Mr. Bully

Mr. Bully
Perfect -Ed Sheeran



Mata Varo berkali-kali melirik ke arah jam dinding, menit-menit menuju jam makan siang terasa berjalan sangat lambat. Hari ini adalah hari jumat, hari dimana Varo memiliki tugas tambahan untuk mengurus pencatatan keuangan kafe milik Rangga yang dikelola oleh Nabila.


“Rekap data udah lu masukin ke excel kan?” tanya Varo memastikan ulang.


Dimas mengangguk dengan wajah suntuk. Hampir seminggu selama bekerja dan mereka berdua hanya bisa terjebak di dalam ruangan bersama Dina, staff bagian keuangan. Jauh berbeda dengan Bima dan Johan yang bertugas membantu bagian operasional penginapan, membuat kedua cowok itu dapat bebas pergi kesana kemari.


“Mbak ini udah bener kan?” tanya Varo pada Dina.


Wanita paruh baya itu memeriksa ulang dan mengangguk. “Udah kok, ini udah bener. Makasih ya”


“Kalian makan siangnya mau makan apa?” tanya Dina basa-basi ketika melihat jarum jam sudah berada di pukul dua belas siang.


“Saya skip mbak, mau ke tempat Kak Nabila” jawab Varo.


“Loh kata Rangga tiap habis makan siang baru kamu kesana?” Dina melemparkan tatapan heran, terutama ketika melihat Varo buru-buru merapikan meja kerjanya.


“Dia mah mau ngecengin cewek mbak, makanya cepat-cepat pergi” ujar Dimas.


Alis Dina terangkat naik. “Sama siapa? Nabila? Hati-hati itu pacarnya Rangga”


“Bukan mbak, sama pegawainya” beber Dimas tanpa rem, Dina tertawa geli membiarkan Varo keluar ruangan sementara ia kemudian memeriksa pekerjaan Dimas.


Kaki Varo melangkah ringan menyusuri jalan setapak menuju kafe. Varo tidak pernah merasa sesemangat ini dalam hidupnya hanya karena ingin menemui seorang cewek asing. Pandangan Varo sesekali terarah menatap garis pantai yang terbentang jauh. Penginapan itu tidak terlalu ramai, mungkin karena belum masuk waktu libur, tapi beberapa orang sudah berlalu lalang untuk snorkeling sejak tadi pagi.


“Varo udah makan?” tanya Nabila menyapa Varo dan dijawab dengan gelengan lugu. “Oh kalo gitu ke dalam aja, kebetulan ada Olivia lagi makan. Kalian makan aja bareng, ntar habis itu baru aku kasih lihat laporan keuangannya”


“Iya kak, makasih” jawab Varo berusaha keras menyembunyikan senyum lebarnya dan melangkahkan kaki masuk ke dalam pintu di samping meja bar.


Varo cukup takjub menyadari bahwa bagian dalam tempat itu tidak sekecil kelihatannya. Dari balik pintu ada dapur kafe dan di sebelah rak dapur ada tirai merah tua yang menghubungkan dapur dengan tempat tinggal Nabila.


“Varo” panggil Olivia menyapa duluan, ia terlihat sedang makan sembari membaca sesuatu dari layar laptopnya. “Ngapain kamu kesini?”


“Ngurus kerjaan”


“Oh” jawab Olivia singkat  kemudian menunjuk ke arah kursi di depannya. “Yaudah, duduk gih, kamu ngapain berdiri disitu?”


“Aku disuruh makan sama Kak Nabila” jawab Varo kikuk duduk di depan Olivia.


“Kalo gitu anggap aja rumah sendiri, jadi silahkan mandiri melayani diri sendiri” kata Olivia tersenyum manis.


Varo menjadi sedikit salah tingkah. Di mata Varo, senyum Olivia membuat wajah cantik cewek itu menjadi dua kali lebih bersinar.


