
*Perusahaan StyLe*
Vivian merapikan rambutnya yang sedikit berantakan,menebalkan warna lipstik yang memudar.Wajah mulusnya yang tanpa mengumbar makeup itu terlihat manis dan ayu.Dengan santainya Vivian memasukkan kembali alat-alat make up yang telah ia gunakan.
"Dengar-dengar perusahaan kita kedatangan Direktur baru deh." Ucap Laura teman sekantor Vivian yang sedang sibuk merias wajahnya.
"Siapa???Pria atau wanita???tua atau muda????" Tanya Vivian bertubi-tubi.Manik-manik wajahnya menatap lekat Laura dengan penasaran.
"Namanya aku tidak ingat,tapi yang aku dengar sih perempuan muda yang cantik.Trus ada gosip juga dia sedang berkencan dengan seorang CEO tampan dari perusahaan GLAMoR." Cerocos Laura tidak mau kalah.
"CEO" Suara Vivian terdengar lirih.
Mendadak Vivian terdiam sejenak,terbesit dipikirannya seorang pria yang ia rindukan.Pria dingin yang memiliki wajah tampan,warna mata bak malaikat.Pria yang tidak bertanggung jawab akan perasaan dan ciuman pertamanya.
"Katanya hubungan mereka akan segera diumumkan saat pesta perjamuan makan malam sebuah brand terkenal." Lanjut Laura tanpa memperhatikan Vivian yang bengong sendirian.Jadi dengan semangatnya ia bergosip.
Vivian yang terjerumus akan dunia hayalnya sendiri tidak menyimak sama sekali dengan apa yang dibicarakan.Pikirannya menerawang memikirkan CEO Hanz dari perusahaan LuX.Sudah satu minggu lebih ia tidak bertemu sapa dengan pria tersebut.Tentu saja karena perusahaan Vivian dan Hanz berbeda tempat,ditambah lagi kerja sama antar perusahaan telah terselesaikan,jadi tidak ada lagi pertemuan diantara mereka.
Kejadian tempo hari membuatnya selalu bertanya-tanya,kenapa Hanz melakukan padanya.Ciuman pertama yang ia miliki telah dirampas oleh mata indah itu.Tanpa disadari Vivian mengingat kembali,ketika Hanz menyentuh lembut pipinya dan mendaratkan sebuah ciuman hangat dibibirnya.Dan semua itu terasa membekas untuknya sampai saat ini.Namun,sekarang terasa ada yang berbeda ada sesuatu yang hilang.Vivian benci untuk itu.
"Hallo,Vi." Suara keras Laura terdengar kesal karena obrolannya diabaikan oleh wanita yang dihadapannya ini.
"Eehh,ada apa??Maaf sepertinya aku tidak fokus." Balas Vivian merasa bersalah mengabaikan temannya itu.
"Apa yang kamu pikirkan??" Laura merasa bingung dengan tingkah Vivian yang seperti kehilangan jiwa.
"Aah,bukan apa-apa." Balas Vivian dengan mengumbarkan senyum manis miliknya.
"Benarkah."
"Hmm."
"Oh ia." Ucapnya mengejutkan Vivian.
"Dengar-dengar kamu juga diundang kepesta perjamuan makan malam antar perusahaan-perusahaan brand fashion berbagai negara itu kan."
"Ia."
"Aaahh,aku jadi iri,Vi.Bayangkan kamu nanti akan bertemu dengan orang-orang yang paling berpengaruh di dunia Fashion.Itu sangatlah luarbiasa." Laura dengan mata-mata berbinar merasakan kekaguman terhadap Vivian.
"Wahh,kamu benar-benar beruntung ya,Vi." Lanjut Laura merasa sedih dan sedikit iri.
Vivian tersenyum melihat temannya itu,"Jangan bersedih,semua orang beruntung ko hanya saja keberuntungan kita berbeda-beda porsirnya.Siapa tau kelak kamu juga bisa seperti aku".
"Hahaha,ia-ia." Ucap Laura malu.
"Mari kita balik keruangan.Takutnya nanti dimarahi bu Kill kalau kita bergosip dikamar mandi wanita." Ajak Vivian.
"Agh,kau benar,Vi." Laura bergidik merinding.
Vivian dan Laura pun kembali keruang kerja.
Tanpa mereka sadari kedua bola mata indah telah mengawasi kepergian mereka.
"Vivian Angelica.Akhirnya takdir mempertemukan kita kembali." Ucapnya sembari menyunggingkan senyuman.
Wajah cantik dan rambut sebahu dengan tubuh langsing,tinggi semampai itu muncul dari persembunyian.Ia baru saja mendengar pembicaraan kedua wanita tadi.Namun wanita itu tidak ingin mengusiknya.
Dengan santainya ia merapikan pakaiannya.Semua tampak sempurna.Setelah itu dengan anggunnya iapun melangkah keluar mengikuti Vivian dan Laura dari kejauhan.
Suasana sedikit gaduh,semua staf sibuk merapikan apa yang bisa dirapikan.Kesan pertama yang baik harus mereka tunjukkan.
