Mr. Bully

Mr. Bully
Strawberries & Cigarettes - Troyen Sivan



“Sekelas New York masih ada becek” dengus Rava menghindari genangan air. Ia mengebas-ngebas sepatunya di lantai kemudian masuk ke dalam sebuah kafe diikuti Varo yang bersiul-siul pelan dari belakang.


“Pernah rasain kopi lokal dari NTT nggak?” tanya Rava ketika menyesap kopi pesanan mereka. “Rasa kopinya kuat, gue suka. Kapan-kapan kita ke NTT”


“Buat minum kopi?”


“Yoi. Lu belum pernah minum kopi yang baru ditumbuk kan?”


Varo meringis. Terkadang kecintaan Rava pada kopi tidak bisa ditolerir Varo. Kemanapun mereka pergi Rava akan selalu menyempatkan diri untuk singgah di tempat kopi. Entah kafe, warung kopi, atau kopi pinggir trotoar, semua sudah pernah dicoba Rava.


“Dimasa tua, gue mau buka kebun kopi”


“Terus Kak Lindia tiap pagi numbuk kopi, gitu?”


“Kalo dia mau, gue sih hayuk-hayuk aja” cengir Rava. “Ngomong-ngomong, gue udah baca proposal lu. Gue suka. Tapi gue pengen lu kerja dulu”


“Kerja kantoran? Jadi akuntan?”


“Iya, di perusahaan gue” angguk Rava. “Lu nggak bisa langsung jadi bos. Apalagi ini bisnis pertama lu. Lu harus ngerasain kerja dari bawah, biar bisa ngerti apa yang harus lu lakukan dan apa yang nggak boleh lu lakukan ketika lu punya tanggung jawab gede.”


Varo mengangguk langsung setuju. Rava sangat berpengalaman di dunia bisnis dan cowok itu tidak pernah melihat sesuatu secara subjektif, karena itu ada sebuah kebanggan dalam diri Varo ketika Rava mengatakan suka pada proposal bisnisnya.


Sekitar sejam lebih keduanya terlibat dalam pembicaraan serius. Lampu jalan dari luar kafe satu persatu mulai menyala terang, wajah Varo berpaling sekilas ketika segerombolan cewek masuk ke dalam kafe.


“Ngeliatin apa lu?” tegur Rava ikut berpaling. “Ada yang cantik tuh, ajak kenalan gih”


“Yang mana?”


“Rok biru muda.”


Kening Varo berkerut melirik ke arah cewek yang dimaksud Rava. “Mata lu cepat banget ya bang. Gue aja nggak perhatiin”


“Sebelum ada Lindia, mata gue lebih sat set sot, was wes wos”


“Sekarang cuman wos wos wos” ledek Varo.


Setelah itu keduanya kemudian pergi dari kafe, menyusuri kerumunan orang yang berlalu lalang.


“Singgah bentar, gue ada janji mau ketemu temen” kata Rava ketika langkah mereka mendekat ke pusat pertokoan produk mewah. Rava belok ke sebuah toko perhiasaan bertuliskan Leopard. Kedatangan mereka disambut seorang wanita berwajah Asia yang membungkukan badan, ia terlihat seperti menunggu kedatangan Rava sejak tadi. Keduanya kemudian berbicara, sementara Varo memilih untuk melihat lukisan yang tergantung di dinding.


“Mr. Wijaya.”


Varo berpaling, seorang lelaki paruh baya dengan gaya berpakaian cukup nyentrik berjalan menghampiri Rava. Varo termangu, Hiron, seorang designer terkenal pemilik Leopard yang baru saja tersandung kontroversi perselingkuhan.


“Gue nggak tau kalo circle pertemanan lu kayak gini bang” bisik Varo.


“Dia temenan sama Lindia” jawab Rava, keduanya mengikuti Hiron membawa mereka masuk ke ruang VIP.


Hiron berbicara panjang lebar, ia merasa tersanjung dengan kedatangan Rava, membuatnya secara khusus datang dari Paris hanya untuk menemui Rava. Varo meringis, tidak mengerti seberapa besar pengaruh Rava sehingga mampu membuat Hiron datang menemui pria itu.