“Kamu kuliah ambil jurusan apa?” tanya Olivia membuka percakapan.


“Akuntansi. Kamu?”


“Ekonomi”


“Di Yogyakarta?”


Olivia menggeleng. “Inggris, kan sejak kenaikan kelas dua SMA aku pindah kesana”


“Terus kamu kesini buat ketemu orang tua?”


“Enggak. Orang tua aku udah meninggal sejak SMA, makanya aku pindah”


“Maaf, aku nggak tau”


“Nggak masalah” balas Olivia ringan. “Aku kesini mau nengok nenek asuh aku dulu. Sekalian mau ketemu Kak Nabila, dia sepupu aku.” 


Varo mengangguk paham kemudian melahap makanannya dalam diam. Sesekali matanya menelusuri isi ruangan itu, semua serba minimalis dan dominan dengan warna merah muda serta hitam. Yang paling menarik adalah jendela di sebelah mereka tepat mengarah ke peselancar dan lautan.


“Kamu dulu waktu SMA di kelas apa?”


“Sepuluh tiga”


“Wali kelasnya Bu Netty?”


“Iya, yang sukanya pakai make-up menor, terus kalo siang make-upnya luntur gitu kayak cat minyak” jawab Olivia teringat pada sosok Ibu Netty, guru paling nyentrik saat SMA.


“Wali kelas kamu Babe kan?” tanya Olivia. “Aku inget, dulu kamu sama beberapa teman-teman kamu pernah dijemur di bawah tiang bendera gara-gara matahin meja kelas.”


Varo hampir menyemburkan air yang sedang diminum. Ekspresinya meringis, tidak menyangka Olivia masih mengingat kejadian memalukan yang bahkan hampir dilupakan oleh Varo.


Saat kelas satu SMA, Varo termasuk ke dalam jajaran anak baik dan patuh. Tapi begitu mengenal teman-temannya, ia berubah. Mereka pernah iseng menggunakan meja belajar sebagai hospital bed untuk Radit, salah satu teman Varo yang terkenal luar biasa nakal sampai guru-guru sudah bosan memberikan nasehat untuknya. Saat itu jam pelajaran kosong dan Radit berperan sebagai pasien tabrak lari, sementara Varo dan teman-temanya menjadi dokter yang mendorong meja belajar tempat Radit berbaring ke luar kelas. Tentu saja meja belajar itu patah karena tidak mampu menahan tubuh Radit.


Kejadian itu terjadi tepat di depan muka Babe, guru penjaskes galak sekolah.  Dan sejak saat itu, Varo beserta teman-temannya sudah secara resmi menandai diri mereka sendiri sebagai murid bermasalah dan suka bertingkah.


“Kamu kok inget?”


“Ingatlah, kamu kan sering buat ulah” jawab Olivia. “Kamu kalo nggak buat ulah sekali, pohon-pohon di sekolah langsung gersang”


“Bener sih. Tapi tau nggak? waktu aku sama temen-temen lulus, mukanya Bu Endang bahagia banget” kekeh Varo menyebut nama guru BK yang menjadi musuh bebuyutan kelompoknya dulu.


“Kalian itu udah kayak anggota VIP ruang BK, pasti ada aja perkara yang buat salah satu dari kalian menetap di ruang BK” balas Olivia senyum-senyum sendiri.


“Kamu waktu SMA mainnya sama siapa?” tanya Varo.


“Johan”


“Doang?”


Olivia mengangguk. “Kenapa emang?”


“Nggak papa. Cuman aku nggak bisa inget muka kamu” aku Varo jujur. Memang rasanya agak aneh, karena sekeras apapun Varo mencoba mengingat kembali masa SMAnya, tidak ada gambaran seperti apa sosok Olivia dulu.


“Ya ampun aku kira kenapa” tawa Olivia geli. “Nggak masalah kalo kamu nggak ingat. Semua orang pasti berubah, muka aku sekarang dan dulu beda. Lagian aku juga jarang keluar kelas, maklum masih murid kelas satu.”


