Mr. Bully

Mr. Bully
Circles - Post Malone



“Kalo misalnya pas presentasi gue gugup, gimana ya? Gue orangnya suka beseran tiba-tiba kalo lagi gugup” tanya Bima merenggangkan tubuh. Matanya menatap paragraf panjang laporan magang yang ia cicil dari minggu lalu.


“Ijin kencing lah”


“Ya masa di tengah-tengah presentasi gue ijin kencing?”


“Daripada kencing di dalam ruang ujian” balas Dimas kalem lalu beralih pada Varo. “Bagi isi halaman persembahan lu dong”


“Belum buat” balas Varo pendek menyalakan rokok, akhir-akhir ini ia kembali pada kebiasaan lamanya, merokok.


“Yang lu udah buat apa?” tanya Dimas melongok ke layar laptop Varo, masih sama seperti minggu lalu, stuck di paragraf ketiga.


“Lu nggak niat kuliah ya? Jadi germo aja sana” sindir Dimas tidak digubris Varo. Ia kemudian berpindah pada Johan.


“Lu serius nih nomor tujuh ucapan terima kasihnya kayak gini?” tanya Dimas heran, Johan menganguk santai membuat Bima menjulurkan kepalanya mengintip.


“Untuk semua pihak yang selalu menanyakan kapan penulis akan segera lulus” baca Bima tersenyum geli. “Lu gila!”


“Biar ‘semua pihak’ merasa dihargai. Nggak ada kontribusi dalam jajan dan uang kuliah gue, tapi ributnya minta ampun nanya kapan gue lulus” balas Johan kalem.


“Dosen pembimbing magang lu semua udah ada?”


“Udah. Gue dapat Bu Laras” jawab Bima.


“Dosen tua yang ngajar manajemen keuangan?”


“Iya”


“Hati-hati lu sama Bu Laras, beliau orangnya sensian. Gue dua kali ikut kelasnya, nggak pernah lulus”


“Eh gue tahu tuh. Gosipnya gara-gara dulu ada mahasiswa cowok anak bimbingan skripsi Bu Laras tiba-tiba ngilang, dikira meninggal, taunya lagi berlibur di laut” cerita Johan. “Mana itu mahasiswa banyak protes lagi, gimana beliau nggak sebel”


“Tapi ini kan bimbingan magang, harusnya Bu Laras lebih kalem” ujar Bima yakin langsung di jawab gelengan Johan.


“Enggak Bim. Mau skripsi, magang, tugas, kalo itu urusannya sama mahasiswa cowok, beliau pasti sensian”


“Tipikal cewek. Sekalinya disakitin langsung menggeneralisasi semua cowok sama aja” tukas Dimas. “Kalo semua cowok sama aja, gue mirip Adam Levine”


“Iya Dim, lu mirip Adam Levine, tapi dari sini sampai sini” angguk Bima menunjuk leher Dimas sampai mata kaki. Teman-temannya ketawa geli lalu lanjut mengetik.


“Eh anak laki, tolongin dong.” Terdengar suara Nabila dari belakang  membuat mereka berpaling, tampak wanita itu sibuk membopong-bopong dus besar diikuti Olivia dengan plastik besar di belakang. Johan dan Varo langsung berdiri mengambil kardus dan plastik itu.


“Ngerjain laporan ya? Jangan lupa minum, kita ada menu baru, es jeruk Mandarin. Jadi habis minum bisa langsung tai chi” kelakar Nabila.


“Yaelah kak, kirain mau ditraktir” balas Bima.


Nabila hanya nyengir lebar kemudian berlalu diikuti ketiga orang di belakangnya. “Jo, kardusnya taruh di dalam. Varo isi plastiknya tolong di atur di rak ya” pintah Nabila lalu masuk ke dalam ruang makan diikuti Johan.


