Mr. Bully

Mr. Bully
It Will Rain - Bruno Mars



^^^Enam bulan setelah itu….^^^


Ponsel Varo bergetar. Sebuah pesan dari Kinasih membuat bibirnya tersenyum senang.


Mama : Sudah sarapan?


Wajah Varo berpaling ke arah Kinasih. Selama enam bulan ini Kinasih sedang menjalani fisioterapi untuk mengembalikan fungsi tubuh Kinasih yang hampir cedera permanen akibat kecelakaan beberapa bulan lalu.


“Aku nanti sarapan sama Kak Amirah.”


Kinasih tersenyum menaruh ponselnya hati-hati di atas meja, sebuah pekerjaan sederhana yang harus dilakukan berulang-ulang selama enam bulan.


Seorang terapis wanita masuk, ia tersenyum manis mengucapkan selamat pagi, kemudian seperti biasa membawa Kinasih ke ruang terapi. Varo memperhatikan seksama apa yang dilakukan Kinasih. Selama enam bulan ini Varo dan Amirah menemani Kinasih menjalani serangkaian panjang fisioterapi. Kondisi wanita itu sudah mulai membaik, ia bisa mengetik pesan dalam kalimat sederhana seperti tadi, makan, berjalan dengan bantuan tongkat, dan juga beberapa kegiatan sederhana lainnya.


“Nunggu lama?” Amirah menepuk pundak Varo. Semalam ia menghabiskan waktu di rumah Sebastian pacarnya, setelah beberapa minggu berturut-turut bersama Varo di rumah sakit.


Amirah masuk ke dalam ruangan, ia berbicara sebentar dengan Kinasih lalu kembali menemui Varo. “Yuk makan. Tampang lu busuk banget.”


Kedua kakak beradik itu turun dari area rumah sakit dan menyebrang jalan menuju ke sebuah minimarket di dekat persimpangan jalan. Varo membeli alat cukur dan beberapa snack ringan.


“Lihat chat nyokap ke gue” kata Varo bangga memamerkan pesan yang dikirim Kinasih tadi. Amirah nyengir, melihat kedekatan Varo dan Kinasih sekarang, rasanya sulit untuk membayangkan seberapa jauh hubungan mereka dulu.


Amirah diam-diam memperhatikan perubahan Varo dari hari pertama ia tiba di New York. Cowok itu berbeda, ia bukan lagi Varo yang egois seperti yang Amirah kenal. Varo tidak terlihat canggung atau enggan untuk berbicara dengan Kinasih, membuat waktu di antara mereka berjalan lebih menyenangkan.


“Lu sisa berapa mata kuliah untuk semester besok?” tanya Amirah ketika mereka berada di dalam restoran siap saji.


“Magang sama skripsi”


“Lu magang lagi dong?”


“Enggak. Cuman nyerahin laporan dan presentasi”


“Oh baguslah, nggak telat-telat banget berarti. Habis lulus mau kerja dimana?”


Varo tidak menjawab malah melahap makanannya santai. Amirah memicingkan mata curiga. “Lu pasti ada rencana, apa rencana lu? Jangan aneh-aneh. Gue lagi senang lihat lu kalem enam bulan ini. Pusing tau ngurusin kebandelan elu. Mana bandelnya nggak kira-kira lagi.”


Varo ketawa geli. “Gue ada rencana sama Bang Rava, tapi masih rahasia”


“Sok banget lu berdua. Ngomong-ngomong, gue mau ngenalin Sebastian ke keluarga besar”


“Ngenalin secara resmi”


“Iya. Hmm…” Amirah mengangkat tangan kiri memamerkan cincin berlian yang terlingkar di jari manisnya. “Gue udah dilamar” beritahu Amirah bangga.


“Bagus deh. Gue harap Sebastian nggak nyesel ngelamar elu”


“Jelas enggaklah! Gue kan aset berharga keluarga Wijaya. Sebastian kayak lagi menang lotre pas dapetin gue” balas Amirah sombong.


Kepala Varo mengangguk-angguk, tapi tidak terlalu tertarik mendengar cerita lamaran Sebastian yang sangat menyentuh hati Amirah. Mata Varo malah menatap ke luar dinding kaca restoran. Hujan deras diluar, membuat beberapa orang berlari pontang-panting mencari tempat berteduh.


Varo bukan seorang pluviophile atau melankolis ketika melihat rintik hujan. Varo hanya ingin tahu, bagaimana rasanya jika sekarang ia berlari di bawah hujan. Apakah ada sebuah sensasi menyenangkan seperti waktu itu?


Rindu.


Kata yang kembali terlintas di benak Varo dan menjelaskan perasaannya saat ini.


“Lu sendiri gimana?” tanya Amirah menjentikan jari keras membuyarkan lamunan Varo.