Varo akhirnya mengangguk, ia mengurungkan niat untuk bertanya lebih detail. Toh, dari percakapan tadi sudah membuktikan bahwa mereka pernah berada di SMA yang sama. Lagipula apa untungnya Olivia berpura-pura menjadi teman sekolah Varo?


“Kamu bisa berselancar?” tanya Olivia saat melihat beberapa orang berlari ke arah ombak pantai dari jendela tempat ia duduk.


Varo menggeleng. “Kamu?”


“Aku nggak bisa renang,” tawa Olivia. “Boro-boro berselancar, berenang aja kelelep”


“Nggak pernah les berenang?”


“Cuman sekali, habis itu malas. Aku trauma, karena pernah pas lagi latihan renang ada bocah kencing di pojokan kolam”


Varo ketawa ngakak. Cerita itu terasa menggelitik telinganya, bahkan meskipun ekspresi Olivia datar, tanda ia tidak sedang menceritakan sebuah lelucon.


Setelah itu, mereka mengobrol panjang lebar, tentang apa saja. Ekspresi Varo terlihat  bahagia setiap kali mendengar cerita Olivia. Cewek itu seakan memiliki medan magnet kuat yang mampu menarik otot-otot mulut Varo agar tetap tersenyum cerah. Dalam beberapa jam gerak-gerik Olivia sudah berhasil menarik perhatian Varo sepenuhnya terarah pada dirinya.


Rasa tertarik Varo pada Olivia semakin besar setiap kali cewek itu diam dan menunjukan minat pada perkataan Varo, tanda bahwa Olivia adalah seorang pendengar yang baik sekaligus teman bicara yang menyenangkan.


“Varo kamu kerjainnya disini aja, di luar lagi ramai, ntar kamu malah nggak fokus lagi” kata Nabila tiba-tiba masuk menyerahkan laptop dan buku catatan laporan keuangan pada Varo.


“Kakak mau sekalian saya ajarkan cara masukin data ke excel nggak?”


Nabila menggeleng. “Nggak usah, nggak papa, entar kamu malah makin repot”


“Nggak papa kak, kemarin Kak Rangga yang minta soalnya”


“Aku minta diajarin Rangga aja” tolak Nabila halus.


“Udah kamu nggak usah maksa. Kak Nabila tuh maunya berduaan sama Kak Rangga, nggak usah kamu ajarin, ntar mereka nggak ada topik buat ketemuan. Iya kan kak?” goda Olivia iseng membuat Nabila tersenyum malu lalu segera kembali ke depan.


“Kamu kerja deh. Nggak akan aku ajak ngomong sampai kamu selesai” kata Olivia.


Varo fokus mengutak-ngatik laporan keuangan Nabila. Tugasnya sederhana, hanya mencatat semua transaksi pemasukan dan pengeluaran harian serta bulanan kafe ke excel. Tapi tetap saja pekerjaannya membutuhkan konsentrasi lebih agar tidak salah memasukan  angka.


“Nih kopi. Biar nggak ngantuk ngeliat angka” ujar Olivia tiba-tiba menaruh kopi di atas meja. Varo mendongak lalu tersenyum.


“Thanks. Tau aja aku udah mulai ngantuk”  balas Varo basa-basi. Sesaat perasaannya terasa berbunga-bunga, tapi dengan cepat ditepisnya jauh-jauh.


Mungkin memang orangnya care, batin Varo tidak ingin terlalu cepat berasumsi.


“Ck!”


Wajah Varo mendongak lagi ketika mendengar suara decakan Olivia. Kening cewek itu berkerut tanda sedang kesal pada sesuatu. Tanpa sadar senyum Varo mengembang dari balik gelas kopinya.


“Kamu kenapa senyum-senyum gitu? Lagi mikirin yang enggak-enggak ya?” tuduh Olivia ketika mendongak dan mendapati Varo sedang menatapnya sambil tersenyum lebar.


