Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
44.Terror



Perusahaan LuX dihebohkan dengan sebuah berita media yang panas.Kabar buruk yang mulai mengguncang ketenangan sang pemimpin telah beredar begitu leluasanya.


Hanz termanggu dalam diam,wajahnya terlihat pucat.Bagaimana hatinya tidak tersakiti,jika kabar buruk itu telah mengulik masa lalunya yang kelam.


Berita tentang kehidupannya dimasa lampau terpampang jelas dibalik layar perangkat lunak miliknya.Hanz yang baru saja merasakan kebahagiaan kini teralihkan ke hal yang belum ia publiskan ke umum.Terbongkarnya identitasnya yang asli semakin melonjak ketenarannya,namun tidak seheboh dengan sebuah berita yang hendak menjatuhkan dirinya.



Suasana hati yang buruk membuatnya merasa hilang kendali,rongga dadanya terasa sesak.Hanz mengutuk dirinya sendiri,mengakui bahwa berita tersebut telah membangunkan kembali jiwanya yang terpuruk.


"Ayah,bunda..apakah aku monster?"


"Benar.Akulah penyebab kalian meninggal.." batin Hanz menjerit.


Rasa bersalahnya membuatnya ketakutan dan tidak berdaya.Hanz membuat alasan tersebut menjadikan alibi bahwa dirinya lah monster sesungguhnya.


Kekuatan yang ia pertahankan,dalam sekejap runtuh.


Dalam keheningan yang hakiki Hanz mengabaikan kegaduhan yang terjadi diluar ruangan kerjanya.Pintu yang tertutup rapat tersebut telah mengurung dirinya dalam kesendirian.


Hanz kini menjadi dirinya yang telah berumur 10 tahun.Dalam kegelapan pikirannya,samar-samar Hanz menatap dirinya.Berdiri diam dengan tubuh berlumuran darah kedua orangtuanya,yang tergeletak dihadapannya.Tubuhnya yang mematung dalam kehampaan,terukir tatapan mata yang kosong,purple eyes,telah mendominasi jiwanya.


Dan seketika memori cardnya menampilkan gambaran disekelilingnya,sekerumunan orang menatapnya tajam,dengan rasa jijik,mencemoohkan dirinya dan menghujatnya sebagai pembunuh.


"Monster!!"


"Bagaimana dirimu hidup,sedangkan kedua orangtuamu telah mati?!"


"Pembunuh berdarah dingin!!"


"Monster!!!Bagaimana bisa dirimu yang sekecil itu menjadi sungguh menjijikkan?!"


Teriakan-teriakan yang begitu menakutkan terus menyerang dirinya,Hanz seakan terpojok.Cacian-cacian terus bergema ditelinganya,merusak sel otaknya yang peka dan tanpa ia sadari seseorang meneriakinya dengan semakin keras.Hanz tersentak namun tidak bergeming dari tempat duduknya.Pikirannya seakan terkunci begitu saja.


Namun,samar-samar suara keras tersebut teralihkan dengan suara kecil yang ia kenali.Suara kecil yang menyentuh hatinya.Suara yang tidak asing baginya.


"Hanz.."


"Hanz,sadarlah!!"


"Hanz,ini aku.Aku mohon sadarlah dan lihat aku..!!"


Hanz dalam kegelapan menatap cahaya yang redup mulai menampakkan cahayanya.Wajah yang samar dalam pandangannya menampakkan sosok ibunya kembali,dengan lembut wanita tersebut memeluknya dan menepiskan semua pandangan palsu tersebut,membisikkan sesuatu untuknya.


"Hanz,sadarlah!!Kamu tidak sendirian.Aku selalu bersamamu.."


"Aku mohon,jangan seperti ini!" pintanya.


Hanz yang merasa bersalah,merasakan beban selama ini,merupakan rasa rindunya yang terdalam,akhirnya terluapkan pada wanita tersebut.


