Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
7.A threat




(Gambar hanya ilustrasi saja ya😊,salah satu contoh ekspresi sikap Hanz jika sedang menanti seseorang🤭.Maaf ya,oppa RAIN✌)


*****


Dengan gelisahnya Hanz menanti Vivian diruang kerjanya,memikirkan apa yang harus ia perbuat.Jam ditangannya menunjukkan bahwa gadis ini terlambat.


"Bisa-bisanya dia mengabaikan perintahku?!"Gumam Hanz.


"Benar-benar wanita yang tidak dapat dipercaya.Sombong sekali dirinya,membuatku hingga harus menunggu."Kesal Hanz.


"Awas saja,jika kamu benar-benar muncul dihadapanku!Aku akan buat perhitungan.Kenapa juga aku harus berurusan dengannya.Benar-benar merepotkan."


Tok..tok..tok.


Dengan mata berbinar-binar Hanz tersenyum penuh licik,


"Akhirnya kamu datang",pikir Hanz.


"Masuk",perintahnya.


Namun,sosok yang diharapkan tidaklah muncul melainkan Danian,sekertarisnya sendiri.Dengan perasaan kecewa iapun bertanya,"Ada apa?"


"Bos,ada yang ingin bertemu",ucapnya.


Danian menatap bosnya dan menerka kalau tuannya ini tidak mengharapkan kehadirannya tapi ada sosok lain yang ia nanti.


"Siapa?",tanyanya dingin dan nada suaranya sedikit kesal.


"Roy Smith".


Hanz terdiam sejenak,kemudian meminta Danian memanggilnya.


Namun tanpa perintah Hanz,seseorang menerobos masuk begitu saja.Wajahnya terlihat berseri dan bersemangat.Tidak ada perasaan takut ataupun penyesalan atas tingkahnya yang semena-mena.


Daniapun berlalu meninggalkan kedua saudara itu untuk bersua melepaskan rindu.



(Gambar hanya ilustrasi saja ya😊😁,anggap saja adik Hanz mudanya seperti ini🤭🥰wajah polos tetapi suka usil)


"Hallo,ka."Senyumnya.


"Aku sangat merindukanmu".


Pria tampan itu berdiri dihadapan Hanz,wajah yang manis itu dengan usilnya mengoda kakaknya.


Hanz yang sedang berdiri dibalik mejanya hanya menatap Roy dengan datar.


"Ckckck.Kenapa kakak diam saja?Dan sepertinya tidak mengharapkan kedatanganku."Keluh Roy sedih.


"Apakah kakak tau betapa sulitnya perjuanganku agar dapat bertemu dan berjumpa dengan kakakku yang tampan ini?"Goda Roy.


"Adikmu yang populer ini,akhirnya bisa berdiri dihadapan kakak."


"Apakah kakak tidak merindukanku??"


Roy dengan santainya menghampiri kakaknya itu lalu menyerang Hanz dengan sebuah pelukkan.


Namun tanpa diduga Hanz menepis pelukkan adiknya itu dan menarik telinga Roy dengan sedikit keras.Ia membalas kejahilan adiknya dengan sedikit hukuman.


"Aa-aa-aa,sakit"rintih Roy.


Hanz melepaskan kekesalannya pada adik satu-satunya ini, membuat Roy nyengir kesakitan.


"Kak,aku baru datang.Kenapa kejam sekali?!"protes Roy.


Hanz dengan tegasnya memarahi adiknya itu.


"Kejam kamu pikir...!!!Seharusnya itu belum seberapa.Ah,bagaimana kalau aku beritahu nenek tentang dirimu selama ini....?!!"ancam Hanz.


"No,brother.please.."potong Roy.


Roy merasa bersalah karena ia meninggalkan neneknya itu sendirian tanpa pamit dan kabar sama sekali.


"Ia,maaf.Aku yang salah"rengeknya.


"Aku mohon dengan kakak jangan mengadu ke nenek jika aku lama tinggal di Paris."


"Jika nenek tahu,habis lah aku...Apakah kakak tega dengan adik sendiri??"


Dengan ekspresi kekanak-kanakkannya Roy Smith yang supermodel tidak dapat berkutik saat berhadapan dengan kakaknya sendiri.


Hanz tersenyum ketus,melepaskan adiknya yang telah lama menghilang dinegeri seberang.


"Tanpa aku beritahu,nenek juga sudah tahu."Timpal Hanz.


"Siapkan saja dirimu,jika kelak bertemu dengan nenek.."


"Oohh.."


Roy pun merebahkan pantatnya dengan malas.Sebuah majalah yang tergeletak di meja pun menjadi bualan permainan tangan mulusnya.


"Ka,apakah ini wujud dari penolakkan dirimu terhadap diriku??"sedih Roy.


