
Aroma yang khas semerbak menghiasi pancaindera Vivian,ia mengenal betul aroma itu.Dengan berat ia membuka mata sambil menahan rasa kantuknya.Mata yang masih samar-samar untuk menilai dan mengamati secara seksama,membuatnya masih seperti bermimpi.
Vivian mencoba menerka-nerka, ia berada dimana?terakhir ada dimana?dengan siapa?semuanya ia mencoba mengingat lagi.Pandangannya tertuju pada sebidang dada yang berbentuk.Antara sadar dengan tidak sadar Vivian memandangi,siapakah gerangan pemilik tubuh itu?.
Dengan mata terbelalak Vivian terkejut dengan apa yang ia lihat,ternyata ia begitu agresifnya sampai-sampai tertidur pulas dipangkuan orang lain.
Dengan perlahan-lahan ia mencoba bangun sembari mengamati disekitarnya.Dan menyadari hanya ada mereka berdua saja didalam mobil.
"Apakah sudah sampai???" Pikir Vivian dalam hati.
Lalu ia mengamati pria yang ada disampingnya,dengan wajah bersalah ia mencoba menerka "Kenapa begitu bodohnya dirinya bisa tertidur sampai pulas."
"Kemana mereka Roy??" Semua pertanyaan berputar-putar didalam otaknya.Vivian sedikit frustasi.Lokasi yang tidak ia ketahui,membuatnya semakin kebingungan.
Di pandanginya Hanz.Pria tersebut tidak bergeming sama sekali dari posisi duduknya.Dengan setenang mungkin Vivian mencoba untuk berpikir positif.Dan hanya mengharapkan dan mengandalkan jika Hanz akan segera bangun.
Hanz yang berada duduk disampingnya tampak begitu tenang saat tertidur.Apalagi wajah manisnya terlihat tenang dan tidak menakutkan.Hanz terlihat menggemaskan dengan kaca mata hitamnya.Kesempatan itulah membuat Vivian sangat bersyukur karena ia terlebih dahulu bangun dan dapat menikmati secara puasa pigura hidup tersebut.
"Syukurlah dia masih terlelap.Kalau tidak celakalah aku." Batinnya.
Ia mengamati wajah Hanz lagi dengan penuh seksama. "Wajah tidurnya sangat mempesona." Gumamnya lirih.Vivian seakan terhipnotis.
"Apakah sudah selesai mengamati wajah tampanku." Suara Hanz terdengar sedikit berat.
Ia mulai melemaskan otot-ototnya yang menegang karena wanita tersebut.Hanz menatap balik Vivian dengan dinginnya,"Apa begitu menikmatinya kah????".Hanz memukul-mukul pahanya.Tubuhnya seperti ditimpa beban berat.Beruntung saja ia memiliki kesabaran yang lebih.
Vivian terkejut.Dengan terbata-bata Vivian meminta maaf.Wajahnya merona malu,"Maafkan aku."Ucap Vivian tanpa berani menatap Hanz.
Jantungnya semakin tidak menentu.Bagaimanapun ia semakin tidak berkutik terhadap pria yang ada dihadapannya.Dia tidak berani untuk marah karena kali ini dirinya lah yang telah membuat kesalahan.
Vivian masih terdiam menanti jawaban Hanz.Pandangannya masih tertunduk kebawah.Berharap Hanz mengampuni tingkahnya.
"Apakah kamu masih mau tetap berdiam diri disitu?" Tanya Hanz lalu menutup pintu mobil.Disaat keluar dari mobil,remuk sudah tubuhnya begitu merasakan kesakitan yang luar biasa.
Hanz benar-benar merasakan sebuah hukuman yang setimpal.
"MENYEBALKAN!!" Runtuknya meninggalkan Vivian yang masih berada didalam mobil.Namun dengan tersenyum ia memperhatikan wajah tersipu malu Vivian tadi.Dalam sejenak ia mengabaikan kesulitannya,dan menikmati setiap moment yang terjadi.
