
Dugaan Varo jelas salah besar. Pertemuan bersama Rangga keesokan harinya diselimuti atmosfer kebencian antara Johan dan Dimas. Bahkan meskipun Rangga beberapa kali melemparkan candaan, itu tidak lantas membuat suasana diantara keduanya mencair.
“Main uno aja yuk, yang kalah dihukum” ajak Bima ketika rapat berakhir.
Johan dan Dimas secara bersamaan mengambil garpu dari cutlery holder diatas meja, tanda bahwa mereka menginginkan hukum tusuk garpu untuk siapapun yang kalah di antara keduanya.
“Bim!” tegur Varo menggeleng.
“Lu berdua boleh pergi duluan. Gue masih ada urusan sama mereka” pintah Rangga. Varo dan Bima segera angkat kaki dari situ untuk memberikan ruang pada Rangga, Dimas, dan Johan.
“Mau kemana lu?” tanya Bima ketika Varo melangkah menuju area kafe.
“Ngapel”
“Ikut” balas Bima melangkah lebih cepat dari Varo. “Gue mau menetap aja disini. Kalau kampus pindah kesini, gue pasti rajin kuliah”
“Karena lu yakin pasti ada mahasiswi yang pake bikini kan?”
“Yoi” jawab Bima dengan tawa lebar.
Mereka masuk ke dalam kafe di sambut Sera dari balik meja bar. “Cewek kamu lagi pergi” beritahu Sera tanpa basa-basi pada Varo.
“Kemana?”
“Mencari alamat palsu. Enggak deng, ke kota bareng Kak Nabila” sahut Sera terkekeh geli ketika melihat ekspresi Bima siap melontarkan hinaan pada candaannya.
“Bima demi Tuhan kamu manis banget dari sini. Tolong anterin ke meja nomor delapan dong” rayu Sera menyodorkan nampan berisi kopi dan jus lemon. Bima mendengus mengambil nampan itu dan berlalu.
“Mana kembar ketiga kamu?”
“Lagi dikasih pencerahan sama Kak Rangga. Sekalian sama Johan” jawab Varo menarik kursi plastik dari dalam dapur dan duduk di samping Sera.
Sera berdecak kecil. “Lagian teman kamu aneh-aneh aja, Johan lagi bete malah di ajak berantem”
“Kamu tahu kenapa mereka berantem?”
“Enggak” geleng Sera, sedetik kemudian senyumnya mengembang begitu melihat Gino muncul dengan gelas kosong.
“Hai Sera. Boleh minta satu espresso lagi?”
“Boleh-boleh” jawab Sera mengambil gelas Gino. Dengan cekatan Sera bekerja lengkap dengan senyum manis masih terukir di wajah.
“Olivia lagi pergi” kata Sera menyodorkan espresso dan melihat mata Gino seakan sedang mencari sesuatu.
Gino nyengir lebar kemudian melangkah pergi membawa espressonya.
“Dia suka Olivia?” tanya Varo ketika Gino sudah menjauh.
“Well, di tempat ini bukan kamu doang yang terpesona sama Olivia” jawab Sera.
Varo tersenyum kecil. “Emang aku keliatan banget ya?”
Sera mengangguk. “Tapi kamu harusnya bersyukur karena kamu satu-satunya cowok, selain Johan, yang bisa sedekat itu sama Olivia”
“Dia nggak pernah dekat sama cowok?” tanya Varo heran, baginya Olivia terlihat seperti gadis cantik yang siap menghempas cowok manapun apabila tidak sesuai kriterianya.
“Kamu jangan lihat Olivia dari luar doang, karena kamu bakal ketipu. Olivia itu emang kelihatan kayak anak gaul, tapi aslinya dia cupu” bisik Sera. “Olivia susah dekat sama cowok, dia cepat banget ngerasa nggak nyaman sama orang asing, terutama cowok”
“Kenapa?”
“Entah. Mungkin karena pernah disakiti” jawab Sera acuh tak acuh.
Sesaat Varo kembali teringat cerita Olivia yang patah hati karena ditolak cowok yang ia sukai. Apa efek patah hatinya sedahsyat itu? gumam Varo heran.
“Dan lebih parah lagi Olivia itu termasuk orang nggak peka. Dia baru tahu Gino tertarik sama dia, pas kemarin aku cerita. Selama ini Olivia mikir Gino ngajak ngobrol karena dia emang beneran tertarik sama dunia kuliner. Aneh kan?” tawa Sera geli.
“Tapi kamu tenang aja, aku rasa Olivia sadar sama perasaan kamu. Dia meskipun kayak gitu, tapi nggak bodoh-bodoh banget buat biarin cowok asing terus-terusan ngikutin dia kayak penguntit” lanjut Sera bercanda.
“Aku bukan cowok asing apalagi penguntit”
“Oh ya?”
“Yoi. Olivia pernah bilang aku bukan cowok asing” dengus Varo pura-pura merasa tersinggung mendengar julukan Sera untuknya.
