
Pukul sepuluh kurang Olivia baru tiba di rumah, ia mendorong pintu dan mendapati Rere sedang duduk di lantai dapur. Lampu tidak dinyalakan namun samar-samar cahaya lampu kamar membuat Olivia dapat melihat jelas ekspresi lesu Rere.
“Re, kamu kenapa? Sakit?”
Rere mendongak dan saat itu juga tangisnya pecah. Olivia menatap bingung namun langsung berjongkok memeluk Rere. Cukup lama wanita itu menangis sampai kemudian hanya terdengar isakan kecil.
“Ada apa Re? Coba cerita?” Olivia menatap Rere iba.
“Toko kue aku mau digusur”
“Hah? Kenapa bisa?”
“Pemilik bangunan udah nggak sanggup buat ngurus dan dia mau pindah ke luar negeri. Mereka ngejual bangunan itu dan pemilik baru mau buat bangunan baru untuk bisnisnya, tapi dia nggak mau satu atap dengan bisnis lain di bangunan itu. Egois banget kan? Aku dikasih uang ganti rugi, tapi tetap aja uang itu nggak akan cukup buat nyewa tempat lain dengan harga sewa sekarang”
“Re, kalo masalah itu, bisa pakai sebagian dari gajiku untuk bayar sewa”
“Jangan Oliv, kalo pakai gaji kamu kita berdua nggak bisa makan dan bayar uang kontrakan” geleng Rere. “Sedih banget ya jadi aku? Tinggal di Inggris mau dijodohin, kabur ke Indonesia malah mau jatuh miskin.”
Olivia menepuk-nepuk bahu Rere. Mereka berteman sejak SMA di Inggris dan keduanya sama-sama memutuskan untuk tinggal di Indonesia, meskipun dengan alasan yang berbeda. Olivia ingin hidup mandiri tanpa bantuan Ranta, tantenya yang memutuskan menikah beberapa tahun lalu. Sementara Rere, ia kabur. Kabur dari perjodohan keluarga.
“Udah Re, sekarang kita tidur aja. Aku bakal ketemu pemilik bangunan besok”
“Mau ngapain Oliv? Minta dia untuk nggak ngejual gedung? Mana mau. Mereka dibayar dua kali lipat dari harga sewa per tahun untuk tiap ruko.”
Olivia diam sejenak, tapi kemudian sebuah ide terlintas di benaknya. “Kalo kita nggak bisa buat pemilik bangunan buat batal ngejual bangunannya, maka kita harus bisa buat pemilik baru enggak ngusir kita.”
Rere menatap Olivia lemah. Ide itu adalah ide kedua tergila setelah idenya sendiri untuk kabur dari Inggris. Tapi karena ia tidak bisa memikirkan jalan keluar lain, terpaksa Rere mengangguk, dalam hati Rere berharap usaha Olivia akan berhasil.
...----------------...
^^^ ^^^
Olivia menatap kartu nama di tangannya dengan ekspresi masam. Alvaro Wijaya, Ravent CEO. Dari antara semua orang yang hidup dimuka bumi ini, mengapa harus Varo? Mengapa harus ia yang membeli gedung? Mengapa harus lelaki itu? Olivia tidak mengerti seperti apa jalan takdirnya, tapi sampai saat ini Olvia yakin takdirnya sedang berada di fase terburuk.
“Gimana Oliv?” tanya Rere ketika Olivia masuk ke dalam toko kue. Olivia hanya tersenyum kecil membuat Rere tidak bertanya lebih jauh.
“Aku di dapur, kalo kamu butuh bantuan panggil aja” kata Olivia berlalu pergi. Ia menarik kursi dan duduk dengan pandangan sedih.
Toko kue ini adalah tempat paling berharga bagi Olivia dan Rere. Butuh empat tahun bagi mereka untuk mengumpulkan uang dan menyewa sebuah ruangan di antara ruko tua. Awalnya hanya beberapa orang yang mau singgah untuk sekedar membeli beberapa jenis kue kecil dikala menghindari hujan, namun sekarang ketika sudah mulai banyak pengunjung yang mengenal toko kue mereka dan usaha Olivia dan Rere mulai menunjukkan hasil mereka harus pindah dari situ.
“Gimana ya…” gumam Olivia mengetuk-ngetuk meja pelan. Cukup lama ia termenung sampai terdengar suara Rere dari depan.
“Kenapa Re?” tanya Olivia menghampiri. Wajah Rere memucat menunjuk ke arah segerombolan orang di luar kafe, beberapa diantara mereka mengenakan safety helmet dan terlihat sedang berdiskusi menunjuk ke arah bangunan.
“Kayaknya kita emang harus rela pindah” ujar Rere lemah, ia duduk di kursi dan sesaat kemudian terdengar suara isak tangisnya.
Olivia menggigit bibir, tidak ada cara lain selain bertemu langsung dengan pemilik Ravent.
...----------------...
Sejak pagi wajah Olivia terlihat tertekuk. Selama enam tahun ia tidak pernah sekesal ini sampai bertemu Varo. Fakta bahwa lelaki itu kini adalah pemilik bangunan sekaligus alasan mereka untuk pindah membuat rasa kesalnya terus bertambah seiring dengan detak jam yang berlalu.
“Lu makan aja duluan. Gue mau minta hasil scan dokumen kemarin” kata Olivia ketika melirik jam tangan, sudahnya waktunya makan siang.
“Mau nitip?”
“Iya. Gado-gado, kalo ada. Makasih ya Kesh.”
Olivia keluar ruangan. Tangannya terkepal menekan tombol lift menuju lantai enam. Tempat dimana ruangan Varo berada.
“Permisi mbak, Pak Alvaronya ada?” tanya Olivia pada Indah dari balik meja resepsionis.