Varo lantas tersedak kopinya sendiri dan terlihat salah tingkah. Ia hanya angkat bahu sebagai jawaban kemudian pura-pura kembali fokus pada pekerjaannya, meskipun Varo harus menggigit ujung bibirnya untuk menahan senyum.


Sekelebat ingatan muncul dalam benak Varo. Ia kembali menatap Olivia, namun kali ini dengan ekspresi serius.


Olivia mengerutkan kening bingung. Ia diam, tanda sedang mencoba mengingat maksud perkataan Varo. Semenit kemudian senyum Olivia merekah, tangannya bergerak naik menopang dagu. 


“Kamu mau makan dimana?” 


...*****...


“Jadinya lu berdua kencan perdana besok?” tanya Bima. Varo melemparkan ekspresi angkuh sebagai jawaban. “Gokil lu, bisa naklukin cewek secantik itu” puji Bima takjub.


“Arini gimana? Baik?” sindir Dimas.


“Baik, gimana? Mau diaduin sama adek lu?” jawab Varo cuek.


Dimas nyengir lebar tahu bahwa hampir seminggu ini Varo tanpa sadar mulai melupakan keberadaan Arini. Varo yang awalnya tidak terlalu peduli, sekarang menjadi semakin tidak peduli.


Varo tidak lagi peduli dengan apa yang sedang dilakukan Arini, apa yang diinginkan Arini, atau bahkan kabar Arini. Varo juga  jarang mengabari Arini, seakan ia memang ingin menjaga jarak dan menjauh.


Seseorang disini telah menarik dirinya pergi dari pemilik sebenarnya.


“Menurut lu Olivia gimana?” tanya Dimas menarik kursinya agar lebih dekat dengan api unggun. Ia menyalakan rokok menunggu Varo menjawab pertanyaannya.


“Baik. Gue suka cewek baik” jawab Varo singkat. Sebuah senyum tersirat terukir dari raut wajahnya.


Sejak insiden lupa meminta nomor Olivia terjadi, Varo sempat berharap agar mereka dipertemukan kembali dan kemudian rasa penasaran Varo pada Olivia akan menghilang. Tapi ia salah besar. Di tempat ini, ketika mereka berdua tanpa sengaja bertemu kembali, benak Varo justru terus mengeluarkan beribu-ribu pertanyaan mengenai Olivia, membuat Varo ingin mengenal Olivia lebih dalam. Ia bahkan tidak ingin berhenti sampai rasa penasaran dan pertanyaannya terjawab.


“Tau nggak? Muka lu itu kelihatan jelas nunjukin lu udah muak sama relationship lu sendiri” kata Bima.


“Ya gimana, tiap telponan adu argumen mulu. Lu berdua kayak lagi debat capres tau nggak?” tambah Dimas. Bima ketawa geli. Kalau urusan mengejek Varo, kedua orang itu ahlinya.


“Gue sih sebenarnya males, cuman cewek gue kayaknya hobi berantem, jadi yaudah gue ladenin”


“Lagian gue lihat-lihat, lu kayaknya nggak


demen-demen banget sama Arini. Kok bisa pacaran? Gue dulu kaget dengar kabar lu udah ada pacar baru, padahal belum lama putus dari Siska. Mana gue di chat mulu lagi sama Siska, jadi tempat curhat. Lu yang punya hubungan, malah gue yang repot” cerca Bima cerewet.


“Arini nembak gue” jawab Varo santai membuat Bima melongo sejenak.


“Lu tau Dim?” Wajah Bima berpaling ke arah Dimas yang mengangguk. “Kok gue nggak pernah dikasih tau?”


“Karena lu nggak pernah nanya” ujar Dimas geli, Bima mendengus.


“Dia nembak lu? Terus lu terima?”


