Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
9.Bersandar Disisi Mu,Membuatku Berdebar



Citt...citt...cittt


Suara kicauan burung dipagi hari,bernyanyi dengan merdunya.


Aroma pagi sangat menyegarkan.


Hanz beranjak dari tempat tidurnya.Tirai jendela dibukakannya dan angin sepoi-sepoi masuk tanpa permisi,matahari mulai terik.Hanz mengamati arloji dipergelangan tangannya,pukul 06.30.


Ia menikmati sedikit waktunya dengan menyaksikan pemandangan dari atas balkon rumahnya.Pandangannya lurus kedepan.


Drrrrrttt...


Suara dering telepon berbunyi.


"Hallo"


"Hallo,bos.Para staff sudah meluncur kelokasi." Suara Danian terdengar dari seberang telepon.


"Oh ia,kalau begitu jemput saya dikantor setengah jam lagi." Perintahnya.


"Baik,bos." Dan sambungan telepon pun terputus.


Hanz beranjak kekamar mandi,membersihkan diri.Aroma semerbak menghiasi seisi ruangan.Dengan wajah segar ia mempersiapkan diri,memilah-milih pakaian yang akan ia kenakan.



Satu persatu stel pakaian ia kenakan.Hanz selalu peduli dengan penampilannya,walaupun sederhana ia sangat menyukainya.


Hanz merupakan pria terkaya tapi kekayaannya tidak selalu diperlihatkannya.Karena kesederhanaan membuatnya terasa nyaman dan aman.Kebiasaan hidup sederhana membuatnya dijuluki sebagai bos pelit,karena biasanya para kolongmerat akan memamerkan apa yang dimiliki tapi tidak berlaku bagi Hanz.


Hanz meroggoh kacamata hitam yang tersusun rapi dikotak koleksi penyimpanan.Wajahnya yang bersih dan tampan itu,terlihat jelas dari pantulan cermin yang terpesona.


Hanz mengambil beberapa setelan pakaian yang hendak dibawa,lalu dimasukkan kedalam koper kecilnya.Keberangkatannya kali ini sebagai liburan yang singkat setelah pekerjaan yang menumpuk.Berlibur sambil bekerja.



Hanz begitu apik dalam memasukan pakaian yang akan dibawanya,itu terbukti tidak ada satupun pembantu yang datang mengurus untuk membantunya.Karena ia memiliki kebiasaan hidup sendiri dan tidak ingin diganggu,kemandiriannya membuat ia semakin tangguh.


Dengan segera ia meninggalkan mansion kecilnya,mengendarai mobil jeepnya.Dan suara deru mobil mengembara sepanjang perjalanan.Dengan tenangnya ia mengendarai mobilnya.Menikmati setiap perjalanan yang ia lalui.


******


"Selamat pagi,Bos." Sapa Danian.


Danian yang telah tiba dahulu dikantor,dengan segera menyambut kedatangan Hanz.Mobil terpakir sempurna dihalaman kantor.


"Selamat pagi,Danian." Sahut Hanz.


"Apakah mobilnya sudah disiapkan?"


"Mobilnya sudah disiapkan."Lapor Danian.


"Baiklah.Mari segera kita berangkat."Ajak Hanz sembari mengeluarkan koper miliknya.


"Okay.Kita OTw." Seru Danian.Tidak lupa ia membawa koper milik bosnya itu.


Keduanya lalu menuju mobil yang lain.Mobil khusus yang disiapkan Danian untuk perjalanan jauh.



Hanz yang sedang duduk dengan tenang didalam mobil.Dikejutkan dengan kehadiran sosok yang tidak terduga.


Roy yang tiba-tiba muncul menghampiri kakaknya itu.Tanpa berdosa ia pun merengek dengan manja.


"Kak,aku numpang ikut kalian ya... Soalnya lama kita tidak pernah berangkat bersama." Pintanya.


Roy yang tidak peduli dengan sikap dingin Hanz secara langsung menerobos masuk duduk disamping kakaknya.


Hanz hanya menatap tajam Roy.


Dengan santainya Roy mengabaikan tatapan kakaknya itu.Dengan lantangnya iapun meneriakkan sesuatu,membuat Danian terkekeh akan ulah adik Bos nya itu.


"Mari kita berangkat!!" Ucap Roy antusias.


Hanz yang mendengar,hanya menggeleng-gelengkan kepala,dengan frustasi.


Mobilpun mulai melakukan perjalanan,yang dikemudikan langsung oleh Danian.Namun,lagi-lagi Roy berulah.


"Berhenti!!"


Seketika Danian pun menghentikan pergerakkan mobil dengan tiba-tiba.