“Sudah buat janji mbak?”
“Belum mbak, tapi saya cuman mau ngambil beberapa hasil scan dokumen. Kemarin dokumennya pakai akses Pak Alvaro, dan beliau bilang kalo mau diambil bisa langsung kesini” jelas Olivia.
Indah mengangguk paham. “Sebentar ya mbak, saya hubungi Pak Varo dulu.”
Olivia menghela nafas, mencoba meredam emosinya. Ingin rasanya ia mengabaikan Indah yang sedang berbicara lewat pesawat telepon dan langsung menyeruak masuk ke dalam ruangan.
“Mbak, bisa masuk sekarang” beritahu Indah.
Olivia tersenyum manis mengucapkan terima kasih, ia melangkah menuju ruangan Varo dan ketika membuka pintu Olivia bisa melihat dengan jelas sosok Varo sedang duduk kursi.
Senyum Varo muncul, tatapan matanya terlihat sangat angkuh ketika memperhatikan Olivia mendekat ke arahnya.
“Kamu mau apa? Kalau mau minta scan dokumen, aku baru bisa kasih jam satu. Sekarang udah jam makan siang”
“Saya akan minta dokumennya jam satu siang. Tapi sekarang saya mau membicarakan hal lain” tukas Olivia geram, sosok Varo sekarang benar-benar sangat mengesalkan baginya. “Saya mau membicarakan bangunan yang dibeli bapak beberapa waktu lalu”
“Oh yang itu…..” Varo terlihat tenang. Tapi dalam hati sedang bersorak riang. Varo tidak pernah menyangka bahwa keputusannya mengikuti saran Indah membeli bangunan tua akan membawanya pada sebuah jackpot besar.
Varo yakin sekali saat ini Olivia berpikir Varo sengaja membeli bangunan itu untuk mengganggu hidupnya, tapi Varo tidak peduli. Pertemuannya dengan Olivia di hari kemarin membuat setumpuk berkas mengenai informasi wanita itu langsung berada di atas meja kerjanya.
Dimana Olivia tinggal, dengan siapa ia tinggal, apa yang ia lakukan sekarang, atau apa saja yang ia lakukan selama enam tahun belakang. Semua itu sudah terjawab.
Dan sekarang ketika wanita ini datang kepadanya dengan amarah. Varo tahu, ia memiliki cara untuk membuat Olivia tidak pergi. Jika Varo tidak bisa mengikat Olivia, maka ia akan mulai dari orang di sekitar wanita itu.
“Saya enggak ngerti apa maksud bapak untuk tiba-tiba membeli bangunan itu. Oke, mungkin bapak berhak membeli apapun, tapi saya rasa bapak tidak seharusnya menggusur semua orang dari tempat itu.”
Varo bisa merasakan ada kekesalan yang tertahan dari setiap kata yang keluar dari bibir Olivia. Ia lantas berdiri dan melangkah mendekati wanita itu.
“Pertama, aku nggak suka cara ngomong kamu. Saya, bapak, kayak orang asing. Kedua…..” langkah Varo semakin mendekat membuat Olivia balik badan ke arahnya. “Aku nggak suka ngebahas pembelian bangunan ini ke auditor eksternal, ini urusan internal kantor”
“Saya-”
“Sekali lagi kamu ngomong formal, aku pastiin kamu akan di ruangan ini sampai jam pulang kerja” potong Varo mengancam. Varo selalu mendapatkan apa yang ia mau dan menghadapi orang keras kepala seperti Olivia memang butuh tindakan ekstra. Meskipun terkesan arogan tapi Varo tidak peduli.
“Oke, fine! Aku. Aku datang ke ruangan ini sekarang sebagai calon korban penggusuran. Puas kamu?” ketus Olivia kesal, hilang sudah sopan santun yang masih sempat ingin ia pertahankan mengingat Varo adalah klien sekaligus pemilik gedung di tempat ia berpijak.
“Aku belum selesai ngomong. Meskipun kamu datang sebagai calon korban penggusuran, aku tetap nggak mau ngomongin itu di jam kerja. Kalo kamu mau ngomongin hal itu, bisa setelah jam kerja selesai. Dan yang ketiga, aku lapar, kamu udah ngambil lima belas menit jam makan siangku, jadi kamu sama aku makan disini” kata Varo tenang.
Olivia tercengang. Perubahan lelaki di depannya ini jauh lebih buruk dari yang bisa ia bayangkan. Sombong, angkuh, dan arongan. Tiga kata itu sudah bisa mendeskripsikan apa yang Olivia lihat dari sosok Varo sekarang.
“Aku akan ketemu kamu lagi setelah jam kerja selesai” putus Olivia melangkah pergi.
“Sampai berani kamu keluar dari ruangan ini sebelum jam satu. Aku pastiin hari ini juga temen kamu Rere akan balik ke Inggris dan menikah.”
Olivia terkejut, ia berpaling ke arah Varo dengan tatapan tidak percaya. Olivia sadar, Varo pasti mencari tahu dirinya. Obsesi lelaki itu padanya tidak pernah berubah. Tapi fakta bahwa Varo tahu tentang permasalahan Rere membuat bulu kuduk Olivia merinding. Sejauh apa lelaki itu mengetahui dirinya?
“Kamu….” Olivia tercekat, ingin rasanya menampar Varo atau melempar sesuatu ke arah lelaki itu.
Varo menekan salah satu tombol pesawat telepon. “Indah, tolong anterin makan siang saya dan Mbak Charmel ke ruangan”
“Gila…” gumam Olivia pelan.
“Sekarang kamu mau duduk di sofa atau aku pangku?”
Olivia berdecak tapi tidak bisa melakukan apapun selain duduk di sofa dengan wajah tertekuk.