Kesiapan dan kesigapan para staff di perusahaan StyLe harus ditunjukkan jika ingin dipandang sebagai seseorang yang kompoten.
Vivian dan Lauran yang baru tiba di meja mereka,dihebohkan oleh para karyawan yang lain.
"Direktur baru kita sudah datang." Bisik Karina,wajahnya sedikit tegang.
"Kamu pasti mengenalnya,Vi."Tambahnya lagi.
"Siapa???" Vivian penasaran.
Namun,rasa penasaran Vivian terhentikan takala orang yang dibicarakan muncul.
"Clarissa." Gumam Vivian termanggu.
Seketika hujan badai pun muncul dihati Vivian.Clarissa Tylor adalah teman sekampusnya dulu,dan dia juga sahabat dekat Vivian.Namun,karena menyukai pria yang sama,persahabatan merekapun menjadi renggang.
Dan kini mantan sahabatnya itu telah berdiri dihadapannya,dengan posisi jabatan tinggi.Vivian merasakan dunianya akan kembali hancur.
"Hallo,saya direktur baru kalian mulai saat ini.Nama saya Clarissa Tylor.Mohon kerjasamanya." Sapanya terdengar ramah.
Clarissa pun memandangi Vivian yang berdiri diantara karyawan yang lainnya.Dengan senyuman manisnya itu ia menyorotkan matanya penuh makna,rasa cemburu akan mantan sahabatnya dulu.
Vivian yang ditatapinya itu hanya membalas dengan perasaan was-was.Ia tahu,sesuatu akan berjalan tidak baik untuk kedepannya,karena tatapan Clarissa dapat Vivian tebak,wanita tersebut masih membencinya.
"Apa kabar mu, Vivian??" Sapa Clarissa kepada Vivian,saat mereka hanya tinggal berdua diruang ganti khusus VVIP.
Suasana dinginpun menyelimuti diantara mereka berdua,walaupun suhu diruangan masih diukuran normal.
"Kabarku,baik-baik saja." Balas Vivian dingin.
Ada ketegangan diantara mereka berdua,sejenak sunyi itu lah yang terjadi.
"Sudah lama ya..apakah sekarang kamu masih sendiri??" Tanya Clarissa sedikit menyindir Vivian.
"Aku mau dikatakan sendiri ataupun tidak,itu bukan urusan mu kan." Acuh Vivian.
"Jika membahas masalah pribadi,mohon maaf,aku tidak bisa meladeni karena kita bukan teman atau keluarga." Lanjut Vivian menyindir.
"Jadi,aku akan menghargai anda karena kita berada diruang lingkup perusahaan.Dan anda adalah direktur perusahaan ini.Maka dari itu hubungan kita adalah rekan kerja,anda atasan dan saya bawahan anda".
Clarissa terkekeh,melemparkan tawanya.
"Bukan masalah bagi ku jika kamu sendiri atau tidak.Hanya saja aku ragu jika dirimu tidak membuat onar antara hubungan ku dengan Sam." Ucapnya memperingatkan.
"Kamu tahu,jika itu terjadi jangan salahkan aku untuk tidak memperingatkan." Ancamnya.
"Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik dalam perusahaan."
Clarissa dengan anggunnya meninggalkan Vivian yang nampak terpukul.
Kenangan masa silam membuat lukannya kembali menganga.
Clarissa masih mengangapnya sebagai perusak hubungan.
***************
*Perusahaan LuX*
Tik..tak..tik..tak.
Suara detak jam berbunyi,mengisi kekosongan.Ruangan yang begitu tenang memperlihatkan dua pria yang sedang sibuk bekerja.
Danian yang sedang fokus dengan draf jadwal kegiatan Hanz memicingkan matanya.Dengan perasaan ragu ia pun mengeluarkan suara beratnya.
"Bos,undangan pesta perjamuan dihotel xxx,apakah anda akan menghadirinya??" Tanya Danian ditengah-tengah ruang kerja Hanz.
"Hmm." Jawab Hanz dingin.
Danian menutup agenda yang ada dilayar tab nya.Dengan langkah tenang ia menghampiri sahabatnya itu.Menarik sebuah kursi dan duduk menghadap atasannya tersebut.
Hanz tidak bergeming dengan apa yang dilakukan Danian.Tatapannya masih fokus dengan apa yang ia kerjakan.
"Apakah anda berencana untuk mengundang dan mengajak nona Veronica Alqarin sebagai teman pendampingmu dipesta nanti??" Tanyanya ragu.
Hanz memalingkan wajahnya menatap Danian dengan tatapan ciri khasnya,
"Apa kamu ingin berhenti bekerja dariku." Ancam Hanz.
"Jika nona Veronica Alqarin yang menjadi pendampingku,lalu apa gunanya dirimu menjadi sekretarisku??" Tanya nya menggertak.
Danian tidak dapat berkata-kata ketika Hanz mengancamnya.Tawa kecilpun ia lontarkan,
"Apakah bercanda tuan terlalu berlebihan,agh.. Saya tau nona Veronica Alqarin bukanlah tipe anda." Ucapnya.
Hanz pun mengabaikan yang Danian katakan lalu melanjutkan membaca skala penjualan brand kacamata yang baru mereka liris.