"Mah,maafkan aku..."


Hanz meluapkan segala emosinya dalam bayang wanita yang menjadi ibunya.Aliran air mata mengalir begitu saja,dengan rintihan Hanz melepaskan sesak yang ada didadanya.


"Maafkan aku.."


"Maaf karena aku,anakmu,tidak bisa menyelamatkan kalian."


"Tidak." Tegasnya.


Sontak Hanz terkejut.Wanita yang ia kira ibunya ternyata adalah merupakan sosok wanita lain.


Lalu dengan lembutnya wanita tersebut membalas kembali ucapan Hanz,


"Ini tidak benar,semuanya bukan salahmu.Jadi,berhentilah terpuruk seperti ini.Bagaimana mungkin ini salahmu?! Jika dirimu seperti ini.Jadi,jangan seperti ini.Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.Aku mohon..hentikan..!!Jadilah cahaya dikehidupan ini,karena semua ini bukan salahmu."


Hanz terdiam,ucapan yang terdengar lembut itu telah melunakkan hatinya,mendamaikan jiwanya.


"Apakah kamu ingin seperti ini lagi?Aku mohon,berhentilah berpikir bahwa dirimu yang bersalah!Jika kamu memandang dirimu seperti ini,bukankah kamu membiarkan orang yang sesungguhnya yang melakukan kejahatan ini bahagia."


Hanz tertegun.Vivian telah menyadarkan kemelut yang ada dihatinya.


"Benar saja.Ini semua pembunuh itu rencanakan.Aku harus mencari tahu kebenarannya.Aku tidak boleh lemah dan bersembunyi lagi."


Luapan kesedihan yang bergejolak terleburkan dengan amarah yang membara.Hanz menatap kembali wanita yang telah menguatkannya itu.


"Terima kasih sayang."


"Kamu benar.Aku tidak boleh terpuruk seperti ini."


"Bukankah aku hidup untuk kedua orangtua ku yang telah berkorban.Aku tidak akan membiarkan penjahat itu lepas kembali begitu saja merusak kehidupanku lagi."


"Demi orangtua ku,aku akan membalasnya dan menjadi lebih kuat dan semakin kuat lagi."


Vivian tersenyum,dipeluknya kembali pria yang dihadapannya itu.


"Syukurlah.."


Dalam kelegaan,Vivian merasakan amarah Hanz yang terguncang. Menjadikan dirinya sendiri semakin khawatir.Rasa khawatir yang amat berat karena penjahat diluar sana sedang mengincar kekasihnya.


Vivian semakin mengeratkan pelukkannya,pikirannya pun sedikit tergoyah jika lelaki yang ada didekapannya ini berada dalam bahaya.


Hanz yang merasakan pelukan Vivian yang sedikit tidak biasa,mulai menghimpit tubuhnya.Walaupun terasa sesak,Hanz tersenyum.


"Sayang,aku rasa penjahatnya ada disini."


Vivian tersentak,dilepasnya pelukkannya itu.Dengan rasa waspada,Vivian menoleh kekiri maupun kekanan mencari sumber yang membahayakan.Namun tidak ada apapun didalam ruangan tersebut kecuali hanya mereka berdua.


"Hahaha.."


Hanz melepaskan tawanya,ekspresi Vivian membuatnya merasa tergelitik.


"Dimana penjahatnya?Kenapa kamu tertawa?Sayang aku serius ini penjahatnya dimana?"


"Kamu sayang."


"Aku.."


Vivian kebingungan.


"Ia,kamu penjahat yang cantik,yang mencuri hatiku."


Bbukk-


Vivian mendaratkan pukulan kecilnya kedada Hanz yang kekar.


"Ugkh,menyebalkan..!!Bisa-bisanya bercanda disaat seperti ini."


Vivian merenggutkan wajahnya.Ia tidak terima jika pria yang ia khawatirkan,disaat bersamaan menjahili dirinya.


