Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
1.Nightmare



"Pah..Mah"jerit sang bocah histeris.


"Papah,aku mohon bangunlah.Papah?Jangan tinggalkan aku.."


"Mah,apa yang terjadi padamu.Kenapa mamah diam saja?Aku mohon,Mah.Bangunlah... "Isaknya tak berdaya.


"Mah,jangan tinggalkan aku.Aku takut" Teriak sang bocah.


Tubuhnya bergetar menahan kepedihan yang terjadi.Tatapan yang kosong terpancar dari kedua bola matanya.Tanpa menyadari apa yang terjadi,dirinya menangis dalam kebisingan malam.


Tak,tak,tak...


Suara langkah kaki berhenti dihadapannya.Dalam ketidakberdayaan dirinya,ia menatap sosok tersebut.Dan...


Dooorrr...!!!


Drrrrttt...


Alaram berbunyi.


"Haahh..."Hanz membuka matanya.Deru nafasnya semakin tidak menentu.Detak jantungnya berpacu dengan cepat yang membuat kepalanya menjadi terasa sakit.Ia baru saja mengalami mimpi buruk.Mimpi buruk yang teramat menyiksa.


Hanz dalam diamnya dengan segera mencoba meraih sesuatu.


Tangannya mulai mengerjap kepermukaan meja.Dengan sigap ia meraih sebotol obat dari dalam laci tepat disamping tempat tidurnya.Dengan perlahan ia membuka penutup botol obat miliknya.Lalu dengan mudahnya ia menelan beberapa butir obat tersebut, obatpun meluncur masuk kedalam tenggorokkanya.


5 menit kemudian,


Setelah rasa sakitnya mereda Ia pun beranjak dari tempat tidurnya.Melakukan rutinitasnya setiap pagi yaitu berangkat bekerja.


Mengabaikan sejenak apa yang terjadi pada dirinya.


Hanz Alexandro,32 tahun, merupakan CEO Optik sebuah perusahaan ternama disebuah negara xx.Rupanya yang rupawan dan usiannya yang masih terbilang muda telah menjadi topik utama dikalangan pebisnis papan atas,hanya saja Ia masih khawatir dengan kelemahannya itu.


"Hallo,Bos.."sahut seseorang dari telepon.


"Danian,atur pertemuan ku hari ini dengan Dr.Eliza" Pinta Hanz pada bawahannya,yang tak lain adalah orang kepercayaannya selama ini yang dia anggap saudara sendiri.


"Baik,Bos"ucapnya singkat.


"Oh,ia Bos.Pagi ini ada pertemuan dengan pihak sponsor mengenai perekrutan supermodel yang akan kita gunakan dalam mempromosikan product terbaru kita nanti"pesan Danian mengingatkan.


"Baik dan segera atur saja" Perintahnya diakhir pembicaraan.


"Baik,Bos Hanz" jawab Danian singkat.


Dan panggilan telepon pun terputus.


Hanz melempar telepon genggamnya keatas tempat tidur.Bergegas menuju kamar mandi,membersihkan dan mempersiapkan diri.


Dan waktu yang ia habiskan kurang lebih 30 menit lamanya.Kesegaran yang ia rasakan membuatnya merasa lebih baik.


Tubuhnya tampak segar diterpa tetesan-tetesan air yang menggila .Aroma wewangian semerbak menyelimuti ruangan.Hanz bagaikan terlahir kembali.


Dengan sebuah handuk yang melilit dibagian tubuhnya dan sebuah lagi menempel dirambut basahnya.Hanz berjalan keluar kamar mandi dengan tangan masih sibuk mengosok-gosok rambutnya yang basah dan menuju kamar yang lainnya.Kamar yang dikhususkan menyimpan perlengkapan aksesoris,baju,dan lain-lainnya.


Tubuhnya kekar bak atlet propesional tersebut telah berdiri tepat didepan lemari pakaian, memilih dengan seksama pakaian yang hendak dikenakan.Sederhana namun membuatnya nyaman.


Hanz dengan telitinya merapikan setiap sudut-sudut bajunya.


Wajah yang tampan terlihat memukau dengan setelan pakaian yang ia kenakan.


Hanz tampak sempurna,hanya saja kesempurnaan itu terselipkan beberapa hati yang rapuh.


Hanz mengamati dirinya,menatapi dirinya penuh seksama.


Perasaan dihatinya terpancar dari kedua matanya,mata yang mengisyaratkan bahwa Ia harus kuat menghadapinya sendiri.


Namun,tiba-tiba saja sesuatu terlintas dibenaknya.


Hanz mengingat kembali kenangan yang begitu menyedihkan,kedua orang tua yang ia sayangi,tewas tepat dihadapannya.


"Aagcchhh..." Pekik Hanz sembari memegang kembali kepalanya yang terasa sakit.Memori itu seakan menelannya hingga terpuruk.


Hanz mencoba menguatkan dirinya kembali.Meyakinkan itu hanyalah sebuah mimpi buruk yang begitu mengerikan.Agar rasa sakit yang ia rasakan dapat berkurang.


Namun semua tidak dapat dibohongi.


Cermin yang begitu bersinar memperhatikan dirinya yang memucat bak pangeran tanpa jiwa.Menyedihkan.


Ia tidak ingin berlarut-larut dalam keterpurukan tersebut.Karena dirinya adalah seorang CEO yang memiliki tanggung jawab besar terhadap perusahaan maupun karyawannya.Dengan bekerja ia dapat mengurangi kesedihannya.Dan menjadikan sosok yang lain,kuat dan disegani,serta mendominasi.


Dengan kecepatan tinggi ia mengendarai mobilnya,menuju perusahaan yang ia besarkan.Perjalanan yang mulus itu,tiba-tiba berubah menjadi petaka.


