
Terik matahari mulai menyinari,Hanz terbangun dari tidurnya.Tubuhnya terasa berat dan ia baru menyadari ada sesosok wanita mengapit tubuhnya.
"Aku sudah gila." Hanz terkejut.
Namun menyadari bahwa semuanya ini adalah karena ulahnya sendiri.Hanz menghela nafas yang tidak berat.
"Bisa-bisanya aku dengan dia--" Pikirnya.
Hanz mengamati gadis yang ada disampingnya.Tanpa sengaja ia menyentuh wajah Vivian yang tertidur itu,lembut dan hangat itulah yang ia rasakan.Ia tidak ingin membangunkannya.
Deg..
Mendadak jantung Hanz berdebar kencang.
"Apa yang terjadi???"
Hanz memegang dadanya.Perasaannya menjadi tidak menentu.Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya namun ia sendiri tidak mengerti.
Apalagi untuk pertama kalinya ia telah tidur bersama dengan seorang wanita.Hanz menyesali perbuatannya dan hampir membuat dirinya menjadi sangat frustasi.
Sebab Hanz tidak pernah membiarkan wanita mendekatinya.Akan tetapi kali ini berbeda semenjak kemunculan Vivian,hidupnya berubah.Vivianlah yang mengacaukannya walaupun itu tidak disengaja .Wanita ini terlihat berbeda dimata Hanz.
"Dia terlihat manis ketika tertidur."
"Dasar wanita yang sungguh tidak terduga." Decak Hanz.
Dengan perlahan ia berusaha melepaskan dirinya,ia tidak ingin wanita yang bersamanya ini terbangun dan itu membuatnya menjadi merasakan sebuah perasaan yang canggung.
Setelah lolos,Hanz pergi kekamar mandi.Dengan sedikit langkah hati-hati,ia meninggalkan wanita yang tertidur lelap itu.
Malam yang ia lalui begitu berat,namun ada kelegaan yang terjadi.Obat-obatan yang selalu digunakan untuknya,teralihkan hanya dengan kehadiran gadis yang kini terbaring ditempat tidurnya.
"Bagaimana bisa???Apa yang terjadi padaku????Apakah ini buruk???ataukah baik???"
Hanz sedang menatapi dirinya yang sedang bergumul.Peristiwa tadi malam membuatnya sedikit kacau,"Bagaimana bisa aku merasa tenang bersamanya??"
Chhuuurrrrr....chhrrrssss...
Suara air berjatuhan terdengar menggema didalam ruangan sempit itu.Hanz mengguyurkan tubuhnya dengan sempurna.
Air membasahi tubuhnya,dalam diamnya ia mulai memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.Akan tetapi terpaan-terpaan riak-riak air mengalir dan menenangkan tubuhnya yang sedikit memanas.
"Hhh.." Desahnya.
Hanz seakan menggeluhkan sesuatu yang menurutnya tidak berat.Dipandangi dirinya dalam bingkai kaca,wajah yang basah itu masih terlihat sama.Namun memiliki perasaan berbeda.
blue eyeball,Hanz menyadari tatapan mata itu mengartikan sesuatu.Debaran jantungnya yang masih beradu,mengisyaratkan bahwa wanita yang ada didalam kamarnya itu menjadikannya seperti ini.
Ia merasakan sedikit perubahan drastis.
"Bagaimana mungkin kehadirannya,sangat mempengaruhiku?" Gumamnya tidak percaya.
Dengan segera Hanz menepis semua pemikirannya itu.Lalu menyelesaikan pemandiannya.
Tubuhnya harum dan bersih itu terlihat menyegarkan,ia sangat-sangat menikmatinya.Tubuh yang hampir sempurna itu mampu membuat wanita lain terhipnotis dan ingin memilikinya.Itulah Hanz dengan kesempurnaan tubuhnya yang tiada tercela.Ia mensyukuri anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya melalui usaha kedua orangtuanya yang melahirkan dan membesarkannya.
Hanz dengan handuk yang masih menempel diatas kepala,ia keluar dari pemandian.Dan mendapati kamarnya sudah kosong,"Ternyata dia sudah pergi.Baguslah!" Celutuk Hanz lega.
Tok...tok...tok.
Terdengar pintu diketuk dari luar.
"Siapakah itu?" Pikir Hanz.
"Apakah wanita itu kembali?" Hanz sedikit khawatir,namun segera menepis perasaan tersebut.
"Masuk!" Perintah Hanz.
Pintu terbuka.
Dan terlihatlah Danian yang datang.Hanz kembali merasakan kelegaan.
Danian yang telah membuka pintu lalu menutupnya kembali.Dengan segera ia menghampiri Hanz yang baru saja selesai mandi.Ada sedikit kecemasan diwajahnya.
"Bagaimana kondisi mu,bos??Tadi malam aku sangat khawatir.Bagaimana bisa kamu melupakan obatmu?!" Ucap Danian bertubi-tubi.Namun perasaannya mulai lega ketika melihat yang dikhawatirkan secara langsung tuannya itu masih dalam kondisi baik-baik saja.