Varo menyalakan rokok dan menatap Bima heran. “Tau nggak kenapa kita sering bilang peluang lu buat di DO kampus sangat besar?”


“Iya, karena gue sering skip kelas” angguk Bima lugu.


“Enggak. Bukan itu” geleng Varo. “Peluang lu buat di DO dari kampus gede karena lu sering nanya pertanyaan bodoh”


“Menurut lu aja Bim. Kalo Varo nggak terima, mana mungkin mereka pacaran sekarang,” tawa Dimas membuat Bima nyengir malu-malu.


“Arini baper sama Varo. Gara-gara sering diantar pulang waktu kepanitian dulu” cerita Dimas. “Padahal waktu itu gue udah bilang, 'hati-hati, Varo buaya' eh malah sering dicie-ciein Agung. Arini jadi baper beneran, dia minta nasehat gue. Terus ya gitu, dia nembak”


“Brengsek emang Agung. Mulut dia bau suka sembarangan jodoh-jodohin orang” maki Bima ketus. “Terus kenapa lu sering nganterin dia pulang?”


“Oh itu….gara-gara kepanitiaan” jawab Varo tersenyum geli. “Dulu Arini ketua dana, dia anak baru dan pasti stres harus ngehadapin anak organisasi yang males nyari dana. Brandon nugasin gue, entah bagaimanapun caranya, Arini nggak boleh keluar sampai acara selesai. Lu tau kan susah nyari pengganti ketua dana?”


“Dan lu make cara; ngasih dia perhatian?”


“Ya. Biar dia nggak keluar”


“Lu brengsek” maki Bima ketus. “Tapi kan lu nggak ada rasa sama dia. Kenapa lu terima?”


“Karena Arini adalah cewek pertama yang berani nembak gue. Dan juga, gue kosong saat itu, jadi yaudah gue terima. Masalahnya dimana?” tanya Varo santai.


“Awas, lu berdua kena karma” decak Bima geleng-geleng melihat kedua sahabatnya itu bergantian. Dimas dan Varo mungkin memiliki banyak perbedaan sifat, tapi kalau untuk urusan cewek, bagi Bima, kebrengsekan Dimas dan Varo tidak jauh beda.


Dimas itu friendly, dan humoris. Ia suka memberikan perhatian yang membuat targetnya merasa ketar-ketir dan istimewa. Kesan yang selalu ditinggalkan Dimas adalah ia cowok paling baik dimuka bumi ini.


Sementara Varo cenderung lebih pendiam, ia tidak menolak siapapun yang mendekatinya, tapi masih menarik batas tipis yang membuat cewek manapun merasa penasaran pada dirinya. Varo menarik mereka mendekat, memberikan batas, tapi ia tidak akan melepaskan mereka sampai ia sendiri ingin mereka pergi.


Arini adalah salah satu contoh dari sekian banyak cewek yang harus merasa khawatir dan kebingungan saat menjalani hubungan dengan Varo.


“Kok gue? Kan yang pacaran sama Arini Varo, bukan gue” protes Dimas tidak terima.


“Lu berdua sama aja. Sebelas dua belas” ketus Bimas kemudian kembali berpaling ke arah Varo. “Lu sama Arini dari segi fisik cocok, tapi dari segi kepribadian…..” Bima menarik nafas panjang dan bibirnya maju mendekat ke kuping Varo, “kalian lebih cocok jadi petarung MMA.”


“Mulut lu bau kampas kebakar” desis Varo santai tapi mampu membuat Bima mendelik sewot.


“Jadinya lu mau mutusin Arini?” tanya Bima lagi.


Varo melemparkan tatapan heran. “Kenapa gue harus mutusin?”


“Lu kan lagi mau PDKT sama Olivia”


“Terus?”


Bima berkacak pinggang, gayanya persis seperti ibu-ibu kompleks dengan handuk di kepala dan sedang asik bergosip di dekat gerobak tukang sayur. “Punya pacar tapi mau ngedeketin cewek lain  itu namanya selingkuh, dan selingkuh itu dilarang oleh agama serta norma sosial masyarakat!”


