
Olivia menepuk pelan tasnya membersihkan debu yang menempel disitu, wajahnya berubah cerah saat Johan muncul membawa pesanan mereka ke atas meja. “Terima kasih Johan yang ganteng se Indonesia Raya”
“Aku nggak bakal kemakan pujian kamu” kekeh Johan.
Perpaduan rasa lemon cake dan kafein dari kopi di lidah Olivia membuat mata wanita berbinar. Olivia sangat menyukai lemon cake dari kafe yang ia kunjungi sekarang. Soul. Kafe yang baru berdiri tiga tahun lalu dan kemudian resmi masuk ke dalam urutan teratas kafe favorit Olivia. Keunikan Kafe soul adalah menyediakan satu jenis khusus kue mengikuti musim buah-buahan di Indonesia.
“Kerjaan gimana?” tanya Johan membuka percakapan.
“Aman. Kerjaan kamu di Inggris gimana? aman?”
“Aman dong, kalo enggak cuti aku nggak akan diterima.” Selama dua minggu ke depan Johan akan menghabiskan cutinya dengan berlibur di Bali, meninggalkan Olivia yang sempat merengek ingin ikut.
“Varo gimana? Masih ngejar kamu?”
“Masih, dia kan konsisten aneh” angguk Olivia serius tapi Johan justru tertawa geli.
“Itu berarti pesona kamu masih oke, harusnya kamu bersyukur”
“Iya, aku bersyukur banget, sampai pengen rasanya sujud setiap kali ngeliat Varo” ujar Olivia sarkas. “Kamu harus tau apa yang Varo dan Rere lakukan.”
Olivia menceritakan semuanya, mulai dari usaha keras Olivia merayu Varo agar meloloskan masalah sewa gedung, Rere dan Varo yang ternyata sudah menandatangani perjanjian tanpa sepengetahuan dirinya, sampai klaim Varo bahwa ia memiliki perjanjian dengan Olivia. Johan mendengarkan seksama, sesekali ia tertawa geli.
“Trik Varo oke juga. Susah naklukin kamu, yaudah taklukin aja orang sekitarnya.”
Olivia menyesap kopi, ponselnya bergetar menampilkan pesan masuk dari Andreas.
“Cowok yang mana lagi?” goda Johan bertanya.
“Nggak yang mana-mana, ini dari Andreas nanya kerjaan”
“Hari libur gini?”
“Andreas kan hari kerjanya senin minggu, nggak kenal libur. Kalo bisa sampai mati kerjaannya dibawa ke alam baka” jawab Olivia sembari membalas pesan Andreas.
Johan mengigit cake sembari matanya mengawasi Olivia. Entah Olivia menyadarinya atau tidak tapi Johan tahu Andreas menyimpan rasa kepada wanita itu. Di hari saat pertama kali Johan bertemu Andreas, ia langsung tahu tatapan mata yang diberikan Andreas pada Olivia jelas menunjukan rasa ketertarikan. Tentu saja. Tidak banyak orang yang bisa tidak mengacuhkan pesona Olivia. Seseorang yang menilai orang lain dari fisik akan menjadi yang paling pertama jatuh hati pada Olivia. Wanita itu cantik dan mungkin selamanya akan seperti itu.
“Andreas itu lumayan, kenapa nggak coba buka hati?”
Olivia mendongak sekilas. “Buat apaan buka hati? Kayak ada yang mau masuk aja”
“Lah? Andreas kan? Ibarat ngantri, Andreas antrinya di barisan paling depan” kekeh Johan. “Atau jangan-jangan hati kamu enggak kebuka karena udah ada Mas Wijaya dis sana?”
“Ih Johan! Nyebelin” delik Olivia mencubit Johan yang tertawa geli.
...----------------...
Olivia menghabiskan hari sabtunya membantu Rere di kafe, sejak pagi mereka sibuk melayani pengunjung yang datang dan pergi menghabiskan akhir pekan di tempat itu. Di malam hari ketika dua jam lagi akan close order pintu kafe terbuka, Oliva Rere mendongak lalu sama-sama tersenyum lebar ketika melihat Andreas dan Reino datang.
“Dandan yang cantik” senggol Olivia menggoda Rere yang buru-buru merapikan penampilannya saat melihat Reino. “Dasar centil”
“Biarin, yang penting Mas Reino jatuh hati” balas Rere menjulurkan lidah membawa kertas menu.