"Ada apa?" Kesal Hanz bertubi-tubi.Begitupun Danian menatap Roy dengan penasaran.


"Bukankah itu gadis sipemberontak???" Tunjuk Roy.


Hanz yang ikut dengan ulah si Roy memandang kesumber yang ditunjuk.


"Sepertinya ia sedang mengalami kesulitan." Ucap Roy.


"Tunggu dulu!Aku ingin menghampirinya."


Roy yang tidak peduli dengan kesan Hanz,dengan segera turun dari mobil menuju orang yang ditunjuknya tadi.


Danian yang berada didepan kemudi pun menuruti.Karena tidak ada perintah untuk menolak.


Hanz terdiam seribu bahasa.Ia tidak memperdulikan sikap Roy yang seenaknya.Apalagi mengabaikan rasa kepedulian adiknya terhadap orang lain.


Hanz mengamati dari jauh,Ia bukan tidak mengenali wanita yang ditunjuk Roy. hanya saja gadis yang ia kenal itu selalu membuatnya kesal.


Danian yang mendengar ocehan Hanz hanya melirik dari kaca spion mobil tanpa bersuara.


Hanz yang menyadari Danian mengawasinya pun menjadi kikuk dan membuang jauh pandangannya ketempat lain.Lalu hanya mengumpat Vivian dalam hati, "Dasar gadis ceroboh."


Dilain sisi,Roy menegur Vivian yang sedang gelisah.


"Hey gadis pemberontak,sedang apa disini?" Sapa Roy.


Vivian pun menoleh kesumber suara dan tersipu malu.


"Aku tertinggal dari rombongan." Adunya.


"Astaga ko bisa?"


"Ayo,ikut kami saja."Ajak Roy.


Tanpa permisi Roy merampas barang bawaan Vivian.


Roy mengambil koper yang dibawa Vivian dan langsung dimasukkan kedalam bagasi mobil.


"Aku sudah meminta perusahaan untuk mengantarkanku." Tolak Vivian.


Tapi Roy pura-pura tidak mendengarkan kemudian menarik Vivian masuk kemobil.


Vivian tidak mampu menolak ajakan Roy yang sedikit memaksa itu,dengan langkah terpaksa Vivian masuk kedalam mobil.Tapi dengan sangat terkejutnya Vivian,ia tidak menyadari kalau Hanz sudah duduk disana.Wajah yang dingin itu membuatnya perasaannya sedikit menciut karena ia harus duduk bersebelahan dengan Hanz.


"Bo-bolehkah kalau aku duduk didepan saja." Pinta Vivian memelas memohon pada Roy.Namun dengan sengaja Roy menolak mentah-mentah.


Danian yang memperhatikan tingkah laku Vivian dan Roy hanya tersenyum.Apalagi saat melihat ekspresi Vivian berubah drastis ketika berhadapan langsung dengan bosnya.


"Kakak ku masih kenyang." Ledek Roy.


"Ia tidak akan memakan mu."


"Duduklah dengan tenang!"


Roy dengan lembutnya meminta Vivian harus menurut,memaksa tubuh Vivian untuk segeta duduk.


Vivian hanya menyengir menatap Hanz yang tampak dingin.Seakan ada aura yang mengatakan, "Jangan coba-coba ganggu aku."pikirnya.Saat rasa gundahnya menjadi,tanpa sengaja ia menelan ludahnya sendiri.


Lain halnya dengan Hanz,ia sibuk memaikan laptopnya.Hanya dengan begitu ia dapat mengalihkan pandangannya dari Vivian.Ia tidak ingin membuat Vivian menjadi tidak nyaman dengan keberadaannya,karena ia tau isi pikiran gadis bodoh itu.


Dengan sedikit ragu,Vivian duduk disebelah Hanz.Tanpa ada penolakkan ia pun duduk dengan nyaman.Dan sekali-kali ia melirik wajah Hanz yang begitu serius,dibalik kacamatanya.Vivian dapat melihat tatapan serius sang CEO.


"Warna mata yang cantik,"guman Vivian.


Walaupun mata Hanz tertutup oleh kacamata hitamnya,namun Vivian dapat sekilas melihat warna mata itu dari sela-sela ganggangnya.


Hanz menoleh mendengar gumaman Vivian.Namun Vivian secepatnya memalingkan wajahnya keluar jendela kaca mobil.Melihat reaksi seperti itu Hanz mengabaikannya.


Dan perjalanan pun dimulai.Danian fokus dengan menyetirnya,Roy sibuk dengan headphonenya yang didengarnya,dan Hanz masih tetap sama ,fokus dengan laptopnya.