Varo mengorek-ngorek kuping, terlihat tidak peduli. “Gue nggak pernah bilang gue mau PDKT sama Olivia. Gue cuman penasaran sama dia. Dan nggak ada salahnya kan penasaran sama orang?”


“Wah ini sih fix lu bakalan kena karma” geleng Bima prihatin. “Entah lu disakitin Arini, cewek lain, atau mungkin Olivia. Intinya lu bakalan nyesel”


“Hmm..iya, iya” jawab Varo acuh tidak acuh.


“Udah, nasehat wibu lu dengerin” celetuk Dimas membuat Bima spontan mendelik sewot.


Bima suka anime, tapi paling anti dibilang wibu, apalagi oleh Dimas yang sering berkoar-koar ke anak cewek kalau Bima itu wibu, jarang mandi, dan bau bawang.


“Jadinya besok kalian kemana?” tanya Dimas setelah puas tertawa geli melihat ekspresi kesal Bima.


“Kemanapun yang dia mau” jawab Varo melemparkan senyum penuh arti dan menyalakan sebatang rokok lagi.


“Beh, lagak lu udah kayak tuan tanah lagi ngelamar kembang desa” ejek Bima. “Eh Dim teman kamar lu mana? Kok nggak lu ajak nongkrong?”


“Udah tidur paling”


“Sekamar sama dia gimana?”


“Aman, nggak suka *****-***** kayak elu”


“Sialan” maki Bima. “Tapi serius, dia kalo kerja kebanyakan diam, ngomong seperlunya doang, gue berasa kerja sama arca”


“Artinya dia profesional. Nggak bisa diajak bercanda saat kerja” jawab Dimas cuek.


“Ah, tapi ya nggak gitu juga kali” ujar Bima. “Prinsip gue mah kerja ya kerja, tapi harus bercanda juga”


“Lu daftar jadi komedian aja. Biar bisa kerja sambil bercanda” balas Varo santai.


Bima nyengir kemudian mengecek jam tangan, sudah pukul setengah satu malam. “Yuk balik kamar, gue mau tidur, capek dari pagi bolak-balik macam setrikaan”


“Balik aja sendiri. Gue masih mau ngerokok” tolak Varo menghisap dengan tenang, tidak menggubris ekspresi ngeri Bima.


“Ah nggak berani gue. Koridor penginapan ini kalo malam seram” rengek Bima pengecut. “Kalo tiba-tiba gue kerasukan pas jalan di koridor gimana?”


“Ya rasuki baliklah. Jangan mau kalah sama setan” jawab Dimas santai.


“Nggak lucu” ketus Bima sebal. “Emang lu nggak takut sama setan?”


“Nggak”


“Gimana kalo tiba-tiba dia muncul di belakang lu sekarang dan langsung ngerasukin elu?”


“Nggak bakalan mau setan ngerasukin gue“ jawab Dimas percaya diri. “Gue tiap hari berdoa, senin kamis sedekah, jumat minggu-”


“Zina” celetuk Varo membuat kedua temannya tertawa sambil sesekali mengumpat. “Eh Bim, lu jangan takut sama setan. Nggak bakalan setan berani ngerasukin elu”


“Kenapa? Karena gue anak babe? Gue udah bosan sama jokes kuno lu itu”


“Enggak Bim bukan. Ini serius, gue sebenarnya ngeliat ada aura keluar dari diri lu” gepeng Varo serius.


“Oh ya? Aura apa?” tanya Bima tertarik.


Varo mencondongkan tubuhnya lalu berkata pelan. “Aura wibu dan bau bawang”


“Brengsek lu!” maki Bima tanpa ampun melempar sendal ke arah Varo dan Dimas yang tertawa keras seperti sedang kesetanan di jam satu malam.