Mr. Bully

Mr. Bully
Kiss You - One Direction



Hujan lagi dan lagi-lagi hujan. Hampir sepanjang hari Varo menatap bengong ke arah luar halaman rumah Nenek Aisah tanpa bisa melakukan apapun. Becek dimana-mana tapi setara dengan udara dingin yang datang berbisik mendendangkan lagu tidur kepada siapapun untuk kembali menarik selimut dan tertidur dengan nyenyak.


Jika sekarang Varo berada di kosannya sendiri, sudah dipastikan mulai dari detik pertama tetesan air hujan jatuh sampai pukul tiga sore ini ia pasti masih meringkuk dari balik selimut tebal. Tapi sayangnya Varo tidak bisa, selain karena tidak enak hati dengan Nenek Aisah, sejak subuh Olivia sudah memaksanya bangun untuk membantu Mbah Hadi memperbaiki kandang ayam.


“Kamu kan anak akuntansi, bisalah perbaiki kandang ayam dikit-dikit” kata Olivia membuat Varo bengong.


Idih apa hubungannya? keluh Varo ketika memaksakan diri bangun. 


“Temen aku anak teknik mesin bisa perbaiki printer kok” lanjut Olivia lagi membuat Varo buru-buru angkat kaki membantu Mbah Hadi di halaman belakang. Itu lebih baik dibandingkan mendengarkan penuturan aneh Olivia.


Dan setelah pekerjaannya selesai Varo hanya bisa berdiam diri menunggu hujan reda. Sebenarnya ia berencana untuk membawa Nenek Aisah dan Olivia keluar, tapi hujan lebat membuat Varo memilih mengurungkan niatnya.


“Mau kemana?” tanya Varo ketika Ahmad muncul dengan dua payung ditangan kiri.


“Jemput Mbak Ayu di rumah Pak RT, terus mau ngasih payung ke Mbah Hadi” 


“Mbah Hadi dimana?” tanya Varo heran. Perasaan sejak tadi ia duduk cukup lama di teras depan dan sama sekali tidak melihat lelaki tua itu melewati gerbang depan rumah.


“Main catur di pos ronda” jawab Ahmad, tangannya terangkat mendongak mengukur curah hujan. Masih deras, tapi tidak selebat tadi yang sesekali diiringi suara gemuruh dan petir.


“Mas Varo lapar nggak?”


“Dikit, kenapa emang?”


“Kebetulan lagi hujan” jawab Ahmad tidak nyambung kemudian berlari menerobos masuk diantara tetesan air hujan.


“Ahmad kok payungnya nggak dipakai?” teriak Olivia tiba-tiba. Ahmad hanya tertawa geli lalu menghilang dari balik pagar. Kepala Olivia menggeleng menaruh teh hangat di kursi panjang tempat Varo duduk.


“Nguap mulu kayak kukusan” tegur Olivia lalu duduk di sebelah Varo, ikut menikmati hawa dingin yang menerpa kulit mereka.


“Nenek udah tidur?”


“Enggak, lagi menyulam. Nenek nyuruh aku ke depan buat nemenin kamu” 


“Paham bener nenek kalo aku lagi kesepian disini” balas Varo basa-basi.


“Hujan-hujan gini jadi inget film Your Name”


“Anime Jepang itu ya?”


Olivia menangguk. “Kamu pernah nonton?”


“Pernah. Dipaksa sama Bima” jawab Varo. “Bima wibu” lanjutnya memperjelas dengan ekspresi serius. “Tapi jangan bilang Bima kalo aku yang ngasih tau. Takutnya pas besok leher aku udah putus ditebas sama dia”


“Aneh-aneh aja kamu” ujar Olivia cekikikan. “Dari film itu, scene mana yang paling kamu suka?”


Varo berpikir sejenak, sebenarnya tidak ada yang menarik baginya ketika menonton film bergenre romantis fantasi itu, atau bahkan mungkin semua jenis film yang menceritakan tentang sepasang kekasih berjuang demi cinta. Varo lebih menyukai film action atau horor yang menurutnya jauh lebih realistis dibandingkan adegan-adegan ampas seseorang menangis membiarkan cintanya pergi.


