
“Bima!!! Happy birthday!”
Bima terkejut, kantuknya langsung menghilang begitu Sandra menyeretnya mendekati kue ulang tahun yang disediakan khusus untuk dirinya. Ekspresi Bima berubah haru ketika melihat teman-temannya bertepuk tangan dari balik tugas masing-masing. Sandra, Ete, dan Arini membawa kue sementara Dimas dan Varo bertugas membakar ikan serta menyalakan api unggun.
“Make a wish dulu Bim. Tapi yang rasional, nggak usah buang-buang tenaga buat ngarepin perdamain dunia” kekeh Ete. Bima memejamkan mata lalu kemudian meniup lilin.
“Bau nafas lu kayak sampah” goda Ete, Bima mendelik. “Apa wish lu Bim?”
“Gue berharap semoga Adam Smith sebagai penemu ekonomi modern beneran berasal dari Skotlandia”
“Kok aneh gitu permintaan lu?”
“Soalnya itu yang gue tulis diUAS kelas filsafat ekonomi kemarin” cengir Bima malu-malu sambil memakai topi ulang tahun yang disodorkan Arini. Bima mengambil sepotong besar kue dan menarik kursi duduk di sebelah Varo, cowok itu sedang memasukan potongan kayu ke dalam nyala api unggun.
“Perlu gue kecup pipi lu nggak Bim?” senyum Dimas iseng, Bima langsung mendelik sewot berpaling pada Varo.
“Lu nggak mau ngucapin selamat ulang tahun untuk gue?”
“HBD”
“TKKTPPHUTK”
“Apa tuh?”
“Terima kasih karena telah peduli pada hari ulang tahunku”
“Sinting.” Varo tersenyum geli membuka botol bir, wajahnya mendongak ketika melihat Nabila, Rangga, dan Sera datang bergabung. Senyum Varo langsung memudar menyadari tidak ada Olivia disitu.
“Selamat ulang tahun Bima, ini kadonya.”
Bima ketawa ketika menerima sekardus bir dari Rangga. “Ye kakak, udah tau saya nggak kuat minum, malah dikasih bir sekardus. Kalo saya mabuk terus menari hawai gimana?”
“Justru itu komedi yang dicari” kekeh Rangga.
“Bima, ini dari aku sama Olivia. Semoga kamu suka. Olivia nitip salam, dia lagi ngurus dokumen buat wisuda, kalo selesai lebih cepat Olivia bakal nyusul kesini”
“Makasih ya.” Bima tersenyum sumringah menerima hadiah dari Sera.
“Eh, eh, mau ngapain lu?” tahan Dimas spontan ketika melihat Bima hendak memeluk Sera.
“Mau ngucapin makasih dalam bentuk pelukan persahabatan”
“Sini peluk gue aja, gue perwakilan Sera. Dada gue muat buat nerima pelukan lu dengan erat.” Dimas menepuk-nepuk dadanya dan memeluk Bima seerat mungkin.
“Menjauh sana, nanti gue kena panu” ketus Bima kasar.
“Sorry gue rajin mandi”
“Mandi pake sabun yang bolong tengah”
“Tau aja, pernah pinjam ya? Gimana rasanya bekas gue? Enak kan?” balas Dimas kalem lalu berlalu. Bima bengong sejenak kemudian memaki-maki pelan, kemakan hinaannya sendiri.
Tidak jauh dari Bima duduk, Sandra menyalakan musik keras, ia menari bersama teman-temannya menikmati hari-hari terakhir di tempat itu. Hampir semua terlihat bersenang-senang, kecuali Varo tetap duduk tenang mengurus api unggun meskipun sebenarnya tidak diperlukan lagi karena semua ikan sudah dibakar. Ekspresinya tenang namun kontradiktif dengan tatapan matanya yang terus mencuri pandang ke arah jalan setapak menuju kafe.
Varo menunggu Olivia. Ia masih mengharapkan kedatangan cewek itu. Pertemuan terakhir mereka membuat segalanya menjadi kacau. Olivia menangis dan ia pergi tanpa ingin mendengarkan Varo lagi. Sulit sekali untuk bertemu Olivia, bahkan untuk sekedar berpapasan seperti dulu. Olivia seakan menghilang, padahal jarak mereka tidak lebih dari beratus-ratus kilometer. Dalam waktu beberapa hari Varo merasa kesepian kembali memenuhi hatinya, ia merindukan Olivia. Kehadiran, senyum, dan tawa cewek itu…Varo merindukan semuanya.
Sampai menjelang tengah malam, Olivia tidak kunjung menampakkan diri. Hanya Johan datang sekedar memberikan ucapan selamat ulang tahun dan berlalu pergi bersama Sera menuju kafe.
“Varo…”
“Thanks.” Varo mengigit sepotong kecil kemudian merokok, kombinasi rasa aneh untuk orang galau.
“Kamu nggak papa?”
“Hmm”
“Kamu diam aja dari tadi. Sakit?”