”Pesan yang banyak ya, kalo enggak gue usir” kata Olivia. Andreas dan Reino ketawa geli.
“Cakep ya...Seperti malaikat” gumam Rere saat kembali setelah mengantar pesanan Andreas dan Reino. Kedua lelaki itu terlihat serius menatap layar laptop.
“Hari sabtu kok kerja” goda Olivia. Reino mencibir lalu lanjut memasang wireless dan meeting.
Olivia duduk di meja kasir sembari mengisi TTS, kegiatan paling menyenangkan yang ia lakukan setelah jarang pergi ngegym. Akhir-akhir ini kesibukan Olivia membuatnya lebih ingin menghabiskan waktu libur dengan duduk di satu tempat dan menatap satu objek.
“Cerdas banget sih anaknya Pak Dendi yang satu ini.”
Olivia mendongak, Andreas bertepuk tangan kecil saat melihat jawaban Olivia di atas kertas TTS. Lelaki itu menunjuk beberapa pertanyaan dan sejenak ikut membantu Olivia menjawab.
“Lu ngerjain client apa sih? Kayaknya ribet banget sampai sabtu gini kerja”
“Sarana Sehat, perusahaan farmasi di Surabaya. Besok gue sama satu anak tim gue mau ke sana buat visit gudang”
“Si Reino kenapa ikut?”
“Anak cabang Sarana Sehat dipegang Reino, lagi bermasalah piutangnya makanya mau diskusi sama gue. Keburu gue ke Surabaya besok, jadi mending dari sekarang”
“Wuuuu Reino ngerepotin Andreas aja lu.”
Reino mendongak sekilas lalu mengangkat jari tengah dan kembali bekerja.
“Lu mau nitip?”
“Oleh-oleh?”
“Iya”
“Enggak, lu fokus aja kerja, nggak usah sibuk nyari oleh-oleh.”
Andreas mengangkat kedua jempolnya, ia tetap berdiri di depan Olivia melanjutkan obrolan mereka. Sesekali Andreas membantu Olivia menjawab jawaban teka-teki, meskipun jawabannya agak nyeleneh tapi setidaknya berhasil menarik tawa geli wanita itu.
Ting. Bel pintu terbuka bersamaan dengan masuknya seorang pengunjung, Olivia mendongak sembari menyingkirkan TTS, ia baru akan menyambut ramah namun wajahnya berubah kaku begitu melihat siapa yang muncul.
“Eh Pak Varo? Selamat datang, tumben malam-malam kesini.” Rere paling pertama menyambut Varo. Olivia melongo, senyum Rere dua kali lebih cerah dibanding saat menyambut Reiono tadi. Rere merapikan rambutnya ke belakang telinga membuat Olivia mencibir. Varo sendiri balas tersenyum, ia sedikit berbasa-basi pada Rere sebelum akhirnya menghampiri Olivia.
“Sibuk?” tanya Varo. Olivia menggeleng menatap Varo dari atas sampai bawah. Cowol itu mengenakan celana futsal dan hoodie hitam, tanda ia baru saja selesai berolahraga.
“Dari mana?” tanya Olivia sudah tau jawabannya tapi tetap berbasa-basi.
“Fustal bareng anak-anak”
“Ngapain ke sini?”
“Ih Olivia galak banget sih, orang datang baik-baik juga. Iya kan Pak Varo?” tegur Rere, Varo tersenyum geli sementara Olivia memutar bola matanya. Mentang-mentang sudah menandatangi kontrak Rere sekarang mendadak menjadi sekutu Varo.
“Iya, teman kamu galak ya?” Angguk Varo setuju.
“Pak ngomong-ngomong ini Andreas dan yang lagi meeting itu Reino, temannya aku dan Olivia.”
“Aku dateng mau ngasih ini.” Varo menyodorkan sebuah undangan pernikahan berwarna putih cantik bertuliskan Dimas dan Ele.
Olivia membaca seksama, pandangannya berubah takjub. “Nggak kerasa ya Dimas udah nikah, kayak baru kemarin ketemu di Jogja” gumam Olivia tanpa sadar. “Ini buat aku?”
“Iya”
“Dimas tau ya aku di Jakarta?”
“Iya” angguk Varo seperti didikte lalu berpaling pada Rere. “Re, mau sekotak ya, terserah apa aja”
“Siap Pak Varo, entar Olivia yang bayar kan?”