Lain halnya dengan Vivian,mendengar penuturan Hanz demikian ia menjadi bernafas lega.
"Eehh..." Sadarnya.Dengan segera ia buru-buru keluar dari dalam mobil dan menyusul sang CEO.
"Bos...Tunggu."Teriak Vivian.Spontan ia mengganggap Hanz adalah bosnya sekarang.
Hanz yang mendengar teriakan Vivian hanya menghela nafas dan memperlambat langkah kakinya.Membiarkan Vivian dapat mengikutinya dengan tenang.
"Bos,jalannya jangan cepat-cepat."Pinta Vivian dengan nafas yang tidak beraturan,langkahnya ia percepat agar dapat menyusul Hanz.
"Wanita yang benar-benar merepotkan." Helanya frustasi.
Vivian hanya menyengir,manja.Sedangkan Hanz tetap dengan wajah dinginnya.
"Bos,maaf kan aku.Sudah begitu menyusahkanmu."Cercah Vivian.
Hanz menghentikan langkahnya dan tentu saja Vivian yang tidak menyadarinya pun tanpa sengaja menabrak punggung Hanz.
"Kenapa berhenti tiba-tiba?" Tanya Vivian kebingungan sembari mengelus hidungnya yang sedikit kesakitan.
Hanz pun membalik badannya dan menatap kearah Vivian.
"Kamu itu benar-benar menyusahkan." Bentak Hanz kesal lalu berpaling meninggalkan Vivian yang terkejut.
Dengan gontainya Vivian pun terdiam sembari mengikuti langkah Hanz dari belakang.Hanz yang mendapati sikap dingin Vivian hanya tersenyum menyadari jika wanita yang ada dibelakangnya ini sedikit penurut.
Ketika hari sudah mulai gelap dan perjalanan mereka pun sudah sampai.
Hanz dan Vivian bernafas lega.
Daerah pegunungan,hawanya begitu dingin namun menyegarkan.
Segerombolan staff perusahaan sudah terlihat dari kejauhan dan sedang berkumpul dirumah penginapan yang telah diboking sebelumnya oleh pihak perusahaan LuX.
Vivian terkesima melihat pemandangan yang begitu cantik,dengan taakjubnya ia tidak bosan-bosan mengagumi.Melupakan sejenak rasa malu dan gundahnya.
Hanz yang melihat kekolotan Vivian hanya menyengir.Membiarkan wanita yang ada disampingnya itu tetap menikmati pemandangan tersebut.
"Aahhhh,kakak akhirnya sudah sampai juga ??" Suara Roy membuyarkan pandangan Hanz dan Vivian.Keduanya menatap Roy dengan tatapan terselubung.
"Maafkan kami tadi meninggalkan kalian." Ocehnya dengan santai tanpa memperdulikan ekspresi Hanz yang begitu kesal.
"Kami tidak berani menggusik kesenangan kalian berdua.Apalagi jika seseorang tersebut begitu lekat dipangkuan kakak ku tersayang.Dan terlihat begitu mesra." Oceh Roy sembari memegang pundak kakaknya.
Namun dengan dinginnya Hanz melepaskan tangan jahil Roy tanpa mengucapkan sepatah kata lalu masuk kedalam penginapan.
Roy yang ditinggalkanpun hanya tersenyum melihat kepergian kakaknya itu.Lalu menghampiri Vivian.
"Hay,lady..." Sapanya.
"Hai juga Roy.Kamu kejam ya meninggalkan kami berdua sendirian di mobil."Ucap Vivian ketus.
"Haha...Maaf.Tapi,bukankah tadi kesempatan yang baik." Goda Roy.
"Apaan.." Kesal Vivian."Kamu hampir saja menjerumuskan aku."
Roy dengan santainya pun memperhatikan Vivian.
"Menjerumuskan bagaimana?Hmm,aku tau.Mungkinkah kamu terpikat pada kakakku?"
"Kamu..!!" Ucap Vivian malu.
Roy terkekeh.
