Mr. Bully

Mr. Bully
S2; 10. Always Remember Us This Way - Lady Gaga



Hi...Maaf karena sudah menghilang. Tapi aku masih disini. Ada banyak hal yang terjadi dan aku sedang berusaha meluruskan segala sesuatu kembali pada tempatnya sembari mengumpulkan keberanian untuk mempertaruhkan hidupku. Aku memutuskan untuk memulai segala sesuatu dari nol, karena keajaiban itu tidak datang dari orang lain.


Aku tidak baik-baik saja, tapi terima kasih karena sudah menunggu.


^^^-Eden.^^^



Tepat pukul delapan malam ponsel Olivia bergetar lagi. Sebuah panggilan masuk dari Varo membuat fokusnya teralihkan dari layar laptop.


[Aku di parkiran bawah]


“Kantor aku?” tanya Olivia terkejut.


[Iya. Buruan turun, aku males minta akses ke lobi depan]


“I-iya bentar..... Kak aku ijin ke bawah bentar” kata Olivia pada Dendi lalu melangkah pergi saat lelaki itu mengangguk.


“Mau ketemu siapa Olivia? Cieeee” goda Kesha.


Olivia melotot dan menghilang dari balik pintu keluar. Ia turun ke bawah menuju ke parkiran mobil di samping kanan, tampak rolls royce hitam Varo terparkir di pojok. Olivia mengetuk pintu mobil lalu masuk ke dalam.


“Kamu ngapain ke sini?” tanya Olivia agak takjub dengan kunjungan dadakan Varo.


“Ketemu kamu. Nih”


“Apa ini?...Wow....” Olivia membuka tiga plastik besar berisi berbagai cemilan dan kopi terbungkus rapi.


“Aku enggak tau tim kamu suka yang mana jadi aku minta Indah mesan semua yang mungkin kalian suka.”


Senyum Olivia mengembang lebar. “Makasih buat Mbak Indah yang udah mesan dan Mas Varo yang bela-belain nganterin. Tapi sebenarnya kayak gini enggak boleh tau, bisa dianggap sogokan klien pada auditornya dan mencoreng independensi”


“Aku niatnya cuman mau nyogok kamu.”


Olivia tertawa lebar. “Makasih ya”


“Udah sana balik atau mau ditungguin?”


“Enggak usah, aku nginep di kosannya Kesha... Eh.....tapi aku boleh minta tolong enggak?”


“Apa?”


“Tentang kerjaan sih, agak licik emang. Tapi aku mau manfaatin kamu” kata Olivia jujur, Varo mengangguk dengan senyum tipis. “Boleh request enggak ke bagian accounting kamu kalo ngasih data ke auditor agak cepet dikit?”


“Mereka lamban banget ya?”


“Jujur iya, karena setelah visit gudang kemarin ada beberapa data yang diminta, tapi belum ada kejelasan sampai sekarang, padahal udah difollow up tim aku setiap hari. Aku tuh khawatir kalo ngasih datanya lama atau enggak ada kejelasan bakal ngefek ke timeline dan deadline yang udah dirapatin di awal masa audit kemarin” jelas Olivia hati-hati.


“Oke, nanti aku bilang. Ada lagi?”


“Enggak ada sih” geleng Olivia. “Eh tapi accountingnya jangan dimarahin ya, aku cuman request aja. Pokoknya kamu nggak boleh marah-marah, nanti pada resign, kalo mereka resign yang ngerjain keuangan kamu siapa? Iya kan?”


Kepala Varo bersandar di stir mobil. Matanya menatap Olivia lekat-lekat. Tanpa Olivia sadari akhir-akhir ini ia tidak lagi irit berbicara saat bersama Varo, malah bisa dibilang sedikit lebih cerewet. Jika diingat kembali di waktu dulu, Olivia juga tidak banyak berbicara, ia cenderung lebih senang mendengarkan dan menyimpan rapat isi hatinya.


Tapi sekarang Olivia tidak lagi seperti itu, Varo bisa merasakan Olivia menjadi lebih bebas dan terbuka pada perasaannya, ia tidak lagi bersikap seperti seorang yang sempurna dan menjadi impian bagi semua kaum adam. Waktu enam tahun cukup membuat Olivia menjadi dirinya sendiri. Beberapa bagian dari Olivia berubah, tapi beberapa bagian lagi masih tetap sama, dan kedua sisi itu justru membuat Varo merasa semakin menyukai Olivia. Sampai kapanpun eksistensi Olivia di hati Varo tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.


“Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?”