Tapi melihat ekspresi ingin tahu Olivia akhirnya Varo menjawab, meskipun  jawabannya hanya asal sesuai daya ingatnya pada film berjudul Your Name. 


“Scene waktu ceweknya bangun pagi terus megang ini” jawab Varo menyentuh dadanya. Olivia melongo lalu tertawa geli mencubit lengan cowok itu sampai ia meringis kesakitan.


“Lah kan scene yang aku suka. Ya aku sukanya itu.”


Olivia menggelengkan kepala masih tertawa geli. “Kamu sendiri suka scene yang mana?” tanya Varo meskipun ia yakin betul ia tidak akan ingat dengan scene yang Olivia maksud.


“Waktu main characternya bisa merasakan kehadiran satu sama lain melalui suara bel” jawab Olvia. “Aku kadang mikir kapan ya aku bisa kayak gitu”


“Jadi anime?”


“Bukan” geleng Olivia. “Maksudnya aku pengen pas ketemu jodoh kamu ada bunyi bel gitu. Biar kayak pertanda ‘oh ini jodoh aku,’ jadi aku nggak perlu repot-repot nyari jodoh aku lagi”


“Kalo gitu….kring kring” balas Varo pede.


Olivia cekikikan geli. “Kayak bel sekolah.”


Varo tertawa lalu kembali berpaling menatap hujan, sepertinya hujan tidak akan berhenti sampai nanti malam.


“Hujannya awet nih” gumam Varo pelan.


“Mandi hujan yuk?” ajak Olivia tiba-tiba.


“Hah?” Varo menatap bingung ketika Oliva berdiri dan tanpa ragu berlari di bawah hujan. “Entar kamu sakit”


“Nggak papa. Yuk kapan lagi bisa hujan-hujanan?” teriak Olivia dari antara rintik hujan.


Varo menatap ragu, ia tidak terlalu suka hujan karena dinginnya terasa menusuk tulang dan Varo benci apabila tubuhnya harus menggigil setelah terkena air hujan. Sebenarnya jangankan hujan, pergi mandi saja ia sangat malas.


Tapi begitu melihat tawa lepas Olivia, Varo jadi merasa tertarik untuk berdiri bersama cewek itu dibawah hujan. Varo kemudian bangkit berdiri dan mengikuti Olivia,  mereka berlarian kesana kemari sambil sesekali sengaja menginjak becek untuk mengotori baju satu sama lain.


“Kalo aku sakit kamu yang harus tanggung jawab” teriak Varo.


Olivia mengangguk lalu mendorong Varo dan berlari dengan tawa keras ketika cowok itu mencoba mengejarnya. Suara tawa keduanya membuat mereka terlihat seperti anak kecil yang sedang bermain hujan. Bebas tanpa beban dan berlari menikmati waktu bersama, seolah hari esok tidak mampu menciptakan situasi seperti ini. Mereka terus berkejar-kejaran mengitari halaman rumah dan baru berhenti di dekat kebun belakang Nenek Aisah.


“Aku capek banget, istirahat dulu” kata Olivia dengan nafas tersengal-sengal.


Tanpa ragu Olivia duduk di atas rumput yang basah membuat Varo tertegun tapi kemudian tanpa banyak bicara ia ikut berbaring di samping Olivia.


Varo selalu merasa hidupnya sangat bebas, ia bisa melakukan apapun tanpa ada seorangpun yang berani menginterupsi. Dan detik ini dibawah hujan Varo juga merasa bebas, tapi kebebasan kali ini jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan sebelumnya. Tidak ada ada perasaan hampa atau timbul pertanyaan atas apa yang baru saja ia lakukan, tubuhnya hanya bergerak mengikuti kemana langkah kaki membawanya pergi dan yang paling penting adalah Varo merasa sangat bahagia. Sebuah kebahagian yang anehnya tercipta dari rasa lelah karena berlarian dibawah hujan deras.