"Kamu tau udara disini sangat menyegarkan,kehidupan kota membuatku sedikit bosan." Ceritanya.Lalu terdiam sejenak.
Vivian hanya mendengarkan ocehan Roy.Sembari pandangannya tidak lepas memandangi senja yang menguning jingga.
Semilir angin mulai menerpa wajah keduanya dengan lembut.Perlahan tapi pasti menyejukkan hati.
Roy pun melanjutkan kembali perkataannya,
"Apalagi dalam perjalanan kita kemari pemandangannya indah sekali."
"Tapi sayangnya.Nona Vivian justru menyia-yiakan kesempatan itu.Dan justru terpikat dengan tubuh kakakku.Sampai-sampai tertidur pun pulas sekali." Godanya.
Mendengar Roy mengodanya Vivian mencoba mengacuhkan dan mengalihkan pandangannya ketempat lain,karena ia sangat-sangat malu.
"Dasar Roy." Runtuknya dalam hati.
Roy yang melihat reaksi Vivian pun tersenyum.Dan mencari topik lain,ia tidak ingin melihat wajah Vivian merah merona seperti tomat yang hampir meledak.
"Sebenarnya lama sekali kami tidak pulang kesini.Apalagi rumah nenek tidak jauh dari sini,tapi kakak tidak mau pulang--."
"Kenapa???" Tanya Vivian tiba-tiba beralih memandang Roy dengan penasaran.
"Karena trauma." Roy termenung sejenak.
"Agh,hari sudah gelap." Ajak Roy memecah kesunyian.Senyumnya menyimpan misteri yang begitu dalam.Menghentikan cerita lama yang tidak seharusnya ia utarakan.
Vivian tidak dapat berkata-kata atau bertanya,hanya terdiam.Namun memahaminya untuk tidak mempertanyakan semua itu lebih mendalam.Karena ia bukan dalam posisi untuk mencari tahu.
"Oh ya..Kau tau kalau sudah gelap dan malam menjelang--.Konon disini ada cerita menarik.Pengisap darah berkeliaran dan sangat mematikan." Tambahnya lalu menarik tangan Vivian.
"Benarkah?"
Roy tersenyum melihat kepolosan Vivian.Karena dengan mudahnya gadis yang ada dihadapannya ini terkecoh dengan apa yang dikatakannya,
"Apa yang dipikirkan gadis ini???Apakah dia berpikir bahwa disini ada hantu atau sejenisnya?" Roy tertawa geli dan tanganya masih memegang erat tangan Vivian.Wanita tersebut seakan terpedaya akan ucapan Roy.Dan membiarkan Roy menuntunnya masuk kerumah penginapan.
Hanz yang terlebih dahulu memasuki Villa sedang mencoba mencari seseorang.Seseorang yang telah meninggalkan dirinya dan Vivian,berduaan didalam mobil.
Dan tentu saja ia berhasil menemui sosok itu.Dan nampak lah Danian sedang sibuk didepan resepsionis.Berbincang-bincang dengan kru yang lain.
Hanz yang menemui para staff yang sudah berkumpul dilobi penginapan,lalu menghampiri Danian.
Danian yang mendapati sosok Hanz sedang berdiri didekatnya dengan tatapan yang tidak dapat orang sadari.Hanz yang memiliki emosi tidak menentu sedang menanti penjelasan Danian.
"Bed room single exclusive." Danian menyerahkan kartu kamar untuk bosnya itu,"Sesuai yang kamu minta,CEO"
"Dan barang-barang sudah diantarkan semua kekamar." Jelasnya.
"Hmm.." Sahut Hanz singkat padat dan jelas.Berlalu pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata tambahan.
"Selamat beristirahat,bos"
Danian yang ditinggalkan hanya menghela.
"Tadi meminta kami untuk pergi duluan.Tapi kenapa sikapnya seolah kami yang meninggalkan." Gumam Danian tidak mengerti.
Danian pun melanjutkan kembali perbincangannya dengan kru yang lain,mencocokkan,mengarahkan jadwal yang nanti akan dilaksanankan sebelum melapor ke tuannya tersebut.