“Kamu cantik” jawab Varo menjulurkan tangan merapikan beberapa helai rambut Olivia ke belakang telinga wanita itu.


“Aku tau, aku udah bosen ngedengerin itu dari semua orang” tawa Olivia berusaha menyembunyikan degup jantungnya yang mulai berdetak tidak karuan.


“Udah sana balik, kasihan tim kamu nungguin” kata Varo menarik tangannya dan memegang erat stir mobil, sedetik lalu ia hampir saja ingin menarik Olivia dan mencium wanita itu.


“Yaudah byeeee. Kamu nyetirnya hati-hati.” Olivia keluar dari mobil, sedikit kesulitan ia melambaikan tangan dan setelah itu balik badan masuk ke dalam lift.


Kalem Varo, naklukin Olivia itu kudu pelan-pelan, batin Varo menghela napas bersandar di kursi mobil.


...----------------...


Kening Varo berkerut membaca laporan yang diberikan Indah, ia menaruh laporan itu di atas meja sembari mendengarkan penjelasan panjang lebar Regi, kuasa hukum ravent. Di samping Regi ada Bambang sekertarisnya sigap mencatat isi rapat mereka hari itu.


“Semua masalah hukum gue serahin ke elu, meskipun ujung-ujungnya karakter game gue tetap dipakai, tapi setidaknya gue mau vorens bayar denda sampai mereka miskin.”


Regi mengangguk paham sembari memberikan tanda pada pasal-pasal hukum yang akan ia gunakan untuk memberatkan lawan di sidang nanti.


“Besok ketika berita kita menuntut vorens keluar, gue yakin akan ngefek ke harga saham mereka. Bilang ke Jimmy, gue mau tim finance mulai mantau terus harga saham vorens dan beli saham publik sebanyak yang kita bisa” pintah Varo sembari melingkari beberapa point di layar tabletnya.


Indah mengangguk sigap mencatat apa yang Varo minta. Selanjutnya mereka menghabiskan waktu sekitar beberapa jam untuk membahas masalah plagiarisme yang dilakukan vorens. Varo berbicara panjang lebar tentang rencana jangka panjang yang ia ingin lakukan untuk mengakusisi vorens secara perlahan. Cara berbicara Varo terdengar tenang, tapi kontradiktif dengan ambisi yang terlihat dari tatapan matanya.


Pintu ruangan diketuk, wajah Bima menyembul dengan senyum lebar. “Halo-halo...Lagi rapat apa nih? Udah jam pulang, kalian nggak kangen rumah?” ujar Bima kalem.


“Calon bapak...” gumam Indah.


Bima nyengir lebar, beberapa bulan ini Bima sedang menikmati waktu-waktunya sebagai calon bapak. Sekarang setiap pulang kantor kerjaannya mampir ke berbagai tempat membeli cemilan untuk Lia yang ngidam ini itu.


“Rapatnya masih lama?”


“Masih, sampai besok pagi. Lu pulang sana” usir Varo kejam.


“Lia lagi di rumah maminya, gue sendiri di rumah, males mau pulang” geleng Bima duduk di samping Varo ikut memperhatikan rapat ke empat orang itu, sampai sejam kedepan ketika selesai Bima mendekati Varo dan berbisik pelan. “Ke bar yuk”


“Sama siapa?”


“Gue, Regi, dan dua cewek lagi, temennya Regi.”


Varo mendongak ke arah Regi, lelaki itu nyengir lebar melemparkan peace. Jam kerja sudah selesai sekarang saatnya membicarkan kehidupan pribadi mereka.


“Inget Engel nggak? Cewek yang lu ketemu minggu lalu di bar bareng gue? Dia ngotot pengen dikenalin ke elu, jadi hari ini gue nyuruh cewek gue buat ngajakin dia juga” jelas Regi saat Bambang dan Indah pamit keluar.


Kening Varo berkerut mencoba mengingat sosok Engel yang dimaksud Regi. Samar-samar dalam banyangannnya muncul seorang wanita cantik berambut pendek, berwajah blasteran, dan mengenakan dress pendek berwarna hijau toska. Saat gambaran tentang Engel muncul saat itu juga pikiran Varo mengingat Olivia. Besok di acara nikahan Dimas, Olivia pake dress apa ya? batin Varo tanpa sadar tersenyum.


“Nah kan! Udah inget kan lu? Yaudah yuk gas. Si Regi mau jemput Riska sama Engel dulu, gue numpang lu” tepuk Bima salah sangka.


“Bim, perubahaan rencana, mereka udah otw, langsung ketemu disana aja” lapor Regi.