“Kamu suka banget ya sama hujan?” tanya Varo memalingkan wajah menatap Olivia. Tampak cewek itu menyunggingkan senyum tipis dengan mata terpejam mencoba menikmati setiap tetes hujan yang jatuh di wajahnya.


“Hujan itu kayak teman” jawab Olivia. “Kalo kamu nangis dibawah hujan, air mata kamu nggak bakalan keliatan karena ketutup sama air hujan”


“Kamu sering nangis dong?”


“Kadang”


“Kenapa?”


Olivia menarik nafas panjang. Matanya terbuka menatap langit berwarna kelam. “Karena patah hati” ceritanya kalem.


“Aku dulu pernah suka sama seseorang tapi aku ditolak, aku patah hati, terus nangis dibawah hujan. Mellow banget kan?”


Ingatan Varo kembali ke cerita Ayu tempo hari. Olivia ditolak meskipun suratnya tidak pernah terbaca. Apakah kisah itu sama dengan kisah yang Olivia ceritakan hari ini? Varo ingin tahu, benar-benar ingin tahu. Tapi mulutnya tidak bisa bergerak untuk menanyakan hal itu.


“Waktu SMA kamu pernah suka seseorang?” tanya Varo sedikit menjurus ke pertanyaan yang sebenarnya ingin ia tanyakan.


Siapa penerima surat dari Olivia? Varo berharap pertanyaannya akan terus berkembang menjadi sebuah jawaban jelas, setidaknya sampai Varo mengetahui nama cowok itu. Varo sebenarnya tidak suka membahas masa lalu seseorang, tapi khusus untuk Olivia rasa tidak sukanya itu perlahan justru berubah menjadi sebuah obsesi yang membuatnya ingin mengetahui lebih detail tentang segala hal yang berhubungan dengan Olivia.


“Pernah”


“Siapa?”


Wajah Olivia berpaling ke arah Varo. Pandangan matanya terlihat serius sementara bibirnya tersenyum kecil.


“Rahasia” jawab Olivia pendek.


Varo menghela napas tapi masih belum menyerah. “Cowok yang kamu suka itu yang buat kamu nangis?”


Varo berani bersumpah dirinya saat ini bukanlah dirinya di hari-hari biasa, dan Dimas pasti akan menjadi salah satu yang tertawa selebar mungkin ketika mengetahui hanya dalam beberapa hari Varo sudah berubah menjadi seorang yang mau tau banyak hal mengenai orang lain.


“Dia yang nolak kamu?”


“Kalo iya kenapa?” kata Olivia balas bertanya. Nadanya terdengar sedikit menantang membuat Varo melemparkan tatapan gemas menyadari Olivia adalah seseorang yang suka mempermainkan keingintahuan lawan bicaranya.


“Aku cuman pengen tahu” balas Varo bangkit dan duduk.


“Dia nggak pernah bilang dia nolak aku” kata Olivia ikut duduk. 


Wajah Varo berpaling bingung. “Dan kamu tau dari mana kalo dia nolak kamu?”


Salah satu bahu Olivia terangkat naik sementara ekspresinya terlihat dua kali lebih tenang. “Terkadang kamu bisa tahu jawaban seseorang atas pertanyaan kamu hanya dari gerak-geriknya. Aku nggak perlu dengar kata penolakan dari dia, tapi aku cukup sadar kalo emang eksistensi aku nggak berarti di hidupnya. Karena itu kadang untuk beberapa kasus, bahasa tubuh itu adalah jawaban yang paling jujur”


“Tapi bisa aja kan di kasus kamu ini bahasa tubuh cowok yang kamu suka justru berbanding terbalik sama apa yang sebenarnya ingin dia omongin. Seandainya dia suka sama kamu gimana? Apa kamu nggak ngerasa rugi udah salah ngira sama sesuatu yang sebenarnya belum pasti jawabannya?”


Olivia tertawa getir sembari memperbaiki posisi duduknya menghadap ke arah Varo. 


“Pengandaian itu baik, tapi menjadi realistis jauh lebih baik. Aku nggak mau buang waktu hanya untuk mengandaikan sesuatu yang sebenarnya aku tau pasti emang jawaban yang ada saat itu adalah ‘enggak mau’ atau ‘enggak suka.’ Beda penyusunan huruf tapi dengan arti yang sama; penolakan.”