Vivian yang terasa asing mulai memasang headsetnya,mendengarkan lagu favoritnya.Pemandangan disekitar nampak indah,baru kali ini Vivian melakukan perjalanan dinasnya keluarkota.


Sekali-kali ia melirik pantulan wajah Hanz dari kaca mobil.Jantungnya berdebar tidak karuan menatap pria yang ada disampingnya.Tanpa sadar jari jemarinya menyentuh kaca mobil,menyentuh bayangan pria tersebut.Tapi sentuhannya terhenti takala Hanz menatap kearahnya,Vivian menjadi salah tingkah alhasil ia mengambil jurus seribu bayangan yaitu pura-pura tidur,untuk menutupi rasa malunya.


Hanz yang tidak sengaja melihat kekonyolan Vivian hanya mengeleng-gelengkan kepala dan tersenyum.Gadis bodoh yang ada disampingnya mampu membuatnya tersenyum sendiri.Entah kenapa setiap Vivian mengacau dalam hidupnya,membuatnya merasa wanita ini telah memikatnya,hanya saja ia masih menyangkal akan itu semua.


Tak..


Suara ketikan terakhir dari jemari Hanz.Entah berapa jam ia terlalu fokus dengan pekerjaannya.Sampai ia tidak menyadari orang yang ada disampingnya telah tertidur pulas.Wanita itu tanpa sengaja bersandar dibahu Hanz,yang membuat Hanz sedikit tidak nyaman namun tetap membiarkan wanita itu tertidur terlelap.


"Apa masih jauh???" Hanz menanyakan itu pada Danian yang fokus pada kemudinya.


"Kira-kira 2 jam lagi kita sampai bos." Jawab Danian sembari melirik tuannya/sahabatnya itu dari balik kaca spion.


Danian tersenyum melihat Hanz yang terus mengamati wajah Vivian yang tertidur.Namun,karena ketidak fokusnya itu hampir saja mobil mereka menabrak lubang.


Hanz mengerutkan kening menatap Danian dengan jengkel,karena kecerobohannya tubuh Vivian terjerebab dalam pangkuannya.Dan Vivian masih tertidur dengan pulasnya tanpa bergeming sama sekali.


"Dasar kukang,tukang tidur." Celutuk Hanz.


Danian yang mendengar hanya tertawa kecil sembari memberi kode "minta maaf".


Sedangkan Roy yang tertidur tadi tiba-tiba terbangun mendengar celutuk kakaknya.Ketika ia hendak menoleh kebelakang Danian menghalangi dan meminta Roy untuk tidur lagi.Dan dalam hitungan detik ,Roy pun tertidur kembali.


Usaha Hanz begitu sia-sia saat mencoba mengangkat kepala Vivian dari atas pahanya.Namun tetap saja tidak berhasil karena tiba-tiba tangan Vivian begitu erat memegang kakinya.Sehingga membuatnya tidak dapat berkutik alias pasrah.


Hanz dengan lembut merapikan rambut Vivian yang sedikit berantakan serta menutupi wajahnya.Tanpa disadari Hanz mengagumi wajah cantik Vivian ketika tertidur.


"Gleekk" Hanz menelan ludahnya sendiri.Naluri kelakiannya membuatnya harus bertahan akan godaan.


"Benar-benar merepotkan." Celutuk Hanz,frustasi.Berusaha mengabaikan wanita yang dipangkunya.


Namun Vivian yang dengan nyamannya tidur dalam pangkuan Hanz dan yang masih berada dibawah alam sadar,tanpa sadar dirinya memutar posisi tidur.Wajahnya dihadapkan ketubuh Hanz lalu tangannya mulai merangkul pinggang Hanz.Begitu nyaman layaknya memeluk sebuah guling kesayangan.


Degg..


Mendapat kejutan seperti itu,Hanz semakin menggila.Semua pikirannya menjadi kacau.Rasa pertahanannya hampir goyah.


Dengan wajah merona ia menutup wajahnya dengan tangan kanannya,bersandar diantara penyangga pintu mobil.Selama 2 jam ia harus bertahan dengan posisi seperti itu.


"Awas saja sampai kamu bangun nanti.Aku akan membuat perhitungan padamu.Dasar ikan kecil yang menyusahkan." Celutuk Hanz.Ekspresinya hampir tidak bisa digambarkan antara kesal,malu ataupun senang sebab semuanya berbaur menjadi satu.


Danian yang menyaksikan peristiwa langka itu hanya tertawa menahan kelucuan dari ekspresi wajah Hanz.Karena tidak ada wanita yang seberuntung itu,tidur lelap dalam pangkuannya.