Sesampainya di kamar Hanz langsung menuju kekamar mandi.Tubuh yang lelah harus ia segarkan kembali.Dengan leluasanya ia melepas satu persatu pakaian yang melekat ditubuhnya.
Saat sebidang dada yang telanjang itu tersirat membuat Hanz teringat akan sesuatu.Sebuah tangan kecil yang nakal sudah merangkul pinggangnya dan menyentuh serta meraba dadanya itu.Membuat Hanz berpikir menjadi tidak karuan.
"Hhaaiisszzz..Wanita ini benar-benar ...??!!!" Decaknya lalu menyalakan kran air.Menguyur tubuhnya hingga tak bersisa.
Hanz yang membasuh tubuhnya,tidak ingin pikiran kacau menyesatkan nalurinya.Membiarkan air yang hangat membuatnya terasa nyaman dan rileks.
********
*Di Ruang Makan*
Setelah berjam-jam semua berkumpul dimeja perjamuan.Makanan terhidang dengan begitu menggiurkan,namun tidak ada yang berani menyentuh.
Semuanya mencoba menahan lapar sembari berbincang dengan rekan-rekan sebangkunya.Tidak terkecuali Vivian,ia sedang asyik berbincang-bincang dengan teman sekamarnya Lilly.
Akan tetapi dalam sejenak pandangan mereka teralihkan.Sebab orang yang ditunggu itupun muncul.Tiga pria tampan dan mereka semua adalah pria- pria yang berbakat.
Hanz yang terlebih dahulu mendapati kursi kosong dengan segera menempati kursi makan yang bersebelahan dengan Vivian,kemudian disusul oleh Danian dan Roy.
Vivian yang tidak menyangka jika Hanz duduk disebelahnya hanya terdiam.Walaupun dilubuk hatinya yang kecil ia sangat senang jika Hanz duduk bersebelahan dengannya.Akan tetapi perasaan itu buyar seketika saat mengingat kejadian didalam mobil dan ekspresi dingin Hanz yang sekarang.
Hanz yang memergoki Vivian menatap kearahnya,membalas Vivian dengan tatapan yang tajam dari balik kacamata.
Roy yang menyadari sikap Vivian dan kakaknya yang bertolak belakang,memberanikan diri untuk mencairkan ketegangan.
"Selamat malam saya mewakili rekan-rekan sekalian untuk perjamuan malam ini.Dan saya berterimakasih juga telah diberi kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan LuX terutama kepada CEO Hanz Alexandro,terimakasih." Ucap Roy lalu mengangkat gelas anggur tanda persahabatan.Mengarahkan gelas anggurnya kehadapan Hanz.
Dengan tenangnya Hanz mengangkat gelas anggur miliknya,menandakan niat baiknya diterima.Dan semuanya pun bersorak riang.
"Bersulang...." Gemuruh yang lainnya,menikmati perjamuan malam.
Vivian yang berada disebelah Hanz,tidak berani banyak bicara dan makanannya pun sedikit ia perlambat,karena tatapan dingin Hanz terus menatap kearahnya.
"Hallo lady" Sapa Roy yang bersebelahan dengan Hanz.
"Mari bersulang." Ajaknya.
Roy dengan sengaja mencoba mengoda Vivian,walaupun ia menyadari bahwa kakaknya tidak menyukai sikapnya.
Dengan senyum ramah Vivian membalas ajakan Roy lalu mengangkat gelas minumannya.Bukan anggur,bukan wine tapi segelas jus.
Hanz yang berada ditengah-tengah sedikit terganggu ,lalu meminum segelas anggur miliknya,lalu memotong steak dengan sedikit kasar.Nafsu makannya sedikit berantakan,antara menikmati dengan tidak.
Vivian yang berada disamping Hanz melihat sikap Hanz seperti itu mulai menyadari jika lelaki yang ada disampingnya ini tidak boleh terusik.Dengan perlahan-lahan ia melanjutkan makannya.