“Ini, pesananmu” kata Hiron dengan dialek Inggris aneh. Ia menyodorkan sebuah cincin berhiaskan red diamond.


“Lu sekarang suka pake cincin mewah bang?” tanya Varo tau harga pergram red diamond itu tidak murah.


“Oleh-oleh buat Lindia”


“Pasti lu habis buat salah”


“Ketahuan judi bola”


“Bukannya sering judi?”


“Tapi kali ini taruhannya pake kepemilikan saham gue di Unilever. Gimana Lindia nggak ngamuk-ngamuk” jelas Rava kalem. Varo ketawa lalu menyingkir dari situ.


Varo memilih memperhatikan seisi ruangan. Setengah dari dinding ruangan tertutup bambu berwarna coklat dengan rak-rak putih bening. Ada tiga lukisan mahal terpanjang di sisi kanan dinding dan sebuah lukisan berjudul Garcon A La Pipe karya Pablo Picasso, lukisan yang pernah Olivia tunjukan dari layar tabnya. Varo tidak mengerti, seharusnya lukisan itu berada di museum dan bukan tergantung di dinding ruang VIP Hiron.


“Tertarik pada sesuatu?”


Varo berpaling, Hiron berdiri di sampingnya dengan senyum lebar. “Lukisan ini bagus”


“Terima kasih. Lukisan ini karya asli Pablo Picasso”


“Aku tahu. Seseorang pernah menunjukan lukisan ini padaku. Kupikir lukisan ini seharusnya berada di muse****um.”


Hiron tertawa “Picasso melukis ini ketika berumur dua puluh empat tahun dan kembali melanjutkan lukisannya saat Perancis sedang berada dalam periode bunga mawar. Aku selalu merasa lukisan ini istimewa, karena itu aku ingin menyimpannya untuk diriku sendiri. Aku tidak suka apa yang kusuka dilihat banyak orang.


Varo mengangguk tapi tidak begitu tertarik untuk membahas lukisan itu lebih jauh. Kecuali jika Olivia yang berdiri di sebelahnya dan berbicara panjang lebar, ia mungkin akan mendengarkan cewek itu sampai pagi.


“Mau kutunjukan sesuatu yang menarik?” tawar Hiron mengangguk pada salah satu pegawainya yang berada di balik meja kaca panjang.


“Apa ini?” tanya Rava tertarik pada batu berwarna biru tua.


“Sapphire blue. Batu ini memiliki arti khusus” kata Hiron terlihat sangat bangga. Dua orang di depannya ini termasuk ke dalam jajaran orang yang pantas melihat benda langkah yang ia miliki.


Rava mungkin tidak terlalu menyukai perhiasaan mewah, tapi ia adalah tipe orang yang rela menghamburkan banyak uang demi satu gram batu langkah untuk Lindia, dan Hiron yakin adiknya tidak jauh berbeda.


“Kejujuran dan komitmen. Sapphire blue memberikan efek menenangkan.” Hiron tersenyum tipis, ia bisa melihat ada rasa tertarik dari tatapan Varo pada sapphire blue.


“Lu mau ngambil?” tanya Rava berpaling.


“Emang lu mau ngambil lagi bang?”


“Nggak. Gue ketahuan judi bola sekali, ntar kalo ketahuan lagi, baru gue beli” tawa Rava.


“Apa batu ini bisa diset menjadi kalung?” tanya Varo, Hiron mengangguk.


“Anda ingin bentuk khusus?”


“Tiger lily”


“Aku rasa ini akan menjadi istimewa untuk anda. Akan kuberikan beberapa desain kalung khusus untukmu” senyum Hiron mencatat sesuatu di atas kertas putih.


“Lu mau ngasih ke siapa?” tanya Rava ketika mereka keluar dari Leopard.


“Apa?”


“Kalung itu kalau udah jadi, lu mau ngasih ke siapa?” ulang Rava penasaran.


“Istri” jawab Varo singkat membuat Rava tertawa.


“Home sweet home my brother!” Bima berteriak kencang menyambut kedatangan Varo. Ia buru-buru membantu menarik koper dan tanpa basa-basi langsung membongkar barang mencari oleh-oleh untuk dirinya.


“Lu jauh-jauh dari New York cuman bawa bawang?” ketus Bima melihat satu bungkusan plastik berisi bawang bombay.