“Oh baguslah kalo gitu. Ayo, lu mau gue gendong?”


”Berisik lu” delik Varo berdiri mengambil jaket dan kunci mobil lalu melangkah pergi mengikuti Bima dan Regi.


...----------------...


“Happy birthday!!! Udah tua!”


Andreas tertawa geli meniup kue yang disodorkan Kesha lalu pasrah menegak alkohol dari Felix. Mereka bersorak gembira menyanyikan sepenggal lagu ulang tahun untuk Andreas kemudian sibuk cipika cipiki dan foto-foto heboh sembari menikmati cemilan dan alkohol di atas meja.


“Guys, ini dibayarin Andreas” celetuk Kesha, teman-temannya bertepuk tangan ria sementara Andreas sekali lagi hanya mengangguk pasrah dibalut tawa senang.


“Buka dong hadiah dari kita”


“Apa nih? Kalo limpahan kerjaan gue nggak mau” canda Andreas berbinar ketika melihat kotak jam tangan. “Makasih ya, lu pada mesen aja yang kalian mau, ntar kita bayar pake duit Pak Arya hahaha.”


Semua bergembira termasuk Olivia dan Lisa yang duduk di ujung, kedua wanita itu mengobrol tapi dengan suara keras karena alunan musik dari meja DJ terdengar membahana memenuhi ruangan bar itu.


“Gue bulan depan resign” kata Lisa sembari menghembuskan asap rokoknya ke samping.


“Habit. Ngomong aja dulu, siapa tau jadi kan?” kekeh Lisa.


“Oliv, lis, kalian nggak mau nambah?” tanya Andreas menghampiri. Lisa mengangkat tangan mengambil buku menu dan menunjuk beberapa minuman, wajahnya berpaling pada Olivia.


“Lu?”


“Air mineral dan kentang”


“Ckck. Harusnya kita nongkrong di Mcd aja.”


Olivia manyun sementara Andreas tertawa geli. “Kan gue udah bilang gue nggak bisa minum”


“Coba dikit aja”


“Nggak mau, nggak suka”


“Gimana mau suka kalo coba aja belum pernah?”


“Udah, udah, nggak papa Olivia nggak usah minum, biar tetap sober. Ntar kalo ada yang nggak bisa pulang, dianterin pulang sama Oliv” ujar Andreas.


“Dengan kemampuan menyetirnya yang tidak seberapa itu? mending gue jalan kaki”


“Jahat ih” balas Olivia tapi ikut tertawa geli.


“Ei, lu pada nggak mau foto bareng?” tegur Kesha tiba-tiba. “Sini gue fotoin.”


Tanpa dikomando Kesha langsung mengeluarkan potret dan mengambil beberapa foto. Andreas mengangkat tangan merangkul Olivia sembari sama-sama tersenyum lebar. Terdengar teriakan godaan dari teman-temannya yang dibalas dengan tawa geli. Sudah menjadi rahasia diantara teman-teman Andreas kalau sebenarnya lelaki itu menyimpan rasa pada Olivia.


“Cocok ih, apalagi kalo background belakangnya ada lambang KUA” goda Ilham mengundang tawa. Olivia mencibir tapi sudah kebal dengan godaan anak-anak.


“Kalo mau yang lain langsung pesan aja ya” bisik Andreas sebelum melangkah pergi kembali ke tempat duduknya.


Lisa berdehem pelan. “Kayak pangeran nawarin harta ke tuan putri”


“Bisa aja lu.”


Lisa tertawa geli mengedarkan pandangannya kesekitaran mereka. Tatapannya tertumbuk pada seorang lelaki dari meja seberang yang terlihat jelas sedang melirik mereka. Lisa menelan ludah, lelaki itu tampan sekali, ia bersandar di sofa dengan tangan kanan memegang gelas alkohol,


Tapi aneh, meskipun orang-orang di meja itu mengobrol dengan gelak tawa, lelaki itu hanya diam memperhatikan meja Lisa, bahkan meskipun ada seorang wanita cantik duduk di sampingnya tapi ia seperti tidak tertarik untuk meladeni wanita itu. Lisa lantas menajamkan pengelihatannya mengikuti arah pandang lelaki itu.


“Oliv” korek Lisa. ”Ada cowok ngeliat elu, tuh.”


Oliva mendongak ke arah meja yang ditunjuk Lisa dengan dagunya. Matanya menyipit lalu saat itu juga senyumnya muncul sedikit, Varo duduk di sana terlihat jelas sedang memperhatikan Olivia. Olivia tidak berkata apapun ia langsung berdiri dan bertukar tempat dengan Felix yang entah berada dimana. Posisi Olivia kini membelakangi Varo.


