
“Kenapa sih tiba-tiba mau resign? Nemu wangsit apa lu dari ruang fotocopy?”
Olivia tidak menjawab. Kalau Varo tidak menyingkir dari hidupnya maka Olivia yang akan pergi. Ia sudah pernah menghilang dari kehidupan lelaki itu, jadi tidak ada salahnya jika ia memilih untuk menghilang lagi.
“Kalo perlu, gue akan pindah tempat tinggal di kota lain” gumam Olivia. Tekadnya sudah bulat