Alis kiri Sera terangkat dengan ekspresi jenaka. “Nah kena kamu sekarang! Kamu beneran suka Olivia kan? Ngaku aja kamu! Tanda-tanda orang suka ya gitu, ingin agar dirinya menjadi istimewa”
“Berisik” kata Varo salah tingkah. Sera ketawa ngakak.
“Senang banget sih ketawa-tawa sampe nggak ngajak-ngajak” kata Bima baru kembali dari meja nomor delapan.
“Oh ini kan lagi ngetawain lu Bim” sahut Varo membuat tawa Sera makin kencang.
Setelah berapa saat tawa Sera berhenti. “Kamu lama banget sih Bim, nganter ninuman doang. Kamu nganter sampai ke Surabaya?”
“Tadi aku sempat minta nomornya” kata Bima menunjuk ke arah seorang cewek yang mengenakan baju berwarna kuning.
“Mukanya sih kelihatan ragu pas mau ngasih nomor, cuman akhirnya tetap dikasih”
“Hati-hati Bim, taunya pas nelpon yang ngangkat bapaknya” kata Varo.
“Sialan lu! Nomor bapaknya dong yang dikasih ke gue? Emang sehina apa sih tampang gue sampe harus dapat nomor bapaknya?” ketus Bima sewot, kedua temannya tertawa geli.
Sampai pukul enam sore Varo dan Bima masih berada disitu menemani Sera bekerja, tidak ada tanda-tanda Johan atau Dimas datang ke kafe seperti biasa. Tapi tidak masalah bagi Varo, karena tampak mobil Nabila muncul dari kejauhan.
“Bantuin Bim” senggol Sera ketika melihat Olivia dan Nabila turun, sedikit kerepotan karena harus membawa kantong belanjaan dan menggendong Gegi.
“Lah kenapa aku?”
“Kamu nggak lihat aku sama Varo lagi ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain” jawab Bima lugu.
“Nah tuh tau” tawa Sera langsung mendapat delikan dari Bima. “Buruan Bim, kasihan anak orang bawa belanjaan berat-berat”
“Males Ser. Aku kalo keseringan gerak alergi aku suka kambuh” balas Bima cuek.
“Ey enak laki, sini bantuin” panggil Nabila. Varo dan Bima langsung bergerak mengambil kantong belanjaan dari mobil.
“Oliv, tolong langsung diatur di dalam lemari ya”
“Oke kak” jawab Olivia.
“Kok kamu duduk?” tanya Bima heran ketika Olivia malah mengambil coklat lumer dan duduk di kursi.
Olivia nyengir lebar. “Kan ada kalian berdua”
“Dasar!” tawa Olivia bangkit berdiri membantu Varo menyusun semua barang belanjaan kafe ke dalam lemari.
“Mau cobain nggak?” tawar Olivia ketika selesai dan ia kembali duduk menyuap sesendok coklat ke dalam mulutnya.
“Enggak, makasih” geleng Varo, perutnya mendadak kenyang setiap kali melihat Olivia dengan santai melahap lelehan coklat lumer. Varo tidak pernah mengerti mengapa Olivia menyukai rasa manis coklat sampai seperti itu. Dua sendok coklat leleh mungkin wajar, tapi lebih dari itu selalu berhasil membuat kening Varo berkerut.
Apa sensasinya sama seperti ketika merokok?
“Kenapa?” tanya Olivia ketika mendapati Varo sedang menatapnya.
“Hari ini kemana aja?” tanya Varo menarik kursi dan duduk di samping Olivia.
“Keliling Jogja. Padahal awalnya cuman mau ke pet shop, taunya malah belanja. Jalan sama Kak Nabila emang suka gitu, nggak ada perencanaan, eh, udah sampai ke ujung dunia.”
Tangan Varo terangkat naik membersihkan sisa-sia coklat di ujung bibir Olivia. “Kamu jadi penggemar coklat dari kapan?”
“Dari kecil. Cuman pas SMA aku berhenti makan coklat, buat diet.”
Tangan Varo menopang dagunya, senyumnya muncul sedikit melihat tingkah Olivia. “Kangen SMA nggak?”
“Aku? Enggak” geleng Olivia. “Kamu?”
“Dikit. Kangen waktu tanding basket”
“Iya sih kamu harus kangen masa-masa itu. Kamu itu keren banget kalau lagi main basket” jawab Olivia jujur membuat senyum Varo mengembang.
“Oh ya?”
“Hmm” angguk Olivia serius. “Kamu paling keren kalo ngelempar bola basket dari tengah lapangan terus masuk ke dalam ring”
“Itu biasanya kepepet kalo udah kalah poin” jawab Varo mengingat ulang momen-momen menyenangkan di masa itu. “Kamu sering ngeliat aku latihan dong?”
“Kadang, dari rooftop sekolah”
“Atap? Entar, jangan bilang rooftop gedung olahraga yang terkenal angker itu?”
“Iya. Kok kamu tahu?”
