Mr. Bully

Mr. Bully
S2: 8. It Has To Be You - Yesung



Visit gudang itu melelahkan. Olivia harus memilih sampel, mondar-mandir mengecek barang, mencocokan jumlah barang dihari itu, dan meminta dokumen jika ada yang kurang. Sejak pagi tim audit ravent sudah mondar-mandir kesana kemari, menjelang jam setengah enam sore mereka baru duduk tenang menunggu hasil perhitungan dari pihak ravent.


“Kalo selesai hari ini berarti besok nggak usah datang ya kak?” tanya Rakai menyesap kopi.


“Iya, gue mending nunggu dan kelarin hari ini daripada datang lagi besok. Gue mau tidur” angguk Kesha.


“Oliv, gue mau nanyain progress ke ruang accounting, PPT tolong lu yang urus ya.”


Olivia mengangguk fokus menatap layar laptop, setelah ini mereka akan mempresentasikan hasil visit ke semua jajaran pemimpin ravent sebagai bahan evaluasi ke depan.


Sekitar dua jam kemudian pekerjaan mereka baru selesai. Olivia dan Kesha mencuri kesempatan memperbaiki penampilan mereka yang agak kucel sebelum masuk ke ruang meeting.


“Biasanya visit emang sampai malam gini ya kak?” tanya Rakai beberapa kali menguap lebar.


“Enggak sampe malam sih, biasanya sampe subuh” jawab Kesha kalem.


“Tapi pihak ravent termasuk aneh ya, mau nungguin hasil visit sampe malam. Padahal bisa hari senin meetingnya”


“Gue dengar dari Rangga, ini perintah CEOnya, katanya biar sekalian”


“Oohh...CEOnya ikut meeting?”


“Iya. Sekalian salam perpisahan kali, tahun depan kan udah nggak sama kita lagi.”


Tepat pukul delapan malam ketiga orang itu berpindah ke ruang meeting. Beberapa petinggi bagian keuangan dan gudang sudah berada di ruangan, kecuali Rangga yang ditugaskan untuk membantu tim audit menyiapkan proyektor dan mengarahkan jalannya meeting.


“Masih nungguin Pak Varo ya Oliv, tadi ada meeting lain sama pihak eksternal” beritahu Rangga.


Sekitar lima belas menit kemudian Varo muncul bersama Indah, ia duduk di kursi utama lalu memberikan kode pada Rangga untuk memulai meeting. Olivia duduk di samping Kesha bertugas menjalankan PPT, sekilas ia melirik Varo. Lelaki itu hanya mengenakan kaos hitam dan celana basket, berbeda jauh dengan staf-stafnya yang masih mengenakan pakaian semi formal.


Olivia menggeleng pelan memfokuskan diri menatap layar laptop, ia hampir saja tersenyum geli melihat Varo. Lelaki itu benar-benar merepresentasikan definisi dari nasabah prioritas sebenarnya.


Sekitar tiga puluh menit meeting selesai dan ditutup dengan penandatanganan berita acara. Visit selesai dan kini Olivia tidak perlu lagi ke gedung ravent sampai report audit dirilis.


“Makasih ya mbak, mas atas bantuannya” pamit tim audit sopan sebelum balik ke ruang audit dan bersiap pulang.


“Makasih ya gaessss, besok kita nggak perlu kesini” ujar Kesha senang.


Ponsel Olivia bergetar ada panggilan masuk dari nomor yang ia hapal mati diluar kepala. Varo.


“Halo?”


[Aku anterin pulang] kata Varo tanpa basa-basi.


“Aku pulang sama anak-anak” balas Olivia pelan sekali tidak ingin didengar Kesha dan Rakai.


[Sepuluh menit lagi aku ke ruangan kamu]


“Eh-...aku aja yang ke kamu” tahan Olivia, ia tidak mau ketahuan memiliki hubungan dengan Varo, takut menjadi gosip di kantor.


“Kak saya duluan, gojeknya udah dibawah” pamit Rakai.


“Eh bareng gue dong, gojek gue juga udah dateng. Lu pake apa Oliv?”


“Busway” jawab Oliva berbohong. “Kalian duluan aja, gue mau ngisi kartu busway bentar”


“Oke, sampai ketemu hari senin sayangkuuuu.”


Kesha dan Rakai melambaikan tangan lalu melangkah keluar. Olivia menunggu sampai sepuluh menit baru beranjak dari ruangan.


“Mau kemana lu?” tanya Rangga saat mereka bertemu depan lift.


“Ke ruangan bos lu, mau balikin falshdisknya Mbak Indah”


“Oh, buruan, kayaknya Mbak Indah udah cabut deh”


“Nggak papa, gue taruh di mejanya. Gue duluan ya”


“Iya. Semangat ya peak seasonnya”


“Nggak mau semangat, soalnya klien lu ke gue semua, biar lu ngerasa bersalah” canda Olivia menjulurkan lidah, Rangga tertawa kencang dan pintu lift tertutup.


Olivia tiba di lantai ruangan Varo. Meja resepsionis depan sudah kosong membuat Olivia langsung mengetuk pintu ruangan Varo.


“Masuk.”


Olivia membuka pintu dan menjulurkan kepalanya. “Yuk pulang” ajaknya langsung.


Varo mendongak lalu menghampiri Olivia. “Kerjaannya udah semua?”