Hanz yang ditanyai pertanyaan beruntun mulai mengingat sesuatu.Dan menyadari jika tadi malam ia sempat menelpon Danian.
"Kenapa kamu tidak datang?Jika kamu sangat mengkhawatirkan aku,bosmu ini?!" Ucapnya ketus.
Hanz mengambil sebotol air mineral didalam kulkas,sembari menanti jawaban dari skretarisnya itu.
"Tadi malam aku sudah kemari,hanya saja aku kalah cepat dengan seseorang." Belanya.
Hanz terbatuk mendengar Danian menyinggung seseorang dan tentu ia tahu siapa yang dimaksud.
"Bukankah tadi malam bos sedang bersama nona Vivian?" Tebaknya.
Hanz yang tidak mampu membantah tebakkan Danian hanya berdalih.
"Agh,itu--Aku juga tidak tahu kenapa.Tiba-tiba saja ia datang dan masuk kekamarku." Ucap Hanz santai.
Namun Danian berpikir lain dan membuat Hanz jengkel.
Dengan tatapan dingin Hanz mengamati Danian yang tersenyum itu.
"Apa kau mau mati!!!!!" Ancamnya kesal karena ia diledek oleh sahabatnya itu.
Danian tidak bisa menahannya lagi,ia tertawa melihat reaksi temannya ini.
"Tapi,bos--aku bersyukur engkau baik-baik saja.Ternyata nona Vivian sangat berguna juga."
Hanz sejenak terdiam,lalu dengan angkuhnya mengiyakan apa yang diucapkan oleh Danian.
"Kamu benar.Entah kenapa saat ia ada,rasa sakit ku sedikit berkurang."
Danian terdiam.Ia mulai memikirkan ada beberapa kemungkinan,hanya saja ia tidak dapat mengatakan.
"Apa perlu saya hubungi Dr.Eliza?!"
"Tidak perlu,dan mungkin itu hanya kebetulan saja." Tolak Hanz.
"Baiklah." Danian yang tidak ingin mempermasalahkan lagi hanya menurut.Akan tetapi dalam hati kecilnya,ia akan melaporkan perubahan Hanz kepada Dr.Eliza itu nanti.
"Oh ia,bos.Untuk jadwal hari ini,kita akan mengadakan pemotretan diperbukitan yang tidak jauh dari tempat kita menginap". Ucap Danian dengan topik yang berbeda.
"Ok"
*******
Vivian mengeliat meresapi segarnya udara pagi,matanya menikmati pemandangan yang ada.Panorama alam dipagi hari memang begitu memukau.
Samar-samar ia mengingat akan sesuatu dan ia menyadari,ini bukan dikamarnya.
"Haah,kenapa aku tertidur disini?Benar-benar Vivian bodoh,bisa-bisanya dirimu berulang kali tidur sembarangan dengan pria yang bukan siapa-siapanya dirimu." Gumannya dalam hati,menasehati dirinya sendiri.
"Aku harus keluar dari kamar ini,sebelum orang lain datang atau pria itu akan memergoki ku kembali.Muka ku akan taruh dimana." Batinnya merasa gusar.
Dengan segera Vivian beranjak dari tempat tidur meninggalkan kamar yang seharusnya tidak ia tempati.Ia tidak ingin kelakuannya ini terlihat memalukan dan dicap sebagai gadis liar.Dengan langkah hati-hati Vivian berusaha keluar dari kamar.Dan akhirnya ia bisa meloloskan diri.Vivian merasakan kebebasan itu.
"Darimana saja kamu,Vi??" Tanya Lilly yang sibuk dengan alat makeupnya.Setibanya Vivian ketika sudah balik kekamar yang seharusnya.
"Saat aku bangun,tidak mendapati kamu berada ditempat tidur.Aku khawatir saja,takut kamu kenapa-napa." Oceh Lilly.
"Mmmmm--,Aku baru saja jalan-jalan keluar.karena pemandangan pagi hari disini sangat bagus." Bohongnya."Hehehe,,,".
"Aku mandi dulu ya,Ly".
Dengan segera Vivian menyambar handuknya,sedangkan Lilly hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Vivian yang mencurigakan.
"Buruan ya soalnya hari ini kita disuruh ngumpul."
"Ok" Sahut Vivian dari kamar mandi.
*Diperbukitan*
Vivian sibuk merapikan pakaian yang digunakan Roy.
"Apakah kamu kurang tidur???Ataukah sedang sakit?" Tanya Roy tiba-tiba.
Vivian menyengir ,"Kau tau aku kurang tidur semalam,karena banyak makhluk pengisap." Balasnya kesal.
Roy tertawa,"Sudah ku bilangkan." Candanya.
Vivian hanya tertawa kecil,didalam hatinya :"Bukan hanya makhluk pengisap tapi monsternya langsung."