Hening. Karena Varo sendiri tidak bisa mencari celah untuk melawan argumen Olivia. Terkadang dalam sebuah perdebatan, realistis selalu keluar sebagai pemenang. Kalimat pengandaian yang bertabur mimpi hanya memiliki kesempatan untuk menang sekitar nol koma nol lima persen.


Mimpi dalam sebuah pengandaian selalu dibalut dengan kata keajaiban.


Memang keajaiban itu ada, tapi tidak terus menerus bekerja setiap hari, karena ia harus berlaku adil berputar ke orang lain. Dan dalam perjalanannya kembali ke orang pertama, hari-hari itu hanya bisa diisi dengan menjadi seorang yang realistis.


“Ya. Akhir-akhir ini aku sering kepikiran sama dia,” angguk Olivia jujur. “Awalnya aku pikir aku udah ngelupain dia. Tapi aku salah. Waktu itu aku nggak sengaja ketemu dia di Jakarta dan disitu aku baru tau jantungku masih berdetak kencang waktu lihat dia”


“Kamu….suka?”


Olivia angkat bahu tanda tidak yakin. “Bisa jadi karena aku suka….tapi, bisa juga karena aku benci.”


Varo diam, wajahnya berpaling menatap ke arah lain. Johan mungkin bisa menjadi satu-satunya cowok yang selalu berada di sekitar Olivia, tapi fakta bahwa ada seorang cowok misterius yang menarik perhatian cewek itu selama bertahun-tahun malah membuat Varo merasa kalah.


Benar, kalah adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Varo saat ini.


Sejak awal Varo tidak serius ingin mendekati Olivia, ia hanya penasaran, terutama setelah pertemuan mereka di club dan Olivia menghilang bagai ditelan bumi. Tapi anehnya di pertemuan kedua mereka, seiring berjalannya waktu yang dibalut perhatian Olivia padanya, rasa penasaran itu lantas perlahan mulai berubah menjadi sebuah perasaan elusif.


“Kamu pernah nggak berpikir untuk ngelupain dia?” tanya Varo pelan. 


“Pernah. Tapi gagal. Dan itu mungkin karena aku nggak punya seseorang yang mampu buat aku teralihkan dari dia.”


Varo melemparkan tatapan ragu meskipun hatinya yakin akan perkataannya kali ini. “Kalo aku...gimana?”


“Hmm?”


“Kalo aku ngambil peran jadi ‘seseorang’ itu gimana?”


“Kamu yakin?” balas Olivia dengan suara bergetar karena menahan dingin. Anggukan Varo membuat bibirnya tersenyum tipis. 


“Aku cewek jahat. Nanti kamu patah hati” ujar Olivia terdengar bercanda, bibirnya tersenyum semakin lebar menatap ekspresi serius Varo.


Kalo cewek sebaik lu masuk kategori jahat, berarti gue termasuk iblis,  batin Varo lirih kepada dirinya sendiri.


Mata Varo menatap lurus Olivia yang juga melemparkan tatapan penuh tanya kepadanya. Karena dirasa tidak ada seorangpun berniat ingin memecah keheningan Olivia lantas hendak bangkit berdiri, tapi secara tiba-tiba Varo menarik tangannya dan tanpa izin menempelkan bibirnya pada bibir cewek itu.


1...2...3, batin Varo menghitung.


Dan selanjutnya Varo tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika merasakan bibir Olivia bergerak membalas ciumannya. Tangan Varo kemudian menarik tubuh Olivia pelan masuk ke dalam pelukannya. Ini jelas bukan sebuah penolakan, membuat hati Varo mendadak kegirangan tanpa sebab.


Ciuman itu membuat Varo mendadak ingin agar Olivia selalu berada disisinya, menjadi miliknya, menjadi seseorang dimana Varo bisa menceritakan hari-harinya, dan saling mendengarkan cerita satu sama lain.