“Udah, ayo pulang. Kamu nggak capek apa seharian di kantor? Hari sabtu lagi”


“Aku capek karena sore tadi basketan sama anak-anak” kata Varo mengekori Olivia masuk lift.


“Kenapa?”


“Nggak papa” geleng Olivia tersenyum geli.


...----------------...


“Kamu serius nggak mau makan?”


“Enggak, aku mau tidur” geleng Olivia, ia lelah sekali karena seharian ini mondar mandir kesana kemari mengecek barang, belum lagi kalo ada perbedaan perhitungan dan ia harus mengecek ulang.


Mobil Varo berhenti sebentar di dekat penjual martabak pinggir jalan. Olivia tidak bertanya dan memilih memejamkan mata, sudah bisa dibayangkan seperti apa kenyamanan yang akan rasakan nanti saat punggungnya menyentuh kasur.


“Varo...”


“Hmm?”


Olivia membuka mata, wajahnya berpaling menatap Varo lekat-lekat. “Kamu itu aneh ya....” gumam Olivia serius.


“Kamu ganteng, kaya, sukses, banyak yang naksir kamu....Tapi kamu-”


Ke aku yang bahkan enggak punya apapun selain hubungan masa lalu dengan kamu yang sebenarnya juga buruk, batin Olivia tidak jadi mengungkapkan isi hatinya.


“Tapi kamu?” tanya Varo ulang.


“....Kamu masih dendam sama aku karena udah ninggalin kamu?”


Kening Varo berkerut lalu tersenyum geli, tangannya terjulur mengacak rambut Olivia pelan. Olivia tidak menepis ia justru menatap serius lelaki itu.


“Kenapa kamu mikir kayak gitu?”


“Karena.....aku udah nyakitin hati kamu.”


Efek kelelahan membuat bibir Olivia bergerak jujur. Ia ingin tahu apa rencana Varo, meskipun lelaki itu akan berbohong tapi setidaknya Olivia sudah bertanya.


“Enam tahun itu lama dan melihat kamu seakan nunggu momen kita ketemu lagi buat aku jadi mikir, apa pertemuan kita di Jogja itu baru terjadi dihari kemarin? Kamu emang berubah secara fisik tapi beberapa bagian dari diri kamu buat aku sempat berpikir kamu itu masih sama seperti dulu, meskipun terkadang kamu juga seperti orang yang baru aku kenal. Jujur, aku bingung sama kamu”


“.....”


Olvia menghela napas panjang. “Sama seperti aku, kamu punya waktu enam tahun untuk memulai hidup dengan orang lain.”


Samar-samar Varo tersenyum. “Apa yang aku lakuin sekarang itu keputusan aku....Bener dugaan kamu, aku masih nungguin kamu, tapi aku nggak akan ngejelasin panjang lebar alasan aku. Intinya itu harus kamu.”


Olivia menelan ludah. Varo jelas sudah memutuskan bahwa ia akan mengejar dan menunggu Olivia sampai menjadi miliknya. Sekeras apapun Olivia menolak, Varo tidak peduli.


“Aku....”


Kaca pintu mobil diketuk membuat keduanya berpaling. Martabak pesanan Varo sudah selesai, setelah membayar mereka kembali melaju pergi dan Varo menyodorkan bungkusan martabak tadi ke Olivia.


“Buat Rere, bilangin dari aku”


“Sok akrab kamu, kayak udah ketemu aja” cibir Olivia, sesaat keningnya berkerut lalu memalingkan wajah. “Jangan bilang....”


Varo nyengir lebar. “Sekarang Rere udah ada dipihak aku.”


...----------------...


Olivia bangun pagi dengan wajah tertekuk, matanya menatap tajam Rere yang pura-pura tidak menyadari kekesalan wanita itu. Semalam setelah diinterogasi habis-habisan Varo baru mengaku kalau ia dan Rere sudah menandatanganin surat perjanjian sewa gedung.


Olivia jelas ingin mengamuk. Gunanya ia berusaha baik-baikin Varo selama ini apa? Tahu begitu mending dari awal Rere saja yang maju menghadapi Varo.


“Jahat kamu...” gumam Olivia merengut.


Rere nyengir menaruh roti bakar di atas meja. “Maaf ya Oliv. Duh cantiknya entar hilang loh”


“Biarin! Aku mau ngambek sama kamu. Tau gitu mending kamu aja yang ngehadapin Varo” dumel Olivia mengigit rotinya kesal.


“Eh tapi tanpa usaha kamu, aku mungkin enggak bisa ketemu Varo. Kata Varo kalian udah ada perjanjian khusus makanya aku bisa tanda tangan perjanjian sewa”


“Varo bilang gitu?”


Rere mengangguk polos. “Emang kalian ada perjanjian apasih? Kayaknya penting banget”


“Perjanjian iblis” jawab Olivia sembarang karena ia sendiri juga tidak tahu.


“Makasih ya Oliv. Berkat kamu aku bisa bayar sewa dengan harga yang sama. Oh iya, gedungnya mau dipugar loh termasuk kafe, kata Varo nggak akan dibebankan ke uang sewa karena emang dia mau perbaiki gedungnya. Perbaikannya dimulai minggu depan, terus target Varo maksimal dua minggu selesai. Ya hitung-hitung aku liburan dikit.”


Olivia mengangguk-angguk mendengarkan cerita Rere panjang lebar, matanya menatap wanita itu tapi pikirannya melalang buana memikirkan Varo.


Memangnya aku udah janjiin apa ke Varo? pikir Olivia bingung.