"Dasar pria."


"Agkh,Maafkan aku sayang.Aku tidak berniat untuk membuatmu marah seperti ini.Hanya saja pelukan erat mu yang tidak biasa membuatku terpedaya.Badanmu yang mungil kecil ini ternyata memiliki kekuatan tersembunyi yang luarbiasa.Pelukanmu tadi mampu membuatku kehilangan udara bebas.."


Vivian meringis,wajahnya kini beralih tersipu,ia tidak menyadari sikapnya tadi hampir membunuh kekasihnya sendiri.


"Tapi,tetap sayang salah.." Protes Vivian.


"Baiklah-baiklah.Aku yang salah.."


Danian yang baru saja tiba,mengacaukan suasana romantis tersebut.Dengan perasaan menyesal ia merusak moment yang terjadi.Karena rasa khawatir terhadap bosnya tersebut,ia tidak menduga jika Vivian telah ada berada bersama bosnya sendiri.


"Agkh,ternyata aku terlambat lagi.Dan datang diwaktu yang tidak tepat."


"Hmm"


"Ada apa?"


"Katakanlah!!"


Dengan ragu Danian mengabaikan suasana canggung tersebut dan kembali membicarakan topik serius yang hendak ia sampaikan.


"Para wartawan telah mengepung kantor kita bos.Berita yang menyebar,menarik para wartawan berbondong-bondong mencari tahu kebenaran berita tersebut.Dan semua ingin mencari mu bos.Tetapi sudah kuatasi untuk sementara ini."


"Penjagaan dan pengamanan dibawah sudah diperketat agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan."


"Dan sebenarnya masalah pada wartawan tidak seberapa,hanya saja pihak investor mulai meragukan kepercayaan kepada kita."


"Selain itu,berita ini juga sudah sampai ke nyonya besar.Beliau baru saja menelpon dan menanyakan kabar anda.Ia sangat khawatir jika anda terluka kembali akan berita tersebut."


Hanz menghela nafas berat.Vivian yang ada disampingnya pun hanya memberi motivasi agar Hanz dapat tenang dan berpikir jernih.


"Baiklah.Kita urus dulu dengan para investor,setelah itu baru kita selesaikan dengan para wartawan.Jadi untuk saat ini kita harus bekerja dengan lebih ekstra."


"Baik Bos.Aku akan mempersiapkan semuanya."


Danian yang mendapat perintah dengan segera meninggalkan Hanz.


Hanz kembali menatap Vivian dengan lembut.


"Sayang,sepertinya aku harus minta tolong dan memberikan mu sebuah tugas."


"Baiklah.Apa itu?Dengan senang hati aku akan membantu mu sayang."


"Untuk saat ini,kita tidak mungkin kembali kerumah.Dan aku ingin kita tinggal sementara disini.Tidak apakah?"


Vivian mengeleng-gelengkan kepala menyatakan dirinya sungguh tidak merasa keberatan.


"Tidak apa.Selama aku masih bisa berada disampingmu,aku merasa sungguh tidak keberatan."


"Baguslah."


Hanz membelai lembut rambut wanitanya tersebut.Calon istrinya yang sungguh sempurna dihatinya.


"Dan yang pàling penting lagi, aku inginkan kamu menghubungi nenek,meyakinkan beliau bahwa aku baik-baik saja.Bisakan sayang."


"Bisa."


"Baiklah.Aku yakin ķamu pasti bisa menghibur nenek supaya dia tidak khawatir lagi."


"Hmm"


"Baik-baik diruangan ini.Jika lelah kamu bisa beristirahat.Dan jika terjadi sesuatu,segera hubungi aku.Aku ada diruang sebelah."


"Ia nyebelin"


"Kalau begitu aku tinggal.Jadi wanita yang patuh!!"


"Iiih,iaa bawel.."


"Pergilah..!!Hanz ku yang terhebat."