Ckkkkkkiiiittttt...


Dengan gesit ia mencoba mengerem dan mengontrol kemudinya.


Suara rem yang memekakan telinga itu membuatnya syok.Bamper mulai berasap ketika mobilnya berhasil menepi tepat didepan seorang wanita.


Yach,seorang wanita tepat berdiri dihadapannya.Berdiri didepan mobilnya.


Wanita itu mematung bak patung manekin.lalu,


Gubbrraaaakkkk....


Hanz yang mendadak terkejut itupun membuka mobilnya dan menghampiri wanita yang hampir ia tabrak.Dengan segera ia melihat kondisi sang wanita.


Wanita itu tergeletak tak berdaya,wajahnya yang ayu itu terkulai bersamaan dengan barang yang ia bawa.


"Nona,nona..."Hanz berusaha membangunkan wanita cantik itu,sembari mengguncang tubuhnya.Wanita itu sempat membuka matanya,lalu sedetik kemudian tak sadarkan diri lagi.


"Ada apa,Boss??"suara Danian terdengar cemas dari balik teleponnya.


"Tunda dulu rapat pertemuan hari ini!!!Setelah itu susul aku ke RS xxx,jangan tanya kenapa..?!"perintah Hanz.


Dan pembicaraan pun terputus.


Danian tidak dapat berkata apa-apa,hanya bisa menerima perintah dari atasannya.Walaupun tanda tanya besar telah menyelimuti isi pikirannya tentang apa yang terjadi terhadap bosnya itu.Dengan perasaan gundah dan khawatir Danian mencoba setenang mungkin memikirnya dan dengan segera melaksanakan perintah bossnya itu.


************


Suara telepon berdering untuk kesekian kalinya,dengan rasa malas iapun menjawab,"Hallo.."sahutnya lirih.


"Vi,apa kau sudah bangun..... ???"suara dari seberang terdengar panik.


"Hhmmmm.."desah vivian.


"Vi,bisakah kamu segera kekantor??Manager Kill,mencari mu dan wajahnya sedikit tidak enak dipandang,kamu tahu kan bagaimana Manager Kill kalau sudah marah.Sepertinya kamu melupakan sesuatu,kalau hari ini kita akan mengadakan rapat dengan perusahaan besar."Suara Karina terdengar gusar sembari berbisik dari seberang telepon.


Vivian yang tadi dengan mata masih mengantuk,terbelalak mendengar Karina berbicara.


"Kenapa baru sekarang kamu beritahu?!"


Vivian bergegas bangun dengan wajahnya yang masih berantakan,menanti jawaban dari rekannya.


"Bukankah aku sudah memberitahu mu kalau jadwal rapat kita diadakan siang untuk hari ini melalui WChat?!Apakah kamu belum membacanya??Agh,aku mohon kamu cepatlah kemari!!Manager Kill,menanti laporanmu untuk dipelajari.Semoga kamu tidak datang terlambat kekantor..."pinta Karina.


Tanpa menunggu banyak waktu,Vivian berhamburan keluar kamar dengan penampilan seadanya.Berkas-berkas yang ia kerjakan selama berhari-hari ia sematkan didalam pelukkannya.


Vivianorich Angelica merupakan wanita karir yang bekerja diperusahaan xx yang berhubungan langsung dengan fashion.Usianya 29 tahun,namun memiliki paras yang cantik.


Vivian yang sederhana merupakan tulang punggung bagi keluarganya,karena perekonomian yang sedikit sulit ia harus berkorban.Namun tidak membuatnya patah semangat dan menyerah dengan keadaan tersebut namun Vivian tetap mensyukurinya.Dengan tanggung jawab itulah Vivian merasa bangga karena dapat membahagiakan ibu dan adiknya.


Hari ini cuaca begitu cerah,hiruk pikuk para pekerja berlalulalang dijalanan.Namun,biarpun begitu suasana kendaraan terlihat lenggang dan tidak ramai.


Jam menunjukan 08.30,dengan gelisahnya Vivian berusaha mempercepat langkahnya.Pikirannya yang terfokus pada berkas yang harus ia serahkan pada manager Kill dengan segera .Ia tidak ingin karena kecerobohannya dapat merusak refutasi dari perusahaannya.Memikirkan apa yang terjadi pada perusahaan membuat Vivian semaksimal mungkin segera tiba.


"Agch,tinggal beberapa langkah lagi"gumam Vivian semangat.


Perusahaannya tepat diseberang jalan,karena rute dari rumah berlainan maka pemberhentiannya pun diseberang jalan yang lainnya.


Tanpa disadari ketika menyebrang jalan,sebuah mobil dengan kecepatan tinggi sedang mengarah kepadanya.Sontak saja Vivian terkejut namun tidak dapat menghindari.Mata vivian terpejam.Dalam diam ia membayangkan akhir dari hidupnya,seakan dunia terasa terhenti.Ia hanya pasrah apabila mobil menghantamnya.


"Apakah aku sudah mati???"


"tapi kenapa aku tidak merasakan sesuatu?!"pikirnya.


Vivian perlahan-lahan membuka matanya,dan benar saja,mobil itu tepat berada didepannya dan hampir mencium lututnya,tubuhnya perlahan kehilangan daya.Lalu,


Gubrakkkk...


Entah kenapa mendadak dirinya terkulai jatuh keaspal.Seluruh darah yang mengalir mendadak menghilang dari raganya.Hanya ketidakberdayaan.Dan samar-samar mata mulai meredup,terpejam seketika.


Akan tetapi kesadarannya sedikit merespon.Vivian merasakan ada yang mengguncang tubuhnya,matanya terasa berat untuk terbuka,namun ia sempat sekilas menatap wajah itu.Wajah dengan bola mata yang berwarna unggu,lalu gelap kembali.......