Varo menaruh plastik di atas meja bar, ia menaruh isi plastik ke atas rak tanpa mengatakan sepatah katapun pada Olivia. Suasana diantara mereka terasa sangat kaku, bahkan Olivia sendiri terlihat sedikit kebingungan harus mengatakan apa, karena terlihat dari raut wajah Varo, cowok itu tidak ingin berbicara padanya. Percakapan terakhir mereka beberapa hari lalu membuat keduanya mendadak menjadi orang asing.


“Ada lagi yang harus aku bantu?” tanya Varo.


“Enggak ada. Makasih ya” jawab Olivia kikuk. Varo tidak menjawab, ia langsung melangkah keluar meninggalkan Olivia yang menghela nafas pelan menatap punggung cowok itu menjauh.


“Weleh-weleh, seksi banget. Uuu” komen Dimas pertama kali ketika Ete dan Arini muncul. Kedua cewek itu mengenakan bikini dengan sekujur tubuh basah, tanda baru selesai berenang.


“Sini duduk, mau di kursi atau pangkuan gue?” tanya Bima. Ete mencibir memilih menarik kursi duduk di sebelah Johan.


“Dasar lu gatal!” semprot Ete.


“Gatalan elu lah. Ngapain lu duduk dekat-dekat Johan?”


“Idih, Johan aja nggak protes. Kenapa lu yang sewot?” balas Ete salah tingkah, rona wajahnya berubah kemerahan dan bergumam singkat tanda akan menghajar Bima setelah ini. Bima cekikikan geli.


“Laporan magang kalian udah sampai mana?” tanya Arini buka suara, tangannya mengapit mesra lengan Varo.


“Udah sampai tahap gue mau DO. Gue capek, kenapa harus buat laporan? Kenapa nggak storytelling? Gue rela deh ngajak dosen penguji nongkrong di Starbucks terus gue ceritain lika liku kehidupan gue menjadi anak magang” keluh Dimas.


“Aku hitung-hitung kalian berempat udah hampir sejam disini dan belum beli apa-apa.” Sera muncul tanpa basa-basi menyodorkan kertas pesan. “Mana cuman mesan air putih lagi. Kalo mau cari yang gratis mending minum air laut sana”


“Sorry Ser, lagi fokus ngerjain tugas” cengir Johan mengambil kertas dari tangan Sera. “Kalian mau pesan apa?”


“Jus jeruk Mandarin, kata Kak Nabila habis minum jus jeruk Mandarin bisa langsung tai chi” kata Bima.


“Oh itu kalo mesan sekali. Kalo sampai sepuluh kali mesan, kamu dapat bonus foto sama Jackie Chan” balas Sera cuek. “Buruan nulis, aku masih banyak kerjaan”


“Pelayan tidak ramah” goda Bima.


“Pelanggan tidak tau diri” balas Sera tidak mau kalah.


“Entar kertasnya gue yang anterin” tahan Arini, Sera langsung mengangguk dan melangkah pergi.


“Mau pesan apa kalian? Kali ini biar abang Bima yang bayar” ujar Bima berlagak, teman-temannya langsung memesan wine dan bir yang paling mahal membuat Bima menyesal.


Setelah beberapa saat kemudian Arini berdiri dan melangkah mendekati meja bar. “Hai” sapanya pada Sera. “Ini pesanan kita. Sorry agak lama”


“Nggak papa. Nanti di anterin” balas Sera ramah.


“Gue tunggu disini aja” geleng Arini berusaha tersenyum meskipun terkesan agak kaku. “Ada yang bisa gue bantuin?”


“Nggak usah, kamu duduk aja” tolak Sera halus. Arini mengambil kursi dan duduk di depan meja bar memperhatikan gerak-gerik Sera. Wajahnya berpaling ketika melihat Olivia keluar dari dapur dengan toples berisi cupcake.


“Hai” sapa Olivia paling pertama lalu menyodorkan cup cakenya. “Mau cobain? Baru aku buat loh”


“Enggak makasih, gue nggak suka yang manis-manis” geleng Arini. Olivia angkat bahu masih dengan ekspresi ramah, ia menaruh cup cakenya di atas meja bar dan menarik kursi duduk di depan Arini sibuk membuat sketsa seseorang. 