“Enak aja, kamu kan lebih kaya dari aku” tolak Olivia tapi tetap membantu Rere menyiapkan kotak kue dan menyerahkan pada Varo.
“Ih Pak, dibilang Olivia yang bayar” tolak Rere saat Varo menyerahkan kartu. Olivia mencibir buru-buru mengambil kartu itu.
“Makasih ya, saya balik dulu. Makasih Re kuenya” pamit Varo setelah selesai.
Rere buru-buru menyepak kaki Olivia. “Sana anterin”
”Hah?”
“Buruan...”
Olivia terkejut tapi mengikuti Varo, mobil lelaki itu terparkir di luar. “Varo...”
Langkah Varo terhenti, ia balik badan. “Kenapa?”
“....Tentang nikahan Dimas....”
“Aku jemput kamu” ujar Varo tersenyum manis.
“Kamu langsung pulang?”
“Iya”
“Oke, hati-hati.”
Sesaat kedua alis Varo terangkat naik, ia menepuk puncak kepala Olivia lembut lalu naik ke dalam mobil. Olivia melambaikan tangan, ia terus berdiri disitu memperhatikan mobil Varo melaju pergi dan menghilang di ujung jalan.
...----------------...
Bekerja menjadi auditor itu melelahkan, hari-hari di bulan awal tahunan seharusnya masih dijalanin dengan semangat nampaknya tidak berlaku bagi seorang auditor. Mulai dari bulan januari sampai pertengahan tahun diibaratkan seperti sedang berada di tengah medan perang. Lembur sampai malam, tengah malam, atau subuh sudah seperti kebiasaan awal tahun.
“Wih gila, masih jam delapan tapi timnya Kak Asti udah di kantor” bisik Kesha pada Olivia saat masuk kantor. Iseng ia menegur Tata yang sedang merapikan barang-barangnya. “Selamat pagi Tata, tumben pagi-pagi udah di kantor. Mau ke klien ya?”
Tata mendongak. “Pala lu Kesh, ini baru mau pulang.”
Kesha bengong sementara Olivia tertawa kencang. Kedua wanita itu kemudian memilih duduk di pojokan bergabung bersama Rakai dan Dendi. Sepanjang hari tim Dendi bekerja mengecek beberapa data yang dikirimkan manajer accounting ravent melalui email.
“Kalian lembur?” Andreas muncul membawa empat kopi dan menaruh di atas meja tim Dendi. Keempatnya mendongak lalu menatap ke arah jam dinding, sudah pukul setengah tujuh malam.
“Emang tim lu enggak?” tanya Dendi.
“Satu klien gue opininya baru keluar tadi, jadi hari ini istirahat dulu”
“Sombong!” celetuk Olivia dan Kesha bersamaan, Andreas tertawa lalu melambaikan tangan dan berlalu pergi. Sepuluh menit setelah itu ponsel Olivia berbunyi, ia berpaling, nama; Mas-mas arogan muncul di layar ponsel, panggilan itu berasal dari Varo.
“Halo?”
[Kamu di mana?]
“Kantor, kenapa?”
[Lembur?]
“Iya”
[.......]
“Kenapa nanya?”
[Lembur sampai jam berapa?]
“Enggak tau]
[Oke]
“......Udah? Gitu doang?”
Terdengar tawa Varo dari ujung telepon. [Emang kamu ngarepin apa?]
“Ya semangatin kek, aku lagi lembur tau”
[Emang kalo aku bilang semangat kamu bakal semangat?]
“Enggak sih, kecuali kamu kerjain kerjaan aku.”
Varo tertawa lagi. [Yaudah aku tutup. Sampai nanti]
“Iya.”
Panggilan telepon dimatikan. Tanpa sadar Olivia tersenyum manis, ia mendongak ketika suara batuk terdengar. Kesha menatapnya dengan ekpresi jenaka sekaligus mau tahu.
“Kepo lu Kesh” dengus Olivia.
“Kalo lagi jatuh cinta, cintanya tolong dijaga ya, minimal sampai peak season selesai, biar kalo tiba-tiba patah hati enggak ganggu kerjaan. Iya nggak kak?” goda Kesha dijawab tawa geli Dendi.
“Ih siapa yang jatuh cinta? Jangan nyebar gosip lu” elak Olivia malah membuat timnya semakin iseng menggodanya.