“Lu ada pacar? Hah, pasti nggak. Lu belum bisa move on kan dari siapa itu cewek yang terakhir kali ketemu gue? Arin, Arini, Airin” cerca Amirah cerewet. Meskipun tidak pernah diberi tahu, tapi Amirah mengetahui semua pacar Varo dari Putra yang diberi tugas tambahan untuk memantau gerak-gerik adik bungsunya itu.


“Arini” koreksi Varo.


“Ya itu. Pasti lu masih kepikiran dia kan? Makanya jangan bandel, biar cewek nggak lari. Kayak Dimas tuh kalem.”


Varo spontan nyengir, seandainya Amirah tau sepanjang apa barisan cewek yang menangis patah hati karena menjadi korban PHP dari Dimas, ia mungkin akan menarik kembali pernyataannya tadi dan memilih menggunakan nama Bima sebagai contoh. Meskipun Bima belum pernah pacaran, tapi cowok itu termasuk ke dalam kategori kalem ketika berurusan dengan cewek.


“Gue ada kok”


Amirah mencibir tidak percaya. Untuk urusan cewek, Varo itu seperti versi muda Rava yang tidak pernah puas berdiam diri dengan satu orang. Sampai kemudian Rava bertemu Lindia, baru saat itu ia mulai berhenti untuk melabuhkan diri dari satu hati ke hati lain.


“Cewek mana lagi yang lu tipu?”


“Gue nggak nipu. Kali ini gue serius, gue juga rencana mau ngenalin ke mama” jawab Varo tenang.


Ekspresi Amirah langsung berubah, keningnya berkerut meneliti raut wajah Varo. Adiknya itu terlihat sangat serius dengan perkataannya, membuat Amirah yakin Varo saja baru mendapat wangsit dari alam semesta.


“Kali ini beneran serius ya?” tanya Amirah memastikan. Varo mengangguk. “Gila! Jangan-jangan lu kena pelet! Pernah muntah paku nggak?”


“Itu mah kena santet”


“Kalo gitu pas minum, pernah ada rambut nggak?”


Varo memutar kedua bola matanya, malas menjawab pertanyaan Amirah. Ia meneguk air minumnya sampai habis, tidak mengacuhkan tatapan takjub Amirah saat menatapnya seolah Varo baru saja mengatakan sebuah ide brilian untuk mengurangi populasi pengangguran di Indonesia.


“Wah, gue jadi penasaran sama nih cewek.” Amirah menopang dagu masih menatap Varo lekat-lekat. “Apa yang lu suka dari cewek ini, sampai lu ngerasa yakin buat ngenalin dia ke mama?”


“Nggak ada hal spesifik. Tapi gue bahagia tiap dekat dia” jawab Varo jujur membuat Amirah tertawa.


“Pesawat Bang Rava tiba jam berapa?” tanya Varo mengganti topik pembicaraan. Ia tidak ingin Amirah melihat senyum lebarnya apabila mereka terus membahas Olivia.


“Kalo nggak ada halangan, Bang Rava harus udah berdiri di depan pintu rumah sakit jam tiga sore. Kalo sampai telat, gue ajak berantem setahun”


“Jadi cewek hobi banget sih berantem”


“Ya daripada gue hobi nebas kepala orang ngaret?” kilah Amirah cuek. “Terus cewek lu itu sekarang gimana? Udah lu nggak usah ganti topik pembicaraan. Rasa penasaran gue tinggi, sampai gue belum puas, lu akan terus gue tanya-tanya.”


Varo mendengus, kakaknya itu memang masuk ke dalam urutan pertama dalam daftar kumpulan orang yang paling ingin tahu urusan orang lain, terutama urusan Varo.


“Nggak gimana-gimana. Kenapa? Mau lu aduin sama Sebastian?”


Amirah tertawa geli mencubit lengan Varo gemas. “Jangan-jangan karena dia makanya lu mau ke New York.”


Varo mengangguk jujur. Kini Amirah mengerti, cewek itu bukan sekedar seorang yang numpang lewat dalam kehidupan Varo, ia memiliki sesuatu yang membuat Varo terpikat dan seakan bertekuk lutut dihadapannya. Fakta bahwa Varo tiba di New York karena pengaruh cewek itu sudah menjadi pertanda bahwa ia berhasil mencairkan hati beku Varo.


“Pulang Indonesia langsung ketemuan?”


“Iya. Langsung gue nikahin kalo perlu” angguk Varo cuek.


“Gila! Kuliah lu tuh diselesaikan.  Awas aja kalo lu nggak lulus semester ini,  gue minta bokap nelpon rektor biar lu di DO.”


Varo tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis lalu menghabiskan makanannya dalam diam. Meskipun jauh di lubuk hati, Varo sedang meletup-letup bahagia, tidak sabar menanti tanggal keberangkatannya kembali ke Indonesia tiba.