Vivian tersenyum geli melihat tingkah calon suaminya yang terdengar cerewet.Namun,ia tidak mengabaikan jika suasana saat ini begitu mengkhawatirkan.Diteror penjahat dan berita yang tidak mengenakkan muncul bertubi-tubi begitu saja.Identitas Hanz yang begitu besar membuatnya semakin untuk bersama pria tersebut.


"Ia.My Queen"


************


Disebuah ruangan tertutup.


"Bagus."


"Kerja kalian sungguh bagus.."


"Dengan menyebar berita ini,perusahan LuX pasti akan diragukan dan refutasi dari seorang Ceo Hanz pasti terkuak."


"Aku tidak sabar ingin melihatnya kembali menderita!!"


"Kesempatan yang bagus untuk menghancurkan kembali monster itu!"


"Monster yang telah menghancurkan hidupku dan ibuku."


Sam dengan amarahnya, meluapkan segala kebenciannya untuk masa silam.Meremukkan secangkir gelas yang ada dihadapannya.Rasa sakit yang ia rasakan tidak sepadan dengan rasa sakit yang ada ditanganya.Pecahan-pecahan yang mengoyak kulit tangannya ia abaikan begitu saja.


Kedua anak buahnya yang menyaksikannya hanya terdiam.Tidak mampu berkomentar dan hanya menunggu perintah dari atasannya tersebut.


"Terus pantau dia (Hanz),jangan lepas dari genggaman kalian.Aku ingin hidupnya menjadi tidak berarti lagi!!"


"Baik,Bos."


"Pergilah!!!"


Keduanya dengan segera meninggalkan tuan mudanya tersebut.


Keheningan yang tercipta,menghancurkan hati Sam yang terluka.Luka yang begitu dalam,membuat amarahnya semakin terbakar.Sudah 20 tahun lebih luka itu tersimpan dihatinya.


Kenangan itu tidak bisa ia lupakan begitu saja.Bagaimana tidak,ibunya yang ia sayangi meninggal tepat dihadapannya.Sebuah peluru tepat mengenai kepalanya.Dan disaat detik-detik terakhir,sang ibu hanya menyebutkan nama seseorang yang kini sangat ia benci "Hanz".


Sam dengan jelas mengingat penderitaan ibunya.Ibunya yang sangat cantik itu tersenyum getir menatap kearah dirinya.Tetesan air mata mengalir dipelupuk matanya.Tatapan terakhir darinya membuat Sam tidak berdaya.


"Sam.." suaranya terdengar parau.


"Anak ku,Sam.." Rintihnya, "maafkan ibu.."


Sam terdiam,tubuhnya tidak dapat bergerak.Menyaksikan hal buruk yang terjadi pada ibunya menghancurkan hatinya menjadi berkeping-keping.


Dengan sisa-sisa kekuatan dan nafas terakhir,ibunya hanya dapat berkata,


"Hanz..."


Nama itulah yang menjadi akhir kehidupan dari ibunya.


Dan dengan nama itulah Sam membenci.Membenci akibat kematian ibunya sendiri.


Sang ayah yang begitu kejam menyalahkan dirinya yang tidak berguna.Dan membiarkan ibunya mati begitu saja.


"Hanz!!Semua ini tidak akan bisa aku biarkan begitu saja.Orang-orang yang kusayang tidak akan kubiarkan jatuh ketangan monster seperti mu."


"Penderitaan ibuku dan diriku,akan ku buat agar kamu merasakan juga!!"


"Bagiku,monster yang seperti mu tidak layak hidup dan bahagia sepenuhnya."


Dengan luka tangan yang menganga,Sam menggenggam dan mengacak sebuah foto yang ada dihadapannya.Lalu dilemparnya dan dibuangnya begitu saja dengan noda darah yang menempel menyelimutinya.


Sam benar-benar membencinya,sahabat yang dulu ia sayangi kini adalah musuh yang harus ia singkirkan.