"Kakak menggabaikan aku adikmu yang tertampan ini untuk menjadi model diperusahaan kakak untuk beberapa kali.Apakah aku tidak bisa memuaskan kakak??"


Hanz hanya memicingkan matanya sejenak lalu kembali menggabaikan adiknya itu.


"Tapi,akhirnya ... aku senang sekarang kakak mau merekrut adik mu yang berbakat ini"Ucap Roy membanggakan diri sendiri.


Hanz hanya menggeleng-gelengkan kepalanya,memikirkan sikap dan tingkah laku adik kesayangannya ini yang tidak berubah.


"Sungguh aneh,jika bakat mu selama ini tidak berkembang selama dinegeri orang"ledek Hanz.


Roy pun terdiam hanya menjejerkan sebaris giginya yang putih.


"Kak,apakah kakak masih bertahan disini??"tanya Roy tiba-tiba.


"Kakak sudah terlalu lama jauh dari rumah.Dan tidak adil kalau kakak memarahiku beberapa tahun ini tidak pernah pulang.Lalu bagaimana dengan kakak sendiri?".


Sejenak Roy menyesali perkataan dan pertanyaan sendiri.Dan menutup rapat mulutnya yang tidak dapat terkontrol.


Roy memperhatikan kakaknya dengan sedih.Kini ia membuat kakaknya terluka kembali.


Hanz terdiam seribu bahasa,raut wajahnya mulai menampakan kesedihan dan trauma.


Roy tahu kalau kakaknya masih tidak dapat pulang.Bukan karena jarak atau tempat yang sulit dilalui namun dikarenakan Hanz memiliki luka trauma yang sulit untuk dapat diobati.Semenjak peristiwa itu Hanz diungsikan keluar kota jauh dari tempatnya dulu.


Walaupun Hanz dan Roy hidup terpisah akan tetapi hubungan kekeluargaan masih terjalin.Itu dibuktikan nenek dan Roy selalu mengunjungi kakaknya itu.


Suasana menjadi hening.


Roy menyadari ia telah membuat kakaknya teringat akan kejadian buruk dimasa lalu.Walaupun Roy tidak tau pasti kejadian apa yang menimpa saudara kandungnya berserta orangtuanya dulu.


Karena pada peristiwa tersebut ia tidak berada ditempat kejadian,ia dan nenek sedang berada diluar kota.Yang dia ingat hanyalah melihat sosok kakaknya yang memucat di ruang kamar rumah sakit,serta orangtuanya telah tiada.


Kabar yang mengejutkan membuat nenek menangis histeris dipelukan Hanz yang terdiam seribu bahasa.Dan wajah itu terlihat persis sama pada saat ini,kosong.


Tok...tok..tok.


Pintu terbuka,


Hanz menatap orang yang baru datang itu dan seketika wajah sedihnya berubah menjadi wajah yang kesal kembali.


Perubahan drastis itu membuat Roy mengerutkan keningnya.Hanz yang dingin itu mendadak tampak terlihat hangat.Sikap yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.Dan tidak pernah ia dapatkan juga.Kini terlihat hidup didalam jiwa Hanz yang membeku.


Dilain sisi,


Seseorang dengan wajah berantakan dan keringat membasahi seluruh tubuh serta napas ngos-ngosan itu,berdiri didepan pintu.


Nada suaranya sedikit bergetir,antara lelah dan takut.Dengan sedikit keberanian ia memandang wajah Hanz yang tampan itu.Dan disana ada sedikit kelegaan sebab ia tidak sendirian.


"Maafkan aku,CEO."Suara Vivian terdengar berat.


"Tadi diperjalanan saya ada sedikit masalah"adunya.


Hanz tidak peduli dengan alasan itu,yang dia yakini adalah wanita ini selalu mengusiknya,serta membuatnya menjadi hilang kesabaran.


Hanz dengan dinginnya menghampiri Vivian,"Sudah ku bilang jangan sampai membuatku menunggu!"Ucapnya ketus.


Vivian terdiam,tubuhnya yang lemah karena berlarian sepanjang jalan membuatnya tidak berkomentar banyak.Kesialannya pada hari ini semakin menjadi dengan mode"begitu malang",kini ia harus menghadapi siiblis ini.Karena dalam perjalanan tadi,ia harus berlarian sepanjang jalan karena tas dan dompetnya dirampas orang lain.Apalagi karena bangun kesiangan ia belum sempat sarapan pagi,membuatnya seperti mau mati, dan kali ini dirinya lah yang menjadi sarapan sang iblis.


Roy yang menyaksikan perubahan sikap kakaknya,hanya terdiam.


"Siapakah wanita ini?"pikir Roy.


"Hanya karena wanita ini,kakak mengabaikan ku"Gumamnya dalam hati.