“Karena hanya rooftop gedung olahraga yang bisa dipakai buat ngecengin anak basket kalo lagi latihan. Apalagi pas masa-masa pertandingan dan kita latihan di jam pelajaran, seingat aku banyak yang sering ngecengin anak basket latihan dari situ”
Olivia langsung mencibir. “Jangan geer, aku di rooftop sekolah bukan karena mau ngecengin kalian latihan, cuman kebetulan aku lagi skip ekskul atau lagi bolos kelas”
“Kamu tukang bolos dong?”
“Kamu juga” balas Olivia. “Aku sering banget setiap kali mau bolos, ngeliat kamu lari-lari ke gedung olahraga. Aku pernah ikuti kamu sekali, dan kamu lagi ngerokok di rooftop. Kalo waktu itu mulut aku ember, aku udah laporin kamu ke guru BK”
“Kenapa gak kamu laporin?”
“Kan aku bolos juga. Kalo aku laporin kamu, aku bakal kena hukum juga dong.”
Varo tertawa geli. “Nggak papa, siapa tau kita bisa dihukum bareng”
“Dih ogah, orang kalo bolos ke rooftop gedung olahraga terus ketangkep itu namanya bodoh. Mending nggak usah bolos, tapi pura-pura tipes di UKS” balas Olivia.
“Dasar tukang bolos”
“Kamu juga” balas Olivia tidak mau kalah.
Varo nyengir lebar, jari tangannya memainkan ujung rambut Olivia yang tergerai bebas. Ekspresinya terlihat jelas menunjukan seberapa besar rasa sayang yang ia simpan untuk Olivia, bahkan meskipun hanya dengan mendengar Olivia mengoceh tentang beberapa kali ia memergoki Varo merokok di rooftop gedung, itu cukup membuat senyum Varo mengembang lebar seperti orang gila.
“Kamu tau nggak? Ekspresi kamu setiap kali natap aku, itu persis kayak mas-mas psikopat” tegur Olivia mengganti topik pembicaraan.
“Aku natap kamu dengan ekspresi psikopat karena aku suka sama kamu” jawab Varo bercanda.
Olivia pura-pura berdecak dengan pandangan meremehkan. “Kamu suka aku tapi nggak mau tiap kali aku tawarin coklat”
“Aku nggak suka rasa manis coklat” balas Varo. “Tapi aku punya cara buat ngerasain itu”
“Gimana?”
“Gini.”
Varo tanpa permisi menarik dagu Olivia dan mengecup pelan bibir cewek itu.
“Kamu ya!” Olivia mencubit lengan Varo pelan. Matanya menyipit pura-pura kesal. “Dasar cowok! Suka banget ngambil kesempatan”
“Dasar cewek! Cantik banget sih” balas Varo membuat Oliva tertawa geli.
Keduanya bertatapan, senyum Olivia masih muncul sementara ekspresi Varo berubah serius. Tangan Varo kembali terangkat naik menyentuh wajah Olivia, perlahan tapi pasti ia mengarahkan wajahnya mendekati wajah Olivia.
Satu tujuan Varo, bibir manis Olivia yang sedikit berbalut coklat lumer.
Tidak menolak, mata Olivia justru terpejam menunggu Varo mendekati dirinya.
“Oliv?” Suara Bima memanggil dari luar membuat Olivia buru-buru menjauhkan wajahnya sementara Varo mendadak menarik napas tanda kesal.
“Oliv, Kak Nabila minta tolong diambilin bubuk coklat dua bungkus” pintah Bima cuek dan tanpa permisi mengambil coklat lumer milik Olivia.
Varo mendengus dan berdecak pelan ketika melihat Olivia berdiri mengambil bungkus coklat dengan sedikit salah tingkah.
“Balik yuk sekalian, dicari Dimas” ajak Bima. Varo hanya diam, ia melangkah keluar mengikuti Bima dan Olivia. Dalam hati cowok itu mengutuk keras kemunculan Bima yang baru saja merusak momen manis di antara dirinya dengan Olivia.
...*****...
“Lu berdua tadi mau ciuman kan?” tawa Bima terbahak geli ketika mereka kembali dari kafe.
Varo tidak menjawab, kakinya menendang-nendang kerikil pasir dan melangkah terus menuju penginapan.
“Jawab dong. Bisu?!”
“Berisik lu!” ketus Varo galak.
Bima nyengir dengan tampang menggoda. Puas rasanya baru saja merusak momen manis Varo disaat yang tepat. Efek dendam karena beberapa minggu ini dirinya selalu ditinggal sendirian oleh Varo dan Dimas.
“Besok jadinya lu ke bandara sama siapa?” tanya Bima setelah bisa menguasai dirinya sendiri dari tawa.
Kening Varo berkerut bingung. “Bandara? Ngapain?”
“Lah kan besok Arini datang, bareng Ete. Lu nggak baca chat ya?” jawab Bima heran.
Dan saat itu juga tubuh Varo mendadak membeku seperti baru berendam di kolam es batu.