“Enggak, cuman capek ngerjain laporan magang. Kenapa?” tanya Varo tanpa basa-basi.
Arini menggeleng cepat, menggigit potongan kue. Ekspresinya terlihat gelisah. Arini ingin memulai percakapan dengan Varo, tapi rasanya sulit sekali. Banyak pertanyaan terlintas dibenak Arini.
Tentang apa yang dilakukan Varo sehingga membuat Olivia menangis tempo hari.
Tentang kisah pembullyan Olivia saat SMA dulu.
Atau, tentang perasaan Varo setelah semua hal terkuak.
Arini benar-benar ingin tahu. Sulit rasanya hidup dalam rasa penasaran. Meskipun Sandra menceritakan semuanya, tapi itu tetap tidak menjawab beberapa pertanyaan Arini. Tapi, melihat Varo di sebelahnya, Arini langsung tahu bahwa mengajak cowok itu membicarakan Olivia sama saja dengan mengibarkan bendera perang untuk kesekiannya kalinya. Jangankan Arini, Sandra saja ngeri dengan tingkah Varo yang benar-benar berbeda dalam beberapa hari ini.
Varo berubah, ia tidak melemparkan lelucon menyenangkan seperti saat mereka berkumpul dulu. Ia terlihat sangat dingin dan pendiam, bahkan meskipun untuk sekedar mengucapkan basa-basi. Hanya dalam beberapa hari tampang Varo terlihat sangat kusut tidak bersemangat. Seakan Olivia memiliki kemampuan supranatural untuk menaikturunkan mood seorang Alvaro Wijaya. Dan semua itu membuat Arini semakin membenci Olivia.
“Waktu magang kamu udah selesai kan?”
“Iya”
“Mau langsung balik Jakarta?”
“Kenapa emang?” ujar Varo malah balik bertanya.
Arini menelan ludah, ekspresi Varo terlihat tenang, tapi pertanyaan itu malah membuat Arini sedikit merasa ciut. Arini menghela nafas perlahan, ia butuh sedikit kekuatan untuk kembali mencairkan hati beku Varo.
“Kamu ingat omongan aku terakhir kali?” tanya Arini pelan. Kening Varo berkerut bingung. “Beberapa hari lalu, waktu kamu lagi sama Olivia”
“Oh..iya, gue inget”
“Aku serius dengan apa yang aku bilang ke kamu.”
Varo diam, matanya menatap Arini lekat-lekat tapi tidak mengatakan apapun. Arini benar-benar berharap Varo masih memiliki perasaan padanya, meskipun hanya secuil. Tapi disisi lain Varo justru merasa kecewa, kenapa bukan Olivia yang meminta hal itu? Seandainya Olivia yang mengatakan ia menyayangi Varo dan menginginkan mereka bersama, Varo akan mengatakan ya tanpa syarat apapun.
“Seminggu lagi aku ke Bali. Dan beberapa waktu lalu aku ngajak kamu balikan. Kalo kamu nyusul aku ke Bali, bagi aku itu pertanda kamu mau balikan sama aku….. Dan aku harap kamu mau datang”
“Lu serius pengen balikan sama gue? Lu tau kan gue cowok brengsek? Gue selingkuh di belakang lu”
“Iya aku tau. Tapi hati aku nggak bisa bohong, kalo aku masih sayang sama kamu. Aku ingin kita balikan dan ngelupain apapun yang terjadi disini, aku ingin mulai semuanya lagi dari awal, sama kamu.”
Varo bingung. Posisinya sekarang berada di tepian. Ada seorang yang menyukainya dan bersedia untuk kembali, meskipun ia tahu Varo adalah cowok paling brengsek di dunia. Tapi disisi lain hati Varo malah lebih tertuju pada seorang yang membencinya, tanpa sebuah kejelasan apakah ada setitik perasaan darinya untuk Varo.
“Aku harap kamu mau datang” kata Arini untuk terakhir kalinya dan setelah itu dengan berat hati ia beranjak pergi ketika Sandra memanggil namanya.
Mata Varo menatap Arini menjauh, ia kembali sendirian disitu tapi tetap tidak ingin bergabung dengan siapapun. Bahkan meskipun Dimas memanggilnya berkali-kali untuk bergabung bersama Rangga.
Getar ponsel menarik perhatian Varo. Ada sebuah pesan panjang dari Putra, kening Varo berkerut, ekspresinya menjadi kalut. Tiba-tiba Varo merasa sangat sedih dan kesepian, satu-satunya orang yang siap mendengar cerita dan keluh kesahnya kini tidak ada lagi. Varo ingin berteriak, melempar ponselnya, berlari menuju air laut, tenggelam, dan mati tanpa satu orangpun sadar bahwa eksistensi Varo pernah ada disekitar mereka.
Pesan masuk berikutnya dari Putra membuat salah satu kepalan tangan Varo mengerat. Dengan berat hati ia menekan file yang dilampirkan oleh Putra. Varo menghela nafas. Hidupnya kini terasa sangat hampa.