“Itu pesanan Kak Tigor. Katanya dia kangen makan bawang New York. Lu kalo mau, ambil aja. Gue beli banyak” jelas Varo santai


“Nggak ah! Masa jauh-jauh dari New York gue dikasih makan bawang” ketus Bima langsung duduk di sofa tanpa merapikan kembali semua barang yang ia bongkar.


Suasana kos agak sunyi karena anak-anak lain sedang berada di kampus mengikuti ujian akhir semester. Varo duduk di sofa dan meregangkan tubuh.


“New York gimana? Asik?”


“Asik. Ragunan belum pindah” jawab Varo. Bima cekikikan geli wajahnya berpaling ketika pintu kosan terbuka lebar, Ray dan Dimas masuk.


“Varooooo!!! Udah pulang kau nak? Ku kira udah lupa jalan pulang” teriak Ray senang tanpa basa-basi  membuka isi tas Varo.


“Enggak usah nyari, dia cuman bawa bawang” kata Bima langsung membuat Ray melepas tas Varo dan duduk di sofa.


“Jauh-jauh dari New York bawa bawang!” ketus Ray dongkol. “Tau gitu gue nggak usah balik kosan cepat-cepat. Mana tadi gue nolak ajakan Sisil buat makan bareng lagi!”


“Lu mending bawa masuk koper gue ke kamar, habis itu gue traktir makan” kata Varo.


Ray dan Bima langsung meloncat turun membawa barang-barang ke kamar dan mengatur rapi. Varo melongok, sekilas melihat isi kamarnya dari luar.


“Gue lihat-lihat kamar gue kayak kandang anjing ya” komentar Varo.


Sengaja Varo tinggalkan kunci kamar pada anak kos karena komputernya sering dipakai untuk main game.


“Oh itu mending. Minggu lalu, kamar lu kayak bangkai titanic. Dinding ada lumut, ikan udah berenang kesana kemari. Kemarin ada hajatan satwa laut bahkan, sunatan kuda nil” ujar Dimas.


“Lebay lu Dim!” teriak Bima keluar kamar. “Kamar lu ini udah bersih. Semalam diberesin Bang Tigor”


“Kamar lu sering dipakai pacaran sama Bang Tigor. Katanya enak kalo mau ngapa-ngapain, soalnya kedap suara” tambah Ray.


Varo mendengus, menyesal meninggalkan kunci kamar pada anak kos. Lebih baik dititipkan pada Mang Ali untuk dibersihkan setiap hari.


“Mau makan dimana kita? Gue boleh milih tempat makannya nggak?” tanya Bima semangat. Varo mengangguk dan tidak tanggung-tanggung Bima langsung memilih empat kursi terbaik di sebuah restoran korea.


“Tumben banget Bim lu mau makan di restoran Korea. Kan Wibu biasanya berantem sama Kpop” kata Dimas heran ketika mereka duduk manis di Chung Gi.


“Gue lagi deketin Floren” kata Bima agak menghindar ketika seorang pramusaji wanita memasukan bara api ke dalam pemanggang dan mulai membantu mereka membakar daging sapi.


“Floren siapa?” tanya Varo.


“Anak fakultas hukum, semester empat. Dia baru masuk semester kemarin pas lu ambil cuti. Cantik, seksi, pintar, tipe gue banget. Setelah berminggu-minggu penuh perjuangan mengalahkan pesona Brandon, gue jadi orang pertama yang bisa ngajak Floren jalan”


“Terus?”


“Floren kpopers, suka makan di restoran Korea. Jadi sebagai cowok yang baik, gue akan berusaha masuk ke dalam duniannya”


“Terus Floren mau masuk ke dunia lu nggak?” tembak Dimas langsung membuat Bima bungkam, ia meraih selada merah di atas piring dan mengunyah pelan. Teman-temannya spontan ketawa ngakak, tahu cinta Bima sedang bertepuk sebelah tangan.


“Terkadang lu nggak perlu jungkir balik usaha kayak gini, apalagi kalo dia perjuangannya nggak kayak elu. Kalo dia cinta, pasti dengan sendirinya kalian bakalan nyatu” nasehat Ray.


