
Rolls Royce hitam Varo melaju menembus langit malam Jakarta, ia menurunkan kaca jendela membuat wajah Olivia berpaling. Hati Olivia sedikit menghangat, lelaki itu masih ingat rupanya. Tangan Olivia lantas terjulur keluar sedikit merasakan angin malam. Tenang.
“Aku sekarang udah jauh lebih baik. Udah bisa naik busway juga.....Ya meskipun kadang kalo penuh aku lebih milih naik ojek online” beritahu Olivia pelan sembari menaikan kaca jendela. Bibirnya bergumam mengikuti alunan lagu saat dirasa Varo tidak mengatakan apapun.
Mata Olivia melirik Varo, hanya sekilas tapi Olivia bisa mendapat gambaran jelas perbedaan Varo dewasa dan Varo enam tahun lalu. Lelaki itu tidak lagi banyak berbicara, ia cenderung pendiam dan memperhatikan lawan bicaranya dengan seksama. Olivia harus mengakui tatapan tajam Varo padanya membuat hatinya sedikit menciut, ia tidak bisa menebak apakah tatapan Varo adalah sebuah penilaian atas perkataannya atau bukan. Sikap Varo yang berubah jauh lebih tenang justru membuat Olivia merasa gelisah, ia takut rencannya untuk menyelamatkan kafe Rere malah membuatnya kembali kepelukan lelaki itu.
Olivia juga tidak bisa memastikan apakah sikap Varo ini karena ia sedang mempermainkan dirinya untuk balas dendam atau tidak, mengingat kisah masa lalu mereka yang berakhir buruk.
“Kita mau makan dimana?”
“Restoran Kak Amirah, baru buka cabang di dekat daerah rumah kamu” jawab Varo.
Mobil melaju kencang dan kemudian berbelok di lobi sebuah bangunan yang dipugar dan memberikan kesan klasik Perancis. Papan nama bertuliskan Sirene membuat bibir Olivia berdecak pelan, ia tahu tempat ini dari cerita Lisa beberapa waktu lalu dan sampai hari ini Sirene menjadi penyesalan terbesar Lisa yang harus menghabiskan beberapa juta rupiah untuk merasakan sepotong steak.
“Muka aku lecek nggak?” tanya Olivia menahan Varo keluar dari mobil. “Bau nggak badan aku?...Ayo jawab, kamu nggak mau kan malu gara-gara aku lecek sendiri di dalam?”
Secara tiba-tiba Varo maju membuat Olivia spontan mundur, bau parfum Varo menyeruak masuk ke hidung Olivia. Musk. Tangan Varo membuka dashboard mobil dan mengeluarkan cermin darisana.
“Punya siapa?”
“Bima” jawab Varo berbohong, padahal itu milik salah satu mantannya dulu dan lupa ia singkirkan dari situ.
Sembari bercermin Olivia memperhatikan pantulan wajahnya, ia merapikan ikatan rambut, mengenakan lipstik, dan kemudian menyemprotkan sedikit parfum.
“Manis”
“Hmm?”
“Bau parfum kamu manis” gumam Varo.
“Maaf ya, nanti pas pulang aku buka jendela biar baunya hilang” balas Olivia salah sangka. Varo tidak menjawab, ia membuka pintu mobil dan melangkah masuk diikuti Olivia.
“Sini.” Tanpa permisi Varo meraih tangan Olivia dan mengengam erat. Batin Olivia menjerit dan jantungnya mendadak berdegup tidak karuan. Sudah lama namun perasaan aneh itu ternyata masih biasa ia rasakan.
Tenang Oliv, tenang. Ini Varo dengan sejuta misteri yang belum terpecahkan, lu harus hati-hati, nggak boleh lengah! batin Olivia.
“Hai, Mr. Wijaya.” Seorang lelaki bule dengan aksen British kental menyapa Varo, di sampingnya seorang cewek Indonesia mengandeng lengannya mesra namun matanya jelas melemparkan tatapan minat pada Varo.
“Hai, Mr. Smith, senang bertemu dengan anda”
“Saya terus melihat ravent di berbagai kanal berita, sepertinya banyak hal bagus terjadi pada anda.”
Varo tersenyum dengan anggukan singkat.
“Saya berharap bisa memiliki waktu untuk minum teh dengan anda sesegera mungkin”
“Anda bisa mengirim undangannya, kebetulan kakak ipar saya memilih kedai teh yang enak di kota ini.”
Smith tersenyum senang selanjutnya ia berpaling pada Olivia.
“Gadis anda sangat cantik”
“Terima kasih, dia tunangan saya.”
Mata Olivia hampir membulat saat mendengar perkataan Varo, tapi bibirnya buru-buru tersenyum lalu memperkenalkan diri secara singkat pada Smith.
“Sepertinya akan ada banyak gadis yang patah hati karena anda sudah memiliki seseorang dihati anda” kata Smith untuk terakhir kali sebelum ia pergi.
“Tunangan kamu emang cantik banget” sindir Olivia. Varo hanya tersenyum lalu mengikuti waitress menuju tempat di pojokan.
