Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
33.Serba Salah



"Hanz...",ucap Vivian tertegun mendapati Hanz tiba-tiba muncul ditempat ia bekerja.Tepatnya didepan lobi perusahaan StyLe.


"Apa yang kamu lakukan disini",tanya Vivian kebingungan akan munculnya makhluk tampan itu.Namun tidak dapat dipungkiri,ia sangat senang Hanz datang diwaktu yang tepat.


"Aku datang untuk menjemput mu",jawabnya singkat.Nada suaranya terdengar sedikit kesal karena mendapati wanitanya sedang asyik berbincang-bincang dengan pria lain.Hanz lalu mengamati pria yang ada disamping Vivian secara seksama.


Menyadari Hanz menatap pria yang menjadi teman bicaranya itu, Vivian pun memperkenalkan pria tersebut dengan sedikit ragu.


"Hanz,kenalkan ini teman aku...Sammuel Frendrick",ucap Vivian gugup,entah kenapa perasaannya seperti ada yang salah walaupun ia tidak melakukan kesalahan.


Mendengar demikian Hanz mencoba berbaur,walaupun ia menyadari kedatangannya sedikit tidak diharapkan.


Dengan sikap yang dingin Hanz mengulurkan tangannya dengan enggan,entah kenapa ia tidak menyukai pria yang ada dihadapannya ini.Dan tentu saja, ia seperti dejavu pernah mengenal pria tersebut.


"Hanz Alexandro...",sapa Hanz mencoba sedikit lebih ramah.


"Tunangan Vivian",ucapnya tanpa sadar,membuat Vivian yang berada didekatnya tersipu malu.


Mendengar demikian,Sam menjadi kesal karena ia menyadari Hanz sengaja membuat suasana seperti itu.Mengakui bahwa Vivian adalah miliknya,Hanz.


Sam yang mengetahui siapa Hanz hanya tersenyum tipis lalu membalas berjabat tangan."Sammuel Frendrick..",balas Sam tidak mau kalah.


"Teman Vivian...".


Keduanya seperti magnet yang saling bertentangan namun terikat.Ada aura yang menghantui keduanya,karena pandangan mereka saling terkait.


Vivian yang berada ditengah keduanya pun tertarik kedalam aura tersebut yang membuat bulu kuduknya merinding.Layaknya drama-drama romansa,dua pria sedang memperebutkan satu wanita yang sama.Namun,seketika pikiran tersebut Vivian tepiskan.Dia tidak ingin terhanyut terlalu jauh dalam hal seperti itu.


"Lama tidak berjumpa,Hanz..kawan lama ku",sapa Sam tiba-tiba,mencoba mencairkan suasana.


Hanz menyipitkan kedua matanya yang tertutup kacamata hitam,mencoba mengingat apa yang dimaksud dengan Sam "Kawan lama".


"Mungkin kamu tidak mengingat aku lagi,karena itu sudah jauh sekali...",tutur Sam meremehkan ingatan Hanz.


"Tapi aku rasa ...kamu tidak melupakan julukan ini...".


Dengan santainya Sam mendekati Hanz yang terdiam lalu membisikkan sesuatu ketelinga Hanz, "Monss...Ter...".


Sam yang menikmati moment ini pun tersenyum puasa ketika ia melihat sekilas sorot mata merah Hanz.


"Baiklah,Hanz...senang berjumpa dengan mu dan dilain kesempatan kita akan berjumpa lagi",ucap Sam menepuk pundak Hanz lalu berlalu pergi meninggalkan nya dan Vivian.


Hanz terperangah,seketika matanya menajam.Ia mengingat betul akan kata-kata itu,tanpa ia sadari tangannya sedang mengepal dengan keras.Kebencian akan kata-kata itu menguak kembali cerita yang kelam.Dan sontak saja,perasaan tidak sukanya tadi adalah karena Sam merupakan sahabat dimasa kecil atau bisa dibilang juga mantan sahabat.


Vivian yang bingung akan situasi yang baru saja terjadi, mencoba mencari tahu dengan menatap Hanz yang terdiam.


"Apa yang dibisikkan Sam pada Hanz ya..???",batin Vivian penasaran.



Dan semakin membuat Vivian khawatir adalah sikap Hanz berubah drastis menjadi lebih menakutkan,"Apakah kamu baik-baik saja???",tanya Vivian ragu-ragu.


Hanz yang menyadari Vivian menanyakan keadaannya hanya menjawab dengan singkat,"Ya,aku baik-baik saja".


Namun,belum sempat Vivian untuk bertanya lagi,Hanz telah menarik tangannya menuju mobil."Ayo kita pulang...",ajaknya dingin.


Vivian tidak mampu mengeluarkan kata-kata karena ia tahu sekarang hati Hanz sedang tidak baik-baik saja.Walaupun cara Hanz sedikit kasar,namun ia memaklumi itu semua.