“Lu sebelum kesini ngelem dulu ya?” sinis Bima sekali lagi menghindar ketika pramusaji mengangkat sisa barang dari pemanggang.


Ray mendengus. “Sok-sok menghindar, biasanya juga bara api dikunyah”


“Nyinyir mulu lu kayak Tante Reni”


“Siapa lagi Tante Reni? Banyak banget kenalan lu”


“Tetangga nyak gue yang hobinya nyinyir tiap


tetangga beli barang baru” jawab Bima kalem.


Mereka menghabiskan sejam lebih untuk makan, Bima beberapa kali memesan daging tampangnya seperti orang yang lima tahun puasa daging.


“Kenapa Dim? Lu sirik nggak punya tembolok gede kayak gue?” tanya Bima cuek. Dimas nyengir lebar mengunyah sisa bawang dari atas piring.


“Habis ini kemana?” tanya Ray kekenyangan.


“Nggak tau, gue mau rokok. Mulut gue asem” jawab Dimas mengeluarkan sebuah bungkusan dari tas kecil yang ia bawa. “Nih, dikirim seminggu lalu. Dari cinta lu.”


Varo mengambil bungkusan yang diberikan Dimas. Ada tulisan alamat penginapan Rangga. Ia membuka perlahan sementara ketiga temannya ikut melongok penasaran. Sebuah buku sketsa milik Olivia yang pernah ia lihat isinya. Sama seperti sebelumnya halaman pertama diisi dengan lukisan berbagai tempat yang pernah dikunjungi cewek itu.


“Asli, nih cewek emang salah jurusan. Kenapa masuk ekonomi padahal pinter gambar” decak Dimas kagum.


“Cewek mana? Lu semua ada ketemu cewek di tempat magang? Jangan-jangan itu alasan lu tiba-tiba putus sama Arini” tanya Ray penasaran. Gosip Arini dan Varo putus sudah berada sejak semester kemarin, tapi penyebabnya masih simpang siur.


“Ada cewek, namanya Olivia. Dulu pernah ketemu Varo di club, terus ketemu lagi di tempat magang, kayak takdir” jelas Bima semangat.


“Cakep?”


“Dari atas sampai bawah amazing”


“Ah masa sih?” Ray skeptis, terkadang Bima hiperbola ketika menjelaskan sesuatu.


Bima mengangguk berusaha untuk meyakinkan Ray sementara Varo terlihat tidak peduli. Bibir Varo tersenyum tipis membuka tiap lembar buku sketsa Olivia. Ada beberapa sketsa baru, sampai kemudian tangan Varo berhenti di sebuah sketsa yang membuat dirinya termangu.


“Wow….” gumam Dimas ketika lembaran berganti pada sebuah sketsa.


Varo.


Olivia diam-diam mengisi halaman terakhir dari buku sketsanya dengan wajah Varo dari berbagai momen. Ketika pertama kali Olivia melihat Varo di club, pertemuan kedua mereka di kafe, Varo duduk di depan Olivia saat pertama kali mengerjakan laporan keuangan, Varo duduk di dekat pantai saat dimana untuk pertama kalinya ia mencurahkan isi hatinya pada Olivia, Varo yang menemukan Olivia di kerumunan Malioboro, Varo yang sekali lagi duduk di pantai, dan ketika untuk terakhir kalinya Varo meninggalkan kamar Olivia di perpisahaan mereka sebelum keberangkatan cowok itu ke New York.


Olivia mengingat semua momen itu secara detail. Ia mengingat dan menumpahkan semua emosinya di atas buku sketsa itu.


“Sleep well…” gumam Varo membaca tulisan kecil di akhir buku. Perasaannya semakin berkecamuk tidak karu-karuan, ia ingin segera pergi ke Yogyakarta sekarang juga, bertemu Olivia dan menyelesaikan apa yang masih mengganjal di antara mereka.


Sejak kemarin Varo terus membayangkan akan seperti apa pertemuan mereka nanti.


Apakah Olivia masih akan membencinya?


Atau justru Varo akan memiliki kesempatan untuk memulai lagi dari awal?


“Udah lu terharunya entar aja, sekarang kita pulang. Gue ngantuk nih” korek Bimas menguap lebar memecah keheningan diantara mereka.