Olivia membaca seksama buku menu yang diberikan. Menu yang tercatat disitu terdengar istimewa namun Olivia lebih fokus pada fakta bahwa tidak ada harga yang tertera. Matanya melirik Varo, lelaki itu pasti sangat kaya sekali sampai tidak peduli apakah restoran yang ia singgahi memiliki menu seharga sofa mewah. Satu peringatan kecil untuk Olivia adalah; menu tanpa harga cenderung akan mengorek lebih banyak nilai rupiah.
“Aku enggak tau mau pesan apa” kata Olivia jujur.
Olivia menyimpulkan Varo yang akan membayar makan malam mereka dan Olivia memutuskan lebih baik ia makan apa yang dipesan Varo. Selain tidak bisa menebak seberapa mahal setiap menu, Olivia sudah berusaha merayu Varo tadi, dan ia tidak ingin terlihat sebagai wanita yang sedang memanfaatkan situasi. Meskipun sepertinya Varo terlihat tidak memikirkan hal itu, tapi mendadak Olivia merasa perlu sedikit menjaga harga dirinya.
Olivia menopang dagu dan melamun memperhatikan Varo berbicara dengan waitress. Ah seandainya Rere tau Olivia sedang berada di restoran Sirene bersama seorang lelaki tampan duduk di depannya, mungkin wanita itu akan berteriak histeris.
Bukannya memperjuangkan sewa gedung, aku malah berkencan batin Olivia. Eh, tapi makan malam ini bisa disebut kencan?
Olivia terus memperhatikan Varo sampai tidak menyadari lelaki itu sudah tidak lagi berbicara dengan waitress dan kini balas menatapnya. Varo tersenyum lalu mencondongkan tubuh membuat Olivia terkejut.
“Ngelamunin apa?” tanya Varo. Olivia menggeleng membuang jauh-jauh kata kencan dari otaknya.
“Kamu tadi mesan apa?” tanya Olivia tidak menjawab pertanyaan Varo.
“Sesuatu yang enak untuk dimakan. Rekomendasi Kak Amirah, aku pikir kamu akan suka” jawab Varo gantian menopang dagu terang-terangan menatap Olivia.
Olivia berdehem pelan, ia berusaha keras untuk mengendalikan diri di depan Varo. Olivia berani bersumpah, di bawah remang-remang cahaya seperti ini Varo itu terlihat dua kali lebih seksi dibanding hari-hari kemarin.
“Kamu kenapa natap aku gitu? Kayak mau makan aku” tanya Olivia.
“Karena aku senang kamu di depan aku.”
Olivia jadi salah tingkah, ia mengaruk lehernya yang tidak gatal sebagai pelampiasan degup jantungnya yang berdetak tidak karuan.
“Kamu selama enam tahun ini kemana aja?”
“Hidup kayak orang biasa. Nggak ada yang istimewa” jawab Olivia singkat.
“Aku yakin kamu punya banyak informasi tentang aku dan pertanyaan tadi harusnya sudah bisa terjawab dari informasi itu”
“Memang. Tapi aku pengen dengar dari mulut kamu.” Varo terlihat sangat serius. “Kalo gitu kamu jawab pertanyaan aku ini. Dalam enam tahun kebelakang, sekali aja, pernah nggak kamu mikirin aku?”
Hampir setiap hari aku mikirin kamu. Aku pikir dengan ninggalin kamu terpuruk buat aku bahagia tapi aku malah merasa bersalah. Aku berusaha keras menyibukan diri biar aku lupa sama kamu, karena kadang ketika aku hanya diam aku ingin ngehubungin kamu, ingin dengar suara kamu, aku rindu setengah mati sama kamu, batin Olivia.
Hening.
Karena nyatanya Olivia memilih untuk diam tidak menjawab pertanyaan Varo.
...----------------...
Olivia merasa ada yang salah dengan dirinya. Aneh.
Janggal.
Seakan diamnya ia dimakan malam tadi adalah sebuah kesalahan besar. Apa memang seharusnya Olivia jujur saja? Tapi ia tidak bisa seratus persen mempercayai lelaki itu.
Varo tidak memaksa Olivia untuk menjawab pertanyaannya, bahkan raut wajahnya tetap terlihat tenang sampai mereka menyelesaikan makan malam.
Tapi hal itu justru menganggu Olivia. Sebenarnya apa yang Varo cari dari dirinya?
Validasi bahwa memang Olivia tidak bisa melupakan Varo?
“Aghhh!!!! Kenapa gue nggak protes aja sih waktu ditugasin jadi auditor ravent? Goblok banget Olivia!” teriak Olivia menyesal memeluk gulingnya erat.
Wajah Varo mendadak terlintas dibenak Olivia.
“Ganteng” gumam Olivia lalu menggeleng keras mengusir pemikiran itu.
“Tapi emang ganteng! Tapi dia Varo! Agghhh!”
Ponsel Olivia bergetar. Pesan masuk dari Andreas yang mengajak nonton setelah pulang kerja besok berhasil membuat pemikiran Olivia tentang Varo mendadak menguap.
Olivia : Lihat besok deh, kalo nggak lembur gas, tapi kalo lembur nggak.
Andreas : Oke, sampai ketemu besok.