
“Dari mana lu? Nih gado-gado lu, udah balik jadi lontong tanpa bumbu saking lamanya nunggu lu datang” sambut Kesha saat Olivia masuk ke ruangan.
Wajah Olivia tertekuk hanya tiga kali melahap gado-gado. Makan siang di ruang Varo tadi adalah makan siang paling sengsara yang harus dilewati Olivia. Varo sama sekali tidak mengajaknya berbicara atau menjawab pertanyaan Olivia atas masalah sewa, cowok itu hanya makan dalam diam dan memperhatikan Olivia.
“Dokumen scan akta gue kirim lewat email ya” kata Olivia muram.
Masih teringat dalam benaknya tampang Varo ketika sengaja mengirimkan hasil dokumen scan lewat chat WA, lelaki itu seperti ingin menunjukan bahwa ia memiliki otoritas penuh untuk menganggu privasi Olivia.
Olivia sendiri tidak menanyakan darimana Varo mendapat nomornya, karena ia yakin sekali bukan hanya nomor Olivia yang sudah diketahui Varo, bisa jadi informasi selik beluk kehidupan Olivia selama enam tahun kebelakang sudah menjadi satu summary diatas tumpukan laporan Varo. Lelaki itu kaya dan bisa membayar apapun untuk menjawab rasa penasarannya.
“Muka lu kusut banget kayak keset. Lu tadi nyebat ya?”
”Gue nggak nyebat”
“Terus kenapa lu ngilang? Sejam lebih lagi”
“Nih, nungguin data scan dari si Varo. Akses auditor sekarang pake punya dia, jadi gue harus nunggu lama buat minta data. Sibuk tuh orang, mentang-mentang CEO" alasan Olivia.
“Si Varo, akrab banget gue lihat-lihat” tawa Kesha. Olivia hanya nyengir lebar.
“Emang akrab banget kita, nanti kalo ketemu gue panggil ngab" balas Olivia kalem. Selanjutnya selama tiga jam kedepan mereka bekerja.
Kesibukan Olivia sebagai auditor membuatnya sejenak lupa akan masalah sewa. Ekspresi Olivia sangat fokus mengecek data pembayaran dimuka dan menghitung ulang kebenaran dari nilai pembayaran yang bisa diakui secara nyata di waktu yang berjalan. Sesederhana itu tapi membutuhkan tingkat ketelitian yang tinggi untuk memastikan tidak ada kesalahan pencatatan angka atau kesalahan perhitungan.
Suasana yang sunyi seyap membuat ketiganya mendongak bersamaan saat Dendi membuka pintu.
“Yok yok, meeting dadakan” kata Dendi duduk di tengah sembari membagikan kertas. “Jadi karena ravent punya banyak cabang toko, gue memutuskan untuk mengambil sampel dari angka pendapatan yang paling signifikan. Nah, keputusan akhirnya kita bakal ngecek toko di gedung ini. Jadwalnya ada disitu lengkap sama PIC. Yang kita cek seperti biasa persediaan dan aset tetap, untuk sampelnya nanti gue yang pilih. Apakah ada pertanyaan?”
“Enggak kak" kor ketiganya kompak seperti beo.
“Bagus. Nah tugas lu berdua ngajarin Rakai biar nggak salah ngecek barang. Gue nggak mau tim gue planga-plogo pas ditanya macam-macam sama klien”
“Iya kak, siap!”
“Yaudah kalo gitu gue mau balik ke ruang finance, ada SOP mereka yang mau gue tanyain" kata Dendi memboyong laptopnya keluar ruangan.
“Semoga sampelnya nggak banyak ya. Gue mager nih kalo ngecek lebih dari sehari. Malas ngecek movementnya” harap Kesha sembari membaca seksama isi jadwal mereka.
“Kak Oliv jadi resign?” tanya Rakai tiba-tiba.
Olivia menggeleng lemah. “Gue butuh duit"
“Halah! Padahal kemarin ngomong nggak peduli sama duit. Kemakaan omongan sendiri kan lu jadinya?” ejek Kesha.
Olivia meringis tapi tidak tidak menjawab. Ah seadainya Kesha tau apa problem Olivia.
...----------------...
Jam sudah menunjukan pukul enam lewat lima belas sore. Setelah beres-beres dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Olivia melangkah riang bersama Kesha dan Rakai menyusuri koridor utama gedung ravent.