Mereka berciuman agak lama sampai kemudian Varo menjauhkan bibirnya ketika tangan Olivia menekan dadanya lembut, wajah cewek itu lantas menunduk menghindari tatapan Varo membuat Varo tertawa geli. Olivia membenamkan kepalanya di dada Varo, tidak ingin memperlihatkan warnanya wajahnya yang bersemu kemerahan.


“Detak Jantung kamu…” bisik Olivia pelan.


“Iya aku tau, makanya aku peluk kamu sekarang. Biar kamu nggak ngeliat muka aku” balas Varo mencium puncak kepala Olivia dan keduanya tersenyum kecil. 


...*****...


Pukul empat sore di hari terakhir waktu liburan berakhir, Varo terlihat membawa masuk dua tas miliknya dan Olivia ke dalam mobil. Ia kemudian bersandar di pintu mobil sembari memainkan ponselnya, membiarkan Olivia berbicara lebih lama dengan Nenek Aisah. Wajah Varo mendongak ketika mendengar suara langkah kaki Ahmad yang muncul lengkap dengan senyum tengil.


“Mas Varo udah mau pulang?”


“Iya”


“Balik lagi nggak?”


“Kalo ada waktu, kenapa? Takut kangen?” goda Varo menahan senyum geli melihat tampang sedih Ahmad.


“Saya sebenarnya rencana mau ngajak Mas Varo nonton”


“Nonton apa? Di bioskop?”


“Bukan” geleng Ahmad serius. “Minggu besok ada acara sabung ayam di dekat rumah Pakde Idris, yang dekat sawah itu. Saya mau ajak Mas Varo nonton itu” jelas Ahmad kalem lalu melangkah masuk rumah. 


Varo bengong sejenak lalu mengomel pelan. “Mau datang jenguk nenek kok malah diajak nonton judi, di area terbuka lagi”


“Mas Varo ini buat makan di penginapan.” Ayu muncul membawa tumpukan rantang berisi lontong dan opor ayam.


“Aduh mbak, makasih ya. Maaf ngerepotin”


“Nggak papa, nggak sering-sering juga kan. Lagian ini cuman cemilan biasa.”


Varo nyengir. Sejak kapan lontong jadi cemilan? Tapi dengan hati-hati ia kemudian menaruh tumpukan rantang itu di mobil. Varo kembali berpaling ketika melihat Olivia muncul dengan wajah kemerahan dan mata bengkak, tanda bahwa cewek itu baru saja menangis.


“Pulangnya hati-hati, jangan balap. Kalo ada waktu lagi, main kesini” kata Ayu memeluk Olivia erat. Cewek itu mengangguk tapi tidak dapat mengatakan apapun karena masih berusaha menahan isak tangisnya. Butuh waktu sekitar dua puluh menit lebih sampai kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil dan melaju pergi meninggalkan rumah Nenek Aisah.


“Udah nangisnya?” tanya Varo ketika mereka berada di lampu merah. Olivia mengangguk tapi sesekali masih menyeka sisa air matanya dengan tisu. Varo tersenyum kecil, tangan kirinya bergerak menepuk pelan puncak kepala Olivia lalu menggenggam tangan cewek itu, mencoba memberi ketenangan yang selama ini tidak pernah ia berikan kepada orang lain selain kepada dirinya sendiri.


“Kita singgah bentar buat beli bunga” bisik Olivia lirih ketika tangisnya sudah benar-benar berhenti. 


Varo memalingkan wajah sebentar, ia ingin bertanya tapi kemudian hanya dijawab dengan anggukan singkat. Mobil mereka menyusuri sepanjang jalan ramai, kemudian masuk ke dalam jalan pintas yang melintasi daerah pematangan sawah, dan berhenti di depan toko bunga besar bertuliskan Adinda Florist.


“Kamu tunggu bentar disini” kata Olivia ketika mobil mereka parkir di seberang jalan. Varo tidak menjawab tapi ia malah ikut turun ketika Olivia sudah lebih dahulu menyebrang, dibiarkannya cewek itu berbicara dengan seorang pegawai perempuan sementara dirinya melihat-lihat jajaran bunga yang ditaruh di dalam ember berair.