Sedangkan,
Roy yang ada disamping kakaknya itu hanya tersenyum melihat reaksi kakaknya seperti itu dan berpikir kalau kakaknya sedikit cemburu melihat Vivian berbicara dengannya.Karena reaksi itulah Roy sangat-sangat menikmati makan malamnya.
Perjamuan makan pun telah usai dan jam menunjukkan sudah tengah malam,semua kru kembali beristirahat.Dan penginapan pun mulai sunyi.
Vivian yang sendirian dilorong ruangan merasa merinding,lampu-lampu penginapan terlihat redup,Vivian teringat dengan ucapan Roy apabila malam makhluk pengisap akan datang.
Dengan sedikit gemetar dan ketakutan ia berusaha melewati setiap lorong demi lorong untuk dapat sampai kekamarnya.
"Astaga Tuhan,kenapa pula kamar nya jauh sekali?" Runtuknya."Sudah tau takut tapi kenapa coba tadi tidak berbarengan dengan Lilly saja." Gumamnya.
Namun,rasa takutnya semakin menjadi ketika seseorang dari belakang seperti ada yang mengikutinya.Vivian tidak berani menoleh,dengan langkah cepat ia berusaha untuk meloloskan diri dari sang penguntit.
Plakkk,
Seseorang memegang pundaknya.Vivian menjerit,namun sempat dicegah oleh dekapan tangan seseorang.Tubuh Vivian terdorong kedinding,dengan spontan ia melihat orang yang membungkamnya itu.
"Hanz" Pikirnya.
Hanz melepas dekapan tangannya ketika melihat Vivian sudah tenang.
"Apa kau gila,berteriak dilorong saat semua orang istirahat." Bentak Hanz.
"Maaf,saya kira tadi hantu atau vampir." Elaknya membela diri.
Hanz mengerutkan kening,menatap kearah Vivian yang tertunduk.
"Hantu...vampir?" Ucap Hanz mengintrogasi Vivian.
"Kekonyolan apa lagi ini." Pikir Hanz,ia mengamati wanita yang dihadapannya dengan seksama.
Mendengar ucapan Hanz,Vivian mulai menyadari,"Bukankah CEO Hanz juga vampir." Batinnya.
"Celakalah aku,"sesalnya.
Hanz yang tidak mengerti dengan pola pikir wanita ini hanya sedikit kesal,bagaimana tidak ditengah malam, ia harus mengikuti wanita konyol ini dengan reaksi seperti ini .Dan tujuannya adalah demi wanita ini.
Matanya mulai mencari sumber yang ia cari dan ia mendapatinya.
Hanz menyentuh leher Vivian.Posisi mereka berdua sedikit intims.
Vivian yang menyadari akan bahaya yang mungkin terjadi hanya terdiam,dengan pasrah ia memejamkan matanya.
Melihat reaksi Vivian seperti itu,Hanz menjentikan jarinya di dahi gadis yang ada didepannya.
"Dasar ceroboh."
"Aaawww." Keluh Vivian mengelus dahinya yang kesakitan,menatap Hanz penuh tanda tanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Celutuknya.
"Darah yang ada dileher mu saja tidak kau perdulikan."
Vivian yang tidak menyadari ada darah dilehernyapun meraba.Ada sedikit perih disana dan ia menyadari kalau dirinya terluka saat perjamuan makan tadi saat garpu yang ia pegang terjatuh kekolong meja,dan luka yang ia dapat terjadi pada saat ia berusaha mengambil garpu dan tidak sengaja lehernya mengenai arlogi Hanz.
"Plester luka mu itu,karena aku tidak suka melihatnya." Ucap Hanz beralasan.Lalu pergi meninggalkan Vivian dengan meninggalkan sebuah plester luka ditangannya.
Vivian yang salah menafsirkan kejadian,hanya terdiam.Pria yang menakutkan seperti itu ternyata kini telah memperhatikan dirinya.Vivian tersipu malu atas perhatian kecil Hanz.
Rasa kepedulian Hanz membuat Vivian semakin mengagumi sosok tersebut.