Dan keberadaannya pun disitu seperti tidak dianggap.Dalam kebingungan Roy hanya duduk diam duduk disofa.Ia hanya menjadi penonton dalam peristiwa langka ini,bahkan ia menyukai ekspresi kakaknya seperti itu.


Dalam kesunyian,tiba-tiba pintu diketok dan seorang pelayan kantor datang.Dengan sigapnya ia datang membawakan sebuah nampan berisikan minuman.


"Permisi tuan,ini minumannya."


"Letakkan disitu saja."Perintah Hanz.


"Baik,tuan."Dengan cekatan sang pelayan meletakkan minuman dan menyuguhkan minuman itu untuk tamu tuannya.


Lalu dengan segera iapun meninggalkan ruangan.Roy yang berhadapan langsung dengan sang pelayan hanya menggangguk.Sang pelayan pun hilang dibalik pintu.


Kedatangan sang pelayan tadi,mengalihkan sedikit pandangannya dari bos besar perusahaan LuX tersebut.Vivian yang memperhatikan nampan yang berisi gelas minuman itu mendadak terkejut, melihat salah satu gelas minuman yang berwarna merah darah pekat ada disana.


"Apakah itu darah",pikirnya.


Lalu ia memandangi wajah pria yang ada dihadapannya.


Pikirannya sedikit kacau membuatnya berasumsi jika hari ini akan tamatlah riwayatnya.Jiwa hayalannya kini mulai menghiasi seluruh otaknya.Beranggapan bahwa dirinya akan berakhir dihadapan pria ini.


"Kau tau apa konsekuensi jika melanggar????"Tutur Hanz penuh tekanan.


"Aku sudah memperingatkan mu."Ancam Hanz.


"Jangan membuat ku menunggu."


"Tapi ternyata kamu telah membuat ku menunggu.Konyol sekali.."Ketus Hanz."Apa yang harus sebaiknya kulakukan padamu yang sudah membuatku benar-benar kehilangan kendali!"


Vivian yang mendengar mulai mencerna maksudnya Hanz,hanya terdiam mematung.Rasa paniknya membuat jiwanya mulai melayang dan ia pun merasakan sebuah ketakutan menjalar diseluruh tubuhnya.


Belum sempat mengucapkan kata-kata.Tiba-tiba vivian merasakan pandangannya sedikit kabur,wajah dan tubuh mendadak terasa berkeringat dingin.Pikiran dan tubuhpun mulai tidak sinkron,Vivian merasa tubuhnya mulai mati rasa. Entah sadar tidak sadar ia menyadari tubuhnya mulai sempoyongan dan terjerembab kedalam dekapan Hanz,lalu tiba-tiba berakhir menjadi gelap.


Hanz dengan refleknya merangkul tubuh Vivian yang lemah itu.Hanz terkejut.Wanita yang ada dihadapannya ini,jatuh kedalam pelukannya serta tidak sadarkan diri.Dan seketika wajah Hanz berubah khawatir.


Disaat yang bersamaan Roy yang ada disitu juga ikut terkejut.


"Hei nona.nona Vivian.."Teriak Hanz,namun yang dipanggil masih tidak merespon.Dengan segera Hanz menggendong Vivian berlarian keluar ruangan menuju ruang medis perusahaan.Ia mengabaikan adiknya yang ada disitu.


Hanz berlarian sepanjang koridor,sembari memandangi wajah wanita tersebut.Entah kenapa ia nampak bodoh dengan wanita yang ada dipelukannya ini.Baru saja ia ingin menghukum wanita ini akan tetapi sudah membuatnya menjadi lebih khawatir kembali.


Hal tersebut juga membuat setiap mata yang ada diperusahaan juga ikut terkejut.Mendapati CEO mereka dengan sukarela menggendong seorang wanita penuh khawatir sedang berlari.


Sebuah peristiwa yang mampu menghebohkan seisi perusahaan.


Dan hal itu juga yang dipikirkan Danian saat berpapasan dengan tuannya.


"Danian cepat panggilkan dokter!"perintahnya.


Danian yang terkejut dengan sigapnya menuruti tuannya itu.Lalu membimbing tuannya masuk keruang perawatan medis khusus diperusahaan mereka.Dan memanggil dokter yang bertugas disitu.


Hanz dengan cekatan juga membaringkan tubuh Vivian ketempat tidur perawatan.Wajahnya yang pucat membuat Hanz tampak khawatir.


"Apa saja yang dialami wanita bodoh ini?"Gumam Hanz.


Danian yang ada disampingnya,tertegun melihat reaksi tuannya.


Sang dokter pun memeriksa kondisi Vivian,dan tersenyum.


"Dia hanya kelelahan dan sedikit shock serta kurang nutrisi."Paparnya.


"Dia baik-baik saja,hanya saja ia perlu diinfus sekarang dan biarkan dia istirahat dulu".


Mendengar penjelasan dokter,Hanz menjadi lega.