“Sketsa lu bagus” kata Arini tiba-tiba membuat Olivia mendongak.


“Makasih, tapi aku masih butuh banyak belajar”


“Itu siapa?”


“Bima” jawab Olivia. “Kata Dimas, Bima ulang tahun minggu depan, aku nggak tahu mau ngasih apa jadi aku buat aja ini. Ntar bakal di warnain sama Sera. Jadi konsep hadiahnya two in one” jelas Olivia panjang lebar.


Arini mengangguk, ia ingin tersenyum tapi saraf-saraf wajahnya terasa sangat kaku di depan Olivia. Wajah Arini menunduk pura-pura memperhatikan gerak pensil Olivia di atas kertas, namun sesekali matanya melirik Olivia. Di mata Arini, Olivia itu cantik, sangat cantik bahkan. Fisik cewek itu terlihat sempurna, tanpa ada cacat sedikitpun, membuat Arini harus berbesar hati mengakui bahwa dari segi fisik ia bukanlah lawan bagi Olivia.


Lawan.


Benar.


Pertengkarannya dengan Varo terakhir kali membuat Arini memandang Olivia sebagai lawan. Ia tidak cukup bodoh untuk tidak menyadari ada sesuatu yang terjadi di antara Varo dan Olivia. Entah Varo yang diam-diam menyukai Olivia, atau Olivia yang menyukai Varo.


Arini berharap opsi kedua adalah jawaban atas perasaan tidak karuan di hatinya. Meskipun baru beberapa hari disitu tapi Arini dapat dengan jelas melihat perbedaan dari sorot pandang Varo pada Olivia, dan begitu juga sebaliknya. Kedua orang itu tidak berbicara satu sama lain, mereka terkesan sedang menciptakan jarak, namun disatu sisi keduanya diam-diam saling memperhatikan.


Hal itu membuat Arini merasa kesal. Ia ingin bertanya pada Varo, tetapi siratan wajah cowok itu menunjukan bahwa mereka akan bertengkar hebat apabila membawa nama Olivia dalam perdebatan mereka. Satu-satunya yang bisa Arini lakukan sekarang adalah diam-diam memperhatikan Olivia dan mulai membenci cewek itu. Bahkan meskipun ia sama sekali tidak mengenal Olivia.


“Ada apa?” tanya Olivia ketika mendongak dan menangkap basah Arini sedang menatapnya.


Arini gelagapan terlihat salah tingkah “Kapan-kapan berenang bareng yuk. Sama gue dan Ete” ajaknya basa-basi.


“Enggak deh makasih. Aku nggak bisa berenang”


“Nggak papa, ntar dilatih sama Ete. Dia pernah part time jadi guru les renang” balas Arini mencoba terlihat biasa saja saat berbicara dengan Olivia, padahal hatinya sedang menggebu-gebu dipenuhi rasa kesal.


“Aku baru sekali latihan renang sama Sera dan aku langsung nyerah. Aku nggak suka masuk ke dalam kolam” geleng Olivia lagi. “Tapi makasih udah nawarin.”


Arini hanya mengangguk tidak mengatakan apapun lagi. Ia buru-buru mengucapkan terima kasih pada Sera ketika nampannya terisi, kemudian segera melangkah kembali ke meja.


Sesaat Arini termangun, ia bisa melihat wajah Varo yang menatap ke arahnya. Tapi bukan tepat kepada Arin, namun melewati cewek itu, membuat Arini menyadari bahwa tatapan itu Varo tujukan untuk Olivia. Tatapan dengan siratan sendu yang berakhir ketika Arini tiba di meja dan menaruh nampan.


Wajah Varo berpaling dan tanpa mengatakan apapun ia menutup laptopnya lalu melangkah pergi, tidak mengacuhkan panggilan Bima ataupun tatapan heran teman-temannya.