“Kenapa lu? Nggak tertarik? Apa gue aja?”


“Yaudah sana coba deketin”


“Enggak deh, entar gue di cekek pacar gue” cengir Lisa. Mereka lanjut mengobrol, tidak lagi membahas Varo, sesekali Lisa masih mencuri pandang ke arah Varo meskipun ia tidak lagi menatap mereka. Lelaki itu tampan jadi wajar jika Lisa merasa tertarik.


“Gue ke toilet bentar” ujar Olivia melangkah pergi.


Toilet bar berada di ujung dekat lorong, setelah menyelesaikan urusannya Olivia berkaca sebentar di wastafel, ia merapikan ikatan rambutnya dan kemudian keluar.


“E-eh...” Olivia kaget ketika melihat Varo berdiri di dekat pintu luar toilet. Lelaki itu tersenyun geli menarik Olivia mendekat.


“Lama banget di dalam, aku kira kamu tidur”


“Aku enggak minum” jawab Olivia. Mendadak ia teringat lagi pertemuannya dengan Varo beberapa tahun silam. Sama persis seperti ini ketika keduanya berbicara di depan toilet club, hanya saja saat itu Varo terlihar gugup ketika untuk pertama kalinya mengajak Olivia berkenalan.


“Kamu ngapain kesini?”


“Nemenin temen, meja kamu ada yang ulang tahun ya?”


“Iya. Aku enggak akan nunjuk yang mana orangnya karena aku yakin kamu udah tau” kekeh Olivia.


“Kamu pulang jam berapa? Mau bareng?”


“Enggak. Aku pulang sama temen aku yang tadi duduk sebelah aku, lagian ada Kesha, nggak enak kalo dia tahu CEO ravent nganter pulang auditor eksternal, entar jadi gosip” tolak Olivia, Varo mengangguk paham.


“Oliv.”


Keduanya berpaling Lisa menghampiri mereka, kening wanita itu berkerut tapi terlihat jelas sedang berusaha nahan senyum.


“Hai...e-em...”


“Varo.” Varo mengulurkan tangan.


Lisa menyambut ramah tapi sedikit salah tingkah melihat senyum manis Varo. “Lisa, kalian...udah kenalan ya?”


“Iya. ” angguk Varo.


“Lu kesini sama siapa?” tanya Lisa basa-basi.


Varo tertawa menyebut nama teman-temannya, kedua orang itu mengobrol singkat sementara Olivia bersandar di dinding, sesekali Olivia geleng-geleng melihat tingkah Lisa seperti anak abg sedang jatuh cinta, kecerdasaannya mendadak merosot saat mengobrol dengan Varo.


“Jadi lu kerja di ravent? Oohh, bagian apa?”


“Perencanaan. Bekerja setiap hari untuk mengembangkan perusahaan”


“Hmm, manajemennya ya. Oke sih. Gajinya mantep ya? Gue pernah ikut tes masuk ravent, susah banget kayak tes CPNS.”


Olivia berpaling menahan tawa, ia berdehem sebentar tidak ingin mengoreksi obrolan Lisa dan Varo. “Lis, yuk balik”


“Eh bentar, gue mau ke toilet”


“Gue temenin” kata Olivia.


“Tapi...” Lisa menatap Varo sekilas, sayang kalo lelaki itu pergi. Gino maafin aku, tapi cowok ini cakep banget, mafiiiin akuuuu, batin Lisa.


“Duluan aja, gue juga mau balik” senyum Varo, tanpa diduga ia menunduk dan berbisik pelan pada Olivia. “Besok jam lima sore aku jemput.”


Olivia berdehem dan mengangguk salah tingkah, ia sengaja menghindari tatapan Lisa yang membulat lebar.


“Duluan ya”


“Iya hati-hati”


“Sampai ketemu lagi Olivia.” Varo tersenyum dan mengedipkan mata sebelum melangkah pergi.


Lisa menepuk punggung Olivia sampai wanita itu menjerit. “Gila lu!”


“Ih sakit tau!”


“Gue jadi lu, gue tinggal disini, ngobrol sampai pagi....Itu tadi dia bisik apa?”


Olivia menunduk dan berbisik. “Katanya temen lu berisik!”


Lisa tertawa mencubit Olivia pelan. “Gas Vi, nggak usah pake rem, kelihatannya sih oke”


”Gas, gas, gas, entar kecelakaan” sungut Olivia cemberut.