"Baju ini terlihat bagus kamu pakai.Kamu terlihat keren,Roy." Puji Vivian dengan mahakaryanya.
"Benarkah..." Ucapnya seolah tidak percaya.
"Lalu,bagaimana dengan kakakku?"
Pertanyaan Roy yang menjebak,membuat Vivian menghentikan pekerjaannya.Lalu menatap Roy dengan penuh selidik.Vivian bingung dengan ucapan Roy yang tiba-tiba itu.
"Apakah terlihat bagus jika kakakku yang memakainya?" Bisik Roy.
Tiba-tiba wajah Vivian menyemu memerah.Dalam sejenak pikirannya mulai melayang.Jika Hanz yang memakainya sulit untuk dibayangkan.
Wajah Hanz muncul dibenaknya begitu saja.Tiba-tiba debaran jantungnya berpacu dengan cepat.Vivian yang terjerumus dalam dunia hayalnya dapat membayangkan itu semua dengan sempurna.
"Jika Hanz yang memakainya pastilah terlihat begitu seksi." Pikirnya.Lalu tanpa disadari mengeleng-gelengkan kepalanya,menghentikan pikiran nakalnya.Ia tidak ingin Roy mempermainkannya.
Roy yang memperhatikan sikap Vivian hanya terkekeh.Ia menyukai wanita yang ada dihadapannya itu,dan ingin terus mempermainkannya.
"Tadi malam aku melihatmu keluar dari kamar kakak." Tambahnya dengan nada suara yang sedikit dikeraskan.
"Bagaimana kamu....?!" Tunjuk Vivian terkejut.
"Yyaaaaa,Tutup mulut mu!!!" Teriak Vivian sembari memukul Roy untuk tutup mulut.
Roy yang mendapati pukulan brutal Vivian,mengaku kalah.Ia tidak mampu menahan kelucuan Vivian yang begitu terus terang.
"Ha-ha-ha,ampun.." Pinta Roy berusaha mencegah pukulan dari Vivian.Walaupun pukulan itu sesungguhnya tidak benar-benar menyakitinya.
Tingkah mereka yang begitu heboh menjadikan objek pusat perhatian, tidak terkecuali dengan Hanz.Pria itu terus mengawasinya dari jauh dengan lekat.
Vivian yang menyadari dirinya membuat kehebohan pun terhenti.Melanjutkan kembali pekerjaannya dan mengabaikan Roy yang selalu mengodanya.
"Aku akan selalu mendukung mu jika kau benar-benar menyukai kakakku." Seriusnya,
"Hahaha,itu tidak mungkin." Bantah Vivian berbohong.
Vivian yang diberi dukungan itu tidak ingin terbuai dengan ucapan manis Roy.Ia tidak ingin terlalu berharap,karena dalam pikirannya tidak mungkin Hanz menyukainya juga.
"Mungkin saja,karena bagiku lady cocok sekali dengan kakak." Lagi-lagi Roy memberi Vivian harapan.
"Haahh,jangan melebih-lebihkan." Tepis Vivian.
"Aku tidak melebih-lebihkan..." Sanggahnya lalu terdiam sejenak.
"Bagaimana denganku saja??!" Pinta Roy.
"Hahaha...berhentilah bercanda.Sekarang style mu sudah siap dan berhenti bicara omong kosongnya."
"Sulit dipercaya,lady selalu membantah.Benar-benar cocok dengan kakak." Acungnya,menjulurkan kedua ibu jempol jari miliknya👍👍.Merekapun tertawa bersama.
Roy pun memulai pemotretan.
Sedangkan Vivian hanya menyaksikan dari kejauhan.Roy dengan gaya profesionalnya tampak bersinar.Namun bagi Vivian yang paling bersinar adalah Hanz Alexandro.
Dari kejauhan Vivian memandangi Hanz dengan lekat,Hanz yang sedang berbincang-bincang tampak mempesona bagi Vivian.
Namun saat Hanz menatap balik kearahnya,Vivian dengan sengaja memalingkan wajah.Ia tidak ingin pandangan mereka bertemu karena perasaan malu yang begitu besar.Apalagi dirinya masih memikirkan kejadian pagi buta tadi.
Sebaliknya,
Hanz terus mengamati wanita yang bersama dengan adiknya itu.Perasaannya membuat dia sedikit kesal entah kenapa.Apalagi Vivian mengabaikannya begitu saja.
"Bagaimana bisa ia tersenyum dengan pria lain.Setelah diam-diam meninggalkan kamarku tadi pagi." Gerutunya dalam hati.Matanya memancarkan sebuah emosi.
Danian yang berada disamping Hanz jadi bergidik merinding menatap tuan/sahabatnya itu dengan tatapan mematikan miliknya.Walaupun orang lain tidak dapat melihat tatapan itu.Akantetapi Danian yang berada disampingnya bisa merasakan aura yang mencekam.
"Semoga wanita itu tidak ditelannya hidup-hidup." Batin Danian berharap cemas.