"Bagaimana kalau mengajak nona Vivian?" Usul Danian tiba-tiba.
Hanz menghentikan bacaannya,dengan perlahan diletakannya kembali.
Ekspresi Hanz berubah seketika,mendadak pikirannya pun teralihkan ke wanita itu.Sudah seminggu ia tidak bertemu dengan wanita ceroboh tersebut.Entah kenapa ia mulai mendadak memikirkannya kembali.
Hanz yang sudah berniat untuk melupakan wanita tersebut kini telah terungkit kembali keberadaannya.Sejenak Hanz tidak bisa berpikir jernih jika menyangkut nama wanita tersebut.Perasaan dihatinya selalu tercampur aduk tidak menentu.Akan tetapi ia merasa bahagia.
Danian mulai mengamati Hanz penuh seksama.Pria tersebut seakan sedang mempertimbangkan usulannya.
"Bagaimana,Bos?" Pinta Danian.
"Apakah kamu tau siapa-siapa saja yang diundang ke pesta nanti malam terutama dari perusahaan StyLe?" Mendadak Hanz mengalihkan topik pertanyaan.
Danian pun tersenyum karena tuan/sahabatnya ini benar-benar telah terpikat dengan sosok Vivian,sampai-sampai mencari alasan lain untuk menanyakan apakah Vivian diikut sertakan.Walaupun Danian tahu jika ia bertanya tentang perasaannya sendiri,dan Hanz tetap menyangkalnya.
"Aku rasa,direktur mereka yang baru,manager Killer dan-..."
Danian sejenak menghentikan ucapannya.Membuat pria yang ada dihadapannya itu semakin penasaran.
"Nona Vivian." Jawab Danian akhirnya.
"Oh."
"Oh." Danian protes," Apa-apan itu,Hanz?","Dengan nona Vero anda segera menyangkal tapi ini - ,Anda hanya mengatakan OH."
Hanz terdiam.
"Apakah anda tidak khawatir jika orang lain yang akan bersama nona Vivian?"
Hanz menatap Danian penuh makna.
" Itu urusan dia.Dan tidak ada hubungannya dengan ku." Abai Hanz seolah-olah tidak perduli.
"Benarkah.Baiklah jika menurut pemikiran mu seperti itu." Danian merasa kecewa.
"Sebenarnya aku merindukan nona Vivian."
Hanz memicingkan matanya yang tajam dari balik kacamata hitamnya tersebut.Dengan kesal ia menatap Danian, "Jika kamu merindukan dia dan ingin mengajaknya.Kenapa tidak kamu saja datang menemuinya dan mencarinya?!"
Danian terkekeh, "Bukan begitu maksud nya aku,Bos.Aku hanya -.."
Hanz memutar balik kursinya,mengabaikan Danian begitu saja.
"Jika tidak ada pertanyaan penting yang mau dibahas,lebih baik tutup mulut mu dan keluar." Pintanya kecewa.
"Dasar Hanz kekanak-kanakan.Hal seperti itu saja,dia kesal." Batin Danian.
Danian terdiam namun bibirnya tersenyum puas jika Hanz mulai merasakan kegelisahan. "Baiklah,aku akan tutup mulut." Danian menyerah dan tidak ingin mempermasalahkan sebuah hal kecil begitu saja.Baginya,ia merasa puas jika dapat membuat Hanz menemukan hatinya kembali.
"Semua keputusan ada ditangan mu,Bos.Apapun itu aku akan mendukungmu."
"Hm."
Sebuah senyuman tipis tersungging disudut bibir Hanz.Dengan segera ia memutar kembali kursinya keposisi semula.Perasaan tenang mulai menghinggapi hatinya.Namun pikirannya tetap memikirkan perkataan Danian.
Ia tidak mengabaikan sekalipun usulan tersebut,hanya saja ia tidak memiliki hak tersebut.Akan tetapi ia tidak pun kecewa karena ia masih memiliki banyak kesempatan.Hanz mengatupkan kedua tangannya.Berusaha setenang mungkin memikirkan cara untuk dapat bisa menemui wanita itu secara langsung nanti dipesta.
Hatinya kembali berdebar-debar,membayangkannya saja membuat hatinya kembali gelisah."Apakah wanita tersebut semenakutkan itu,sehingga banyak pria lain yang ingin memilikinya?"
Hanz mencengkram tangannya sekuat mungkin,ia kesal.Ia tidak memungkiri karena adiknya sendiri terpikat dan sekarang Danian pun berterus terang mengatakan hal demikian yang serupa.
Hanz merasakan sakit tiba-tiba dihatinya,ada perasaan yang sulit ia jelaskan. Sejujurnya ia merindukan wanita tersebut.Dan itu tanpa ia sadari beberapa waktu yang lalu secara diam-diam ia menemui nya secara tersembunyi tanpa memberitahu yang lain.
Dalam sekejap ia mengabaikan Danian yang terdiam disampingnya.Wajah yang tenang membuat Danian tidak berani mengusik apa yang Hanz pikirkan.Hanz seakan larut didalamnya.