“Duh hujan lagi. Bawa payung nggak Oliv?” tanya Kesha saat melihat hujan deras di luar gedung.
“Bawa dong"
“Nebeng ya. Lu naik busway kan?”
“Iya”
“Yaudah. Gue nebeng sampai halte. Tapi kita tunggu agak redaan dikit kali ya? Ini mah badai bukan hujan.”
Olivia mengeluarkan payung merah mudah dari tas, ia merapatkan jaketnya erat saat angin dingin berhembus.
“Kak pulang naik apa?” korek Kesha bertanya pada Dendi.
“Dijemput Andreas"
“Ih so sweet banget" kekeh Kesha bercanda.
“Nikahannya jam berapa kak?”
“Jam setengah delapan resepsinya....Eh, itu mobil Andreas.”
Sebuah mercedes hitam berhenti di depan lobi, Dendi melambaikan tangan lalu masuk.
“Pada mau nebeng nggak?” tanya Andreas saat menurunkan kaca mobil.
“Gue sama Olivia mau naik busway. Nih tolong tebengin si bocah ini aja" jawab Kesha menunjuk Rakai.
“Rumah lu dimana?”
“Daerah senopati kak“
“Oh searah. Yaudah naik” angguk Andreas. “Lu berdua yakin nggak mau ikut? Gue tebengin sampe halte”
“Nggak usah, haltenya di depan situ doang. Ada payung nih.” Olivia mengangkat payungnya. “Udah sana pergi, nanti telat"
“Yaudah. Daaaa kalian berdua. Langsung pulang, jangan main hujan” lambai Andreas diikuti Dendi dan Rakai. Setelah itu mobil Andreas melaju pergi menyusuri hujan dan genangan air di jalan.
Kesha menyikut Olivia pelan, senyumnya berubah lebar. “Gasin aja nggak sih? Kelihatan banget naksir berat”
“Siapa?”
“Ah elu. Itu si Andreas.”
Olivia berdecak pelan. “Jangan nyebar gosip Kesh”
“Tanpa perlu gue sebar satu kantor juga udah tau Andreas ada rasa sama lu”
“Kalo satu kantor berarti patner juga tau dong? Kok patner hobi banget ngegosip? Nggak ada kerjaan apa gimana?”
“Ya kan itu hiperbola Oliviaaa...”
Percakapan kedunya terhenti saat sebuah ferarri merah berhenti di depan mereka. Kesha langsung pasang tampang kagum dan tanpa sadar bersiul pelan.
Pintu terbuka, seseorang keluar dari sana namun membuat ekspresi Olivia berubah was-was.
Varo.
Cowok itu mengenakan celana pendek hitam dan kaos oblong polos. Telinganya tertutup wireless dan ekspresinya datar mendengarkan seseorang berbicara dari ujung sana. Varo melempar kunci mobil ke arah petugas valet lalu melangkah masuk ke dalam gedung, matanya sekilas melirik Olivia tapi tidak mengatakan apapun. Olivia mendengus langsung buang muka.
“Eh, itu kan pemilik ravent. Alvaro Wijaya. Gue sering lihat di berita. Aslinya ternyata cakep banget ya” bisik Kesha kagum masih mencuri pandang kearah Varo sampai cowok itu menghilang di lift eksekutif.
“Nggak tau Kesh, gue nggak update berita-berita kayak gitu” geleng Olivia berbohong. Seandainya Kesha tau cowok itu adalah cowok sama yang makan siang dengan Olivia tadi siang, mungkin percakapan ini akan menjadi lebih panjang.
“Pak, yang tadi itu Pak Alvaro ya?” tanya Kesha pada satpam.
“Iya mbak betul”
“Wah emang suka ke kantor jam segini ya?”
“Enggak mbak, masuknya pagi kok. Mungkin ada urusan penting, soalnya tadi siang udah pulang dari jam dua.“
Kesha mengangguk paham kembali ke Olivia.
“Gue kayaknya mau jadi bos deh, biar bisa masuk kantor suka-suka” bisik Kesha.
“Yaudah, mulai aja bikin start up”
“Duit darimana?”
“Ngemis.”
Kesha ketawa menjitak pelan kepala Olivia. Setelah itu ketika hujan mulai meredah keduanya melangkah pelan diantara genangan air hujan menuju halte busway.