“Ini berapa setangkai?” tanya Varo menunjuk bunga tiger lily kepada seorang bapak berusia paruh baya.


“Sepuluh ribu” jawab bapak tersebut lugas.


“Satu tangkai pak” pinta Varo lalu menyerahkan uang ketika bunganya dibungkus dengan plastik, setelah itu ia melangkah mendekati Olivia. “Beli bunga apa?” bisiknya pelan membuat Olivia berpaling.


“Lily orens sama lily putih buat Kak Nabila. Dia baru dilamar Kak Rangga loh kemarin di Semarang” cerita Olivia sembari menunjukan foto lamaran Rangga yang dikirim Johan saat berada di Semarang.


“Dimas apaan sih?” kening Varo berkerut ketika melihat foto Dimas mengenakan kostum Tom dari serial kartun terkenal Tom and Jerry dengan kepala Tom berada dalam tangannya sementara mulutnya terbuka tanda bahwa ia sedang bernyanyi kencang.


“Oh itu….Kak Nabila suka sama Tom and Jerry makanya Dimas bertugas jadi Tom, sekalian buat bawa cincin” jelas Olivia lalu mengambil pesanan buket bunganya yang sudah selesai. Setelah selesai ia kemudian mengajak Varo pergi.


“Kenapa kamu beli lily putih?” tanya Varo membuka percakapan. Dengan hati-hati Olivia menaruh bunganya di belakang.


“Kak Nabila suka lily putih”


“Kalo lily orensnya?”


“Buat kamu” balas Olivia menyodorkan bunga lily orens pada Varo. “Romantis kan aku?”


Varo tersenyum, mengambil bunga itu dan menaruh di atas dashboard mobil.


“Makasih”


“Sama-sama” balas Olivia ringan menjulurkan tangannya keluar ketika mobil mulai melaju. Sekitar sepuluh menit ia menaikan kaca mobil dan hendak memutar radio.


“Tau nggak kalo lily putih itu ada artinya?” tanya Varo membuka percakapan. Olivia menggeleng dengan tatapan lugu.


“Emang ada?”


“Ketulusan dan persahabatan”


“Tau dari mana? Ngarang ya kamu?” balas Olivia bercanda. Varo menggeleng.


“Ada temen aku dulu kerja di toko bunga, terus aku sering dikasih tau arti dari setiap bunga yang dia jual. Bahkan kata temen aku setiap tanggal kelahiran itu punya bunga dengan arti tersendiri” jelas Varo sedikit berbohong. Sebenarnya bukan teman, tetapi mantan pacar Varo yang bekerja di toko bunga.


“Ada linknya, coba kamu buka website birth flower by day. Nanti bakalan muncul daftar tanggal sama bunga kelahiran.”


Olivia mengambil ponselnya dari tas kemudian mengetik nama website seperti yang diberitahukan Varo. Bibirnya bergumam pelan mencari tanggal kelahirannya 


“Empat April. Red anemone, I love you”


“I love you too” canda Varo membuat Olivia tertawa.


“Terus kalo tanggal kelahiran kamu?”


“Satu september. Tiger lily”


“Kayak bunga ini ya?” tunjuk Olivia pada bunga tiger lily yang ditaruh Varo di sebelah bunga pemberiannya tadi.


Kepala Varo mengangguk lalu menyodorkan tiger lily miliknya pada Olivia.


“Aku tadi beli ini buat kamu”


“Makasih satu september” kekeh Olivia kembali menscroll layar ponselnya.


“Satu september, satu september” gumam Olivia. Tatapannya mendadak membeku menatap website birth flower di tanggal satu september.


“Please love me.” Wajah Olivia langsung mendongak menatap Varo serius, cowok itu terlihat tersenyum tipis tapi pandangannya tidak teralih dari jalan raya.


“Should I?” gumam Olivia pelan sekali dan terdengar seperti ditujukan untuk dirinya sendiri. Matanya menatap lekat-lekat tiger lily dalam dekapannya kemudian sekilas melirik ke arah lily orens di atas dashboard mobil depan Varo.


Lily orens: kebencian dan kebohongan.