Dengan tergopoh-gopoh Vivian berusaha mengikuti langkah kaki Hanz yang berjalan begitu agak cepat.Tangannya terasa sakit karena Hanz mencengkramnya begitu kuat.Apalagi kini kakinya sedang berjingkit karena high hells yang ia kenakan terlepas.


Setiba di mobil,Hanz membukakan pintu mobil untuk Vivian.Namun,ia terkejut karena sebelah kaki Vivian tanpa menggunakan alas kaki.


"Astaga,apa yang terjadi pada kakimu???",tanya Hanz bingung dengan pemandangan yang ada.


"Ini semua salah mu",gerutu Vivian kesal.


"Karena jalanmu terlalu cepat,eh malah sepatu ku tertinggal disana..",tunjuk Vivian kesal dengan bibir di manyunkan.


Mendengar penuturan Vivian,Hanz tertawa namun juga iba karena ia membuat wanitanya itu sedikit menderita oleh ulahnya.


Melihat sikap Hanz demikian,Vivian sedikit luluh dan semakin menyukai pria yang ada dihadapannya itu.Dibalik punggungnya yang indah,Vivian mengagumi pribadi Hanz yang bertanggung jawab dan menyesali perbuatannya itu.


"Ini...",sodor Hanz pada salah satu sepatu milik Vivian,dengan perasaan bersalah.



Tanpa ragu Vivian meraih sepatu yang dibawakan Hanz tersebut lalu memasangkannya kembali.Tentu saja kaki itu nampak cantik kembali.


Didalam perjalanan pulang,keadaan mobil kembali sunyi.Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing dan enggan saling mengusik.Hanya deru mobil lah yang terdengar begitu semangat beraksi.


"Maafkan aku",ucap Hanz dengan penuh ketulusan,membuyarkan kesunyiaan.Wajah yang menakutkan tadi kini telah berubah menjadi Hanz yang lembut dan khawatir.


"Hmm,tidak apa-apa",balas Vivian mencoba meyakinkan, karena lagi dan lagi Hanz meminta maaf padanya.


"Apa kakimu tidak apa-apa???",tanya Hanz sekali lagi sembari fokus dengan menyetirnya.


"Ya,kakiku baik-baik saja,hanya saja sedikit kecewa karena dilecehkan begitu saja",ucap Vivian sekenanya.


Sontak saja Hanz menoleh sekilas padanya,seakan tidak percaya wanitanya bertutur kata yang membuat hatinya tergelitik.


"Ppfftt,apaan tuh dilecehkan...",ledek Hanz dengan komentar Vivian yang tiba-tiba sedikit nyeleneh.


"Bagaimana tidak dilecehkan... kaki sudah cantik-cantik disuruh nyeker",gerutu Vivian.


"Hahaha...".


Dengan lepas Hanz mengeluarkan tawanya,karena keluhan Vivian yang lucu.


Hanz merasa kelucuan Vivian melonggarkan urat sarafnya yang menegang tadi.


Hanz tidak habis pikir dengan sikap blak-blakkan Vivian yang membuat perasaannya terobati.Dalam sekejap mampu membuatnya lupa akan kemarahannya.


Mendengar tawa Hanz,Vivian menjadi sedikit lega karena pria yang disampingnya sekarang ini terlihat ceria.Malu-malu Vivian mencoba mencuri pandang memandangi wajah Hanz yang mempesona itu.


.



"Sering-seringlah tersenyum,karena senyuman mu itu sangat mempesona",tutur Vivian.


Ckiitt..Hanz mendadak menghentikan mobilnya seketika.Membuat Vivian terkejut akan ulahnya.


"Kenapa nge-rem mendadak??Apa marah mu kumat lagi??",gerutu Vivian comel.


"Bodoh...apa kamu tidak lihat kita sudah sampai",balas Hanz memperingatkan.


"Lah,sampai darimana...???",tanyanya sedikit tidak percaya.


"Inikan bukan rumah ku???",ucap Vivian bingung,tidak menyadari perjalanan mereka telah sampai ditempat itu.


Cctaakkk,jentikan halus mengenai kening Vivian.


"Apa kamu lupa kalau aku sudah menculik mu...",goda Hanz penuh kemenangan.


Vivian mengusap-usap keningnya yang terasa sedikit sakit.Dan juga merasa kesal dengan ulah Hanz.


Dan tentu saja Vivian melongo tidak percaya.Namun itu telah terjadi,


"Kkyaaaa,bagaimana kamu begitu kejam membawa ku kemari.Aku belum berpamitan dengan ibu dan lalu...pakaian-pakaian ku masih ada dirumah",protes Vivian.


Hanz yang mendengar omelan tidak terima Vivian hanya tersenyum.Dengan santainya,ia meninggalkan Vivian yang masih didalam mobil menuju masuk kedalam rumah miliknya.


Tentu saja,karena sikap Hanz demikian membuat Vivian mengejar dan memaki-makinya.


"Dasar nyebelin....",teriak Vivian.


Namun sia-sia saja,Hanz mengacuhkannya begitu saja.